
Suasana sarapan pagi ini tampak berbeda. Semalam Abian tidak berhasil meyakinkan Aruna, wanita itu langsung tidur bahkan memunggunginya.
Elona bisa merasakan apa yang terjadi pada ayah dan ibunya. Ia menatap ayah dan ibunya secara bergantian, namun mereka saling diam.
"Ayah, ibu .." panggil Elona.
"Iya, sayang .." jawab Abian dan Aruna secara bersamaan.
Aruna menoleh ke arah suaminya sekilas, kemudian kembali menatap putrinya.
"Kenapa, sayang?" tanya Aruna kemudian.
"Ayah dan ibu kenapa? Kenapa ayah dan ibu sedari tadi diam?"
Aruna dan Abian saling menatap untuk beberapa detik, sebelum akhirnya Aruna mengalihkan pandangan nya pada putri kecilnya.
"Tidak apa-apa, sayang. Kenapa Elona bertanya seperti itu?"
"Aku tidak melihat senyuman di wajah ayah dan ibu pagi ini. Tapi bibi Ziva kelihatan seperti orang yang sedang bahagia sekali."
Ziva membulatkan matanya begitu Elona berkata demikian. Kenapa bocah itu bisa menyimpulkan apa yang terjadi di antara mereka.
"Ah yang benar saja, Elona? Bibi biasa saja, kok. Bukannya setiap pagi bibi tampak ceria dan bahagia?" sahut Ziva.
__ADS_1
"Sepertinya Elona bisa merasakan apa yang aku rasakan. Tapi kenapa Elona bisa mengatakan jika Ziva ini seperti orang yang sedang berbahagia?" batin Aruna.
"Jangan memikirkan banyak hal, sayang. Cepat habiskan sarapan mu," perintah Abian.
"Baik, ayah." Elona menurut.
Sarapan pun kembali berlanjut, tiba-tiba Elona tidak sengaja menjatuhkan wadah susu nya.
"Maaf, ibu. Aku tidak sengaja," ucap bocah itu.
Elona kemudian mengambil wadah susu tersebut. Kedua matanya tertuju pada kaki Ziva yang tengah memberi sentuhan di kaki Abian.
"Apa yang sedang bibi Ziva lakukan?" pikir bocah itu.
"Kenapa, sayang?" tanya Aruna.
"Ibu, bibi Ziva-"
"Uhuk .. Uhuk .. " Tiba-tiba saja Ziva tersedak, hal tersebut tentu saja memotong ucapan Elona.
Aruna memberikan segelas air untuk Ziva, namun keduluan oleh Abian. Wanita itu langsung meminum nya dan beruntung batuk-batuk nya tidak berlangsung lama.
"Maaf sudah mengganggu sarapan kalian," ucap Ziva kemudian.
__ADS_1
Aruna masih memegang gelas berisi air putih itu seraya menatap heran suaminya. Ia merasa ada yang aneh.
"Ziva bagi aku adalah teman yang baik. Abian juga suami terbaikku. Aku percaya pada mereka. Tapi kenapa, ada keraguan di hati aku sekarang untuk memberi kepercayaan pada mereka. Sepertinya aku tidak boleh lengah, apa yang tidak mungkin bisa saja terjadi. Meski aku berharap nya tidak terjadi apapun di antara mereka. Tapi kejadian semalam membuatku hilang kepercayaan." ucap Aruna dalam hati.
Hari ini Aruna masih bagian shift siang. Abian sudah pergi ke kantor lima menit lalu usai sarapan. Ziva pamit pergi ke minimarket. Hanya ada dirinya dan Elona. Kebetulan guru di sekolah Elona ada kepentingan.
Usai merapikan meja makan dan mencuci piring bekas sarapan. Aruna mendengar suara ketukan pintu dari depan. Ia bergegas pergi guna membukakan pintu tersebut.
Begitu pintu di buka, muncul sosok pria tidak di kenal berdiri di hadapan Aruna.
"Selamat pagi. Apa benar ini rumah Aruna?" tanya pria itu.
Aruna mengangguk kaku. "I-iya. Kau siapa?"
Pria itu mengulurkan tangan nya. "Aku Gavin."
"Gavin? Nama ini sama dengan nama suami Ziva. Apa memang ini orangnya?" batin Aruna.
_Bersambung_
NOTE:
Jangan dulu di skip, ya. Besok aku update part Aruna memergoki Ziva. Dan apa yang akan Aruna lakukan terhadap teman dan suaminya.
__ADS_1