GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Tidak Waras


__ADS_3

Pagi ini Elona libur sekolah. Kanaya datang ke rumah Aruna untuk menyampaikan sesuatu.


"Cheryl memintaku untuk makan bersama dengan Elona nanti di restoran. Apa kau bisa ikut juga?"


"Setengah jam lagi aku harus on the way ke resto tempat aku bekerja. Sepertinya aku tidak bisa ikut, aku pulang jam tiga sore nanti," jawab Aruna.


"Kalau begitu, aku makan di resto tempatmu bekerja saja. Tapi nanti di jam pulang kerjamu. Agar kita bisa makan sama-sama. Bagaimana?" tawar Kanaya.


"Tapi-"


"Tidak usah memikirkan tagihannya, aku yang akan bayar semuanya. Kan aku yang mengajakmu dan Elona. Mau ya," pinta Kanaya sedikit memohon.


"Iya, Kanaya. Terima kasih sebelumnya."


"Ya sudah kalau begitu aku permisi pulang. Elona, nanti bibi jemput jam tiga ya."


"Iya, bibi. Terima kasih sudah mengajak aku untuk makan bersama. Terima kasih juga, Cheryl."


"Sama-sama, Elona. Aku senang akan makan bersama denganmu dan juga ibumu. Terima kasih kembali karena kau dan ibumu menerima ajakan kami."

__ADS_1


"Iya, Cheryl."


"Aku pulang, ya. Nanti aku dan ibu jemput."


"Iya."


Kanaya dan Aruna senang melihat putri mereka akur seperti itu. Setelah mereka pamit pulang, Aruna bersiap-siap untuk segera berangkat bekerja.


"Nanti Elona sama ibu Zahrana lagi ya," pesan Aruna.


"Baik, ibu," jawab bocah itu.


"Aku ingin pergi saja dari sini, tolong lepaskan aku. Aku masih waras!" seru Ziva.


"Tidak bisa, kau ini seorang gelandangan dan kau tidak bisa berkeliaran di jalan. Kau harus di amankan di sini," ujar pertugas wanita yang bertugas memberi makan.


"Hei, aku ini normal. Aku bisa buktikan dengan cara suamimu pun bisa tergoda olehku. Apa kau ingin buktinya?"


"Tidak perlu. Itu sudah membuktikan jika kau tidak waras! Sudahlah, tidak usah banyak bicara, cepat habiskan makanannya! Setelah ini akan ada dokter yang akan menyuntikan cairan agar kau kembali waras."

__ADS_1


Petugas wanita tersebut beranjak pergi dari sana, meninggalkan Ziva yang ketakutan.


"AKU TIDAK MAU DI SUNTIK CAIRAN ITU! AKU BISA GILA SUNGGUHAN JIKA KALIAN MELAKUKANNYA! HEI, KELUARKAN AKU DARI SINI!" teriak Ziva namun tidak ada seorang pun yang mendengarkannya.


"Tidak, aku tidak bisa tetap berada di sini. Aku harus segera pergi dari tempat ini. Sialan sekali mereka, memasukan aku tempat orang gila. Apalagi mau menyuntikan cairan sembarangan ke tubuhku. Bisa-bisa aku gila sungguhan."


Ziva berusaha mencari cara agar bisa kabur dari tempat itu. Ia tampak berpikir keras agar ia tidak sampai ketahuan.


Petugas yang tadi memberi makan pada Ziva tengah mengobrol dengan petugas yang lainnya.


"Aku tidak mau mengantar makanan atau apapun lagi pada wanita yang itu. Dia terlalu cerewet dan kukuh mengatakan dirinya tidak gila. Padahal sudah jelas dia di bawa ke sini lantaran dirinya gelandangan yang berkeliaran di jalan," ujarnya.


"Itu karena kau masih terlalu baru di sini. Banyak yang seperti itu. Dia berusaha meyakinkan diri jika dirinya tidak gila. Padahal dia tidak waras."


"Hah, aku bisa ikut gila jika setiap hari melayani orang tidak waras."


"Lalu kenapa kau ingin kerja di sini?"


"Aku akan keluar dari sini setelah menerima gajiku," jawabnya kemudian pergi.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2