
"Ckkk,kau ikut aku" Titah Liu,menatap pria itu dengan datar. Dia mengangguk cepat tapi kemudian menggeleng membuat semua orang merasa bingung.
"Ampuni saya Princess,biar saja saya disini sampai mati. Mati ditangan Princess terlalu mengerikan" Jeritnya,badan yang besar itu sangat tidak cocok apalagi tampang sangarnya dengan rambut botak. Liu menggeleng kepala antara geram dan lucu.
"Jangan membuang waktuku,atau kau ingin sekalian aku membunuhmu disini?"Ancam Liu. Pria itu kembali menggeleng diiringi air mata yang sudah membanjiri.
"Saya ikut Princess" Serunya cepat bahkan terkesan sebagai bentakan sangking paniknya. Liu mengangguk kecil,kembali mengedarkan pandangan kearah para narapidana pria lainnya,semuanya kembali menundukkan pandangan tak siap bertatapan dengan mata Galaxy mengerikan itu.
Liu memutar haluan,dia berjalan kembali keluar dari kawasan itu,dengan diikuti narapidana tadi.
Liu dan Andreaz sudah berada didepan pintu rumah Amos. Pakaian Liu sudah berubah seperti biasanya agar tidak terlihat mencurigakan,rumah sudah sangat sepi,semua sudah lelap termasuk para pelayan. Andreaz sedari tadi hanya diam berdiri dibelakang Liu.
"Ingat seperti yang kukatakan,bersikap dengan normal,dan jangan buka suara tentang pertanyaan yang tidak penting" Andreaz mengangguk patuh sedari tadi Liu memang sudah memberi wejangan agar tidak membuka suara,termasuk pertanyaan siapa Andreaz biar Liu saja yang memberi jawaban.
Untuk pertama kalinya tadi Andreaz melihat wajah dari Princess TZX. Wajahnya sangat cantik,ini menjadi sejarah untuk pria itu karna bisa melihat wajah pemimpin tertinggi selain para petinggi di TZX.
Liu berjalan memasuki rumah,rumah benar-benar sangat gelap. Tapi tiba-tiba mata Liu menangkap sosok suaminya yang tengah duduk menyilang disofa tamu depan. Mata Amos tengah menatap Istrinya dengan tajam. Amos berdiri cepat dan berjalan kearah Liu saat melihat seorang pria berada dibelakang istri mudanya itu.
"Dari mana saja kau,dan siapa dia?"Bentak Amos manarik Liu kearahnya. Pria itu tampak sangat murka,bukannya takut Liu malah terkekeh membuat darah Amos kian mendidih.
__ADS_1
"Liu"Bentak Amos keras. Liu terlonjak tapi kemudian sebisa mungkin menormalkan emosinya.
"Apa ha. Kau pikir apa,kau memang selalu seperti ini,membentakku dan berbuat kasar,jika aku memang hanya menjadi beban untukmu ceraikan aku,ceraikan" Balas Liu berteriak tak kalah keras,emosinya kian terpancing. Andreaz yang sedari tadi diam kini akan beranjak maju dan membasmi Amos karna sudah membentak Princessnya,namun tidak bisa karna Liu sudah memberi kode untuk tetap diam....
"Liu"suara Amos melembut,gadis itu berdecih entah apa yang terjadi dengan Amos sehingga pantang untuk pria itu menceraikannya.
"Darl ceraikan saja dia"Tiba-tiba suara Lexa terdengar dari ujung tangga,dia tengah menatap ngeri kearah Andreaz. Ketiganya melirik keasal suara dimana disana juga ada kedua orang tua Amos dan Lexa yang tengah berdiri menyaksikan keributan mereka dari ujung tangga.
"Tidak akan" Suara Amos kembali meninggi menatap Lexa tajam.
"Untuk apa mempertahankan dia,lagipula bukankah ini hanya pernikahan kontrak,jangan jadi orang bodoh Amos,kau sudah mempunyai istri sesempurna Lexa untuk apa menjadikan gadis kecil miskin itu Istri" Ibu Amos ikut angkat suara,dia terus menatap Liu dengan hina. Liu terdiam, diam-diam dia tersenyum miring,mereka terus menghinanya. Apa kabar jika mereka tahu jika dia adalah seorang yang berpengaruh.
"Jangan melewati batasmu wanita sialan" Bentak Amos didepan wajah ibunya dengan amarah yang sudah diubun-ubun. Liu membelalak,suaminya itu sangat kurang ajar,mata Liu memandang Daddy mertuanya yang diam membisu. Kelurga macam apa ini?
"Sudah-sudah jangan ribut lagi,semuanya kembali kekamar masing-masing,untuk tamu menantu Liu bisa beristirahat dulu kekamar tamu. Untukmu Amos bawa Istrimu kekamar,bukankah kalian harus membicarakan tentang kelanjutan pernikahan kalian?" Tuan Ham membawa jalan tengah,perlahan semua kembali bubar,hanya tinggal Amos,Lexa dan Liu.
"Ayo ikut aku"
"Tidak mau" Liu menepis kasar tangan Amos yang menggenggam lengannya. Pria itu menghela nafas berat.
__ADS_1
"Cih kalian tidak boleh berduaan saja,aku ikut" Lexa tampak cemburu dia berkata dengan wajah kesal.
"Ayo Liu,dan kau Lexa kembali kekamar"
"Tapi....Darllllll,Darllllll" Pekik Lexa kesal. Liu dan Amos sudah berlalu kekamar. Keduanya masuk kedalam kamar Liu meninggalkan Lexa yang tengah diliput kekesalan.
"Duduk" Suara Amos terdengar dingin,menatap istri kecilnya dengan tajam. Liu mencibir tapi dia tetap duduk diatas pembaringan yang hanya muat untuk satu orang....
"Cepat katakan aku mengantuk"Seru Liu ketus dia memandang Amos jengah.
"Siapa pria itu?"Tanya Amos menatap dalam istrinya.
"Sipapun dia itu bukan urusanmu,lagi pula jika aku hanya beban lalu mengapa kau masih saja mengurusi aku" Amos menghela nafas. Gadis ini benar-benar memancing emosinya.
"Aku hanya bertanya Liu bukan mengajakmu ribut" Sekuat tenaga Amos menahan amarah.
"Dia temanku,dan akan tinggal disini. Intinya sekarang aku minta cerai" Celetuk Liu lagi dan lagi dengan nada tak bersahabat. Amos menyeringai, membuat Liu merinding,perasaanya menjadi tak enak.
"Ingin bercerai ya,kita sudah menikah tiga bulan,tapi aku belum pernah mendapatkan hakku,menjamah tubuhmu. Ayo kita lakukan baru bercerai, setidaknya sebagai bayaran pernikahan kita" Liu membelalak dia menyilang tangannya didepan dada menatap Amos yang tengah tersenyum aneh dengan tajam....
__ADS_1
"Apa kau gila,tidak mau" Bentak Liu. Amos tertawa keras Liu sangat menggemaskan.
"Jika tidak mau,maka tidak ada perceraian"