GENUINE ( LMG . S2 )

GENUINE ( LMG . S2 )
GENUINE . 70


__ADS_3

"Sudah dua tahun berlalu, dan hasilnya masih sama!"


Teriak seorang pria bernama Amos dengan murka, dia berdiri dari duduk dikursi kebesarannya dengan kasar, sehingga membuat kursi itu terhuyung kebelakang. Mata Amos memerah, wajahnya mengetat giginya gemertup dengan tangan terkepal kuat hingga beberapa garis urat terlihat. Pria itu sangat murka, menatap beberapa anak buah yang tengah bersujud di bawah kakinya meminta pengampunan.


"Tuan, ampuni kami. Tapi, sudah dua tahun mencari kesetiap pelosok, hasilnya nihil. Nyonya hilang bak ditelan bumi"


Ucap seorang bawahan dengan gemetaran, dia tak berani menatap Amos yang sangat mengerikan, hanya mampu menyembunyikan wajah ketakutan pada lantai. Mendengar itu membuat Amos kian diliput kemarahan, kakinya terangkat berniat akan menginjak kepala pria itu.


"Tuan muda"


Pekik Gal tampak terkejut, berlari cepat menahan kaki Amos, memegang kuat lututnya dan perlahan mendorongnya pelan pada posisi awal bertumpu pada pijakan lantai.


"Ckk sialan, jangan berhenti mencari istriku sampai dia kalian temukan"


Bentak Amos lagi menggebu-gebu, setetes bulir bening bahkan lolos dengan mudah dari matanya yang tampak sayu dan berkantong kehitaman. Para bawahan itu hanya mampu menunduk dengan tubuh menggigil. Gal mencari jalan aman, dia memberi kode kapada mereka agar keluar dari ruangan Singa lapar itu.


"Kami permisi Tuan Muda, Tuan"


Pamit mereka cepat dan membungkuk hormat, Amos diam membeku hatinya sakit bagai tersayat pedang samurai panjang, muak rasanya mendengar laporan para bawahan itu yang tak pernah membuahkan hasil, bahkan sedikit saja jejak tidak ditemukan.


"Arghhhhhh"


Bughhhhh


Prangggggg

__ADS_1


Teriak Amos frustasi, dia melempar bogeman keras pada meja kerjanya yang terbuat dari kaca murni itu, kaca meja pecah berserakan. Komputer dan lembaran-lembaran dokumen berhamburan jatuh kelantai menimbulkan bunyi yang sangat nyaring. Gal menghela nafas, sudah tak terkejut melihat sahabatnya yang tak terkendali, hanya menatap Amos yang tengah bersandar pada dinding kaca menatap pemandangan kota dari ketinggian ruangan kerjanya itu.


"Huh"


Gal mendengus kecil, tangannya dengan lihai mengotak-atik benda pipih mewah, setelah menghubungi Office Boy guna membersihkan kekacauan diruangan atasannya itu. Tak lupa Gal juga menghubungi seorang dokter kepercayaan saat melihat darah yang menetes dari tangan Amos.


"Tenangkan dirimu Amos, jangan seperti ini"


Ucap Gal penuh perhatian sebagai seorang sahabat, Amos masih terdiam dengan posisinya berdiri dan menatap keindahan kota.


"Liu kembalilah, aku mohon"


Guman Amos kecil, bahkan Gal tidak mendengarnya, Amos menarik nafas panjang kemudian menutup mata masih dengan posisi berdiri dan bersandar pada dinding kaca tebal. Raut wajah Amos sangat memprihatinkan, kantung matanya semakin menghitam, tatapan matanya seakan mati, tubuh Amos sedikit lebih kurus, bahkan wajahnya terlihat sedikit kusam. Pria itu terlalu sibuk meratapi penyesalan setelah sang istri tercinta meninggalkannya seorang diri.


"Jahit luka ditangannya, dan jangan sampai ada bekas dari luka itu. Tuan Muda sangat tidak menyukai bekas luka, lakukan perlahan jangan sampai menimbulkan rasa sakit karna akan membuat Tuan Muda akan merasa tidak nyaman dan murka."


"Baik Tuan Gal, saya akan melakukannya sesuai perintah anda"


"Hem"


Dokter itu berjalan mendekat kearah Amos, memberanikan diri mendekati sosok Singa menakutkan yang tengah diliput kemarah.


"Salam Tuan Muda, saya akan mengobati luka anda"


Sapa pria itu sopan kepada Amos sambil membungkukkan tubuhnya, Amos masih terdiam dan menutup mata. Tengah menikmati bayang-bayang kebersamaan bersama sang Istri tercinta yang entah dimana keberadaannya.

__ADS_1


Dengan penuh kehati-hatian dan kewaspadaan Dokter itu berhasil mengobati luka yang cukup besar pada buku-buku tangan Amos, dia tersenyum senang dengan hasil kerjanya yang membuat Amos sama sekali tidak merasa kesakitan.


"Lukanya sudah bersih tuan, dan wak......"


"Apa yang kau lakukan, saat wanitamu menghilang?"


Pertanyaan Amos memotong ucapan pria itu yang akan memberi penjelasan mengenai lukanya. Pria itu mengerjit, kemudian menatap sebentar kearah Gal yang masih setia berdiri dan menatap tuannya.


"Sepertinya aku akan melakukan dua hal"


Jawabnya dengan tersenyum ramah, Amos mengerjit menatap Dokter itu sebentar menunggu jawaban yang lebih memuaskan. Dokter itu ikut memandang kemana mata Amos mengarah.


"Apa itu?"


"Aku akan menunggu, atau menjemputnya langsung lalu menyeretnya pulang dan memeluknya penuh sesal"


"Bisa jelaskan maksudmu?"


"Tentu tuan, aku akan menunggu apabila dia memberi instruksi sebelumnya, bahwa dia tidak pergi jauh dan lama. Dan, aku akan menjemput dan menyeret saat dia pergi tanpa konfirmasi denganku, dan berniat meninggalkanku. Tanganku sendiri yang akan menggenggam dan menjemputnya pulang"


Jelas Dokter itu penuh makna pada Amos, Amos menatapnya dengan pandangan tak bisa diartikan.


"Gal, berikan dia Tips, aku suka jawabannya"


Seru Amos tanpa menatap sang Asst kepercayaannya. Dokter itu tersenyum senang kemudian permisi untuk pamit karna sudah menyelesaikan tugasnya untuk mengobati Amos, sipria pemarah dan arogant.

__ADS_1


__ADS_2