GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Kesempatan Bicara


__ADS_3

Beberapa hari setelah sharing dengan Kanaya, Aruna belajar banyak hal dari wanita itu. Ia mulai mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri. Tidak mungkin juga jika ia harus berlarut dalam kesedihan yang terus menerus. Ada masanya ia pulih dan melangkah maju ke masa yang lebih baik lagi.


"Ibu hari ini tidak bekerja kan?" tanya Elona saat bocah itu menghampiri ibunya di sofa ruang tamu.


"Tidak, hari ini ibu libur, sayang. Memangnya kenapa?"


"Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan? Jangan jauh-jauh, kita ke taman dekat sini saja."


Aruna tersenyum. "Elona pasti bosan ya di rumah terus?"


Bocah itu memamerkan sederet gigi kecilnya yang rapih dan bersih.


"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita siap-siap. Ganti pakaian dulu."


"Ok, ibu," jawab Elona dengan semangat.


Elona sudah pergi lebih dulu, sementara Aruna baru saja akan beranjak dari sana.


"Kasihan Elona, dia pasti jenuh setiap hari di rumah. Apalagi dia harus di titipkan setiap hari di rumah ibu Zahrana. Sesekali aku memang harus ajak Elona perge keluar untuk jalan-jalan."


Aruna menghela napas berat, sebelum kemudian menyusul langkah putrinya ke kamar.

__ADS_1


Sepuluh menit berikutnya, mereka sudah selesai ber siap-siap. Elona sudah tidak untuk pergi jalan-jalan meski itu hanya ke taman terdekat rumah. Tapi ia senang akan menghirup udara segar yang mampu menghilangkan penat. Ia akan bertemu banyak teman seusianya di sana.


"Ayo, ibu. Nanti kita kesorean," ajak Elona dengan tidak sabar.


"Iya, sayang. Ayo."


Elona menarik pergelangan tangan ibunya sampai pintu depan.


Aruna memutar knop pintu tersebut dan langkahnya seketika terhenti. Wajahnya sedikit tegang dan pucat serta napasnya tertahan. Sosok pria yang tidak di inginkan kehadirannya kini berdiri di hadapannya.


"Untuk apa ayah datang kemari?"


Pertanyaan Elona membelah suasana. Abian yang semula menatap Aruna kini mengalihkan pandangannya pada sosok bocah kecil yang merupakan putrinya.


"Elona, sayang. Ayah rindu pada kalian. Pada ibu dan juga Elona," terangnya.


Aruna berusaha menahan diri dan mengontrol emosinya.


Elona menatap sang ibu, wajah ibunya tampak tidak nyaman dengan kehadiran ayahnya.


"Tapi kami tidak rindu ayah," jawab Elona.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, sayang. Ayah tahu, ayah sudah tidak lagi di rindukan. Akan tetapi ayah tetap merindukan kalian."


"Tolong jangan ganggu kami lagi, pergilah. Kami pun akan pergi," ucap Aruna pelan namun tegas.


Abian menegakkan badannya. Ia menatap lekat wajah Aruna.


"Aruna, aku ingin bicara denganmu. Tolong beri aku kesempatan untuk bicara denganmu. Aku mohon, sebentar saja."


"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Bukankah kau sudah menerima surat itu?"


"Ya, aku sudah menerimanya. Maka dari itu, aku datang untuk membicarakan hal itu denganmu. Sebelum kita benar-benar berpisah." Abian memohon.


Kalimat terakhir Abian membuat Aruna menatap wajah pria itu sekilas. Kalimat tersebut menandakan jika Abian menyetujui gugatan cerai nya.


Aruna menghela napas panjang. Sebelum akhirnya ia mengangguk setuju. Abian senang.


"Kalau begitu, kita bicara dimana? Kau mau pergi kemana sekarang?"


"Aku dan Elona mau ke taman, kita bicara di sana saja," jawab Aruna di angguki cepat oleh Abian.


"Ok, ayo sayang." Abian mengulurkan tangan nya pada Elona, namun bocah itu menoleh pada sang ibu, dan mendapat anggukan dari Aruna.

__ADS_1


Elona pun menjabat tangan ayahnya. Setelah itu Abian menggendong putrinya dan membawanya ke dalam mobil.


_Bersambung_


__ADS_2