
Haiii... Uci kembali.
Gimana kabarnya?.
...Selamat membaca!!!!...
...¤¤¤...
Beberapa anak buah yang Han kirim untuk membantu Enji, sudah berada di lokasi yang diberikan tadi melalui Han. mereka berpencar untuk mengepung tempat dimana Panji dan Wahyu berada.
...¤¤¤...
"Wahyu!, kau datang sendiri?" tanya orang itu menyelidik.
"Iyaa bos, saya datang sendiri"
Orang tersebut menarik napas lega, "bagaimana, bisa kau bebas dari bajingan itu?"
"Sangat mudah bos, terlebih saya dulu pernah berkerja dengannya, dan sedikit tipuan saya lolos" seringai Wahyu.
"Bajingan itu!, pasti tak akan melepaskan kita begitu saja, gara-gara olah manusia laknat itu aku kena imbasnya." marahnya memremas kuat gelas sloky yang dipegang-nya.
"Kita harus cepat bersembunyi bos" ujar Wahyu, "Han sialan itu, pasti mencari kita"
"Malam ini, kita pergi mengunakan kapal, bersiaplah"
"Baik bos!"
...¤¤¤...
Kembali pada pasukan Han dan Enji.
Enji memimpi dan memberi aba-aba terlebih dahulu, ia akan melakukan misi sebelum tuan dan sekretaris Han datang. ia tak ingin kedua boss-nya harus sampai turjn tangan karna hal sepele ini.
"Pastikan kalian pada posisi masing-masing. jangan mengecewakan tuan Ghazel dan Han!" perintah Enji sedikit pelan. tak ingin keberadaan mereka diketahui.
"Siap!!" mereka hanya berucap tanpa suara.
...¤¤¤...
"Han, telpon kepala kepolisian Jangsuta!" perintah Ghazel. Saat ini mereka dalam perjalanan menuju lokasi Enji.
Han dengan cepat menelpon Jangsuta sang kepala polisi, atau lebih tepatnya bawahan Ghazel, dia menjadi komplotan Ghazel saat menangkap penjahat yang harus dihukum.
"Ini Han!, tuan ingin bicara!"
"Aaa..Baik,"
Han memberikan ponsel tersebut kepada Ghazel, "silahkan tuan"
"Jangsuta!, kirimkan saya pasukan terbaik polisi, dilokasi yang akan Han kirimkan nanti, ada operasi khusus buat tim anda."
"Baik tuan, laksanakan!"
Ghazel mematikan panggilan, ia langsung memberikan ponsel ke Han, "Kirimkan lokasi pada Jangsuta"
"Baik tuan."
...¤¤¤...
"Ku dengar ada nark*ba jenis baru"
"Ya pak, ada rumor seperti itu."
Orang tersebut menaruh gelas yang dipegang diatas meja, "Kita tak bisa melakukan stribusi selama 10 hari karna bajingan itu. Apakah ada bandar baru?"
"Akan segara kuselidiki"
"Tak perlu. Panji akan memberitahuku sebentar lagi." mendengar itu orang itu sedikit tak suka.
"Bagaimana pabrik itu?,"
"Kami sudah memasang keamanan yang ketat"
"Dimana?"
"Pelabuhan utara jepang"
"Kerja bagus Hendrik" sambil menepuk keras bahu laki-laki bernama Hendrik itu.
"Aku akan memeriksa sendiri, siapkan penerbangan kejepang segera."
"Bagaimana dengan Panji?"
"Biarkan saja, kembaran ku yang itu sangat jago hahahahaha!"
"Kau benar tuan Pandu," senyum Hendrik.
"Beritahu putraku, jika aku akan jepang, minta dia memantau situasi disini."
"Baik tuan."
...¤¤¤...
Enji dan pasukannya sudah siap dengan posisi masing-masing, mereka semakin mendekati kediaman pesembunyian Panji dan Wahyu. Enji memberi aba-aba untuk mereka maju secara perlahan.
__ADS_1
"Seperti ada seseorang" ucap Panji pelan, Wahyu spontan berdiri, dan ingin memeriksa, tapi dijegat Panji.
Enji langsung mengebrak pintu.
Brakk!
Ia masuk menodongkan senjata api kearah Panji dan Wahyu, yang tampak terrkejut, dan keributan mulai terjadi.
dan Enji baru tahu jika Panji membawa beberapa pengawal padanya. syukurlah pansukan mereka jauh lebih banyak.
Bugh!..
Perkelahian terjadi, Enji dengan cepat mengejar Panji yang ingin melarikan diri. ia menarik dan langsung meninjunya, Panji pun tersungkur kelantai, hidungnya mengeluarkan darah.
Bugh!.. bugh..
bererapa tinjuan dilayangkan di wajah Panji, sedangkan Wahyu ditangani salah satu pasukan Enji, karna kondisinya yang memang sudah lemah,.memudahkan Wahyu ditumbangkan.
DORRR!
