GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Main Ke Taman


__ADS_3

Sore ini Aruna mengajak putrinya jalan-jalan taman dekat rumah. Mereka memilih untuk jalan kaki saja lantaran jaraknya bisa terjangkau oleh jalan kaki.


"Ibu, jadi kapan kita bisa main bersama paman Haikal?" tanya Elona ketika dia dan ibunya sedang berjalan menuju taman yang hendak ia datangi.


"Sabar ya, sayang. Kita tunggu paman Haikal sampai pulih, setelah itu kita bisa main bersamanya," jawab Aruna.


"Tapi berapa lama lagi, ibu? Aku sudah tidak sabar untuk main bersama paman Haikal."


"Kita tunggu sampai tiga hari atau satu mingguan lagi, ya. Sampai paman Haikal sudah benar-benar pulih dan memungkinkan untuk berjalan lama."


"Yaahh ... Masih lama, ibu," rengek bocah itu.


"Tidak lama, hanya hitungan hari saja. Elona sabar dulu saja, ya. Ibu yakin, paman Haikal juga pasti sudah tidak sabar ingin segera bermain dengan Elona. Dan ibu yakin, paman Haikal pasti cepat memulihkan diri agar bisa secepatnya main. Jadi, Elona sabar sebentar, ya."


"Iya, ibu. Aku akan tunggu satu minggu lagi. Semoga paman Haikal pulih dan kita bisa main bersama."


"Semoga saja, sayang."


Aruna mengacak puncak rambut putrinya dengan gemas, mereka terus melangkah sampai akhirnya tiba di taman.


Pandangan Elona pertama kali jatuh pada bocah seusianya yang bermain balon bersama ibu dan ayahnya. Elona jadi ingin bermain balon juga nanti bersama ibu dan paman Haikal nya.


Aruna mengikuti arah pandang putrinya. Sepertinya ia paham dengan apa yang saat ini ada di dalam pikiran Elona.


"Elona mau balon juga?" tawar Aruna seraya membungkukan badannya mensejajarkan diri.


Elona mengangguk. "Iya, ibu. Tapi nanti saja, jika kita sudah bisa main dengan paman Haikal," jawab bocah itu.


"Kalau Elona mau sekarang juga tidak apa-apa. Ibu akan belikan untuk Elona."

__ADS_1


Elona beralih memandang tukang balon yang tidak jauh dari tempat main bocah seusianya.


"Tidak apa-apa, ibu. Nanti saja."


"Elona yakin tidak mau sekarang?"


"Tidak, ibu. Nanti saja."


"Ya sudah, bagaimana kalau kita duduk di bangku sebelah sana?" Aruna menunjuk bangku besi berwarna putih yang berada di bawah pohon rindang.


Elona mengangguk setuju. "Iya, ibu."


"Ayo."


Aruna menggenggam buah tangan mungil Elona dan membawanya pergi ke tempat dimana bangku itu berada.


"Sedikit."


"Ya sudah, ibu belikan minum, ya."


"Iya. Tapi jangan yang dingin, ibu."


"Iya, sayang."


Aruna lekas memanggil penjual minum asongan, dan bapak pedagang asongan itu berjalan menghampiri.


"Air mineral satu ya, pak," Pinta Aruna seraya mengeluarkan uang lembaran pecahan sepuluh ribuan.


"Yang dingin, bu?" tanya bapak itu.

__ADS_1


"Yang biasa saja, pak."


"Oh, baik." Bapak itu mengambil air mineral kemasan botol lalu di berikannya pada Aruna.


"Ini pak uang nya." Aruna memberikan selembar uang tersebut usai menerima sebotol air mineral dari bapak tersebut.


"Ini, bu, kembaliannya." Bapak itu memberikan kembalian lima ribu dan Aruna menerimanya.


"Terima kasih, pak," ucap Aruna.


"Sama-sama," ucap bapak itu kemudian pergi untuk mejajakan dagangan nya pada pengunjung taman yang lain.


Aruna membuka segel penutup air mineral nya lalu di berikan pada Elona. Ia membantu putrinya minum.


"Elona haus, nak."


"Iya, ibu, hehe ..."


"Ya sudah, minum lagi yang banyak, sayang."


"Iya, ibu."


Elona meneguk lagi minumannya.


Tiba-tiba saja pandangan Aruna tertuju pada seseorang yang berdiri tidak jauh darinya. Seketika ia membulatkan matanya sempurna.


"Ziva?" ucapnya lirih dengan bibir gemetar.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2