
Tamparan keras mendarat mulus dirahang tegas Amos, Liu melakukannya dengan perasaan marah dan benci akan ucapan Amos yang memaksanya untuk mengakui cinta yang telah lama dia kubur dalam-dalam. Amos terdiam, dia menyentuh pipinya yang terasa panas, sikap tempramen Amos bisa saja meluap sewaktu-waktu.
Namun, entah sejak kapan saat bersama Liu dia sedikit bisa mengurangi kemarahan, dia bisa mengontrol emosi dan mencoba bersikap sabar menghadapi Qynliu yang terkadang kekanak-kanakan, Amos sadar bahwa dia harus berubah, dia harus bisa mengendalikan sifat tempramen yang meluap-luap itu, dulu karna tidak bisa mengontrol amarah, hingga dia pada malam itu bertengkar dengan Liu dan membuat Liu meninggalkannya selama beberapa tahun. Dan itu sudah cukup sebagai hukuman talak baginya.
Amos menatap Liu yang masih terus menangis, gadis itu tampak kacau, Amos menghela nafas kemudian tersenyum tulus pada istrinya.
"Maafkan aku, aku mencintaimu"
"Hikss, lepaskan, lepaskan!"
"Maafkan aku"
Hanya ucapan itu yang mampu Amos ucapkan, dia menarik Liu agar masuk kedalam pelukannya, dia merengkuh gadis itu erat, Liu terus memberontak dengan air mata yang tak berhenti membanjiri pipi chubbynya. Amos mengelus sayang punggung Liu dan memberikan kecupan penuh cinta pada pucuk kepalanya guna menenangkan Liu.
"Hiksss...Hiksss..."
Liu masih saja sesegukan di dalam pelukan Amos, namun gadis itu sudah diam tak memberi perlawanan dia pasrah dengan pelukan hangat suaminya. Keduanya terdiam sambil memikirkan hal-hal yang akan terjadi kedepannya. Liu masih tak menyangka, dalam sehari kesucian yang selama ini dia jaga hilang begitu saja direnggut oleh suaminya, yang nekat menculiknya di hotel yang bahkan CCTV pengawas berada dimana-mana.
Liu khawatir kedua orangtuanya akan mencarinya dan menjadi panik saat mengetahui dia telat diculik oleh suaminya sendiri. Tiba-tiba Amos mengapit kedua pipi Liu dengan lembut lalu diarahkan agar keduanya saling bertatapan, senyuman Amos tampak sangat menawan kedua manik mata mereka bertemu saling mencari kehangatan. Amos membelai pipi itu dengan ibu jarinya, mereka berdua saling menatap dengan tubuh yang terbilang cukup menempel.
"Kita ulangi semua dari awal, aku mohon, izinkan aku untuk kembali menjadi suami yang begitu mencintai istrinya. Aku mencintaimu Liu, sangat mencintaimu, aku mohon kembalilah"
Mohon Amos dengan suara sepelan mungkin, bahkan pria itu meneteskan air mata, hal yang belum pernah terjadi pada sosok Amos yang diyakini memiliki sikap arogant dan juga pemarah, Liu menganga tidak percaya, dia menatap mata Amos mencari kebohongan disana, namun hanya kebenaran dan juga penyesalan yang memancar dari mata Amos.
__ADS_1
"Aku tidak bisa, tapi aku akan memaafkanmu, lupakan kejadian kemarin, kita bisa hidup seperti sebelum bertemu, kita harus berpisah di jalan masing-masing. Masalah pernikahan ini, aku akan mengajukan perceraian secepatnya"
Tepis Liu, tanpa menatap bola mata suaminya, gadis itu memalingkan wajahnya kesamping, rasanya dia takut akan merasa iba pada Amos yang terlihat memohon dengan begitu tulus. Amos menggeleng tidak setuju, dia kembali menarik wajah Liu, air mata semakin menetes dari mata hitam pekatnya.
"Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu"
"Aku juga tidak sudi menjadi istri kedua, lebih baik kita bercerai!"
