
"Jadi Jerald kapan kau mencari Ibu sambung untuk cucuku?"
Tanya Anatasya dengan lembut kepada Jerald, pria yang sedari tadi bersama Qynliu. Jerald anak dari Maxim dan Elle terdiam kikuk dengan pertanyaan Aunty nya itu.
"Masih belum terpikirkan Mom"
Jawab Jerald memanggil Anatasya dengan "Mom" kata yang memang disematkan Anatasya untuk seluruh anggota penerus keluarga. Wanita paruhbaya itu menghela nafas berat. Wajah cantiknya tampak sendu menatap keponakan tampannya itu.
"Jangan pikirkan egomu sendiri sayang, kau harus memikirkan Kenzo, dia butuh kasih sayang seorang ibu. Mommy tahu kau masih mencintai mendiang istrimu, tapi jangan terlalu larut dengan kesedihan. Kau harus melangkah nak, cari kebahagiaanmu dan juga Kenzo. Mommy berharap banyak untuk kebahagiaan mu"
Jelas Anatasya memberi petuah, matanya sendu menatap Jerald yang sudah termenung penuh dengan kasih sayang. Pria itu terdiam kaku, pikirannya membenarkan setiap lontaran kata dari Aunty Anatasya. Jerald akui, selama ini dia egois, terus terpaku akan bayang-bayang istrinya yang sudah pergi kesurga, sehingga tidak mengingat bahwa sang putra Kenzo juga membutuhkan kasih sayang seorang ibu.
"Iya mom, maafkan Jerald. Jerald sudah egois, secepatnya Jerald akan mengusahakannya Mom"
Jawab Pria itu mantap menatap balik Anatasya dengan sendu, wanita berjiwa keibuan besar itu menganguk, menatap Jerald dengan senyuman tulus. Menyalurkan rasa kasih sayang pada keponakan nya itu.
Mereka melanjutkan makan malam diMansion dengan tenang, sesekali gelak tawa terdengar dari meja makan. Hingga waktu malam yang sedikit larut Jelard membawa sang putra kembali pulang kekediamanya.
Pukul dua belas malam, seluruh penghuni Mansion raksasa Bryan dan Anatasya memilih untuk beristirahat. Setelah memberi ucapan manis dan kata cinta semuanya berlalu kekamar masing-masing. Liu dengan pakaian sexsinya bersiap untuk menutup mata. Tak lupa bibirnya mengecap doa terbaik untuk hari esok.
Di lain sisi.
Amos.....
Brukhhhhh.....
__ADS_1
Pria dengan rambut hitam pekatnya yang sudah terguyur air, mata tajamnya yang berubah sayu, dan kaki panjangnya yang susah berdiri tegak, terjatuh didekat pintu kamar mandi saat dia yang akan kembali kekamar tidur.
Prihatin.
Keadaan Amos sangat miris, dua tahun lamanya dihantui rasa bersalah dan tertekan karna bayang-bayang sosok gadis yang masih memiliki status besar dihidup Amos telah pergi bak ditelan bumi.
Gadis yang sudah berhasil membuat Amos jatuh hati, tergila-gila bahkan kehilangan akal. Kini dengan tidak bertanggungjawab pergi meninggalkan pria itu seorang diri.
Selama dua tahun terakhir Amos menghabiskan hari-hari hanya dengan harapan akan kembalinya sosok Qynliu, istri kedua yang telah menjadi istri satu-satunya setelah dia resmi menceraikan Lexa siwanita *******.
Hari-hari dilewati Amos dengan hampa dan penyesalan, tak lelah kesana-kemari memberi tugas kepada para anak buahnya untuk mencari kabar tentang dimana keberadaan Qynliu, gadis yang begitu dia cintai.
Setelah lelah menangis karna mengingat wajah cantik istri mudanya, Amos akan menghabiskan berbotol-botol minuman keras untuk menghilangkan kegundahan hatinya, pria itu akan terkapar dilantai dan bangun esok harinya lalu kembali menangisi Qynliu....
