IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
CHAPTER ¦ 107


__ADS_3

Enjoy guys!


Mobil Ghazel berhenti tepat di depan toko kue Donat, saat akan pulang tadi Ghazel tiba-tiba kepingin Donat. Han yang selalu siap diperintah dengan sedikit berat hati harus keluar dan ikut mengantri Donat saat ini.


Toko donat ini lagi ngadain bazar sale atau diskon, berhubung disekitaran sini hanya toko donat ini yang enak akhirnya mau tidak mau Han harus menuruti permintaan aneh tuannya itu.


Sebenarnya tidak aneh untuk orang-orang biasa, tapi ini Ghazel! Laki-laki yang tidak pernah mengemil, apalagi harus makanan yang sejak dulu tidak ia sukai. Makanan manis.


Selesai dengan mengantri donat, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan pulang mereka. Han berhasil mendapatkan lima buah donat dengan varian rasa yang berbeda-beda tentunya.


Di jok belakang mobilnya, Ghazel menikmati donatnya dengan hikmat ditemani dengan es boba coklat yang sempat Han belikan juga tadi.


Berhenti tempat di pintu masuk mansion nya, kedatangan Ghazel disambut hangat oleh pelayan disana. Sedikit banyaknya mereka cukup heran dengan kedatangan Ghazel yang sambil menenteng donat dan es boba-nya.


Sedangkan Mama-nya, Zahra, dan Lydia tersenyum hangat melihat Ghazel.


"Kenapa kalian tersenyum begitu?" tanya Ghazel saat setelah berhadapan dengan ketiga wanita itu.


"Tidak, kami hanya senang" jawab mama Karlina.


"Oke.." Ghazel langsung berjalan menuju ruangan tamu setelah menyalami tangan mama-nya.


"Han apa kau sudah tau?" bisik mama Karlina pada Han yang berjalan dibelakang.


Han yang berpikir sejenak, "Apa nyonya, saya bukan cenayang" bisik Han.


"Mengenai Indah?"


"Oh.. Iya" balas Han.


Tunggu!


Han sampai lupa untuk menyampaikan berita gembira ini. Salahkan pekerjaan mereka yang tak kunjung usai.


...


Makan malam berlangsung dengan hikmat. Suara dentingan sendok mengisi kegiatan makan malam itu.


"Ekhem..." Karlina berdehem memecahkan kesunyian, ia akan beritahukan perihal Indah pada putra-nya itu.


"Azel.." panggil Karlina.


Ghazel mendongak menatap kearah mama-nya saat namanya di panggil.


"Kenapa ma?"


"Apa kau tahu Ind---"


"Ghazel belum punya waktu untuk mengurus itu ma, perusahaan lagi dalam keadaan darurat" imbuh Ghazel memotong ucapan mama-nya. Ia tahu apa yang akan mama-nya bahas.


"Tapi setidaknya hubungi dia, toh juga terbukti kalau dia tidak bersalah"


"Ghazel akan mengurus itu nanti" pungkas Ghazel sedikit kesal. Mood-nya tiba-tiba hancur.


"Tapi kak, kakak harus tahu jika kak--"


"Stop! Biar Ghazel yang urus itu" tekan Ghazel. Ghazel langsung beranjak dari duduknya, tanpa di minta Ghazel pasti akan memperbaiki kesalahannya itu tapi tidak sekarang, pikirannya sedang bercabang-cabang sekarang.


"ISTRIMU SEDANG HAMIL!" teriak Karlina, berhasil menghentikan langkah kaki Ghazel.


Karlina sudah jengah dengan sikap tinggi ego anaknya itu.


Ghazel membeku seketika, teriakan mamanya terus terputar di kepalanya.


Apa yang sudah di lewatkan?, dan apakah benar jika Indah nya sedang hamil?.


"A...apa?" Ghazel berbalik melihat kearah mamanya dengan ekspresi yang sulit di artikan.


