IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
CHAPTER ¦ 101


__ADS_3

¦ Enjoy guys!


Masih di Singapore, Ghazel dan Han masih harus memantau keadaan. Meski sudah banyak kaki tangan mereka, tetap saja mereka harus tetap berada dilokasi.


Setelah para petugas selesai mengevaluasi semua korban, Ghazel meminta Han untuk mengabari semua keluarga korban.


Meski Ghazel tau mereka pasti sudah mengetahui semuanya, dengan melihat kabar berita tapi tetap saja, sebagai pihak yang bertangung jawab mereka harus mengabari secara hormat.


"Rumah sakit akan menanganinya dengan baik,"


"Pastikan semuanya dirawat dengan baik, dan korban yang meningal dunia dikirim secara hormat dikeluarganya."


"Baik tuan, Gio dan Seo sudah mengurus semuanya."


"Sebaiknya anda kembali kehotel tuan, sejak kemarin anda kurang istirahat."


"Apa semuanya sudah diurus dengan baik?,"


"Semuanya sudah dibagi tugas tuan, tuan tenang saja, sebaiknya kita kembali kehotel terlebih dahulu. Saya tidak mau jika anda jatuh sakit kar-"


"Sudahlah, kita pergi sekarang. Kau sangat cerewet!" Ghazel keluar dari rumah sakit, langsung menuju pakiran mobilnya. Sedangkan Han mengikutinya dari arah belakang.


Sejak kemarin Ghazel kurang tidur, karna dia juga ikut kelapangan melihat perevaluasian korban, bahkan untuk makan saja jika tidak diingatkan mungkin Ghazel tidak makan.


Dan jika Ghazel jatuh sakit, Han lah yang harus bertangung jawab. Han akan dihabisi oleh lima wanita kesayangan Ghazel jika itu terjadi.


Tentu saja Han tidak MAU!.


...__________________________________________________...


"Bagaimana? Apa sudah beres?"


"Sudah bos!, saya yakin dengan kebakaran pabrik itu, pasti perhatian Ghazel teralihkan. Dengan begiku kita bisa masuk dengan aman."


"Bagus!, pantau terus disana pastikan semuanya berjalan sesuai rencana."


"Baik bos!"


Panggilan terputus. Orang tersebut tersenyum aa..lebih tepatnya menyeringai.


"Bodoh!" ucapnya terkekeh.


...____________________________________________...


Karna haus Indah memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Persedian dikamarnya kian menipis, seperti snack, minuman dan buah-buahan.


Meski jarang mengkonsumsi nasi, Indah kadang masih mau memakan makanan yang ringan, seperti yang disebutkan tadi.


Jika saja minumannya tidak habis, mungkin Indah malas untuk keluar kamar.


Alasan kenapa ia tidak mau keluar kamar selain merasa sedih dan kecewa, Indah juga tidak ingin melihat ruangan tamu mereka.


Kenapa?.


Karena setiap kali ia melihat ruangan tamu mereka, bayangan dari kejadian Ghazel meninggalkannya terus berputar dikepalanya. Dan itu membuat dia mengingat luka hari itu.


Indah menuruni tangga secara perlahan, pandangan matanya tampak sayu, dan tidak bersemangat. Sapaan dari beberapa Art-nya tidak ia hiraukan.


Ia berjalan cepat menuju dapurnya, mengambil beberapa persedian minuman dan makanan untuknya.


"Dimana yang lainnya?" tanya Indah berguman pelan dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Karna rumah mereka tampak sepi, hanya beberapa Art yang berkeliaran.


Tak ingin ambil pusing, selesai mengambil semua keperluannya Indah langsung berbalik kembali kekamarnya.


Tapi saat ia melewati ruangan Ayahnya, Indah sempat berhenti mendengarkan obrolan dari arah dalam.


Bukannya tadi pintu ini tertutup ya?- batin Indah.