Jangan tanya yang lain lagi, kini Amos terlihat sedikit kurus, lingkaran matanya sedikit menghitam. Bibirnya pucat dengan pandangan mata kosong dan rasa sesal. Tapi masih besar harapan akan menemukan Liu. Meminta maaf pada gadis itu dan akan memaksanya kembali kesisi Amos. Egois. Apapun akan Amos lakukan demi keinginannya.....
"Ckkk, apa selamanya kau akan seperti ini"
Suara Gal dari ambang pintu kamar terdengar kesal, rasanya muak setiap hari harus direpotkan oleh bosnya itu. Dua tahun terakhir ini akan menjadi kerja tambahan untuk Gal, mengurus Amos yang terkapar setelah mabuk-mabukan .
"Hei tutup mulutmu sialan"
Teriak Amos kesal ditengah kesadarannya, dia menunjuk Gal dengan masih posisi awal yaitu tengkurap dilantai kamar mandi. Gal mencibir kesal, menyumpah serapahi sahabatnya yang selalu dia bilang gila.
Gal berjalan kearah Amos yang sudah menutup mata, sepertinya pria itu pingsang. Dengan tulus pria itu membantu Amos membopongnya menuju ranjang KingSize. Membersihkan tubuh Amos menggunakan kain basah lalu mengganti baju sang bos tak lupa menyelimutinya. Gal mendesah berat, merasa kasihan dengan kondisi sahabatnya itu. Tapi, inilah hukum karma yang didapat Amos dari kesalahannya yang terbilang cukup fatal.
__ADS_1
Gal melirik jam dinding, waktu hampir menunjukkan waktu fajar, dia menghela nafas kemudian berlalu dari kamar.
Keesokannya.
14:00
Amos terbangun dari tidurnya disiang bolong, pria itu mengerjapkan mata hitam pekatnya, menggeliat dan perlahan meregangkan otot-otot yang terasa kaku.
Pandangan mata tajamnya mengunus sekeliling kamar, sama saja. Tidak ada Qynliu yang berada disisinya. Pria itu menunduk. Rasa sesal kembali menghampiri memenuhi rongga jantungnya.
Ceklek.
Suara pintu terbuka, secepat kilat Amos mengalihkan pandangan berharap itu adalah sang istri tercinta yang datang menemuinya karna dilanda rasa rindu. Harapan tinggal harapan, wajah tak bersahabat Gal yang menjadi pandangan dipagi hari.
"Hei Tuan Muda yang terhormat, apa kau akan seperti ini terus. Perusahaan mu itu hampir bangkrut, aku tak yakin Qynliu ingin bersama dengan pria miskin nanti sepertimu"
Umpat Gal dengan kesal, memang selama ini Amos menjadi acuh tak acuh pada sekitar. Juga pada perusahaannya sendiri, sehingga banyak hal-hal melenceng terjadi pada perusahaan. Banyak investor yang menarik saham dan juga rekan yang membatalkan kerja sama. Sehingga penurunan peringkat dan kualitas serta pengoperasian perusahaan Amos menurun drastis.
"Biarkan saja, apa gunanya bergelimang harta jika Liu tidak bersamaku"
Jawab Amos sendu, dia menatap dengan pandangan kosong. Gal dibuat menggeleng, sahabatnya benar-benar sudah gila karna Qynliu.
"Hei bodoh, kau pikir nanti saat kau menemukan Liu lagi dan kembali bersamanya, dia mau bersama dengan pria miskin. Aku rasa tidak, gadis itu akan memilih pria kaya yang bisa menjamin kehidupannya dan juga anak-anaknya kelak"
Sungut Gal berapi-api, kesal dengan jalan pikir Amos yang sudah benar-benar tidak waras. Seketika Amos menggeleng cepat dengan wajah merah menahan kesal.
__ADS_1