GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Penyesalan Terbesar


__ADS_3

Suara ketukan pintu seketika mengalihkan perhatian mereka.


"Ibu, ada yang datang," ujar Elona.


"Iya, mungkin itu ibu Zaharana. Sebentar, ibu bukakan dulu." Aruna hendak bangkit berdiri, namun segera di cegah oleh Haikal.


"Biar aku saja." Haikal bangkit berdiri dan berjalan beberapa langkah untuk sampai ke pintu depan.


Begitu pintu di buka, muncul seorang pria di baliknya.


"Kau-" tunjuk pria itu ke arah Haikal.


"Ada perlu apa datang ke sini?" tanya Haikal berusaha sopan.


"Bukan urusanmu! Sedang apa kau di rumah Aruna?" seru pria itu.


"Sedang apa? Hei, aku ini suaminya. Dan aku sangat berterima kasih sekali padamu, berkat dirimu aku bisa bersatu dengan Aruna. Terima kasih, ya." ucap Haikal.


Seketika kedua tangan Abian mengepal. Tubuhnya seketika memanas mendengar pernyataan pria yang mengaku sebagai suami Aruna.


"Kau mau bertemu dengan Elona? Sebentar, ya, aku panggilkan dulu," imbuh Haikal.


Entah kenapa, rasanya sangat menyakitkan begitu ia sudah berhasil mewujudkan apa yang selama ini ia harapkan bersama keluarga kecilnya, ternyata sudah ada orang lain yang lebih dulu mewujudkankannya.


Abian berusaha mengontrol diri agar ia tidak sampai meluapkan emosinya di sana. Tidak berapa lama, Haikal kembali bersama Elona.


"Ayah ..." panggil bocah itu.


"Hai putri ayah ... " Abian merentangkan kedua tangannya menyambut putrinya ke dalam pelukan.


Alih-alih cemburu, Haikal justru senang melihat hubungan anak dan orang tuanya itu akur. Sebab tidak ada alasan untuk dia cemburu. Elona tetap anak kandung Abian.


Setelah puas berpelukan, mereka akhirnya melepaskan pelukannya.


"Ayah, aku senang sekali. Sekarang aku sudah memiliki ayah baru," ungkap Elona dengan penuh rasa bahagia.

__ADS_1


Namun kebahagiaan Elona adalah ketakutan Abian. Pria itu hanya diam bahkan senyum di bibirnya perlahan memudar.


"Tapi ayah tenang saja, meski aku punya ayah baru, aku akan tetap sayang pada ayah. Aku akan sama-sama sayang ayah dan juga ayah Haikal." Elona mending akan wajahnya dan melihat ke arah ayah barunya, Haikal mengangguk membenarkan.


"Ayah Haikal baik, ayah. Jadi ayah tidak perlu khawatir jika ayah Haikal akan menyakiti ibu dan aku."


Kalimat terakhir Elona barusan kembali membuat Abian merasa sangat bersalah dan mendatangkan penyesalan besar. Ia menarik tubuh putrinya dan membawanya ke dalam pelukan, ia peluk tubuh mungil itu cukup erat.


Abian menangis cukup keras di pelukan putrinya, menumpahkan seluruh penyesalannya.


Suara tangisan tersebut tentunya menarik perhatian Aruna, wanita itu bangkit berdiri dari duduknya dan menghampiri sang suami yang berdiri di ambang pintu.


"Ada apa?" tanya Aruna dan Haikal mengedikan dagunya ke arah Abian.


"Sepertinya dia benar-benar menyesali perbuatannya, sayang," ujar Haikal.


Melihat Abian seperti itu, Aruna juga ikut terharu melihatnya. Tapi sayangnya, sudah tidak ada ruang di hatinya untuk Abian. Sekalipun sebelum belum menikah dengan Haikal. Apalagi sekarang, ruang hatinya sudah terisi penuh oleh suaminya sekarang.


"Ayah ... Kenapa menangis?" Ini adalah kalimat pertanyaan Elona yang kesekian kalinya, namun ayahnya terus terisak.


Abian menangis cukup lama di pelukan Elona, sampai akhirnya ia merasa puas dan lega. Barulah ia melepaskan pelukannya.


"Ayah jangan menangis lagi, ya." Elona mengusap air mata di pipi ayahnya menggunakan ibu jari mungilnya.


Abian mengangguk. "Maafkan ayah ya, sayang. Maaf jika ayah gagal menjadi ayahmu. Maafkan ayah, karena perbuatan ayah kita harus berpisah seperti ini. Ayah tidak bisa setiap hari menjaga Elona. Maafkan ayah, sayang. Maafkan ayah ..."


"Iya, ayah. Tidak apa, aku sudah memaafkan ayah. Ayah tenang saja, sudah ada ayah Haikal yang menjaga aku. Ayah jangan bicara seperti itu. Ayah tidak gagal menjadi ayah aku. Ayah tetaplah ayahku. Aku sayang ayah .." Elona memberi sebuah kecupan singkat di pipi kiri kanan ayahnya.


"Terima kasih ya, sayang. Terima kasih. Ayah juga sayang sekali pada Elona."


Keduanya kembali berpelukan, namun tidak selama tadi.


Usai melepaskan pelukannya, Abian bangkit berdiri. Ia menatap kedua orang yang ada di hadapannya. Dan pandangan Abian jatuh pada perut buncit Aruna.


"Selamat ya atas pernikahan kalian. Semoga di beri kebahagiaan," ucap Abian seraya mengulurkan tangan.

__ADS_1


Haikal yang menjabat tangan itu. "Iya, terima kasih atas do'a nya." balas Haikal sebelum akhirnya jabatan tangan mereka kembali terlepas.


Abisan menatap wajah Aruna.


"Maafkan semua kesalahan aku selama kita masih bersama, Aruna. Semoga sekarang kau bisa bahagia dengan suami barumu."


Aruna mengangguk. "Iya," jawabnya singkat.


Dan pandangan Abian beralih pada Haikal.


"Tolong jangan sakiti Aruna seperti aku menyakitinya. Sebab aku tahu sebesar apa penyesalan yang kini aku dapatkan akibat menyia-nyiakan dia. Tolong jaga putriku juga meski nanti kau sudah memiliki anak sendiri," pesan Abian.


"Itu pasti," jawab Haikal.


Abian menoleh ke arah putrinya.


"Jaga diri Elona baik-baik, ya. Maaf jika nanti ayah tidak bisa menemui Elona setiap hari. Jika rindu ayah, kita bisa melepasnya melalui panggilan video call."


"Iya, ayah."


"Ya sudah, kalau begitu ayah pamit lagi, ya. Ingat pesan ayah, jaga diri baik-baik sampai Elona besar nanti."


Elona mengangguk. "Iya, ayah. Ayah juga."


Abian mencium puncak kepala Elona sangat dalam dan cukup lama.


"Ayah pamit, ya. Aruna, aku permisi."


"Iya, silahkan." jawab Aruna.


Berat rasanya meninggalkan rumah itu. Rumah yang penuh banyak kenangan bersama keluarga kecilnya. Kini menciptakan kenangan baru untuk orang lain.


Namun, Abian tidak boleh menyerah. Ia pasti bisa mengikhlaskan keluarga kecilnya. Ia yakin mereka pasti akan bahagia sekali pun tanpa dirinya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2