Bahu Enji tertembak, sial dia tidak melihat pengawal Panji yang menodongkan senjata kearahnya. tanpa peduli Enji kembali menyerang Panji.
BUGH!
Panji menendang perut Enji. "Sialan!" umpat Panji.
Enji bangun, dar*h mengalir dibahu. Ia kembali melayangkan tinjuannya kearah Panji. dengan brigas Enji menghajar Panji, hingga tak bedaya. dan Wahyu sudah terikat dengan kondisi tak kalah mengenaskan.
"Kau akan m*ti sialan" Enji memukul tanpa henti seperti orang kesetanan.
...¤¤¤...
"CUKUP ENJI!" Teriak Ghazel.
Enji berhenti seketika, napasnya memburu cepat, ia sangat membenci orang yang tak berdaya dibawahnya ini. karna apa?. Karna orang ini sudah menyebabkan kem*tian sang Adik.
"Han, tarik Enji. dan kalian semua ikat bajiangan itu! dan bawa kemarkas sekarang juga!"
Han membawa Enji menjauh, ia tau jika bawahan-nya ini sedang marah besar. "Kerja bagus Enji" puji Ghazel laki-laki itu tepat dihadapannya, "Terima kasih tuan."
"Kau terluka" ucap Han. Enji tersenyum kecil, "Tak masalah tuan"
"Dasar Wanita jadi-jadian" ujar Han,
Beberapa anak buah mereka membawa paksa Panji dan Wahyu, Ghazel menyeringai puas, bajingan itu sudah ada di genggamannya.
...¤¤¤...
Ttakk..ttakk..(anggap aja suara sepatu). langkah sepatu memasuki ruangan yang biasa ia gunakan untuk menghukum para musuhnya, sang tuan duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Bagunkan mereka!" perintahnya.
^^^Byurrrr!^^^
Mereka menyiram kedua orang tersebut.
Uhukk..
"Apa-apaan ini!" teriaknya.
"Bagaimana tidurmu PANJI. oh aku lupa menyambutmu, selamat datang" ucap Ghazel menyeringai.
"GHAZEL SIALAN KAU!!!" umpat Panji.
"Aku sudah memberikan kau tawaran yang bagus Wahyu. ternyata kau lebih memilih m*ti" ujar Ghazel menatap Wahyu. dan mengabaikan ocehan Panji.
"Aku sudah mengatakan, jika aku menemukan dalang dari kecelakaan anak dan istriku, aku sendirilah yang akan membun*h nya, kau ingat kan Han"
"Iya tuan"
"Jadi Panji, Wahyu. sudah siap?"
"K-kau pi-pikir aku ta-takut?" ucap Panji meringis menahan sakit lukanya.
"Kalian sialan" umpat Wahyu.
"Wow!, setelah ada tuannya, dia jadi berani seperti ini" sarkas Han.
Ghazel kembali menatap tajam keduanya, ia bangun dari duduknya, melakah kearah Panji. "Kau--" Ghazel mencekram kuat pipi Ghazel, "Aww.."
"Kau menyakiti keluargaku, itu artinya kau memilih berakhir didunia"
Cuihhh...
Wajah Ghazel diludahi, "Itu belum seberapa" seringai Panji tanpa takut.
BUGH!. PLAK!
Tinjuan dan tamparan melayang telak diwajah Panji.
"Mau dengar cerita sebelum kem*tian kalian?"
"Diam berarti YA."
Ghazel kembali ketempat duduknya, Han memberikan tissu pada Ghazel, ia menyilangkan kedua kakinya.
__ADS_1
"Dulu, tahun 2007 ada kejadian yang paling mengempakan, berita yang menghebohkan dunia perbisnisan, mau tau apa?, Wahyu--?"
"--Ya benar. berita heboh itu ialah kem*tian seorang pembisnis sukses!, kalian mau tau siapa itu. Han kau ingin tau?"
"Iya tuan"
"GERENDRA RICHWANDYO ERLANGGA!--" ucap Ghazel mengema, Panji dan Wahyu hanya mengantung tanpa suara, Panji sendiri dengan beraninya ia menunjukan tatapan akuhnya pada Ghazel. padahal kondisinya dalam bahaya.
"Kem*tian yang tragis!, akibat kem*tiannya seorang anak dan istri harus kehilangan sosok penting itu. bahkan sang anak dengan berat hati harus mengantikan posisi sang ayah, tanpa tahu apa yang terjadi. tapi kalian tau, anak itu mendapatkan keberuntungan hidup yang baik, dia bisa menyelesaikan masalah dengan cepat. tapi satu ketika. sebuah fakta mengejutkan!..."
"Sebuah kebenaran yang teramat menyakitkan, dimana ada bukti jika ayah dari sang anak telah dibun*h, dan si pemb*nuh sudah merencanakannya dengan sangat baik..."
