
...57| Ancaman...
Kembali lagi nih, langsung 2x update sebagai tanpa permintaan maaf karna sudah 5 hari ngak update‹•.•›
Bukan alasan, tapi Author kehilangan ide๏_๏, dan itu hal biasa bagi para penulis°Д°, menyedihkan bukan😭.
Dan jaringan kesini masyaAllah, sangat huuh ingin sekali author berubah jadi tower(。ŏ_ŏ)(╥_╥)
OH IYA!, ayo dong komen terkait Ide penambahan judul novel ini, soalnya IKATAN terlalu pendek KATANYA-_-||, jadi Author buka kesempatan buat kalian untuk mencurahkan ide berlian kalian, tinggal nambahin ujungnya ajah udah ada dua yang kasih ide, nunggu yang lain nih siapa tau kan ide kalian author pakai~♥~
Author tunggu( ˘ ³˘)
Penyelesan selalu datang di akhir, menangis sebanyak apapun tidak akan mengubah apapun, menunggu pelangi?, ntahlah saat awan gelap menyelimuti bumi bagaimana pelangi terlihat?.
"Ma, Ney mohon, bujuk Ghazel, Neysa tidak mau pulang, apa kata papi dan mami Neysa nanti" isak Neysa bersimpuh memohon pada mama Karlina.
Sejak tadi dia hanya menanggis, pakaiannya Ghazel sudah meminta pelayan mengemaskannya, Karlina menatap sendu menantu nya itu tersirat kekecewaan pada menantunya itu.
"Tidak ada yang bisa membantah perintah Ghazel, kau tau itu Neysa." ucap Karlina memandang lurus.
"Mama tak menyangka, apa salah Indah?, gadis 21 tahun itu kau musuhi?, bahkan di hampir seumuran dengan adikmu"
"Hikss..Neysa hanya tak ingin posisi Neysa di reb--"
"Setiap kalian punya posisi masing-masing, cemburu mu membutakan segalanya Neysa!"
Hikss..."Neysa menyesal ma" isaknya.
"Minta maaflah dengan Indah" ucap mama Karlina final.
"Tap--"
"Jika kau ingin tetap disini, minta maaflah sama Indah"
mama Karlina beranjak pergi,
__ADS_1
^^^Minta maaf sama gadis kencur -batin Neysa^^^
Indah duduk di balkon kamarnya, kejadian beberapa saat tadi terus berputar di kepalanya, dia berpikir Neysa pastin sangat membencinya. "Segitu bencinya mba Neysa sama gue" gumannya sendu, dia tak menyangka.
tokk..tokk
Pintu kamar Indah terbuka, Indah tentu tak menyadari itu, karna dia asik melamun.
"Indah" panggil orang itu.
"Ehh..iya mba.." Indah terdiam, "Mba Neysa" ucapnya lagi.
"Ndah, saya minta maaf, maafkan saya, saya menyesal hikss..." isaknya
"Mba.."
"Indah, tolong bujuk Ghazel supaya membatalkan pemulangan mba, mba takut jika pulang mba pasti di marahin papi sama mami, ntah apa yang akan mereka lakukan pada mba, mba takut hikss.." cicitnya.
"Mba tau sendiri, keputusan Ghazel mutlak" ucap Indah, menghampiri Neysa yang berdiri tertunduk.
Baru kali ini Indah melihat Neysa serapuh ini, hatinya iba dan kasian, tapi Neysa juga harus mendapatkan pelajaran, supaya tidak mengulangi hal yang sama.
"Mba, Indah sudah maafin kok, lagian itu kejadian udah lama" senyumnya.
"Benar?, terima kasih Indah" Neysa langsung memeluk Indah, tapi disisi lain wajah yang awalnya menangis merembat menjadi seringaian. Akting aku berhasil, dasar! batin Neysa.
"Tapi untuk bicara dengan mas Ghazel, saya ngak bisa mba, apalagi mba tau kan hubungan saya dan mas Ghazel tidak seakrab mba, dan mba Zahra" seringai Neysa hilang, menampilkan wajah datarnya saja, sia-sia drama aku -batin Neysa.
Indah terkekeh, "Mba tau saya bukan istri yang di ingikan Ghazel"
"Kalau begitu mba pamit dulu ya Ndah, terima kasih" Neysa melepaskan pelukkannya dan langsung pergi.
"Kau tau apa yang terjadi jika perang tanpa strategi" ucap bibi Jen, tiba-tiba berdiri di belakang Neysa.
Neysa langsung berbalik, "Ck! parasit!" ucap Neysa mendelik.
__ADS_1
Bibi Jen tersenyum, melangkah mendekat kearah Neysa, "Perang itu akan gagal!, dan kau contohnya" senyum remeh bibi Jen.
"Apa maksud mu!" berang Neysa emosi
"Kau ingin menyingkirkan gadis ingusan itu, tanpa rencana sama saja bunuh diri bodoh!-"
"Kau!" tunjuk Neysa, dan di tepis oleh bibi Jen.
"Dengar!, aku sudah memperingati kau, gadis itu akan menjadi ancaman terbesar bu, bagaimana Ghazel memperlakukannya sudah jelas kau bukan apa-apa Neysa, aku tau kau istri pertama, tapi Indah akan jadi yang utama" kekeh bibi Jen.
Neysa menatap tajam bibi Jen.
"Aaa..satu lagi, kau tau Indah saja yang baru beberapa bulan menjadi istri Ghazel, dia sudah tidur di kamar pribadi Ghazel, Kau? ck! tak pernah bukan?, dari situ sudah sangat jelas"
"Jangan berbohong!, Ghazel tidak suka tempa tidurnya tempati orang lain!"
bibi Jen lagi-lagi terkekeh geli, "Indah bukan orang lain, dia istri Ghazel, dan kau serta Zahra juga, tapi kenapa kalian tidak pernah tidur di sana?, apa kalian yang sebarnya orang lain? pikirkan Neysa, posisi mu terancam, saya hanya tak ingin kau menyesal lagi" ujar Bibi Jen menepuk pundak Neysa.
"Apa yang harus aku lakukan, gadia sialan itu! arghhhh..."
"Kau dan aku mempunyai tujuan yang sama, yaitu menyingkirkan Indah, mari kita singkirkan bersama nyonya Neysa"
Dia sangat bodoh, batin bibi Jen.
"Baiklah." Neysa langsung pergi.
"Sebentar lagi, semuanya akan di bawah genggaman ku" guman bibi Jen.
Neysa mau tak mau harus pergi kerumah orangtuanya di bandung, untuk menenangkan pikiran dan hukuman dari Ghazel. ingin rasanya menolak tapi, aaa lupakan, Neysa sangat jengkel, Indah gadis itu benar-benar, "saya pastikan kau akan mengalami hal yang lebih parah Indah" gumannya.
Neysa membenci pulang, karna dia akan mendengar omelan orang tuanya, alhasil dia akan berbohong, tidak akan menceritakan kejadian yang sebenarnya. bisa-bisa dia di usir balik karna masalah ini.
**See you next chapter..
udah malam tidur dulu,
__ADS_1
♡(∩o∩)♡**