IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter 56


__ADS_3

...56| Hukuman Neysa?...


Benar kata pepatah, apa yang kita tanam itulah yang akan kita petik. begitulah ungkapan yang cocok untuk Neysa saat ini. Neysa saat ini duduk di depan Ghazel dan yang lainnya tengah di introgasi perihal kejadian penamparan Indah tempo hari.


Flasback!


2 hari yang lalu...


^^^ "Hallo tuan, bisa kekantor sekarang?, ada yang ingin saya beritahukan" Lapor Han.^^^


"Ada apa Han?, apa semuanya baik-baik saja?, saya harus ke rumah sakit"


^^^ "Semuanya baik-baik saja tuan, hanya saja ada yang ingin saya beritahukan langsung, ini penting" jelas Han tenang.^^^


"Sampaikan!" ujar Ghazel tenang tapi memerintah.


"Ini lebih baik didengar langsung oleh tuan." ucap Han.


"Baiklah, saya kesana Han." Ghazel langsung keluar dari kamar hendak kantornya, biasanya jika Han sudah menelpon nada memaksa berarti ada hal penting yang harus Ghazel wajib tau.


Lantai utama, Indah dan mama Karlina sedang mengemaskan beberapa keperluan yang akan di bawa ke rumah sakit, untuk Neysa, Zahra dan El.


"Sudah semua kan Ndah?" tanya mama Karlina sambil melihat satu persatu tas mereka.


"Sudah kok ma, mba Zahra hanya minta Indah membawakan pakaian ganti satu stell dan punya El serta mainannya, karna El yang meminta. El juga siuman beberapa saat yang lalu.


"Ma, Indah," panggil Ghazel.


"Iya nak,"


"Iya kenapa mas?" (Fyi Indah sudah mulai terbiasa memanggil Ghazel dengan sebutan mas(ノ*>∀<)ノ♡)


"Kalian berdua pergi dulu kerumah sakit, saya ada urusan sebentar." jelas Ghazel.


"Loh, bukannya mau bareng ya mas?, El mau ketemu kamu loh" ucap Indah, agaknya tak terima karna Ghazel tak jadi ikut dengan mereka.


"Kan saya sudah bilang ada urusan peting Indah, kalian di antar sama supir mama aja."


"Ya kan, keluarga lebih pen--"


"Iya Ghazel, mama dan Indah pergi duluan, kamu kalau sudah selesai langsung kerumah sakit ya" ucap mama Karlina memotong ucapan Indah, karna tak ingin menantu dan anaknya kembali berperang, dan dia juga tau bahwanya kalau Ghazel sudah memutuskan tak akan bisa memantah.


Mama Karlina menatap tersenyum, sambil menganggukan kepalanya, seakan mengatakan tak apa.


Indah mendengus pelan,


Sepenting apasih sampai-sampai keluarga di nomor duakan - batin Indah.


"Yaudah, Ghazel pamit dulu." Ghazel menyalami tangan mamanya, dan Indah menyalami Ghazel ( Istri yang sopan bukan😀)


Ghazel berangkat mengunakan mobil sendiri, dan tanpa supir dalam artian dia sendiri yang meyetir, Ghazel menyalakan mesin mobil, memasuka gigi dan menginjak pedal gas, sehingga mobil hitam mewah itu keluar dari halaman rumah.


Sedangakam Indah dan mama Karlina, sudah berdiri didepan mobil yang sudah di siapakan. keduanya masuk saat supir membukan pintu mobil, sedangkan pelayan yang lainnya, membawa perlengkapan yang mereka siapkan tadi, menyimpannya di dalam bagasi mobil.


"Semuanya sudah nyonya" lapor pelayan tersebut.


"Iya, terima kasih."


Sopir masuk duduk di bangku kemudi, " Kita jalan nyonya" lapor supir.


"Iya."


Ghazel sudah sampai di kantornya, dia segera keluar dari mobil, saat pintu terbuka, di sana sudah ada Han dan beberapa bodyguard yang berdiri menyambutnya.


"Selamata datang tuan" sambut mereka.


"Hmmm.."


Ghazel menatap Han, seakan tau Han langsung mengangguk paham.

__ADS_1


"Kalian semua berjaga didepan, jangan ada yang memgikuti saya dan tuan Ghazel paham!?" titah Han.


"Paham!!!" ucap serempak mereka.


saat memasuki loby, beberapa karyawan menyapa Ghazel dan Han, satu pun sapaan mereka tidak ada yang di gubris. karna itu sudah tak asing lagi bagi keryawan disana. akan aneh jika boss mereka menyapa balik, mungkin mereka akan salto serempak.


Ruangan Ghazel.


"Lansung saja Han" ucap Ghazel langsung ke intinya


"Baik tuan" Han langsung mengeluarkan Flasdisk dalam kantong jasnya.