Ghazel berjalan mendekati Panji, ia berdiri tepat dihadapan Panji, Han dan seluruh bawahannya menyaksikan serta mendengarkan apa yang tuan mereka sampaikan, meski sebenarnya mereka sudah mengetahui isi dari cerita tersebut.
dan Ghazel ia melanjutkan omongannya, " Sebuah FAKTA lagi. wow!, bukankah terlalu banyak fakta" kekeh Ghazel. "Faktanya. rencana pembunuhan itu disusun oleh temannya sendiri. kau tau Panji?"
"Ya. WICAKSONO EROSS!. kau kenal?" Ghazel merucap tepat didepan wajah Panji.
sedangkan Panji diam menatap tajam balik Ghazel.
"Ya kau benar Panji, WICAKSONO EROSS manusia sialan itu AYAH mu!, dia membun*h GERENDRA ayah dari GHAZEL RICHWANDYO ERLANGGA!" teriak Ghazel. sedangkan Panji sedikit terkejut, dengan cepat ia merubah ekspresi wajahnya kembali datar.
"Aku yakin, manusia itu sudah dineraka, atau neraka sekalipun tidak ingin menerima keberadaannya"
"Dan sekarang kau akan menyusul ayahmu itu, kau benar-benar memancing emosiku, saat kau mengkhiatiku dulu aku masih terima! Tapi. jika itu menyangkut keluargaku, kau salah besar Panji, aishh..bodohnya aku dulu tertipu dengan identitas mu Panji Eross!"
"Sialan!, aku tidak tau jika dia punya masalah masa lalu yang kelam dengan bajingan itu- batin Panji.
"Ghazel, kau sangat bodoh!, kau menangkap dalang yang salah" ucap Panji dengan susah payah.
"Jangan bicara omong kosong, kau dalang dari semua ini jangan mengelak!, HAN..ambilkan pist*ol ku" ujar Ghazel.
"Hahhahaha!, se-sebelum ku m*ti, aku akan memberikan mu rahasia, salah satu keluargamu ada dibalik kecelakaan itu Ghazel." senyum Panji mengejek.
BUGH!
Han meninju perut Panji, "Kau!,"
"Tuan, izinkan saya mengurus Wahyu" pinta Enji.
Ghazel melirik sekilas kearah Wahyu, "Lakukan semau mu, dan bawa dia keruangan yang berbeda, Han ikutlah dengan Enji"
"Terima kasih tuan," ucap Enzi senang, Wahyu akan menambah koleksi barunya pikirnya.
"Izinkan saya disamping tuan saja" pinta Han, Aku cukup waras untuk mengikuti wanita gila itu- batin Han.
"Baiklah, kita bersenang-senang disini, kalian berdua susul Enji" perintah Ghazel pada dua laki-laki bertumbuh besar tersebut untuk ikut Enji.
"Lepaskan saya!"
"Lepaskan"
"Lepaskan" teriak Wahyu diseret dengan paksa.
"Han. apa yang asik dimainkan dengan bajingan ini?"
"Tentu melenyapkannya."
"Aihh! kau kejam Han, bagaimana bermain dengan tikus?" seringai Ghazel.
"Aaa..ide yang bagus tuan"
Panji tentu takut, bukan ini yang dia mau, dia masih mau hidup, "Kau a-akan me-nyesal karna menakapku"
"Tidak sama sekali."
"Han aku berubah pikiran, jangan gunakan tikus, bagaimana jika tikus-tikus itu sakit perut karna memakan daging busuk dia, Pist*l ku"
"Ghazel jangan, aku mohon, ak-aku terpaksa sungguh, bu-bukan aku"
Ghazel mengarahkan senjata itu tepat dikepala Panjdi dan Dorrrrrr.
"Tak seperti biasanya kau langsung membun*h"
"Hanya belas kasihku. Han bereskan ini semua, dan temui aku di apartemen setelah itu." Ghazel langsung pergi, ia memilih tak pulang, karna keadaabbya yang begitu tidak memungkinkan karna terkena. jipratan dar*h dari bajingan itu.
...~~~...
Selepas Ghazel menghilang dari lokasi, Han langsung meminta anak buahnya membereskan kekacuan tadi.
ada satu yang masih menganggu pikiran Han, siapa dari keluarga tuannya yang bermain api dengan tuannya "Aku harus menyelidiki semua orang yang berada didekat tuan" ucap Han, berjalan kearah mobilnya.
Sedangkan Enji, dia sibuk mengurus Wahyu, dimana ia harus mencari bagian terbaik dari t*buh Wahyu untuk dijual. apa Ghazel tau? iya. tapi Ghazel hanya cuek.
Done!.
**Ingat ini hanya karangan belaka dari pikiran UCI ya, jangan terlalu dipikiran hihi, namanya juga dunia fiksi.
Allhamdullilah Uci udah pulih, maaf telat update, kemarin mau update cuman yaa ngak bisa karna keadaan.
Mampir juga dicerita Uci yang satunya dong, "Memgejar Cinta Mas Naka" dijamin seruu!
Chpter 74 akan Uci update setelah pengeditan.
Byeee...♡♡♡
__ADS_1
Like, komen dan follow yaww≧∇≦**