
Kini Amos dengan perlahan masuk ke dalam ruangan istrinya berada, meninggalkan para anggota keluarga yang tengah bersorak gembira dan saling mengucapkan selamat, begitupulah para sahabat Liu yang ikut bahagia karna merasa sahabat kecil mereka itu kini sudah akan menjadi seorang Ibu.
Amos menyeka air mata di pipinya, senyuman tak luntur dari wajah tampannya, Pria itu menggenggam erat tangan istrinya sambil mengecupnya beberapa kali tanpa sanggup berkata-kata.
"Sayang, Terimakasih aku mencintaimu"
Bisik Amos dengan nakal di telinga Liu yang masih menutup matanya, hidung mancung Amos terasa menggelitik saat menggesek daun telinga Liu. Perlahan mata Liu terbuka, wanita cantik itu langsung menatap suaminya yang tengah tersenyum bahagia. Kemudian pandangan Liu jatuh pada ruangan medis, dia menatap kesana kemari dan kemudian kembali menatap Amos.
"Aku kira aku sudah mati"
Seru Liu dengan suara lirih dan serak yang begitu menggoda, Amos terkekeh mendengarnya, walaupun penampilan Amos tampak acak-acakan tapi wajahnya masih tetap begitu tampan, rahang tegas dengan garis sempurna, bola mata hitam pekatnya setajam elang, rambut acak-acakan yang terkesan Bad boy serta bibir sexsinya yang terus memancarkan senyuman penuh cinta mampu membuat Liu berdebar saat wajah mereka sangat dekat bahkan deru nafas keduannya terasa begitu nyata.
"Apa aku tampan Hem?"
Tanya Amos dengan kekehan, Liu dibuat salah tingkah dia langsung memalingkan tatapannya dari Amos yang membuat Amos merasa gemas dan terus mengelus surai istrinya. Salah satu tangan Amos dengan nakal masuk ke dalam selimut dan mencari celah agar bisa menyentuh langsung perut Qynliu. Dia menyikap baju Liu dan meletakkan tangan hangatnya tepat di atas perut sang istri.
"Hallo anak Daddy"
Amos mensejajarkan wajahnya pada perut rata Liu, mengelusnya dengan penuh kelembutan dan rasa cinta yang menggebu-gebu, mendengar ucapan Aneh sang suami dan kelakuannya, Liu membelalak dan bangkit dan tidurnya kemudian duduk bersandar pada pembaringan, dia menatap Amos tak percaya dan juga perutnya dengan bingung.
"Jangan bilang kalau ak-"
__ADS_1
"Yes Baby, kita akan menjadi orang tua"
"What!"
Pekik Liu setengah mati, jantung Liu berdebar sambil menatap perutnya tak percaya, kemudian Liu menggeleng sambil menutup mulutnya diiring air mata yang keluar seolah Liu benar-benar dibuat kaget.
"Aku membencimu Amos, ini semua salahmu, aku tahu ini semua rencana licikmu untuk menghancurkanku. Aku tahu itu, kau membuatku mengandung anak ini agar kau bisa mengikatku bersamamu kan, aku tidak Sudi dengan pria sepertimu. Kau tidak mencintaiku, kau jahat aku membencimu"
"Liu, Qynliu"
Teriak Amos murka dan menahan tangan Liu yang terus memukul perutnya berulang kali, Liu tak berhenti melawan sekuat tenaga dia melepaskan diri dari Amos dan memukuli perutnya lagi dengan tangis yang semakin kencang.
Kali ini bentakan Amos berhasil menghentikan Liu, dengan kuat Amos menghempaskan tangan istrinya dan menyebut nama Liu dengan amarah yang sudah diubun-ubun, mata Amos melotot menatap istrinya, Liu dibuat takut dengan suara besar Amos dia pun menangis dalam diam dan menutupi diri dengan selimut.
"Arghhhhhhhh, apa yang kau inginkan sebenarnya ha, berapa kali aku mengatakan bahwa aku mencintaimu Qynliu. Apa kau gila, aku sudah meminta maaf ribuan kali dan itu masih membuatmu meragukanku, kau ingin membunuh anak itu, sadarlah Qynliu disini aku yang bersalah bukan anakku"
Prang.......
Prang........
Prang.......
__ADS_1
Qynliu semakin ketakutan mendengar kegaduhan dan suara teriakan suaminya, dia terus menangis sambil menggigit bibirnya hingga berdarah, Amos kali ini benar-benar murka, dia tidak percaya dengan reaksi buruk Qynliu akan kehadiran bayi kecil mereka. Amos menjadi hilang kendali, dia melampiaskan kemarahannya pada barang-barang yang ada di dalam ruangan medis.
"Amos......."
"Amos apa yang terjadi"
"Amos berhenti"
Brukhhh...........
"Apa yang kau lakukan ha?"
Mendengar suara keributan dari dalam ruangan Liu, para anggota keluarga itupun menjadi khawatir dan memaksa masuk ke dalam, saat pintu terbuka mereka dikejutkan dengan apa yang Amos lakukan, dan Qynliu yang berbaring dengan gemetar di atas ranjang, terlihat jelas dari balik selimut.
Mereka berteriak kaget melihat Amos yang tengah membanting beberapa barang ke lantai, melihat kelakuan putranya, Tuan Ham langsung berjalan cepat dan melayangkan pukulan keras tepat di pipi Amos yang membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
Amos tidak menjawab ataupun melawan dia hanya meringis kecil dan menatap Liu yang tengah memeluk Anatasya dengan erat dan tubuh bergetar ketakutan, kemarahan Amos meredup seketika dan berubah menjadi rasa sesal dan kecewa pada dirinya sendiri yang telah membentak dan meneriaki istrinya.
Tanpa sepatah katapun Amos menghembuskan nafas berat dan perlahan berjalan keluar dari ruangan, tapi sebelum itu.
"Maafkan aku Dad, Mom, Sean, aku bukanlah suami yang baik, maaf telah mengecewakan kalian, aku masih belum bisa menjaga istriku, aku butuh waktu agar bisa menjadi dewasa dan siap menjadi ayah sekaligus suami"
__ADS_1