GENUINE ( LMG . S2 )

GENUINE ( LMG . S2 )
GENUINE . 89


__ADS_3

Pagi ini Liu dan Amos sedang disibukkan dengan urusan pakaian masing-masing, keduanya bingung memilah pakaian mana yang akan dikenakan untuk mengunjungi orang tua Qynliu. Terutama Amos, sedari bangun tidur pria itu sudah dibuat panas dingin dan juga gugup bukan kepalang. Memikirkan bagaimana pertemuan dengan mertuanya, bagaimanapun Amos harus memberi kesan baik agar mereka menerimanya dan mau memberi restu.


Liu juga tak kalah gugup, wanita itu bingung bagaimana menjelaskan hubungannya dengan Amos pada kedua orang tua dan keluarga besar. Liu takut kedatangan Amos akan membuat masalah besar, terutama sang kakak Sean yang pasti akan sangat murka mendengar pernikahan Liu secara diam-diam dengan pria asing.


Liu mengenakan dres berwarna putih tulang yang sangat cocok menempel dikulit putih dan tubuh indahnya, dres yang menutupi sejengkal pahanya, dan hanya menutupi bahunya. Rambut blondenya dia biarkan terurai dengan dihiasi jepit rambut berwarna merah muda yang semakin menunjang penampilannya lebih terlihat feminim. Sedangkan Amos, pria tampan dengan mata hitam pekat itu mengenakan celana jins hitam panjang dipadukan Hoodie hitam dan juga sneakers berwarna putih.


Di dalam mobil, hanya ada keheningan diantara pasangan suami istri itu, mereka tengah bergelut habis-habisan dengan pikirannya, Amos merasa sedikit bingung dengan alamat yang diberikan oleh Qynliu, pada ponsel Amos Liu memberikan titik alamat pada sebuah jalan yang diketahui adalah jalan buntu yang bersebelahan dengan sungai yang dikenal banyak buayanya.


Berkali-kali Amos menanyakan apakah benar alamat yang diberikan Liu, dan wanita itu hanya terus mengangguk dengan wajah datar.


Beberapa jam perjalanan akhirnya mereka sampai juga pada jalan tersebut, jalan satu setapak yang dikelilingi hutan belantara tak ada tanda-tanda kehidupan, diseberang jalan terdapat sungai dengan air tenang berwarna hijau. Liu menghela nafas, dan mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil, Amos mengerjit tak mengerti dengan yang Istrinya lakukan.


Sebuah sinar leser mengarah pada mata dan juga keseluruhan wajah Liu, leser itu yang tidak tahu asalnya dari mana berbunyi nyaring dan perlahan menghilang. Amos membelalak kaget melihat itu. Terutama saat tiba-tiba jalanan didepan mereka turun kebawah dan membuka sebuah lorong bawah tanah rahasia. Mata Amos membola sempurna dan menatap istrinya yang masih berwajah datar.


"Ayo jalan!"


Perintah Liu menatap Amos sejenak, dengan ragu Amos menganguk dan mulai menyalakan mobil berjalan memasuki lorong itu, suara besar kembali terdengar saat jalanan itu kembali naik dan menutup akses lorong bawah tanah seperti semula saat mobil mereka berjalan beberapa meter kedalam.


Lima belas menit perjalanan dalam lorong bawah tanah gelap itu, mobil keduanya sampai pada sebuah gerbang tinggi yang tertutup rapat. Sekeliling mereka terlihat lagi hutan belantara yang ditutupi oleh loteng-loteng kaca transparan. Sebuah leser berwarna hijau kembali menyorot mobil mereka, leser itu kembali berbunyi saat mengenai wajah Liu, perlahan gerbang besar tinggi itu bergeser terbuka untuk memberi jalan.


Amos berdecak kagum melihat kecanggihan yang terus dia temui sedari tadi, baru kali ini Amos melihat alat-alat smart yang membuat dia takjub bukan main. Amos menatap wajah sang istri sesekali sambil kembali menjalankan mobil memasuki gerbang, wajah Liu masih sama datar, namun tersirat rasa gelisah disana.


Terdapat taman indah saat memasuki perkarangan sebuah gedung raksasa berukuran besar, taman dengan berbagai macam bunga dan juga sebuah air mancur besar yang keluar dari mulut patung singa besar.


Tubuh Amos seakan membeku dan juga mata melotot saat membaca tulisan besar pada pintu utama gedung berukuran besar itu.


THIANSI ZHI XUE


Tulisan yang tercetak besar mampu membuat jantung Amos hampir melompat dari tempatnya, tubuhnya tiba-tiba melemas dengan darah yang berdesir hebat. Tidak salah, ini adalah sebuah markas Mafia terbesar dunia, TZX yang dipimpin Lady Anatasya dan King Bryan.

__ADS_1


"Sa-sayang"


Panggil Amos terbata-bata sambil menatap wajah sang istri tercinta, Liu mengangkat bahu acuh dan perlahan membuka pintu mobil saat mobil mereka berada tepat di depan gedung itu.


"Ada apa?"


