GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Kesialan


__ADS_3

Di perjalanan pulang, Abian mengemudikan mobilnya sambil melamun. Sampai tidak sengaja nyaris menabrak seseorang.


"Aaaaaa ..." teriak seseorang yang nyaris ia tabrak.


Abian tersadar, wajahnya berubah panik dan khawatir.


"Ya Tuhan, apa aku menabraknya?"


Abian bergegas turun dari mobilnya. Dan menghampiri seseorang tersebut.


"Maaf, maaf. Aku tidak sengaja," ucap Abian pada wanita yang berjongkok seraya menundukan wajahnya.


Wanita itu merasa tidak asing dengar suara tersebut. Ia langsung mendongakan wajahnya dan bangkit berdiri.


"Abian?" ucap wanita itu.


Abian sendiri sangat terkejut melihat wajah wanita yang nyaris ia tabrak.


Ya Tuhan, kenapa kau pertemukan lagi dengan wanita yang tidak ingin aku lihat wajahnya. Ucap Abian dalam hati.


"Abian, akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu," ucap si wanita dengan binar bahagia di wajahnya, seperti menemukan oasis di tengah gurun pasir, seperti itulah perasaan senang wanita tersebut.


Tanpa mengatakan kata sepatah pun, Abian bergegas pergi dari sana untuk kembali masuk ke dalam mobil. Tapi sayangnya, wanita itu menghadang langkahnya dan berdiri di depan pintu mobil bagian kemudian.


"Abian, kau mau kemana, sayang?" seru wanita itu seraya merentangkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Minggir sebelum aku melakukan kekerasan!" ancam Abian.


Wanita itu menggeleng. "Tidak, aku sudah susah payah mencarimu selama ini. Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja."


"Apa yang inginkan dariku? Uang? Katakan sekarang, aku akan memberimu berapapun asalkan kau tidak lagi menampakan diri di hadapanku!"


"Tidak, aku tidak mau. Kau harus bertanggung jawab, Abian. Kau sudah berhubungan badan denganku dan itu artinya kau harus bertanggung jawab!"


Abian mengulas senyum seringai.


"Cukup sekali aku menjadi pria bod doh. Dan aku tidak mau di bod dohi lagi orang orang yang sama, yaitu kau." tegas Abian.


"Kau sudah tepat mengambil keputusan, Abian. Aruna memang layak kau tinggalkan demi aku."


"CUKUP!!" seru Abian dengan kedua mata yang sudah memerah menahan amarah. "Penyesalan terbesar dalam hidupku yaitu tergoda oleh wanita sampah sepertimu!"


"Aku bukan satu-satunya pria yang menyentuhmu. Sesudah bahkan sebelum aku, kau sudah menjajakan dirimu pada banyak pria layaknya wanita jal lang."


Ziva diam seketika. Pokoknya ia harus bisa membuat Abian menikahinya agar ia bisa menumpang hidup.


"Aruna yang mengadu padamu?"


"Aruna tidak pernah mengotori nama temannya sekalipun dirimu sudah kotor."


"Lalu kenapa kau bisa mengatakan hal itu padaku? Siapa lagi jika bukan Aruna?"

__ADS_1


"Gavin."


Ziva bungkam seketika.


"Dari mana kau mengenal Gavin?"


"Itu bukan urusanmu. Sekarang cepat minggir, aku muak jika harus berlama-lama dekat denganmu!"


"Benarkah?"


Abian sudah semakin geram, ia tidak segan-segan untuk menarik pergelangan Ziva dan mendorongnya lumayan kasar hingga wanita itu jatuh tersungkur ke jalan.


Dengan cepat Abian masuk ke dalam mobilnya sebelum wanita itu bangkit berdiri dan menghalangi dirinya.


"Abian ... Abiaaan ... Tunggu, Abiaaann ..."


Mobil yang di kemudikan oleh Abian sudah berlalu meninggalkan tempat tersebut. Lagi-lagi nasib Ziva berakhir malang.


Wanita itu melirik lututnya yang mengeluarkan setetes darah akibat luka benturan ke jalan raya.


"Sial! Kenapa nasibku harus berakhir dengan sial lagi dan lagi."


Ziva meringis, lukanya di lututnya terasa sangat perih. Hal tersebut membuat dirinya pincang saat berjalan.


"Aku pikir bertemu dengan Abian akan membuat hidupku berubah, nyatanya berubah jadi lebih sengsara." gerutu wanita itu.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2