IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter 71


__ADS_3

**Haiii..Uci kembali!!


Fyi : Update lagi nih, karna cerita ini udah Uci tulis duluan di catatan keep, jadi memudahkan untuk update.


Udah senin aja😣.


Mana banyak tugas😭


......¤¤¤......


Selamat membaca**!!!


"Wow! Bukan main" seru laki-laki itu tertawa nyaring.


"Kenapa?"


"Ghazel berhasil menangkap wahyu, dan sekarang dia disekap" ujar orang tersebut setelah menelpon beberapa saat yang lalu.


"Rupanya dia benar-benar ingin bermain denga kita" seringai orang tersebut dan meminum kopi nya dengan santai.


"Berani sekali dia mengirim api itu kembali"


...¤¤¤...


Ghazel dan Han sudah sampai dikantor, dengan langkah cepat dan berwibawa ia memasuki kantornya, seluruh karyawan menunduk memberi hormat saat berpintasan dengannya. Aura dingin membuat siapa saja engan menatap wajahnya.


Setelah melewati loby, mereka memasuki lift yang langsung mengarah keruangan Ghazel maupun Han.


Tak lupa beberapa pengawal berjaga dibelakang mereka.


...¤...


Pintu lift terbuka, Ghazel dan Han langsung melangakah menuju ruangannya, disisi kiri/kanan ruangannya sudah ada beberapa penjaga, mereka langsung menunduk hormat saat sang majikan berjalan kearah mereka.


Mereka juga membukakan pintu untuk Ghazel maupun Han.


Setelah diruangan, Ghazel langsung duduk dibangku kebesarannya, dan Han duduk di bangku tepat di sisi kanan ruangan Ghazel disanalah temapt kerja Han. Awalnya mereka beda ruangan tapi Ghazel meminta Han untuk satu ruangan dengannya, biar lebib mudah.


"Soal Panji, biar saya saja yang menanganinya tuan" ucap Han.


Ghazel menoleh kearah Han, "Saya rasa itu ide buruk!, aku ingin kau menangani para lintah yang di batam itu Han"


"Tapi tuan"


Han nampak berpikir, "Apa kau tau Han, hukuman apa yang paling kejam di zaman persia dulu?" ucap Ghazel sambil memainkan pena nya.


"Saya kurang tau tuan," atau tepatnya tidak ingin tahu - Han membatin.


Ghazel tersenyum mengerikan, " Hukuman Skafisme. Itu adalah hukuman yang paling buruk dan menyakitkan yang digunakan orang persia dulu-" Han menyimak setiap omongam Ghazel,


"Orang yang akan dihukum dengan cara ini, mula-mula mereka diikat di pohon, atau di perahu. Pohon dilubangi. Setelah itu mulut mereka dimasukan susu dan juga madu, yang menyebabkan diare yang parah.


Susu dan madu juga mereka oleskan di perahu , setelah itu mereka hanyutkan di air yang tenang, matahari yang terik. Kau mau tau bagian ******* nya Han"


"Iya tuan" sahut Han. Han berpikir cerita tuanya selalu menyeramkan. Saya sama sekali tak ingin tahu- Han kembali membatin, sial pikiran dan mulutnya tidak sinkron.

__ADS_1


"Dengan madu dan susu yang sudah dioleskan akan menarik serangga karna aroma yang bercampur antara aroma manis dan bau busuk kot*ran manusia. Dan orang itu akan m*ti perlahan karna dehidrasi dan gigitan atau segatan para serangga"


Han mengidik ngeri, membayangkannya saja tak sanggup, " dan aku ingin mencoba metode tersebut, tapi aku takut akan Allah" ujar Ghazel lagi.


"Tapi saya rasa, metode tersebut sangat cocok untuk panji, karna dia berani membuat nyonya dan tuan muda celaka, terlebih gara-gara dia tuan besar -- papa Ghazel," ujar Han, ekspresi gelap dan kelam.


