
Liu meringis dan perlahan membuka matanya, dia bangkit dan duduk dengan kepala yang terasa sangat pusing, terlihat seorang Pria yang memberikan satu piring makanan lewat pintu bawah yang membuat Liu mendesah kesal.
Kembali makanan itu yang masuk ke dalam perutnya, selama seminggu Roti keras itu membuat Liu muak, sangking tidak enak dan tidak sehatnya Roti itu sama kerasnya dengan batu, tapi Liu terpaksa harus memakannya demi bayi di dalam kandungan tidak kelaparan.
Saat tengah mengunyah, tiba-tiba perut Liu terasa sakit, perutnya yang sedikit buncit itu terus dia elus dengan lembut. Rasa sakitnya tak tertahankan, seolah bayi di dalam sana tengah mengoyak perutnya, Liu menangis kencang sambil meriuk di lantai dan menjerit meminta tolong.
Keringat Liu bercucuran deras, air mata dan bahkan urat nya terlihat menandakan seberapa sakit di dalam sana.
"Akhhhhh"
Teriak Liu lagi dengan keras, perlahan ada darah yang mengalir dari sekengkangannya. Seorang Pria datang dan langsung membuka pintu, dia kaget melihat keadaan Liu dan langsung berlari mencari pertolongan.
Lexa datang dengan tergesa-gesa, ditemani beberapa pengawal, dia juga terkejut melihat kondisi Liu yang tengah sekarat, Lexa berdecih kesal saat dia ingin meninggalkan ruangan seorang Mafiso datang menghampirinya.
"Nyonya kita dikepung"
Ucap Mafiso itu dengan gemetaran, Lexa melotot tak percaya wajahnya memerah karna marah.
"Apa bagaimana bisa mereka melacaknya?"
"Apa kita harus berperang?"
Tanya seorang Mafiso lagi membuat Lexa berpikir dengan keras dan menggeleng keras.
"Tidak, kita pasti akan dibunuh dengan rata, kita harus kabur lewat jalur rahasia, tinggalkan markas ini sekarang dan ambil semua senjata yang tersisa. Bergerak cepat kita tidak punya banyak waktu"
"Wanita ini Nyonya?"
"Tinggalkan dia disini, dan letakkan Bom tepat di sampingnya, biarkan dia mati dengan mengerikan hahahaha"
Ucap Lexa menatap Liu yang tengah menahan rasa sakit sambil meringkuk dan memegang perutnya. Kemudian Lexa bergerak keluar bersama para Mafiso dan seorang Pria menyalakan Bom dan meletakkannya tepat di pintu Ruangan Liu berada, bunyi waktu pada Bom itu seperti jeritan kematian yang berdengung di telinga Liu. Liu menangis dan berusaha sekuat tenaga merangkak keluar namun karna rasa sakit ditambah keadaannya membuat Liu tidak tahan, lagi dan lagi tergeletak ditanah.
"Qynliu"
__ADS_1
"Qynliu"
Teriak suara yang begitu familiar ditelinga Liu, Liu mendongak dan berusaha mengeluarkan suara, terdengar keributan diluar sana dan juga sahut-sahutan suara tembakan yang menggema, ditambah waktu pada Bom yang semakin bergerak cepat.
"Am-Amos...."
Lirih Liu berusaha mengeluarkan suara, pandangan Liu mulai kabur samar-samar dia mendengar pintu yang didobrak dari luar, perlahan mata Liu terpejam, namun sesaat dia sempat melihat wajah suaminya yang beberapa saat ini dia rindukan tampak panik dan menangis melihat keadaannya.
"Qynliu......Arghhhhh, tangkap wanita itu jangan sampai dia lolos, atau nyawa kalian taruhannya"
Teriak Amos marah dengan berlinang air mata, kemudian tanpa pikir panjang Amos langsung mengangkat Liu dan membawanya keluar dari ruangan bau busuk itu, di luar terlihat Anatasya yang terpaku melihat keadaan putrinya, dia membelai Liu dengan amarah yang sudah memuncah. Mata galaxy sang Lady tampak memerah mengerikan, seluruh ruangan menjadi sangat mencekam.
Gigi Anatasya gemertup dengan rahang tegas dan tangan terkepalnya, jiwa Psychopat yang lama dia sembunyikan kini menggebu ingin dilepaskan.
"Cepat bawa Liu ke Markas, hubungi para Mafiso Dokter untuk berkumpul dan memberi perawatan terbaik. Biar Mommy yang akan mengurus jala*ng itu"
Ucap Anatasya penuh amarah, Amos mengangguk dengan tubuh gemetaran tak kuat melihat istrinya.
"Hati-hati Mom"
Seluruh keluarga menunggu dengan gelisah di depan ruangan Medis, puluhan Dokter tengah berjuang di dalam sana guna menyelamatkan sang Princess Mafia, Anatasya bahkan tidak memperdulikan dirinya yang berlumuran darah, dia terus menangis dan berdoa untuk keselamatan sang putri tercinta.