Karlina menghampiri Ghazel dengan senyuman hangatnya, "Iya, Indah sedang hamil, apa kamu tidak berniat menjemputnya nak?. Dia pasti kesulitan sekarang" ucap Karlina lembut.


"Jemput kak Indah, dan keponakan Lydia kak" timpal Lydia memeluk Ghazel.


"Mas, Zahra tahu mas akan membawa Indah pulangkan?"


Ghazel mengusap wajahnya kasar, ia merasa gagal menjadi suami. Bahkan untuk meghubungi istrinya itu saja ia tidak sempat.


"Tuan.."


"Han siapkan penerbangan ke Bali sekarang!" titah Ghazel.


"Maaf tuan, saat ini kita tidak bisa melakukan penerbangan dikarna cuaca yang tidak stabil" jelas Han.


Bagaimana Han tahu?. Apa kalian lupa Han akan selalu melakukan apapun tanpa diperintah, ia tahu jika Ghazel akan meminta melakukan penerbangan ke Bali, setelah mengetahui fakta tentang nyonya mudanya itu.


Makannya itu Han lebih dulu melakukan pengecekan, ia sudah menanyakan pilot yang akan menerbangakan jet pribadi mereka, tapi pihak maskapainya mengatakan belum bisa, karna kondisi cuaca, banyak sekali penerbangan yang deadline dan batal akibat cuaca yang mendadak ini.


"Kapan bisa?"


"Mungkin 3-4 jam lagi tuan"


"Oke!" Ghazel langsung pergi begitu saja. Perasaannya sedang tidak menentu saat ini.

__ADS_1


Mereka semua tersenyum senang


__________...__________...________...________


"Han, sudah menghubungi saya pak,"


"Apa katanya Lolita?"


"Ghazel sudah mengetahui berita kehamilan Indah."


"Bagaimana responnya?, apakah dia mau menerimanya?"


"Mereka akan kesini, mungkin agak larut malam datangnya, karna cuaca sedang buruk"


"Lolita, apakah tindakan kita ini sudah benar?" Agung bertanya sambil menatap figura foto keluarganya.


"Mereka saling mencintai, hanya saja suami Indah itu terlalu kaku dengan perasaannya. Ini yang terbaik untuk Indah, aku tidak ingin melihat kesedihannya lagi." ucap Lolita.


Jadi Agung dan Lolita diam-diam saling bertukar kabar dengan Han. Awalnya Agung tidak ingin, tapi Han menjelaskan semuanya akhirnya Agung setuju.


Lolita juga lah yang memberitahukan Han tentang berita kehamilan Indah, awalnya Lolita ragu, tapi...ia kembali yakin saat melihat bagaimana Indah dalam kesendiriannya, selalu memanggil nama Ghazel.


Tentang surat cerai yang Indah suruh berikan pada Ghazel, Lolita tidak mengirimkannya, karna ia tidak mau keputusan Indah malah membuat dirinya terluka. Akhirnya ia simpan surat itu.


Apa kalian ingat chapter dimana, Indah mendengar obrolan Lolita dan Agung?.


Nah itu mereka sengaja membuka pintu agar Indah dapat mendengar kabar terkait Ghazel, dan ia mau berpikir lagi.


"Kau benar, pastikan pintu rumah kita tidak terkunci nanti agar menantu ku itu bisa masuk" Lolita mengangguk paham,


Agung langsung meninggalkan Lolita dengan perasaan cukup tenang.


...


Indah terbangun, tangannya terus meraba mencari benda pipih diatas meja nakasnya.


Setelah ketemu, ia menyalakan ponsel dengan mata menyipit Indah melihat jam, "02:03" guman Indah pelan, ini masih sangat subuh.


Entah apa Indah tiba-tiba sangat merindukan suaminya itu, tak merasa air matanya sudah terjun bebas. Semenjak hamil Indah merasa ia semakin cengeng.


Bangun dari kasurnya, Indah berjalan menuju balkon kamarnya, "Hiks! Kamu rindu papa ya nak?" Indah mengelus perutnya.