Tanya Liu saat melihat tangannya yang dicekal oleh Amos yang sudah berkeringat dingin, Amos menggelengkan kepala dengan wajah menyedihkan, pria itu berfikir bahwa Liu menyewa para Mafiso untuk membunuhnya karna kesalahan yang telah lalu.


"Katamu ingin bertemu orang tuaku"


Ucap Liu dengan suara dingin, dia menghempaskan tangan suaminya dan keluar dari dalam mobil, ditengah kepanikan Amos ikut keluar dari mobil dan langsung berdiri di sisi Liu.....


Jantung Amos semakin berpacu hebat saat melihat beberapa pria berbadan kekar dipenuhi oleh tato menyeramkan datang berlari menghampiri mereka.


Amos mengerjit saat para pria itu justru membungkukkan badan didepan istrinya.....


Amos menatap Liu tak percaya, rasanya Amos tengah berada di dunia mimpi yang mengerikan, sangat mengerikan. Liu menganguk kecil dan perlahan melepas Soflen yang selama ini dia kenakan untuk menutupi warna mata aslinya. Oscar, pria yang sampai sekarang masih menjadi kepercayaan TZX, pria parubayah itu mengulurkan tangan siap menerima soflen bekas pakai sang princess mafia.


Terpampanglah warna mata asli Liu, warna silver mengerikan dan juga unik menjadi ciri khas Lady TZX, semakin dibuat terkejut pula Amos melihatnya, mulutnya bahkan keluh hanya untuk bertanya pada Liu.


Keduanya berjalan beriringan memasuki Markas utama TZX, diikuti beberapa Mafiso dari belakang dan juga Oscar yang selalu setia menemani Qynliu.


"Apakah Mommy dan Daddy ada?"


"Lady dan King ada diruangan mereka Nona"


"Kak Sean?"


"Prince Sean juga ada, Prince baru datang satu jam yang lalu dan juga berada diruangan Lady!"

__ADS_1


Liu menghela nafas berat mendengar jawaban Oscar, jangan tanyakan Amos, pria itu hanya berjalan layaknya kerangka berjalan tak tentu arah dan juga linglung, pikirannya melayang entah kemana, dia hanya terus mengikuti langkah kaki sang istri.


Saat hampir tiba di ruangan yang dimaksud oleh Oscar, terlebih dahulu mereka melihat Bryan dan juga Sean yang berada tepat didepan pintu ruangan itu bersiap akan masuk ke dalam.


"Salam Prince, salam King"


Para Mafiso itu menyapa, membuat kedua pria berbeda generasi yang berdiri tak jauh dari tempat Liu berdiri menatap bersamaan kearah mereka. Hampir saja Amos terhuyung kebelakang sangking terkejutnya mendengar sapaan para Mafiso dan juga melihat sosok Bryan yang baru semalam bertemu dengannya. Untung Liu menahan lengan suaminya kemudian menggandeng Amos agar berjalan lebih dekat kearah Daddy dan kakak nya.


"Daddy, kakak"


Sapa Liu dengan bibir bergetar dan juga mata berkaca-kaca, Bryan tersenyum hangat kemudian merentangkan tangan menyambut putri kecilnya kedalam pelukan, Liu berlari dan langsung melompat keatas tubuh Bryan.


"Putri kecilku, Daddy rindu"


Guman Bryan merengkuh erat tubuh Liu, para Mafiso memilih pergi memberikan ruang kepada anggota keluarga yang tengah melepas kerinduan. Sean tak mau kalah, dia ikut memeluk adik kesayangannya yang begitu dia rindukan setelah tidak bertemu beberapa saat.


Setelah acara melepas rindu itu selesai Liu kembali menggandeng tangan Amos dan perlahan berjalan memasuki ruangan yang terdapat Anatasya di dalamnya, Sean mengerjit bingung sekaligus tak suka saat melihat adiknya bersentuhan dengan laki-laki yang tidak dia kenali, saat ingin melepas tautan tangan mereka, Bryan langsung menahan putranya agar tidak gegabah untuk sesaat.


Saat memasuki ruangan bercat putih dan hitam dengan nuansa kelam dan juga hening serta penuh aura kegelapan, mata Amos langsung tertuju pada sosok wanita parubayah yang masih begitu cantik, duduk dengan kaki bertumpu sebelah, wanita dengan sebatang rokok dibibir mengenakan baju Dres yang terbilang tertutup tengah menekuni beberapa dokumen didepannya tak lupa tersedia beberapa botol minuman beralkohol untuk dia konsumsi.


"Mommy"


Panggil Liu dengan suara kecil selembut mungkin dan bibir bergetar ketakutan bercampur rasa rindu pada wanita yang sudah melahirkannya itu. Perlahan sosok Anatasya mendongak dan langsung menatap kelam kearah Amos dan juga Liu.


Amos kembali membalalak hebat, keterkejutannya menjadi tak tertahankan, rasa kaget dan juga tidak percaya saat melihat bola mata berwarna aneh persis seperti istrinya menatapnya dengan begitu dingin dan mengintimidasi. Seluruh tubuh Amos menjadi dingin dan lemas, pandangannya menjadi kabur dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.


Brughhhhhhhh.....


"Astaga"

__ADS_1


__ADS_2