Ghazel tampak berpikir, " Panji seperti lintah, terlebih Wahyu, dia sangat lihai dalam mengelabui"


"Tidak untuk Enji, Wahyu akan kalah saat bersama Enji"


Ghazel memngangguk kecil, benar hanya Enji yang bisa mengalahkan ke bengisan Wahyu. Mantan orang kepercayaan Ghazel.


"Kenapa banyak sekali yang mengkhianati ku" guman Ghazel pelan.


...¤¤¤...


Naysa benyanyi riang, saat merangkai bunga yang baru saja ia petik tadi, senyumnya kian merekah bayang pertemuannya dengan Indah tadi malam terbayang terus dipikirannya, "Ck!, wajah kesalnya sangat jelek, Naysa sedikit lagi semuanya akan kembali ke semula. Indah dari cara mu saja aku sudah tau kau mulai menyukai suamiku" ucap Naysa.


Bibi Jen yang melihat Naysa langsung menghampiri Naysa, "Kau terlihat sangat bahagia" ujar bibi Jen.


"Tentu. Oh ya, apa rencana mu bi, kau bilang akan menyingkirkan Indah dengan segera" ujar Naysa, tanpa menghentikan kegiatan merangkai bunganya.


Bibi Jen tersenyum, "Sabarlah, setiap rencana yang besar perlu persiapan yang matang, kau hanya mengikuti saran ku saja nyonya."


"pastikan rencana mu itu tidak melibatkan ku terlalu besar, karna aku tak ingin Ghazel kembali memarahi ku" ujar Naysa.


"Tentu saja tidak."


Bibi Jen duduk, melihat bagaimana Naysa merangkai bunga, dia bersorak dalam hati karna Naysa berpihak kepadanya, mungkin ia akan memgunakam Naysa pikirnya.


...¤¤¤...


"Indah" mama Karlina sedikit menguncang bahun Indah.


Indah tersentak, "Ehh-..Iya ma?" ujarnya. Mama Karlina melihat Indah, "Kau tidak apa-apa?, mama liat dari pagi tadi kau seperti ada masalah"


Indah tersenyum lembut, "Indah ngak apa-apa ma" ujarnya pelan.


Tentu saja sang mertua tak akan percaya begitu saja, dia tau betul bagaimana Indah, gadis itu akan banyak diam jika ada sesuatu menganggu dirinya.


Indah berpamitan kekamar pada mertuanya, dia lebih memilih masuk kekamar dirinya ketimbang kamar Ghazel, setelah berada dikamarnya Indah duduk di balkon kamarnya, pandangannya lurus kedepan. ingatan tentang percakapan dirinya dan Naysa kembali terputar.


Flasback!


*Indah turun kelantai dasar untuk mengambil minuman, gara-gara kebanyak tertawa membuat kerongkongannya sedikit serak.


Setelah sampai didapur ia langsung menuju kulkas, mengambil air dingin, saat ingin berbalik ia dikejutkam dengan sosok wanit yang berdiri tersenyum kecut kearahnya.


"Mba Nay, " senyumnya. Naysa tersenyum kecil, "maaf mengejutkan mu" ujarnya.


"Tidak apa-apa mba, mba mau apa kedapur?"


"Mengambil madu, aku ingin meminum madu,"


"Aa Indah, terima kasih kau sudah memberikan peluang untuk ku pergi kepesta tadi, kau tau. pestanya sangat meriah, kami berdansa dan menghabiskan waktu dengan bahagia, Semua orang tahu aku istri Ghazel, bahkan mereka mengatakan hanya diriku yang pantas untuk Ghazel, " Indah diam, ada rasa tak senang mendengar ucapan dari Naysa.

__ADS_1


Naysa jelas tau mimik wajah Indah yang berubah saat mendengar cerita darinya, ia bersorak senang berhasil membuat Indah tak nyaman.