"Papa lagi ngak ada disini nak,"


"Ada mama....kenapa kamu selalu bikin mama memikirkannya nak? Hiks!" Indah tersenyum ketir, sejak tadi malam tiba-tiba saja Indah mengidam ingin bertemu Ghazel, ia ingin Ghazel mengelus perutnya yang sedikit membuncit meski usianya baru 3 minggu.


Anaknya ini benar-benar, "Kenapa harus kamu mas?" Indah menatap kosong pemandangan gelap didepannya.


"Mama mohon nak, mintalah yang lain, jangan papa mu. Dia tidak ada disini! Bahkan dia tidak tahu kamu ada! Kenapa kamu terus minta hal yang terus berkaitan dengan orang itu hah! Hiks!" isak Indah.


"Aku sangat membencimu!"


Grabb!


"Saya tahu!"


Indah membeku, ia merasa ada yang memeluk tubuhnya dari belakang. Dan suara itu.....suara..


"Saya disini"


Indah memutur tubuhnya cepat, saat ini dihadapannya ia melihat sosok Ghazel sedang menatapnya sendu.


Indah terkekeh kecil, apa ini halusisasi pikirnya. Indah mencubit tangannya kuat guna untuk menhilangkan halusinasinya.


"Awh!" jerit Indah merasa sakit, ini bukan halusinasi atau mimpi.


"Kenapa?, ada yang sakit?" Ghazel menatap Indah khawatir.


Indah menatap wajah yang sudah lama tidak ia lihat. Wajah yang terlihat lelah tapi masih tampan, wajah yang membuat luka hatinya terasa perih kembali.


"Apa ini kau?"


Grabb


Tubuh Indah dipeluk erat oleh Ghazel. Indah yang mendapatkan pelukan mendadak hanya di mematung.


Mas Ghazel batin Indah.


"Ini aku.." ucap Ghazel dengan suara pelan tepat di samping telinga Indah.


Dengan sekuat tenaga Indah mendorong tubuh Ghazel. tubuh Ghazel termundur dua langkah Ghazel sudah menduga ini akan terjadi.


"KENAPA KAU KESINI? SIAPA YANG MENGIZINKAN PERGI KESINI!" teriak Indah disertai air mata yang sudah jatuh.


"APA KAU BARU INGAT DENGAN DIRIKU! KAU SUDAH BOSAN DEGAN JALANGMU YANG DI KANTOR ITU?"


"Ind--"


Indah mengelengkan kepalanya cepat, "Tidak! Jangan mendekat, aku sangat membencimu! Hiks!....aku tidak membutuhkan mu...."


"Indah dengarkan saya"

__ADS_1


"Kenapa aku harus mendengarkanmu tuan Ghazel?, apa kau pernah mendengarkan ku barang sedikit saja? Kau bahkan tidak peduli. Kau membuatkan luka dan terus terluka..


Kau membuat cintaku begitu menyakitkan... Kau membuat cintaku begitu menyedihkan... Kau tidak pantas dimaafkan!"


Ghazel bisa melihat dengan jelas luka yang dipancarkan mata Indah. Begitu menyakitkan.


"Maafkan aku sungguh..." Ghazel melangkah pelan menghampiri Indah.


"Kau benar monster sepertiku tidak pantas untuk dimaafkan.." Ghazel jatuh tersimpuh di lantai.


Indah terkejut dengan yang Ghazel lakukan. Hatinya teriris melihat suami yang selalu dihormati menjadi tertunduk dibawahnya.


"Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan sebuah perasaan, hidup saya tidak seperti itu Indah...hidup saya tidak secerah hidup kamu.. "Monster yang tidak pernah mengenal cinta" julukan itu sudah tertanam pada diri saya, fantasi rasa yang sering kalian bilang Cinta...adalah benda asing yang didengar telinga saya...


