
"No Dad, aku akan berjuang sendiri, aku hanya ingin Daddy percaya dan mendukungku"
Ucap Liu dengan tersenyum tulus, matanya berkaca-kaca mengingat perjuangannya yang hanya tersisah hari ini dan besok.
"Aku hanya ingin Daddy berjanji, jaga rahasia tentang identitasku, apapun yang terjadi antara aku dan Amos kedepannya"
Liu berkata dengan dingin, wajahnya tampak sangat serius, Tuan Ham reflek mengangguk cepat, meraih tangan Liu kemudian menggenggamnya sayang.
"Daddy berjanji nak, Terimakasih sudah membuka mata Daddy bahwa Sima dan Lexa bukan orang yang baik, dan terimakasih sudah mau mencintai putra Daddy sedalam ini. Daddy harap kalian bisa bersatu untuk selamanya, Amos itu sangat membutuhkan gadis sepertimu, karna gara-gara Daddy mental suamimu itu sedikit terganggu. Daddy ingin dia menjadi Amos yang dulu, yang ingin bermanja dengan Daddy"
Tuan Ham meneteskan air mata didepan Liu, nada suaranya bergetar begitu dalam rasa penyesalan dan kecewa. Liu mengangguk kemudian balas menggenggam tangan Ham.
"Aku menghargai Daddy sama seperti Daddy Bryan"
Keduanya berpelukan dengan tangis haru penuh kasih sayang, setidaknya sekarang Liu memiliki Ham yang percaya dan ada untuknya. Dukungan dari Ayah mertuanya itu sedikit membuat harapan untuk Liu....
Setelah acara buka rahasia dan haru mengharukan itu, Liu dan Ham pun memilih menyudahkan dan memilih kembali pada kegiatan masing-masing. HAM akan pergi ke perusahaan Amos untuk sedikit bercerita dengan putra sulungnya, salah satu cara pendekatan. Sedangkan Liu, sore ini dia sudah berada dirumah.
Membuat berbagai hidangan makanan yang akan dipersembahkan pada suaminya Amos, ya, salah satu cara mengambil hati Amos.
"Nona Roti nya sudah matang"
Seru Lily pada Qynliu yang tengah sibuk memotong beberapa jenis sayuran, Liu melirik pemanggangan kemudian meraih pelindung tangan sebelum meraih roti diatas pemanggangan, empat lembar roti Liu letakkan diatas sebuah piring dan ditaruh diatas meja makan.
__ADS_1
"Lily, tolong tumis bumbu ini ya!"
Pintanya menunjuk beberapa wadah kecil didepannya, Lily mengangguk kemudian mulai munumis bumbu. Dengan semangat yang membara, Liu terus bergelut dengan dapur, membuat hidangan makanan yang terbilang cukup amatir. Selain dia yang tidak tahu menahu akan masak-memasak dan hanya bermodalkan resep makanan yang pernah dikirim Anatasya dulu pada ponselnya......
"Ehem"
Deheman keras suara bariton mengejutkan Liu yang tengah fokus menghias piring hasil masakannya yang hampir selesai. Mata Liu cepat berbalik mencari asal suara. Secercah senyum langsung terbit dibibir tipisnya kala melihat sosok suami yang dicintai sudah berdiri tengah memandanginya dengan wajah datar.
Mata yang memiliki iris coklat pekat, rambutnya yang sedikit acak-acakan, garis bibir yang sempurna, hidung mancung serta kulitnya yang mulus tak lupa badan atletis, dengan dada bidang,lengan yang kekar dan otot-otot tubuh sempurna semakin membuat Liu jatuh hati.
Liu bahkan berani bersumpah, bahwa suaminya ini adalah pria tertampan yang pernah dia temui, sayang seribu sayang hati Amos masih bukan milik Liu. Gadis itu dengan kegugupan yang melanda, mencoba menarik nafas dan mengatur detak jantungnya. Senyuman manis mengalahkan manisnya madu dia rekahkan untuk Amos. Berjalan gemulai menuju suaminya, dengan cepat maraih Jas yang berada dilengan Amos.
"Sudah pulang ternyata"
Amos dibuat melongo tak percaya, Liu bisa juga bersikap ayu bahkan melebihi Lexa, yang gemulainya dibuat-buat.
"Ada apa denganmu?"
Tanya Amos mengerjitkan keningnya merasa aneh, tapi dia membiarkan tangan Qynliu yang bergerak aktif membuka kancing bajunya yang sudah berbau keringat. Para pelayan yang berada didapur dibuat senyum-senyum sendiri dengan tingkah sepasang suami istri itu, terlihat sangat romantis.
"Apa tidak boleh mengurus suamiku?"
Seru Liu dengan senyuman yang semakin rekah, walaupun terbilang aneh tapi Amos hanya mampu terdiam, tapi jujur begitu menikmati tingkah Liu yang seperti ini.
__ADS_1
"Apa kau akan menelanjangiku disini?"
Amos balik bertanya dengan nada sensual, dia memberi senyuman mesum pada istrinya. Liu menjadi salah tingkah, melirik sana sini yang ternyata masih dipenuhi pelayan. Gadis itu tertawa cekikikan kembali menutupi baju Amos yang hampir terbuka semua kancingnya.
"Ayo!"
Ajak Liu menarik Amos menuju kamar, tapi kamar Liu, bukan kamar Amos bersama Lexa. Liu menggiring Amos menuju pembaringan tak lupa sebelum itu dia menutup dan mengunci pintu.
"Ayo lepaskan!, aku akan menyiapkan pakaianmu"
Seru Liu saat Amos menahan pinggangnya dengan erat, seolah tak rela istri mudanya menjauh walau dengan jarak yang cukup dekat hanya menuju lemari pakaian.
"Tidak mau!"
Ucap Amos menolak mentah-mentah, dia semakin mempererat pegangannya pada pinggang Liu, pria itu terus menata dalam wajah cantik istrinya, mata bulat, bibir tipis dan hidung mancung... Ahhhh, kemana saja Amos selama ini, kenapa baru sadar bahwa Liu begitu menggoda.
"Apa kau sudah mencintaiku, sampai tidak ingin melepaskan barang sedikitpun?"
kekehan Liu menggoda Amos, seketika pria itu melepaskan rangkulannya dengan tidak rela, wajah Amos memerah salah tingkah.
Liu terkikik geli melihat wajah Amos yang ditekuk, pria itu terlihat menggemaskan, gadis itu pun berjalan menuju lemari, ya, memang didalam lemarinya pun memang tersedia baju untuk sang suami tercinta.
Setelah memilah sepasang baju rumahan, celana pendek kain hitam+Kaos hitam lengan pendek. Liu kembali berjalan mendekat kearah sang suami yang masih terus menatapnya dengan pandangan yang tak bisa diartikan.
__ADS_1
"Pergilah mandi, aku sudah menyiapkan air hangat dengan aroma Terapy, ini pakaianmu. Setelah makan malam, aku menunggu disini ada yang ingin aku bicarakan!"