Amos menatap kosong pintu ruangan tempat Liu dirawat, dia merasa gagal menjadi suami karna tidak bisa melindungi istri dan juga calon anaknya, Amos terus menyeka air matanya. Tidak ada seorangpun yang mengeluarkan sepatah kata, semuanya menunggu dengan tidak tenang.
tiba-tiba pintu ruangan terbuka setelah menunggu berjam-jam lamanya para Dokter itu keluar bersamaan dengan wajah lesuh dan takut, serta wajah sedih dan juga takut-takut. Semuanya langsung berdiri dan menanyakan keadaan Liu, melihat para Dokter itu terdiam membuat Amos geram dan langsung meraih kerah baju seorang Dokter.
"Maafkan kami Tuan, kondisi janinnya, bayinya sudah meninggal dua hari yang lalu, benturan keras dan juga makanan tidak sehat yang mempengaruhi kesehatan bayi Anda"
"Apa?"
Tanya Amos lirih tidak percaya, seketika tubuhnya terasa lemas dan pandangannya menjadi kabur setelah mendengar itu, Amos langsung tersungkur ke lantai dengan pandangan tak percaya.
"Maafkan kami Lady, Princess terlalu banyak mengalami tekanan dan kekerasan, bayinya sudah tidak bisa bertahan dan juga faktor suhu ruangan, bayinya sudah meninggal beberapa hari yang lalu namun karna keadaan membuat Princess tidak merasakan rasa sakit, saat mengalami keram perut sisa darah yang menggumpal di dalam rahim keluar"
__ADS_1
Jelas Dokter lainnya dengan begitu detail, para Dokter itu bertekuk lutut di bawah kaki Anatasya yang juga menolak untuk percaya, dia menutup mulutnya menahan tangisan. Semua orang dibuat tak percaya mereka menangis dan juga sangat syok, terutama Amos yang kehilangan anaknya......
Qynliu perlahan terbangun dari pingsannya, kepalanya terasa sakit saat membuka mata, cahaya yang masuk menembus retina mata indahnya membuat pandangan Liu kabur.
Samar-samar Liu mendengar suara seorang Pria yang begitu familiar, sosok itu tengah berbicara melalui telpon dan menghadap jendela membelakanginya. Liu duduk di atas pembaringan menatap sekeliling dan menyadari bahwa dia tengah di ruangan medis Markas TZX.
"Sayang"
Panggil pria itu yang ternyata Amos suaminya, Amos membalikkan badan dan betapa kagetnya saat dia melihat sang istri tercinta sudah sadar dan menatap bingung sekeliling. Liu tersenyum manis merentangkan tangannya ingin dipeluk oleh Amos, tanpa pikir panjang Amos langsung menerjang Qynliu, memeluknya dengan erat dan memberi kecupan syukur disetiap wajah istrinya.
Tiba-tiba Liu tersentak, dia mendorong Amos dengan sedikit keras kemudian beralih menatap perutnya, dari balik baju kaos yang dia kenakan Liu terus meraba-raba perutnya dengan perasaan takut, perutnya terasa berbeda sejak terakhir kali dia sentuh, perasaan Liu menjadi tidak enak dia menatap Amos meminta jawaban, tampak ekpresi Amos yang langsung berubah pucat.
"Dimana bayiku?"
Teriak Liu marah pada suaminya, melihat Amos yang diam saja ketakutan Liu semakin menghantui, bahkan dia menangis dengan kencang sambil terus meraba perutnya.
"Sayang tenanglah"
"Hiks di mana bayi kita Amos?"
Tanya Liu sekali lagi, Amos menunduk dalam menghela nafasnya berat dengan bulir air mata yang ikut mengenang.
"Maafkan aku sayang, bayi kita tidak selamat"
Jawab Amos dengan pelan mencoba menenangkan istrinya, bagaikan disambar petir disiang bolong Liu membelalak tak percaya dia terdiam dengan tatapan kosong seolah seluruh dunianya runtuh, tak ada yang lebih menyakitkan selain kehilangan anak yang bahkan belum sempat melihat wajahnya. Amos memeluk erat tubuh Qynliu, dia terus mengucapkan kata maaf berkali-kali, Liu menangis histeris seolah tak terima, mereka berdua menangis sambil berpelukan dan menyesali kepergian sang anak tercinta
____________
Hai Readers tercinta, selamat Hari Raya Idul Fitri Author ucapkan kepada Readers yang menganut agama islam dan Salam Toleransi dari Author Natasa
Hari ini Author update sedikit panjang karna hari spesial, Terimakasih Author ucapkan untuk para Readers setia yang selama ini selalu support dan juga masih semangat membaca cerita Author Natasa, bisa dipanggil Acha ya Wkwkwk......
Love you all makasih untuk semua dukungannya, dan author selalu baca komentar kalian yang kadang bikin ketawa-ketawa sendiri......❤️❤️❤️❤️😘
__ADS_1
Peluk jauh dari Author Acha🤗🥰❤️