
*********
"Perusahaan kita mendapat undangan dari Presiden negara XXX dalam rangka ulang tahun putri semata wayangnya. Sepertinya ini ada sangkut paut politik, bukankah dia sangat licik?"
Gal berbicara dengan kekehan kecil menatap punggung sang sahabat, dia menghempaskan bokongnya pada sofa berukuran besar yang terdapat diruang Amos. Amos mendelik, dia menatap kearah Gal sebentar kemudian kembali duduk dikursi kebesarannya sambil menekuni sebuah buku.
"Kau saja yang pergi, aku sibuk"
Jawab Amos dingin tanpa raut ekpresi sedikitpun. Gal mencibir kesal dengan jawaban itu.
"Ayolah bodoh, kau pikir berdiam diri disini akan membuat istrimu kembali pulang?"
"Tetap tidak"
"Baiklah, aku akan bersenang-senang disana dan sedikit terlambat pulang untuk menatap tumpukan kertas membosankan itu"
"Apa kau gila, meninggalkan semua pekerjaan ini bersamaku"
Amos menatap Gal dengan kesal, dibalas acuh tak acuh oleh Gal, dia mengangkat bahu tak perduli membuat Amos berdecak kesal.
"Aku akan pergi"
Ucap Amos lagi dengan menghela nafas dan kembali menatap tumpukan kertas didepannya fokus, tangan pria itu bergeliya bermain diatas keyboard komputernya. Gal yang mendengar itu tersenyum tertahan dan melemparkan bantal sofa hingga mengenai lengan Amos membuat pria itu menatapnya jengah.
"Dasar bodoh, aku pergi untuk mencari istriku bukan menemanimu"
"Hahahaha, aku sempat berpikir setelah menyandang gelar pria impoten sekarang kau menjadi gey dan menyukaiku"
"ckkkk tidak waras"
__ADS_1
**********
Sudah beberapa tokoh yang sedari tadi Liu lewatkan, seolah berbagai macam barang yang terpampang sama sekali tidak menarik perhatiannya. Gadis dengan MiniSkirt putih + Blouse crop hitam bergambar swag dan rambut diikat tinggi berjalan tiada lelah mengelilingi Mall besar ini.
Banyak para pria yang menatapnya kagum, begitupulah kaum wanita yang menatap kagum sekaligus iri dengan kecantikan dan postur tubuh indahnya. Tapi Liu selalu memasang wajah datar tak perduli, sekali-sekali mulut mungilnya menyesap minuman cup ditangannya itu sambil melihat-lihat sekitar.
"Qynliu"
Liu terlonjak, saat tiba-tiba seorang pria tampan datang dan langsung menyamakan langkah kaki keduanya, Liu memasang wajah kesal sesaat kemudian kembali berjalan dan mengabaikan pria itu. Bukannya kesal pria itu justru terkekeh dengan tingkah Liu yang terlihat menggemaskan saat menghindarinya.
"Kau percaya dengan Cinta pada pandangan pertama?"
Tanyanya kembali menyamakan langkah dan terus mengikuti setiap tepakan kaki Liu, mata biru lautnya menelisik wajah yang sibuk menatap kesana-kemari tanpa menjawab pertanyaannya.
"Terdengar konyol pastinya, tapi aku percaya. Karna aku tengah merasakannya
"Apa kau mengabdi untuk menggangguku?"
Tanya Liu dengan suara teramat dingin dan kesal, seolah bosan dengan Karim yang menjadi teman sekampusnya selalu mencari kesempatan mendekati dan mencari perhatian Qynliu,
"Aku......"
"Ckk menyingkir!"
Kesal Liu dan berlalu meninggalkan dia yang mematung menatap punggung Qynliu yang perlahan menjauh, keluar dari kawasan Mall. Pria bermata biru itu tersadar kemudian mengejar Liu yang sudah menjauh.
"Qynliu"
Teriaknya memanggil saat melihat Qynliu berdiri disisi mobil mewah yang ditumpangi seorang supir. Supir berseragam hitam dengan tubuh kekar yang tengah membukakan pintu mobil mempersilahkan Qynliu masuk kedalam berhenti dan menatap kearah sosok Karim yang juga tengah ditatap Liu.
__ADS_1
"Qynliu"
Panggilnya sekali lagi, menarik nafas berkali-kali karna merasa lelah. Supir itu menghadang saat melihat pria yang terus mendekati Nona Mudanya mendekat.
"Qynliu aku ingin berbicara sebentar"
"Pergilah, aku tida punya waktu"
Jawab Liu cuek masih mempertahankan wajah tanpa ekpresinya, Liu masuk kedalam mobil dan duduk tenang sambil menatap datar kearah depan, Liu memberi kode agar supir masuk kedalam mobil.
"Nona Muda tidak ingin diganggu, menjauhlah"
Beberapa pria berbadan kekar dan berpakaian serba hitam datang entah dari mana lalu mengacungkan senjata berlaras panjang pada Karim, membentuk lingkaran mengelilinginya. Karim diam membeku sambil menatap mobil yang sudah melaju sambil menghela nafas kesal, dia menatap para pria itu dengan cengiran, dibalas dengan tampang sangar dari mereka. Kemudian para pria yang diyakini sebagai Bodyguard Shadow Qynliu menjauh tak lupa menyimpan senjata pada punggung mereka. Sebelum memancing perhatian orang-orang yang berada di Mall.
Mobil Liu membelah jalan, mengantarkannya sampai kekediaman utama Lowhen Robsont. Pagar Mansion megah itu terbuka otomatis, mobil kembali melaju hingga ke perkarangan rumah.
Supir membukakan pintu dan mempersilahkan sang Nona Muda, Liu berjalan memasuki pintu utama. Beberapa pelayan wanita berdiri dengan membungkukkan badan menyambut kepulangannya.
"Dimana Mommy dan Daddy?"
Tanya Liu sambil melepaskan tas mungil dibahunya dan langsung diraih salah seorang pelayan yang masih terus membungkukkan badan hormat.
Masih Ingat Pa Lie dan Bi Ai?. Ya kedua kepala pelayan paruh baya itu sekarang masih dipercaya oleh Anatasya dan Bryan untuk mengurus segala sesuatu kebutuhan Mansion. Bi Ai yang berdiri disisi Pa Lie berada sedikit di depan para pelayang maju beberapa langkah untuk menjawab pertanyaan si Nona Muda.
"Tuan dan Nyonya tengah keluar rumah untuk jalan-jalan Nona"
Jawab Bi Ai dengan suara tegasnya, Liu mengangguk dan berjalan menuju kamar untuk beristirahat setelah lelah bekerja dan belajar. Setelah diberi instruksi dari kedua kepala pelayan yaitu Bi Ai dan Pa Lie, para pelayan kembali pada pekerjaan mereka masing-masing.
_______________
__ADS_1