Sekali lagi. Karena Indah sangat kepo ia memutuskan untuk menguping, siapa tau aja ada info penting.


Terkait Ghazel maybe.


"Jadi pabrik Ghazel benaran terbakar?"


"Iya pak, menurut info yang Loli dengar, kebakaran itu banyak memakan korban.


APA! Kebakaran!, mas Ghazel?, apasih ngak jelas gerutu Indah membatin.


"Astaga!, bagaimana dengan Ghazel?"


"Beliau baik-baik saja pak, dan pabrik yang terbakar itu, adalah pabrik yang di Singapore pak."


"Syukurlah dia baik-baik saja, berarti sekarang Ghazel sedang tidak ada di Jakarta?"


"Tidak ada pak,"


Jadi mas Ghazel sedang ngak ada di Jakarta? Pasti dia sibuk banget- batin Indah. Raut wajahnya ia tekuk. Indah berbalik hendak melangkah pergi, tapi langlahnya terhenti saat namanya disebut.


"Apa Indah serius Lolita?," tanya Agung, saat membaca surat yang Lolita berikan padanya.


"Serius pak," jawab Lolita.


"Jika dia sudah menandatangani berarti dia serius, saya berencana mengirimkan surat ini, hari ini pak, tapi karena tuan Ghazelnya belum berada di Jakarta jadi saya pending." jelas Lolita


Kenapa ini, rasanya aku tidak ingin mas Ghazel membaca surat gugatan itu. Apalagi dia dalam musibah seperti ini. Batin Indah. Dengan cepat ia menaiki tangga agar segera sampai dikamarnya.


Ingin sekali Indah meminta kembali surat gugatan itu, tapi...rasa kecewanya kembali membayangkan pedihan hatinya.


"Tidak...Indah jangan goyah!" ucapnya memperingatinya dirinya sendiri.


Tapi bagaimana jika mas Ghazel...sedih- batin Indah merasa kalut.


"Tidak!, monster sepertinya mana mungkin sedih" ujar Indah penuh yakin. Tapi dibalik setiap kalimat itu percayalah Indah sedang melawan keras hatinya.


Dimana hatinya terus memaksanya untuk kembali pada Ghazel.


...________________________________________...


Cahaya silau dari mentari pagi berhasil menganggu tidur Ghazel. Seraya mengusap wajahnya Ghazel bangun langsung duduk untuk menetralkan sebentar kesadarannya.


Setelah merasa cukup Ghazel langsung beranjak dari kasurnya, menuju kamar mandi yang berada dalam kamar hotelnya.


Setelah selesai membersihkan dirinya, Ghazel keluar dengan memakan pakaian casualnya, ia akan sarapan di cafe hotel ini dulu. Sengaja tidak membawa Han, karena Ghazel ingin mengisi waktu sendiri.


Ada beberapa hal yang menganggu pikirannya saat ini. Ghazel sudah berada di caffe sambil duduk menunggu pesanannya.


Pagi ini dia akan sarapan dengan Cappucinno hangat, dan roti bakar biasa. Biasanya dia akan memesan teh, tapi tidak untuk sekarang. Entahlah apa yang terjadi, Ghazel hanya merasa tidak ada teh yang enak, selain teh buatan Indah.


Apa ini juga termasuk rindu dan cinta?.


"Bagaimana kabarnya?"

__ADS_1


"Pastikan dia makan dengan baik, ingatlah dia istriku, istri dari Ghazel Erlangga!, jika saat nanti aku membawanya kembali dan aku melihat tubuhnya 1 Ons saja berkurang, akan ku pastikan kalian tidak akan makan selama 1 tahun!" ancam Ghazel menelpon seorang seberang sana.


"Biarkan dia meredakan kemarahannya, aku akan datang setelah semuanya selesai," piph..Ghazel mematikan telponnya.