....


"Ma, mas Ghazel sering gitu ya?" tanya Indah tanpa ba bi bu lagi


"Gitu gimana Indah?" tanya balik mama Karlina, karna kurang ngeh sama pertanyaan menantunya itu.


"Ya gitu, sering ninggalin keluarga demi urusan kantor?" ucapnya kesal.


Mama Karlina hanya terkekeh kecil, rupanya menantunya itu masih dalam mode kesalnya.


"Ngak, biasanya Ghazel lebih ngutamain keluarganya, kecuali ada urusan yang memang tak bisa di handel Han, baru Ghazel turun tangan, malah dulu yang paling sibuk itu Han, sampai-sampai ada orang yang mengira kalau Han itu boss nya, semenjak itu Ghazel lebih sering aktif, mama juga sering ngomelin dia, terlalu memporsir Han, kasian anak itu, tapi ya mau gimana lagi Han sangat tunduk pada Ghazel, dan Ghazel sangat percaya sama Han, jika di banding dengan kepercayaan yang dia beri kemama mungkin kepercayaan itu hanya 30% dari punya Han." jelas mama Karlina.


Indah menyimak dengan baik, dia tak percaya segitu percayanya suaminya.. ehh suami?, iya deh suaminya itu terhadap Han.


"Segitu percayanya mas Ghazel pada sekretaris Han ma?" tanya Indah lagi, masih kurang percaya dia tu( ̄3 ̄).


"Iya, contohnya tadi, mama yakin pasti Han yamg menelpon Ghazel untuk segera pergi kekantor, jika orang lain tak akan mumpan ndah, kau tau saran Han lebih di dengar dari saran mama, bahkan Neysa dan Zahra saya masih kalah, tapi kamu berbeda ndah- sambung mama Karlina dalam Hati.


...


Ghazel dengan saksama mendengarkan rekaman dari peyadap yang di pasang Han, wajahnya datar sangat sulitndi artikan, tangannya mengepal.


"Jelaskan Han." titah Ghazel saat rekaman itu berhenti/selesai.


"Saya sengaja memasang penyadap di ruangan nonya Neysa dan tuan muda El...karna saya takut ada bahaya lain. melihat kejanggalan dari kejadian tempo hari, jadi saya berinisiatif memasang itu, untuk bejaga-jaga" ucapan Han berhenti, menatap Ghazel.


"Saat itu saya sedang memeriksa apakah penyadap itu berfungsi dengan baik, saya mendengar semua pembicaran di dalam ruangan tersebut.


tapi saya terkejut saat mendengar ucapan nyonya Neysa yang mengfitnah nyonya Indah, saya juga menyelidiki dengan bertanya keseluruh pelayan perihal hari dimana nyonya meminta pergi kekantor, dan pelayan mengatakan kalau nyonya Neysa lah yang memaksa mau mengantarkan bekal makan siang anda, padahal nyonya Indah sudah susah payah menyiapkannya." jelas Han.


"Dan satu lagi, bawahan kita sudah mencari tau siapa dalang dari kecelakaam itu, dan saya sudah menemukan supirnya, saat ini sudah di markas kita tuan," sambung Han, Han pun menunjukan foto seorang pria yang hampir seusia dengan bossnya itu.


"Ini bos mereka, Panji Satyo ulagama"


"Panji!, sialan itu!" umpat Ghazel murka.


" saya rasa mereka sedang ingin memancing anda tuan, aaaa balas dendam lebih tepatnya." jelas Han.


Wajah Ghazel sudah memerah, menahan amarahnya, matanya jelas memancarkan kebencian dan amarah sekaligus. "Han laporan mu sangat memukau, kau siap bersenang-senang Han?, sudah lama saya tidak memegang senjata" seringai Ghazel, aura yang mengcekam.


Han tersenyum bak malaikat penyabut nyawa, "Saya sudah sangat siap tuan, tangan saya sudah gatal ingin setiap inci kehidupanya."


Mereka berdua sama-sama tersenyum, aa lebih tepatnya menyeringai bak seorang mafia kejam.


"Han, kita kerumah sakit, dan ini rahasia antara kita"


"Baik tuan"


Ghazel meranjak dari tempat kebesarannya, ia melangkah keluar di ikuti Han terlebih dahulu, karna akan membukan pintu, mereka akan menuju rumah sakit.


Indah dan mama Karlina sudah sampai di rumah sakit, saat ini mereka dalam ruangan El dan Neysa. El dan Neysa berada dalam satu ruangan itu permintaan Neysa, karna dia merasa bosan.


"Mba, sebaikmya mba makan dulu, Indah sudah membawakan makanan, biar Indah yang duduk di samping tempat tidur El" tutur Indah.


"Eh, Indah kupaskan aku buah." perintah Neysa tersenyum.


