
Aruna terisak. Ibu mana yang tidak sedih dan terluka begitu di nyatakan keguguran. Ia sangat terpukul atas apa yang saat ini di alaminya. Haikal memeluk tubuh istrinya erat, saling menyalurkan kekuatan.
"Maafkan, aku. Maaf karena aku tidak bisa menjaga calon buah hati kita, Haikal. Aku ibu yang buruk, maafkan aku..." ucap Aruna di antara isak tangisnya.
Haikal melepaskan pelukannya. Ia menangkup kedua pipi Aruna lalu menghapus air mata yang mengalir deras di pipi istrinya menggunakan ibu jari.
"Tidak, sayang. Jangan bicara seperti itu. Ini bukan salahmu. Ini sudah kejadian yang sudah Tuhan rencanakan. Mungkin kita belum di beri kepercayaan penuh oleh Tuhan. Dan Tuhan lebih sayang calon anak kita."
"Jangan bicara seperti itu lagi, ya. Aku tahu kau ibu yang hebat, ibu yang kuat. Bahkan kau mampu menghidupi Elona seorang diri saat kau berada di masa yang belum tentu orang lain mampu menjalani nya. Tapi kau sanggup bertahan dan berhasil melewati masa sulit itu. Kau wanita hebat yang pernah aku temui, jadi jangan berpikir lagi jika kau adalah ibu yang buruk atas kejadian ini," tutur Haikal bijak.
"Tapi-"
"Syuutt ..." Haikal menempelkan jari telunjuknya tepat di bibi Aruna. "Berhenti menyalahkan diri sendiri."
Aruna menatap sendu Haikal, rasanya masih tidak percaya dengan kabar duka ini. Tapi ini semua sudah terjadi, dan ia tidak dapat mengubah apapun selain ikhlas.
Di tempat lain, Elona duduk di bangku menunggu di temani Miss Liony, guru taman kanak-kanak yang mengajarnya. Semua murid yang lain sudah berhamburan pulang di jemput orang tuanya masing-masing. Namun sudah hampir setengah jam ia di sana, orang yang saat ini ia tunggu belum juga menampakan batang hidungnya.
"Biar miss antar saja ya Elona?" tawar miss Liony namun Elona menggeleng.
"Tunggu sebentar lagi, miss. Ayahku pasti akan datang," pinta Elona, ayah yang ia maksud adalah Haikal.
__ADS_1
Elona tampak gelisah, bisa di lihat dari jemari tangannya yang tampak merremmas satu sama lain. Miss Liony tidak tega melihatnya, tapi ia tidak bisa memaksa Elona untuk ikut di antar pulang olehnya.
Jika setengah jam lagi orang tua Elona tidak juga datang, mau tidak mau Elona harus ikut bersamanya. Sebab ia juga masih ada urusan lain, jadi tidak mungkin terus menerus berdiam diri di sana.
Lima menit berikutnya, sebuah mobil yang asing bagi Elona berhenti tepat di depan pintu pagar sekolah. Seseorang turun dari mobil tersebut.
"Ayah ..." ucap Elona lirih.
Begitu Elona akan menghampiri ayahnya, ia di tahan oleh miss Liony.
"Elona, itu buka ayahmu," kata miss Liony, lantaran wajahnya beda dengan pria yang biasa mengantar jemput Elona.
"Saya ayah kandungnya. Dan yang biasa anda lihat adalah ayah sambungnya," terang Abian.
"Iya, miss. Ini ayah Abian, ayah asliku," tambah Elona dan miss Liony pun percaya.
"Oh begitu. Maaf jika saya sudah salah sangka. Saya hanya tidak mau ada kejadian kurang mengenakan terjadi pada murid saya," ucap Miss Liony.
"Iya, saya paham. Terima kasih sudah menemani Elona menunggu jemputan," ucap Abian kemudian.
"Iya, sama-sama. Ah ya, memangnya ayah yang biasa jemput Elona kemana?"
__ADS_1
"Sedang berhalangan. Oleh karena itu beliau meminta saya yang jemput Elona."
"Oh begitu. Iya, iya, sekali lagi saya minta maaf atas sikap saya barusan. Saya hanya berusaha melindungi saja."
"Iya, tidak apa-apa. Justru saya berterima kasih pada anda, selain mengajar, anda juga melindungi setiap muridnya, termasuk putri saya."
"Iya, sama-sama. Itu sudah menjadi tugas saya juga."
"Kalau begitu kami permisi duluan," pamit Abian.
"Iya, silahkan."
"Terima kasih sudah menemani aku, miss," ucap Elona.
"Sama-sama, Elona. Hati-hati di jalan, ya."
"Iya, miss."
Elona kemudian berjalan beberapa langkah menuju mobil bersama ayahnya. Bocah itu melambaikan tangan sebelum mobil yang di kemudikan oleh ayahnya melesat dari sana. Miss Liony membalas lambaian tangan Elona sampai mobil itu hilang dari jangkauan matanya. Barulah ia beranjak dari sana untuk pulang.
_Bersambung_
__ADS_1