
"Sini, paman peluk Elona."
Bocah itu menoleh pada ibunya, Aruna mengangguk mengizinkan. Elona pun menghambur ke dalam pelukan Haikal.
"Karena Elona aktingnya bagus, paman akan belikan Elona hadiah lagi."
"Sungguh?"
"Tentu saja."
Elona semakin mengeratkan pelukannya. Hingga pandangannya tertuju pada seseorang yang berdiri di kejauhan. Seseorang itu melihat ke arahnya.
Senyum Elona perlahan memudar. "Ayah," ujarnya lirih nyaris tak terdengar.
Elona melepaskan pelukan perlahan, pandangannya tetap tertuju pada sosok pria yang masih berdiri di kejauhan sana.
"Sayang, kau lihat apa?" tanya Aruna, ia mencoba mengikuti arah pandang putrinya, dan ternyata ada sosok Abian di sana.
Haikal pun jadi ikut menoleh, ia penasaran dengan apa yang membuat Elona sampai terpaku demikian.
Abian menunduk, ternyata ia sudah tidak di butuhkan lagi. Tapi ia tidak akan menyebut kedatangannya itu sia-sia. Sebab ia datang dengan perasaan tulus, demi putrinya. Tapi ternyata di sana sudah ada sosok orang lain yang menggantikan perannya.
Abian membalikan badan, berniat untuk pergi saja dari sana.
"Ayaaahhh ..." panggil Elona berteriak menghentikan langkah pria yang hendak berlalu.
__ADS_1
Elona berlari menghampiri ayahnya. Aruna hendak mencegah putrinya, tapi malah dia yang di cegah oleh Haikal.
"Biarkan saja, Aruna. Kita lihat saja dari sini."
"Tapi, Haikal-"
"Dia hanya gagal menjadi suamimu, bukan berarti gagal menjadi ayah dari putrimu," tutur Haikal bijak.
Elona memeluk kaki ayahnya dari belakang. Lantaran tinggi badannya hanya sebatas pahha ayahnya.
"Ayaahh ..." ucap Elona lirih. "Apa yang ayah lihat tidak seperti yang ayah bayangkan. Tolong percaya padaku, ayah."
Elona mengeratkan pelukannya. Hingga Abian melepaskan tangan putrinya yang melingkar di pahha nya, lalu ia membalikan badan. Abian menekuk lututnya di lantai untuk mensejajarkan diri dengan Elona.
"Ayah memang pantas di lupakan, sayang," ujar pria itu dengan nada bicara parau menahan sedih.
Elona menggeleng. "Tolong jangan berkata seperti itu, ayah. Aku memang marah pada ayah karena ayah sudah menyakiti ibu. Tapi aku sama sekali tidak pernah melupakan ayah."
"Kalau pun Elona melupakan ayah, ayah tak apa. Yang terpenting ayah selalu mengingat Elona. Ayah selalu merindukan putri ayah yang cantik ini, sayang."
Suasana seketika berubah menjadi haru biru.
"Maaf jika aku pernah mengatakan aku benci ayah. Waktu itu aku marah pada ayah. Tapi ibu pernah bilang jika ayah sudah meminta maaf pada ibu dan menyesali perbuatan ayah. Tapi sekarang aku sudah tidak lagi membenci ayah, aku masih marah, hanya saja tidak sebesar waktu itu."
Abian menatap putrinya lekat-lekat.
__ADS_1
"Lalu kenapa Elona tidak bilang jika ada acara penting yang mengharuskan ayah ikut datang? Apa ayah sudah di gantikan oleh seseorang yang saat ini berdiri di samping ibu? Yang tadi Elona peluk dengan perasaan bahagia."
Abian memandang ke arah Aruna dan Haikal sekilas, sebelum akhirnya fokus menatap wajah putri kecilnya.
"Aku minta maaf, ayah. Aku tidak ingin ayah datang karena aku takut jika hal itu melukai perasaan ibu."
"Lalu jika ibu datang bersama orang itu, perasaan ibu akan bahagia?"
Elona diam. Ia tidak tahu harus menjawab pertanyaan itu seperti apa.
Abian mengulas senyum seraya membelai rambut putrinya dengan lembut.
"Maaf, ayah. Aku tahu, sebaik apapun orang yang nanti akan bersama ibu. Mungkin tidak akan pernah bisa menggantikan sosok ayah. Di antara aku, ibu, dan ayah, hanya hubungan ibu dan ayah saja yang berakhir. Tapi hubungan aku dan ayah tidak akan pernah ada ujungnya. Jujur, aku sangat menyayangi ayah, sama seperti halnya aku menyayangi ibu. Hanya saja, aku terlalu takut untuk melukai perasaan ibu," ungkap Elona nyaris membuat Abian menitikan air mata.
Abian menengadahkan wajah nya ke atas, ia melakukannya agar air matanya tidak sampai jatuh di hadapan putrinya. Meski tidak bisa ia pungkiri, ia sangat tersentuh oleh kata-kata Elona, anak yang baru berusia empat tahun lebih.
Aruna yang menyaksikannya pun ikut terharu mendengarnya. Begitupun dengan Haikal yang kagum terhadap bocah itu.
"Boleh ayah peluk Elona?"
Elona mengangguk. "Tentu, ayah."
Abian langsung membawa putrinya ke dalam dekapan, di sana barulah ia tumpahkan air matanya. Di bahu putri kecilnya.
_Bersambung_
__ADS_1