GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Membantu Haikal


__ADS_3

Aruna mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Rumah itu tampak sepi. Sampai akhirnya kedua matanya tertuju pada pintu yang terdapat di sebelah tangga. Ia berjalan ke arah sana.


"Apa ini kamar Haikal, ya?"


Tangannya sedikit bergetar begitu akan membuka pintu kamar tersebut.


"Haikaaalll ..." panggil Aruna seraya mengetuk pintunya.


Aruna memanggilnya sekali lagi dan mendapat sahutan dari dalam kamar.


"Masuk saja, Aruna. Pintunya tidak di kunci."


Begitu mendapat izin dari pemilik rumah, perlahan Aruna membuka pintu kamar tersebut dan mendapati Haikal tengah duduk di lantai dekat ranjang. Iris mata Aruna seketika melebar. Ia menutup mulutnya yang melebar.


"Ah ya ampun, Haikal!"


Aruna bergegas menghampiri pria itu.


"Apa yang terjadi padamu? Kau jatuh? Kau mau kemana? Kau mau mengambil sesuatu?" seru Aruna panik.


"A aawww .." Haikal merintih begitu Aruna tidak sengaja memegang bagian kakinya yang sakit.

__ADS_1


"Maaf, maaf. Aku tidak sengaja. Aku minta maaf," ucap Aruna dengan perasaan yang sudah tidak karuan.


"Iya, tidak apa-apa."


"Sekarang kau butuh apa? Apa kau mau minum atau mau ke toilet?"


"Aku mau ke toilet. Biasanya sepupuku yang bantu aku buat pindahin ke kursi roda. Hanya saja dia hari ini tidak bisa datang."


"Oh begitu, ya sudah kalau begitu biar aku bantu." Aruna mengedarkan pandangannya mencari kursi roda di ruangan tersebut.


Begitu matanya menangkap kursi roda dalam keadaan di lipat yang terdapat di pojok ruangan kamar, ia segera mengambilnya.


Aruna membukakan lipatan kursi rodanya. Setelah itu ia membantu Haikal untuk bangkit berdiri sampai pria itu duduk di kursi roda. Dengan cekatan Aruna membantunya untuk bisa bangkit berdiri.


"Terima kasih, Aruna," ucap Haikal begitu Aruna berhasil membantu memindahkannya ke kursi roda.


"Iya, sama-sama. Ah ya, mau aku antar sampai depan pintu toiletnya?" tawar Aruna kemudian.


"Tidak, tidak perlu. Biar aku saja."


"Oh ya sudah, kalau begitu aku tunggu saja di sini."

__ADS_1


"Iya, sekali lagi terima kasih, ya. Terima masih sudah mau datang."


"Iya, Haikal."


Kedua mata mereka saling bertemu untuk seperkian detik, sampai akhirnya Aruna mengalihkan pandangannya dan Haikal pergi untuk ke toilet.


Sementara Haikal di toilet yang terdapat di kamar tersebut, Aruna duduk di tepi ranjang. Ia melihat begitu banyak obat di atas nakas yang harus di konsumsi oleh pria itu. Perasaan bersalahnya semakin menjadi. Apalagi kemarin ia sempat berdebat dengan Haikal hanya karena hal sepele.


"Maaf ya, Haikal. Seharusnya aku bisa meluangkan waktu untuk merawatmu sampai sembuh. Karena apa yang terjadi pada dirimu, tidak terlepas dari bahaya yang menimpa putriku."


Besok-besok jika ia ada waktu, ia janji akan datang lagi ke rumah ini dan akan mengajak Elona sekalian. Sebab Elona juga begitu rindu dengan pria itu.


"Kal, aku bawakan obat untuk-"


Tiba-tiba saja ada seorang pria yang masuk ke dalam kamar Haikal yang pintunya sengaja tidak Aruna tutup kembali. Pria itu menggangtung kalimatnya, rupanya dia terkejut dengan keberadaannya di sana.


Tidak hanya pria itu, Aruna pun cukup terkejut dengan kedatangan pria yang tidak asing lagi baginya. Ia bangkit berdiri dan pria itu berjalan lebih dekat.


"Aruna?"


"Gavin?"

__ADS_1


Keduanya saling tunjuk.


_Bersambung_


__ADS_2