"Baik mba," Indah akhirnya duduk di antara barkar Neysa dan El.

__ADS_1


"Ma, maaf Zahra ngerepotin" ucap Zahra yang sudah duduk di sofa tunggu ruangan tersebut.


"Ngak ngerepotin sama sekali sayang, kamu menantu keluarga ini dan El cucu keluarga ini jadi, ini sudah kewajiban" tutur mama Karlina sambil mengelus pundak Zahra.


Dia tau menantu ya itu, pasti sangat stress melihat kondisi anak satu-satu ya itu, di tambah Neysa yang sudah dudah di anggap sebagai adik oleh Zahra.


"Di mana mas Ghazel ma?" tanya Zahra, karna dia tidak menemukan sosok suaminya itu.


"Dia ada urusan, jangan salah paham, awalnya dia ingin pergi bersama tapi mendadak Ghazel mengatakan kalau ada urisan penting" jelas mama Karlina, dia tak ingin menantunya itu saah paham.


"Indah!, saya minta jeruk bukan apel!, gimana sih!" bentak Neysa, dan itu berhasil menarik perhatian Zahra dan mama Karlina mereka hanya mengeleng


"Ya lagian, situ di ngak bilang mau makan buah apa, ya saya inisiatif mengupas apel, kan biasanya di senetron orang sakit makan apel" ucap Indah kesal, di baiki malah ngelunjak


"Kamu kira saya snow white (toko kartun yang tertidur setelah makan apel).


"Maaf, yang sehat ngalah" cicit Indah.


"Ma!, Ghazel mana?, kok ngak jengukin Ney sih?, ngak perhatian banget"


"Kamu ngak deng--"


"Saya disini Neysa" ucap Ghazel yang sudah berdiri di ambang pintu di ikuti Han yang sudah berdiri bak pengawal di belakang nya.


Neysa tersenyum merekah, sedangkan Indah hanya diam datar lurrrr(╥╯﹏╰╥), Neysa merentangkan tangannya, kode minta di peluk.


Tanpa peduli Ghazel langsung berjalan kearah brangkar El, Neysa merengut kesal, tak biasanyanGhazel mengabaikannya.


"Heii..jagoan papa" sapa Ghazel.


"Tidur jangan di ganggu" peringat Indah, Ghazel langsung menatap Indah. "Ck!"


"Han, sini makan" tawar mama Karlina, Han menoleh


"Tidak nyonya, terima kasih" tolak Han lembut."


Ghazel menatap Neysa tajam, tanpa di sadari Neysa


flassback off.


"Indah,.kau akan pergi saya pastikan itu, untung Ghazel percaya dengan ucapan ku, dengan ini Ghazel akan semakin membenci gadis itu, sangat senang melihat wajah nya terkena temparan Ghazel, oouchhh pasti sakit sekali, sekali neysa Always Neysa, bye..."


rekaman terhenti, semua mata terkejut, bahkan tak menyangka, sedangkan Neysa terdiam, mencerna semua yang dia dengar barusan.


Bagaimana bisa? batinya panik.


"Kau pasti bertanya-tanya bagaimana bisa ini terjadi, Ney kau tau bahkan kau sangat tau aku membenci pengkhianatan dan kebohongan!, tapi apa ini Neysa!" bentak Ghazel untuk pertama kalinya pada Neysa.


Neysa tersentak kaget, mata sudah berkaca-kaca "Tidak Ghazel!, itu bohong!, pasti..pasti ada yang sengaja menjebak aku!" elaknya.


"Apa kau tak mengenali suara mu sendiri nyonya utama" tanya Han.


"KAU!"


"Apa ini Ghazel?, mama tidak mengerti" Di anggukin Indah, sebenarnya Indah paham hanya saja dia perlu penjelasan.


"Ma!, dia sudah berbohong!, Neysa sudah menuduh Indah, dan membuat Ghazel menampar Indah tempo hari, mama dengar rekaman tadi?, itu rekaman yang Han dapat dari alat peyadap yang Han pasang untuk berjaga-jaga, tapi Allah menunjukan kebenara dari alat itu" jelas Han, sedangkan Neysa sudah menangis.


"Asstafirullah, Neysa itu benar nak?"


"Ngak ma!, itu itu"


"CUKUP!"


"Neysa, sebaiknya kau pergi kerumah orangtua mu, tenangkan dirimu disana, saya tak ingi memyakiti mu di sini, TIDAK ADA BANTAHAN!" Ghazel langsung perfi keluar, keputusan itu sudah benar, dia tak ingin lepas kendalo dan memukul istrinya itu.


**Next.....


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE yawwΣ( ° △ °)

__ADS_1


Udah ngak mau janji-janji lagi, Author akan update ◐.̃◐◐.̃◐◐.̃◐◐.̃◐◐.̃◐◐.̃◐◐.̃◐**


__ADS_2