Tolak Liu lagi, dia masih belum mengetahui hubungan Amos dan Lexa yang sudah berpisah sejak lama, dan keberadaan Lexa yang sudah menghilang bak ditelan bumi.
"Jus't you, istriku hanya kau seorang. Aku dan Lexa sudah bercerai tidak lama setelah pertengkaran kita"
Liu kembali terkejut mendengar penuturan suaminya, dari tatapan Amos pria itu berkata dengan sungguh-sungguh, ada sedikit rasa legah dihati Liu namun dia juga tidak boleh gampang menyerah, Liu sudah mantap akan memilih berpisah dari Amos dan melupakan rasa cinta yang tertanam namun masih tertinggal.
Tegas Liu membuat Amos terkekeh sumbang, pria itu menghapus sisa air mata yang mengenang, dia menatap Liu dengan perasaan penuh cinta dan gairah.
"Come on honey, are you kidding. It's clear in your eyes that you still love me very much"
Ucap Amos membuat Liu berdecih tak terima, gadis itu hanya menggeleng kemudian dengan sekuat tenaga menahan rasa sakit pada daerah intimnya sambil menahan selimut agar tetap menutupi daerah terlarangnya. Melihat itu Amos menyeringai, dia mempunyai cara agar gadis itu menerimanya untuk memberi kesempatan terakhir.
"Amos, what are you doing?"
Pekik Liu kaget saat tiba-tiba tubuhnya terasa melayang keudara karna pria itu menyentaknya keatas gendongannya dan membawanya menuju kamar mandi, Liu berteriak sambil memukul punggung Amos namun pria itu seakan tak merasakan apa-apa....
__ADS_1
"Lihat saja jika kau masih tetap tidak memberikan aku kesempatan untuk kembali menjadi suami, dan kembali merebut cinta yang katamu sudah hilang itu. Aku akan membuatmu mengandung benihku"
Ancam Amos dengan senyuman licik menggendong Liu menuju kamar mandi, Liu menghela nafas tidak percaya, pria ini memaksanya dan menghalalkan segala cara, tidak ada cara lain selain mengalah.
"Oke Fine, aku memberimu kesempatan, only one chance"
Teriak Liu merasa kesal, Amos tersenyum penuh kemenangan membuat Liu menggeleng tak habis fikir dengan sikap keras kepala dan egois suaminya, keduanya sampai di kamar mandi, dengan hati-hati Amos menurunkan Liu didalam Bathtub, masih dengan selimut yang melilit tubuh indah Liu yang sejak kemarin sudah menjadi candu untuk Amos. Amos masih saja dengan senyumnya melihat wajah sinis yang ditunjukkan Liu justru terlihat sangat menggemaskan, belum lagi gadis itu berbaring di bathtub sungguh sangat menggoda iman.
Amos mulai menyalakan air hangat dan mengisi Bathtub, lalu dia menarik selimut yang dikenakan Liu, Liu menahan selimut itu sekuat tenaga sambil menatap Amos dengan pandangan was-was akan kembali dilecehkan.
"Aku bisa mandi sendiri, kau keluar sana!"
Usir Liu membuat Amos meledakkan tawanya, pria itu berjalan menuju pintu kamar mandi membuat Liu akhirnya bernafas lega. Namun itu cuma sesaat ternyata Amos pergi mengunci kamar mandi dan kembali menghampiri Liu dengan tatapan mesumnya.
"Sayang, sepertinya aku memang harus menanam benih!"
"Apa kau gila?"
"Aku memang menggilai tubuhmu sayang"
"Ahhhhh, ahmmmm"
"Ahhhhh, dasar Ahhhmm Amos sialan "
__ADS_1
Keduanya kembali berpacu menunggangi kabut gairah yang menggelora, Amos kembali menggempur sang istri berkali-kali tanpa rasa lelah, tidak memberi jeda bahkan hanya untuk mengambil nafas, kamar mandi menjadi saksi bisu bagaimana keduanya begitu menikmati kegiatan panas mereka.