GENUINE ( LMG . S2 )

GENUINE ( LMG . S2 )
GENUINE . 113


__ADS_3

Kyaaaaaaa


Serempak mereka berteriak, seisi ruangan dibuat heboh dengan kelakuan para anggota keluarga yang merasa bahagia sampai melompat kegirangan saat mulut Amos dengan kuat mengatakan bahwa kini istrinya tengah mengandung. Bahkan diantara mereka sampai ada yang pingsan saat Qynliu kembali mengatakan bahwa dia kini tengah hamil Baby Twins.


Mereka terkejut memeluk Liu dan mengucapkan kata selamat secara bergantian, tak luput Anatasya dan Bryan yang sampai menangis tersedu-sedu atas berita kehamilan putri tercinta. Anatasya rasanya sudah tidak sabar untuk menggendong kedua cucunya.


"Selamat putriku, Mommy sangat bahagia, semoga tuhan selalu memberi keselamatan dan kebahagiaan sepanjang hidupmu Nak"


Tulus Anatasya memeluk erat putrinya, Liu ikut terharu, rasanya tak percaya bahwa dia kini akan menjadi seorang ibu, setelah menjadi Putri kesayangan kedua orangtuanya.


"Terimakasih Mommy, I Love you mom"


Ucap Liu menangis sesegukan dipelukan wanita yang telah membesarkannya itu.


"We Love you Qynliu"


Jawab semuanya menggema membuat Liu rasanya benar-benar bahagia, kemudian seluruh anggota keluarga itu makan malam bersama untuk merayakan kehadiran calon Baby Twins.


*******


Siang ini setelah mengantarkan istrinya sampai di depan Gerbang Kampus, Amos langsung melesatkan mobil menuju suatu tempat, yaitu Markas TZX. Entah apa yang akan Amos lakukan namun wajah Pria itu terlihat sangat dingin, berbeda saat tadi bersama istrinya. Di mana Amos terus memperlihatkan kepribadian yang lembut dan penuh Cinta.


"Salam Prince"


Sapa beberaoa Mafiso yang berlalu lalang saat melihat kehadiran Amos. Pria tampan itu hanya mengangguk dan langsung berjalan cepat memasuki Markas.


"Anoy, temani aku ke ruangan Ekseskusi"


Titah Amos saat berpapasan dengan salah seorang kepercayaan di Markas ini, Amoy menganguk dan mengiyakan kemudian mulai mengikuti langkah sang Tuan menuju lorong bawah tanah tepat letak ruang Eksekusi berada.

__ADS_1


Ruangan demi ruangan keduannya lewati hingga mereka sampai di depan sebuah pintu ruangan yang dijaga ketat beberapa Mafiso bertampang layaknya malaikat pencabut nyawa. Kedua Mafiso itu menunduk kemudian membukakan pintu untuk Amos.


Saat pintu terbuka, bau anyir darah segar langsung memenuhi Indra penciumannya, mata Amos langsung tertuju pada dua orang berbeda jenis yang digantung dengan rantai tanpa mengenakan sehelai benang pun.


Keduanya tampak sangat mengenaskan, dengan tubuh dipenuhi luka lebam dan luka bakar, bukannya kasihan Amos justru tertawa remeh, tampak kedua orang yang sedang menutup mata itu dengan syok langsung membuka mata.


"Am-Amos"


Ucap wanita itu lirih, seakan bibirnya ingin copot hanya karna dia mengeluarkan suara.


"Dasar Baji*ngan"


Umpat Pria itu pula membuat Amos semakin terkekeh, Pria itu terus menggerakkan tangannya berusaha melepaskan rantai yang melilit lengannya dengan kuat.


"Tidak perlu repot-repot, aku akan melepaskanmu"


Amos kembali terkekeh, dia memberi kode pada Anoy yang langsung dimengerti pria muda itu, Anoy berjalan ke ujung ruangan, meraih sebuah tombol kecil berwarna merah kemudian langsung menekannya......


"Arghhggg"


Seketika itu juga rantai dengan otomatis terlepas dari kedua lengan pria itu, membuatnya langsung terjatuh ke lantai yang dingin, dengan luka disekujur tubuh ditambah hantaman lantai membuatnya merasakan rasa sakit berkali-kali lipat.


"Shi*t"


Umpatnya kesekian kali.


"Kau sangat menyedihkan wahai putra Sima, wanita ular yang sudah aku bunuh dengan peluru dari tima panasku"


"Kau pria sialan"

__ADS_1


Bughhhhh


Akhhhhhh


Pekik pria itu saat dengan kencang Amos melayangkan pukulan mautnya tepat mengenai rahangnya, darah langsung mengalir dengan rebas.


"Baiklah-baiklah kita akhiri ini, aku sedang berbaik hati karna sekarang aku akan menjadi seorang ayah. Tapi sory, aku tidak akan mengotori tanganku untuk membunuhmu. Konon tidak boleh membunuh saat istri sedang hamil"


Ucap Amos cekikikan mengejek pria itu, tampak wanita yang masih digantung itu terlihat kaget saat mendengar ucapan Amos barusan.


"Hamil?"


Lirihnya tidak percaya, Amos meliriknya tajam, yang dibalas tak kalah tajam oleh wanita itu, seolah dia marah dan tidak terima.


"Yap, istriku sedang hamil. Kau tidak mengucapkan selamat padaku Lexa?"


Tanya Amos dengan wajah menyebalkan, Lexa mengeram berusaha melepaskan rantai itu yang justru semakin mencengkram erat lenganya.


"Ohhh, aku rasa tidak ada ucapan selamat, tidak masalah lagipula kau masih berhutang nyawa atas kepergian anak pertamaku"


"Kau pria terkutuk Amos, lepaskan aku"


Teriak Lexa menggema.


"Anoy, cepat penggal leher putranya Sima, aku rasanya sangat muak, aku khawatir mereka akan bercinta di ruangan ini"


Perintah Amos yang membuat Pria itu menggeleng ketakutan, tidak ada lagi Amos yang lemah dan diam saat keluarganya diusik, kini dia adalah seorang kesatria dalam TZX, Amos kini berdarah dingin dan akan membunuh siapapun. Termasuk Lexa yang selama ini sudah dia sekap di dalam ruang tahanan Markas selama bertahun-tahun.


Bukan hanya disekap, Lexa diperlakukan layaknya binantang, Amos dengan kejam memerintahkan para Mafiso untuk melecehkan wanita itu secara bergilir kemudian membolehkan para Mafiso untuk memukulinya sesuka hati. Rasa dendam Amos sudah mendarah daging saat dia kehilangan calon bayinya bersama sang istri akibat ulah Lexa.

__ADS_1


Berkali-kali Lexa mencoba mengakhiri hidupnya namun seolah tuhan tidak memperbolehkan sebelum wanita itu merasakan semua siksaan yang diberikan Amos, tepat saat kejadian penculikan Qynliu, Anatasya berhasil mengejar Lexa bersama anggotanya yang melarikan diri melalui jalur rahasia.


Anatasya pun menyerahkan Lexa pada Amos untuk dieksekusi, karna dia tahu persis bahwa menantunya itu sangat membenci mantan istrinya setelah mereka kehilangan calon bayi mereka


__ADS_2