GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Jawaban Aruna


__ADS_3

Aruna menatap manik mata Haikal secara bergantian. Mulutnya serasa di kunci sehingga ia kesulitan untuk bicara. Perasaannya sudah tidak karuan.


"Jika kau tidak keberatan menjadikanku sebagai suami dan ayah sambung untuk putrimu, aku akan sangat bahagia dan bersyukur sekali. Aku akan berterima kasih sekali padamu karena sudah menerima aku menjadi bagian dari keluarga kecilmu. Tapi jika kau tetap kukuh pada pendirian mu, menganggap aku hanya sebatas teman, aku juga tidak akan memaksamu dan kita akan tetap berteman. Selamanya kita akan menjadi teman dan aku akan berusaha mengikis perasaan ini."


Aruna semakin di buat bingung. Di satu sisi ia juga sebenarnya memiliki perasaan lain untuk Haikal, tapi di sisi lain ia masih takut untuk memulai kisah baru.


"Jangan hanya karena satu pria menyakitimu, semua pria kau anggap sama."


Aruna diam, ia bingung harus menjawab apa. Ia masih bingung dengan perasaannya sendiri.


Haikal masih setia menunggu jawaban Aruna, tapi wanita itu diam dan tidak mau bicara. Mungkin selamanya Aruna memang hanya akan menganggapnya sebagai teman.


Haikal melepaskan genggaman tangannya.


"Tidak apa, aku tidak akan memaksamu, Aruna. Aku tidak akan menekan perasaanmu. Kau tenang saja, aku tidak marah. Mungkin aku yang terlalu menaruh harapan besar untukmu. Sampai lupa jika apa yang kita inginkan tidak selamanya bisa dapatkan."


Aruna masih saja diam, bukan karena ia sengaja mendiamkan pria itu. Tapi mulutnya sulit sekali untuk bicara.


"Kalau begitu, aku pamit pulang, ya. Salam untuk Elona."

__ADS_1


Haikal sebenarnya masih berharap Aruna akan memberinya jawaban. Tapi ia sudah berusaha mengulur waktu, wanita itu tetap saja diam. Akhirnya ia putuskan untuk pulang saja. Ia bangkit berdiri dari duduknya. Hendak melangkah dari sana, tiba-tiba ia merasa tangannya di pegang oleh seseorang. Dan begitu ia lihat, tangannya di pegang oleh Aruna.


"Haikal, tunggu!" Aruna bangkit berdiri lalu Haikal membalikan badannya sehingga mereka berdiri saling berhadapan.


"Iya, ada apa, Aruna?"


"H-Haikal ... s-sejujurnya ... A-aku .." Aruna masih saja sulit mengungkapkan isi hatinya.


"Kau kenapa, Aruna?"


Aruna berusaha untuk mengumpulkan keberanian dengan cara menghilangkan kegugupan nya.


Jantung Haikal serasa berhenti bergedup, ia seperti mimpi mendengar pengakuan Aruna barusan.


Haikal memegangi kedua sisi bahu Aruna dan menatap wajah wanita itu lekat dalam jarak yang cukup dekat.


"Sungguh? Tolong katakan sekali lagi, aku ingin mendengarnya lagi, Aruna," pinta pria itu memohon.


"Aku menerimamu menjadi suami sekaligus ayah sambung untuk putriku," ucap Aruna dengan sangat jelas.

__ADS_1


Semburat kebahagian tergambar jelas di wajah Haikal. Pria itu sampai menitikan air mata saking bahagia dan merasa terharu.


"Aruna, aku mencintaimu. Sangat."


Aruna mengangguk. "Iya, aku juga, Haikal."


Setelah saling menyatakan perasaan, Haikal langsung membawa Aruna ke dalam pelukan. Ia mendekap tubuh wanita itu cukup erat dan menumpahkan setetes ari mata haru, air mata bangga, air mata bahagia. Akhirnya, selangkah lagi, ia akan menjadi bagian dari keluarga yang akan memberikan kebahagiaan yang berpengaruh besar pada kehidupan kedepannya.


"Terima kasih, Aruna. Terima kasih," ucap Haikal di antara kebahagiaan nya.


Aruna mengangguk. "Iya, Haikal."


Mereka berpelukan dengan waktu yang cukup lama, sampai kehadiran Elona membuat mereka terpaksa melepaskan pelukan.


"Ibu dan paman Haikal sedang apa?" tanya bocah itu dengan polos.


Aruna dan Haikal saling menatap, mereka tidak tahu sejak kapan Elona ada di sana.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2