Ghazel punya cara sendiri untuk menenangkan amarah dirinya, dan dia berikan istri-istrinya waktu luang untuk mereka menenangkan amarah mereka saat hal tak di inginkan terjadi, seperti masalah ini.


"Biarkan amarah mu membakar hatimu Indah, sampai hati itu hangus dan tidak dapat berdebar untuk mencintaiku lagi," Ghazel berbicara dengan memandang foto pernikahannya bersama Indah.


"Bahkan untuk memikirkan cinta saja sudah tidak sanggup, seorang monster tidak bisa mencintai" sambungnya pelan.


...______________________________________...


Kediaman Ghazel Jakarta.


"Ma, mama mau kemana bawa koper?" tanya Lydia mengejar mamanya yang keluar membawa koper miliknya.


Disusul Zahra, dan Naysa yang tampak bingung.


"Ada apa?," tanya Naysa menghampiri Lydia yang sedang menahan koper dari tangan mamanya.


"Mama mau pergi, mansion ini serasa hutan tanpa penghuni!."


"Mama mau kemana ma?," Zahra menatap sendu mama-nya.


Zahra sangat tau, jika mama mertuanya ini masih merasa kecewa dan marah akibat kejadian saat di Bali dulu. Itu berdampak besar ternyata untuk mamanya itu.


Mama karlina, sudah sangat menyayanggi Indah, dia merasa kosong saat tidak melihat menantu cerewetnya itu. Tidak ada lagi yang suka bikinkan dia jus, atau sekedar menganggu dia menyulam.


"Bahkan anak itu tidak berusaha untuk membawa Indah pulang!, mama akan pulang jika Indah sudah berada disini!. Jangan cegah aku! Paham!" mama Karlina menarik kuat ganggang kopernya dan  menyeretnya menuju mobilnya.


Zahra, Naysa, dan Lydia, hanya diam. Mereka tidak berani melawan ucapan dari mamanya.


Mobil mama Karlina keluar dari area mansion, entah kemana akan perginya dia tidak ada yang tau.


"Mba gimana ini?," Lydia menanggis setelah mobil sang mama sudah tidak terlihat lagi.


Bukannya mama kecewa dan sudah benci sama Indah?, batin Naysa.


"Kita tunggu mas Ghazel, karena mba juga tidak berani mengambil keputusan," Zahra berucap dengan raut bingung, panik atau apalah yang jelas dia sedang kalang kabut.


"Telpon Ghazel,"


"Mas Ghazel sedang menangani masalah di Singapore, apa kamu mau bikin dia khawatir Nay?," ucap Zahra. Saat ini mereka sudah berada didalam mansion, diruangan tamu lebih tepatnya.


"Terus gimana?, ini semua gara-gara Indah!, seharusnya mama kecewa kan sama dia!, benci sama dia!, semenjak ada dia keluarga kita selalu dalam masalah!, sial!" marah Naysa, dia benar-benar tidak menyukai Indah.


Zahra langsung menatap Naysa, tak percaya dengan apa yang baru saja Naysa lontarkan, "Indah tidak seperti itu Nay, ini cobaan untuk keluarga kita. Ada beberapa hal yang tidak seharusnya Indah tanggung, mba tidak mengerti kenapa kau sangat tidak menyukainya?, seharuanya kita cari jalan keluar Nay, bukan saling menyalahkan seperti ini," imbuh Zahra.


"Mba saja yang terlalu baik, coba pikirkan baik-baik mba, Indah itu memang tidak pantas untuk keluarga kita, aku berharap mas Ghazel menceraikannya!"


"Naysa!," bentak Zahra, ia menatap tak percaya kearah Naysa.


...________________________________________...


Guys! Mau cerita!


Menurut kalian ngadapin orang yang mulutnya toxic itu gimana?


Silahkan kasih feedback dengan memberikan VOTE and KOMEN.


Jika Ikhlas!

__ADS_1


©Dremanight ft CK®


__ADS_2