
Hati Amos tergerak, dia merindukan sosok itu, sosok istri kedua yang memiliki paras cantik namun watak aneh yang susah ditebak. Perasaan rindu itu kian menggebu, memaksa Amos ingin sekali merengkuh tubuh indah itu, mengatakan jutaan ribu kali kata maaf. Mengajak Liu untuk kembali bergabung dirumah mereka.
Namun siapa sangka ternyata Liu menghilang tanpa jejak, pagi-pagi begini Amos sudah langsung terjun mencari Istri cantiknya. Amos menjadi kesal kala rasa rindunya tak tersalurkan karna Liu yang tidak ditemukan.
Dia yang memiliki sisi buruk yaitu tempramental dengan mudah tidak bisa mengontrol emosi, Amos menjadi tidak sabar, rasanya sekarang dia ingin membawa Qynliu, mengukung gadis itu dibawahnya. Menjerit dan mendesah nikmat memohon maaf dan ampun karna sudah membuat Amos dilandah rindu.
"Argggggg"
Jerit Amos kesal memukul kemudi setir dengan tangan besarnya, memikirkan Liu membuat Juniornya menegang dibawah sana, ingatan saat mereka berciuman mesra, kelembutan dan rasa manis pada bibir Liu terus terngiang. Kenapa Amos baru sadar, dia sudah candu dengan gadis itu.
Persetan dengan Lexa, wanita itu membuat Amos muak, tingkahnya sudah seperti wanita tak bersuami, keluar rumah sesuka hati bahkan sering tidak pulang kerumah. Rasa Cinta pada Lexa semakin terkikis, bukan bahagia yang didapat saat berada dekat dengan si Istri pertama. Namun rasa tak nyaman dan tak suka. Hanya Liu, hanya Qynliu yang Amos inginkan.
"Wanita ini bukan wanita baik-baik"
Begitulah kalimat yang Liu teriakkan saat pertengkaran hebat mereka, menunjuk Lexa dengan tatapan penuh amarah. Namun kenapa perkataan itu seolah kembali memekik memenuhi gendang telinga Amos.
Amos menjadi tak fokus, untung saja jalanan masih sepi karna masih terlalu pagi. Pria tampan itu mengerjit, merasa penasaran sekaligus membuktikan perkataan Liu yang mengatakan bahwa Istri pertamanya adalah seorang wanita malam.
Kenapa Amos begitu bodoh, kenapa baru sekarang dia menyadari bahwa dia juga menaruh curiga pada Lexa yang sering keluar malam. Amos menjadi kesal sendiri dengan kebodohannya, dia pun memantapkan niat akan mencari tahu tentang kebenaran itu.
Rumah.
Amos kembali pulang kerumah, dirinya menjadi lemas karna tidak bertemu orang yang dirindukan, kaki jenjangnya melangkah lunglai memasuki rumah.
"Selamat pagi Tuan, anda dari mana Tuan?"
__ADS_1
Tanya Lily yang berada diambang pintu menyambut kedatangan sang Tuan Rumah. Amos tidak menjawab, bibirnya terasa keluh tidak bersemangat. Tatapan matanya kosong, serindu itukah pada sosok Liu?
"Lexa"
Guman Amos, menatap kearah tangga, dimana sang Istri tengah berjalan terseok-seok menuju kamar, wanita itu sangat berantakan, gaun indahnya terbuka tak beraturan, rambutnya tampak lembab dan berserakan.
"Cih"
Amos berdecih kesal, Amos tebak pasti wanita itu baru pulang dari kunjungan kerumah teman, katanya.
Amos hanya menatap dari ujung tangga, tidak berniat sedikitpun membantu Lexa yang tampak kesusahan berjalan.
"Darl aku....Hueeeek.....Hueeeek"
Para pelayan meringis miris melihat hubungan aneh pasangan suami istri itu, mereka tampak asing dan saling tidak perduli. Hubungan rumah tangga apa itu?
"Tuan, sarapan anda"
Lily meletakkan berbagai menu makanan didepan Amos, disusul para pelayan lain ikut meletakkan dan menata berbagai hidangan makanan.
Amos hanya terdiam, menatap berbagai makanan itu dengan sendu, kenapa semua hanya tentang Qynliu. Dia ingat, bagaimana dulu Liu menyeduh makanan kedalam piringnya, melayaninya dengan begitu hormat. Amos merindukan itu, merindukan istri kecilnya.
"Selama pagi Tuan Muda"
Sapa sosok seorang pria seumuran dengan Amos baru memasuki rumah dan langsung menghampiri si pemilik rumah. Amos menatapnya sejenak, dia mendengus kesal ternyata itu adalah sang Asst Gal.
__ADS_1
"Apa aku boleh duduk?"
Tanya Gal dengan begitu menyebalkan ditelinga Amos, pria itu mengangguk kecil, dengan cepat Gal menggeser kursi mendaratkan bokongnya disana, menatap berbagai hidangan dengan selera .
"Apa sudah ada hasil?"
Tanya Amos menatap Asst sekaligus sahabatnya dengan teramat serius, seolah tak sabaran akan hasil kerja yang baru pagi tadi dia perintahkan.
Gal mencibir mendengar itu, sejenak dia mengunyah makannya beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan sang Bos.
"Apa kau gila, kau baru memberi perintah beberapa jam lalu, dan sudah bertanya hasil"
"Hufffft"
Hembusan nafas berat meluncur bebas dari bibir Amos, rasanya begitu kecewa. Gal memerhatikan sahabatnya itu, dia cukup paham bahwa Amos sudah menaruh rasa cinta begitu besar pada istri keduanya. Namun, sikap Amos begitu kekeh dan egois dia selalu membantah dengan memberi sekat dan sikap arogant.
Gal cukup mengenal sosok Amos, keduanya sudah bersahabat sejak lama. Jadi Gal paham betul watak Amos. Tapi walau bersahabat. Gal juga tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan Bosnya itu lebih-lebih masalah rumah tangga.
"Malam ini pergilah kealamat yang sudah aku kirim, kau akan mendapat kejutan besar"
Gal menatap Amos serius, suaranya juga terdengar dingin, Amos mengerjit heran tapi tetap mengiyakan walaupun dia merasa ragu. Keduanya masih dengan kegiatan sarapan pagi.
"Jujur saja aku merindukannya"
Tiba-tiba Amos kembali berceletuk ditengah kunyahannya, tatapan matanya benar-benar kosong menatap piring. Gal menghela nafas, dia berhenti mengunyah menatap serius sahabatnya itu.
__ADS_1