"Bahkan mereka tak menanyakan istri kedua dan ketiga Ghazel, dan Ghazel pun tidak menyebutkan kalian saat tadi, aku sudah memperingati tapi Ghazel mengatakan, -Sudahlah Nay, disini hanya ada kau- . aku bisa apa" ujar Naysa,


"Kau pasti senang" ucap Indah.


"Tentu, posisiku kembali ketempat semula"


"Tak ada yang mengambil posisi mu mba, kami punya posisi masing-masing" ucap Indah tersenyum, hendak pergi dari dapur.


"Kalian tak pernah ada posisi disini, hanya parasit yang beruntung" ujar Naysa dingin, ia lelah berpura-pura baik.


Indah berbalik kearah Naysa, "Parasit?, "


"Iya PARASIT, terutama kamu dan keluarga mu Indah" sarkastik Naysa.


Indah geram, "Akhirnya mba, menunjukan topeng mba selama ini, bagaimana apakah acting pura-pura baiknya sudah selesai?" tanya Indah.


"Sangat melelahkan, bagaimana dengan mu?"


"Aku?"


"Ya, bagaimana dengan mu, rencana pura-pura mencintai suamiku, apakah berhasil?" Indah terbelalak kaget, bagaimana "Kaget?, bagaimana aku tau?" Naysa berjalan kearah Indah.


"Mas Ghazel juga suamiku, dan rencana apa yang kau katakan mba?"


"Pura-pura bodoh!?, ingat hanya aku yang bisa menyebit Ghazel suami, kau!. tak berhak apalagi kau menikahi suamiku hanya karna harta, bagaimana apa keluarga mu yang di Bali sudah enak?, aku rasa mereka sudah sangat ENAK, terlebih putri kesayangan mereka berhasil dijual disini"


"KAU!, jaga bicara mu mba, ingat mas Ghazel juga suamiku, dan aku tak pernah dijual disini, jika hanya kau yang berhak atas mas Ghazel, lantas kenapa kau tidak bisa tidur dikamarnya?, bukankah kau istri UTAMA?, dan soal rencana ku dulu, sepertinya berhasil karna aku maupun Ghazel sudah saling menyukai, kau kalah dengan gadis 21 th heh?"


Naysa menatapa nyalang Indah, "Mba, kau lihatlah siapa yang paling Ghazel utamakan sekarang, oh satu lagi aku maupun mba Zahra juga istri dari mas Ghazel.


"Indah, ingat bagaimana reaksi Ghazel saat tau rencana mu ini, dan kau tau diluar sana hanya aku yang di cap sebagai istri tercinta Ghazel, bukan kau maupin mba Zahra, karna kalian hanya madu yang tak diingikan" Naysa berlengang pergi, "Satu lagi, aku akan pastikan aku mengandung anak Ghazel"


Indah, marah kesal dan takut. ia marah Naysa mengatakan jika hanya dia yang cap sebagai istri Ghazel, kesal kenapa tidak dia saja yang pergi kepesta tadi dan takut jika Ghazel salah paham nantinya.


"Aku mencintaimu mas" lirihnya*.


flasback off.


Sebuah tangan melingkar dipinggang Indah, kage. Indah langsung menoleh melihat siapa pelakunya. "Mas" ucapnya.


"Saya mencari dikamar, ternyata kau ada disini, tak ingin bercerita hem?"


"Kapan mas pulang?" Indah seakan abai dengan ucapan Ghazel tadi.


"15 menit yang lalu"


Ghazel memutuskan pulang cepat karna ingin berbicara dengan Indah, resah Ghazel takut jika Indah tak ingin berbicara padanya.


"Maaf, aku tidak menyambutmu mas" ujar Indah.


"hmm"


Mereka terdiam satu sama lain, otak mereka meracau tak menentu, terutama Ghazel yang bingung memulai obrolan bagaimana, jangan lupakan pelukan Ghazel tak lepas, ia menyukai posisi ini, Nyaman.

__ADS_1


**Done!! gimana?


See youuu**


__ADS_2