
"Memangnya tadi Elona jalan-jalan kemana?" tanya Aruna sembari menaruh makanan ke piring yang ada di hadapan putrinya.
"Ke tempat bermain anak-anak, ibu."
"Elona senang?"
"Tentu. Banyak sekali wahana permainan di sana. Banyak juga anak-anak seusiaku. Kita saling berkenalan dan aku mendapat banyak teman. Mereka baik-baik dan aku sangat senang bisa kenal dengan mereka, walaupun hanya sebentar." Elona menceritakannya dengan semangat.
"Bagus kalau Elona mudah berbaur dengan orang lain. Yang terpenting Elona harus tetap jaga etika apalagi dengan orang yang baru saja kita kenal," pesan Aruna.
"Iya, ibu."
"Ya sudah, sekarang berdo'a dulu lalu makan dan habiskan makanannya."
"Baik, ibu. Terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama, sayang."
Aruna meletakkan gelas berisi air putih yang baru saja ia tuangkan untuk putrinya. Setelah itu, barulah ia mengambil makan beserta minum untuk dirinya sendiri.
Di sela-sela makan berlangsung, Elona masih saja semangat menceritakan apa yang di laluinya tadi bersama sang ayah. Aruna ikut senang jika putrinya senang. Dan memang benar apa kata Haikal, Abian mungkin hanya gagal sebagai suaminya, tapi tidak sebagai ayah dari putrinya.
"Ah ya, bu. Tapi ayah sempat kesal padaku," terang Elona dan mimik wajahnya sedikit berubah.
"Kenapa? Karena Elona bandel tidak bisa di kasih tahu atau tidak mau di ajak pulang?"
"Lalu apa?" tanya Aruna sedikit penasaran.
"Sebelum kami pergi ke tempat bermain, ayah meminta aku untuk menyebutkan keinginan aku jalan-jalan kemana. Sebelum itu juga, ayah menawari aku untuk membeli peralatan sekolah. Tapi aku rasa tidak ada yang harus di beli lagi. Sepatuku masih bagus, kaos kaki juga masih ada yang belum di pakai. Buku di sediakan oleh sekolah. Pensil warna juga paman Haikal sudah belikan. Lalu ayah menawariku untuk membeli tas, aku bilang saja pada ayah kalau paman Haikal juga membelikan tas baru untukku."
"Lalu ayahmu marah karena itu?"
__ADS_1
Elona menggeleng. "Bukan. Pada saat itu ayah belum marah. Tapi begitu ayah meminta aku menyebutkan keinginan kita akan jalan-jalan kemana lantaran tidak jadi beli peralatan sekolah, ayah marah karena aku meminta ayah untuk mengantar aku ke tempat paman Haikal. Aku rindu pada paman Haikal. Di situlah ayah marah padaku. Ayah tidak suka aku menyebut nama paman Haikal terus menerus."
"Apa ayah memarahi Elona? Membentak Elona?"
"Tidak, ayah hanya tidak suka aku mengatakan rindu paman Haikal. Sebab alasan ayah mengajak aku jalan-jalan karena ayah rindu padaku. Itu sebabnya ayah pikir aku hanya merindukan paman Haikal saja. Padahal aku juga rindu pada ayah."
Aruna menghela napas. Ia cukup paham dengan apa yang baru saja di ceritakan oleh Elona. Ia yakin pasti Abian sudah berpikir yang macam-macam mengenai kedekatan Elona dengan Haikal. Tapi bagaiamana pun pemikiran Abian terhadap dirinya, ia tidak perduli lantaran ia tidak seperti yang ada di dalam pikiran pria itu.
"Ya sudah, tidak perlu Elona pikiran untuk hal itu. Sekarang lanjutkan makannya dan habiskan. Nanti ibu buatkan susu dan Elona harus segera tidur. Besok Elona harus kembali sekolah, ibu juga harus kembali bekerja. Ok!?"
"Iya, ibu," jawab Elona patuh.
Aruna menatap wajah putrinya yang sedang makan dengan lahap. Kerinduan Elona terhadap Haikal begitu besar hingga membuat kecemburuan ayahnya sendiri. Jika saja ibu Zahrana tidak mengajak Elona ke pesta keluarganya, mungkin tadi Elona ikut ke rumah Haikal dan mereka bertemu.
_Bersambung_
__ADS_1