"Bahkan untuk memikirkannya saya tidak sanggup, pahatan luka di masa lalu saya berhasil membuat hati saya mati...


Indah mendengarkan setiap kalimat yang di ucapkan oleh Ghazel. Indah ikut tersimpuh didepan Ghazel, bukannya apa Indah hanya berasa tidak sopan.


"Rasa ketidakperdulian saya terhadap cinta semakin hilang.. saat dimana hari saya melihat orang yang paling saya banggakan mati ditangan cinta pertama saya....


"Apa kau tau..dulu ada seorang anak laki-laki yang baru berusia belasan tahun harus melihat kejadian yang menakutkan..anak itu melihat dengan mata kepalanya sendiri papa-nya m*ti di tangan mama-nya sendiri..." Ghazel menatap Indah dengan mata yang sudah memerah. Ghazel menangis.


"Padahal papa-ku sangat mencintai wanita itu..tapi kenapa dia harus..


Keluarga kami sangat harmonis saat itu..mereka saling mencintai...tapi kenapa? Papa ku harus berakhir seperti itu?


"Sejak saat itu..hatiku mati Indah..


Indah jawab saya..


Apa saya harus menyalahkan mereka karena membuat saya saya tidak bisa merasakan cinta darimu?


Apa aku begitu menyedihkan Indah?


Apa aku benar-benar monster?


A-apa aku tidak pantas untuk merasakan fantasi gila itu?


Aku takut Indah...bagaimana jika aku berakhir seperti papa ku?"


Indah menanggis pilu, dia baru mengetahui fakta menyakitkan mengenai suaminya itu.


"Dengar Indah...kau benar benar. Tidak seharusnya aku disini, laki-laki sepertiku tidak pantas untuk nama cinta itu, kenapa aku harus seperti ini hoh?" Ghazel bangun berdiri.


Disusul Indah, Indah menatap dalam wajah Ghazel yang terlihat frustasi dan penuh luka itu. Jangan tanya bagaimana air matanya.


"Bahagialah Indah," ucap Ghazel hendak berbalik pergi. Sudah cukup Ghazel membuat Indah menanggis ia tidak mau lagi.


"BODOH!" langkah kaki Ghazel terhenti.


Ia menatap Indah, "Iya saya bodoh"


Hiks!


"Kau sangat bodoh!" teriak Indah.


"Apa ini caramu membujuk istrimu? Hah!


Kenapa kau menceritakan kisah menakutkan sepeti itu kepadaku hah! Bagaimana jika anakku mendengarnya?" Indah mengelap pipinya kasar.


"Alih-alih kata romantis, kau malah membuatku semakin menangis, dasar om-om bodoh!" isak Indah.


"Kau datang sangat terlambat...


Apa kau tahu anakmu terus mencarimu! aku bahkan harus tidur dengan kemeja bodohmu itu! Kenapa!"


"Apa kau tau sesulit apa aku disini, anak ini terus mengidam hal-hal yang berkaitan denganmu! Dari makanan hingga sabun mandimu!" omel Indah dengan isakannya.


Ghazel menatap Indah sendu, ia mendengarkan jelas semua pengaduan Indah.


"Parfum bajumu itu cepat sekali hilangnya, membuat aroma tubuhnya juga ikut mengilang, gara-gara itu aku tidak bisa tidur! Apa kau memakai parfum murahan?"


Harganya 1M Indah batin menjerit Ghazel.


"Ck! Aku sangat mencintaimu! Hiks" Indah memeluk Ghazel erat, tanggisannya kembali terdengar.


"Aku lebih dulu mencintaimu" balas Ghazel tak kalah erat memeluk Indah.


Apa masalah sudah selasai?


Next...


______...______..._____...________...______...____


Jujur gue ngak terlalu bisa bikin adegan mellow gini.


Jangan galau! Bentar lagi End!


Berikan Like jika IKHLAS!


Itunh-itung pahala puasa!

__ADS_1


©DreamNight ft CK™


__ADS_2