GENUINE ( LMG . S2 )

GENUINE ( LMG . S2 )
GENUINE . 55


__ADS_3

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"


Tanya Amos menatap istrinya yang tengah terduduk di atas pembaringan yang hanya bisa menampung satu badan itu. Disinilah sepasang suami-istri itu berada, setelah menyelesaikan makan malam mereka, keduanya langsung menuju kamar, mengingat akan ada hal serius yang ingin di bicarakan oleh Qynliu.


"Aku...."


Guman Liu pelan merasa ragu, sejenak dia menghela nafas panjang mengumpulkan keberanian untuk membicarakan tentang kebusukan Lexa.


"Duduk lah disini!"


Pinta Liu menarik tangan Amos agar terduduk di pembaringan, pria itu patuh, bergantian Liu yang beranjak, berjalan menuju nakas disamping ranjang. Setelah membuka laci kedua, mengambil beberapa benda didalamnya, satu kamera kecil dan dua amplop berukuran setapak tangan. Liu kembali berjalan menuju suaminya.


"Aku mohon percayalah padaku"


Ucap Liu ikut duduk disamping Amos, meletakkan benda itu ditelapak tangan suaminya. Amos mengerjit heran menatap Liu dan benda itu bergantian.


"Tunggu!"


Tahan Liu sebelum tangan Amos bergerak cepat membuka Amplop terlebih dahulu. Pria itu semakin merasa aneh, bibirnya seolah keluh enggan bersuara, jantungnya berdetak cepat, seolah akan ada hal besar yang akan terjadi. Tapi dia hanya mampu terdiam.


"Aku mohon percayalah padaku, semua disini adalah bukti kebenarannya, tidak ada rekayasa sama sekali. Kepercayaanmu adalah hal besar untuk kita kedepannya, tapi jika kau memilih sebaliknya, maka aku akan pergi, pergi untuk selamanya. Aku menaruh harapan besar, tapi bukan untuk di bodohi. Disini aku mengikuti hatiku bukan piikiranku"


Kata-kata Liu terdengar aneh di telinga Amos, suara wanita itu begitu lembut seperti mawar tanpa duri, matanya menggambarkan begitu besar harapan. Sentuhan tangannya sedingin salju, lantunan kosa katanya selembut awan. Amos menjadi luluh, tapi dia tidak paham. Percayalah jantung Amos semakin berdetak cepat.......


"Ini?"


Amos menjadi kaku, membuka Amplop pertama mampu membuat jantungnya hampir copot, matanya membelalak lebar. Gerakan tangannya semakin cepat menggeledah Amplop berikutnya. Foto-foto apa ini.


Sialan.


Amos menjadi tak terkendali gerakan tangannya semakin kasar, membuka amplop berikutnya dengan keras.

__ADS_1


"Liu, apa-apaan ini?"


Pekik Amos menatap istri mudanya dengan murka, tubuhnya yang berdiri tegap dengan mata memerah sungguh mengerikan. Liu menelan ludah kasar.


Tok...tok....


"Darl...."


Ceklek.


Pintu kamar kembali terbuka, muncullah sosok Lexa yang menerobos masuk. Ditengah malam seperti ini dengan memakai baju serba terbuka dan rambut acak-acakan Lexa jelas tampak selesai melakukan sesuatu....


"Jelaskan apa ini Lexa?"


Murka Amos yang melihat wajah istri tuanya datang di waktu yang tepat, Amos melemparkan foto-foto itu kearah wajah Lexa. Lexa segera menangkap memungut beberapa foto itu kemudian melihatnya. Wajah Lexa langsung memucat, dia gelagapan jelas sekali.


"I-ini, ini bukan aku Darl sumpah"


Lexa menjadi gugup melihat kemarahan di wajah Amos. Dia mencoba mendekat meraih lengan kekar itu yang tengah menggenggam sebuah kamera.


Pekik Lexa di depan wajah Liu, air mata membasahi wajahnya seperti orang yang benar-benar tengah tersiksa.


"Lepaskan!"


Perintah Amos menepis kuat tangan Lexa membuat wanita itu terdorong kebelakang. Puas. Liu sangat puas, dia tersenyum tipis.


"Sialan, dasar *******"


Prangg....


Bentak Amos yang diliputi amarah, kamera kecil itu langsung terbanting oleh kekuatan Amos, hancur lebur tak berbentuk. Dia menatap Lexa dengan amarah yang menggebu-gebu. Wanita itu menjadi sangat takut perlahan dia memundurkan langkahnya. Namun telat.

__ADS_1


Plakkkk


"Ahhhkk Darl"


Sebuah tamparan keras melayang sempurna dipipi tirus Lexa yang dilayangkan oleh Amos. Lexa menjerit sakit memegang pipinya yang terasa teramat perih.


"Kau menamparku ha, kau menamparku Amos. Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi, kau bahkan belum mendengar penjelasanku, kau percaya dengan gadis gila itu. Itu semua adalah kebohongan, dia menipumu, dia menghasutmu. Itu bukan aku, itu foto dan video yang dia olah sedemikian rupa, tidakkah kau sadar bahwa gadis sialan ini mencoba menghancurkan rumah tangga kita. Dia ingin kita berpisah, gadis ini yang sebenarnya adalah ******* bukan aku"


Lexa memekik kuat didepan wajah Amos, deramanya mulai dia mainkan, wajah dipasang seacak mungkin menggambarkan bahwa dia adalah korban kebohongan Liu, dia bersujud di bawah kaki suaminya semakin memperdalam akting yang tengah di perankan.


Amos terdiam, antara percaya atau tidak. Sebenarnya itu bukan masalah besar, dia sedikit tidak perduli tentang lexa, hanya saja semua ini mengingatkan dia akan Daddy dan Mommynya.


Benci, Amos benci penghianatan.


Amos membalikkan badan, kini dia menghadap kearah Liu yang langsung merubah senyumannya menjadi wajah datar. Sejenak Liu memandang pintu kamar, para pelayan seisi rumah sudah berdiri disana menonton aksi pertengkaran rumah tangga ini.


"Apa benar ini semua hanya tipu dayamu?"


Bentak Amos keras, Liu memejamkan mata merasa kaget. Mata indah itu perlahan terbuka, balas menatap bola mata suaminya dengan sendu.


"Apa kau tidak percaya denganku, apa aku terlihat berbohong?"


Tanya Liu, matanya berkaca-kaca. Lexa mendecih dari belakang berjalan kemudian mendorong kasar bahu Liu.


"Dasar gadis tidak tahu malu, kau datang tanpa izin dan sekarang ingin merebut suamiku. Kau itu benalu dalam pernikahan kami, dasar gadis murahan. Bahkan ingin memfitnahku"


Pekik Lexa menggebu-gebu, sungguh ekting yang mendalam. Air mata buaya itu mampu membuat Amos percaya. Amos menghela nafas, menarik Lexa kedalam pelukannya. Memeluk dengan erat. Lexa tersenyum mengejek.


Deghhhh....


Sakit.

__ADS_1


Sakit sekali hati Liu melihat itu, secara halus Amos berkata seolah lebih percaya pada Lexa. Pandangan mata Liu berubah sendu, menatap suaminya dengan kecewa, bagaikan dihujam seribu pedang luka yang selama ini di tanamkan Amos semakin menganga dengan besar.


***********


__ADS_2