IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter- 99


__ADS_3

...Disaat hatiku mencintaimu, pikiranku malah membencimu. Apa yang harus aku dahulukan. hatiku? atau pikiranku?...


...-Indah-...


...«««...


Sesuai jadwal penerbangan, Indah, Agung dan Lolita sudah memasuki pesawat mereka mengunakan pesawat Garuda dengan kelas bisnis.


Indah duduk tepat didekat jendela pesawat, air matanya terus mengalir keluar tanpa suara tangisnya. Bayangan kejadian tadi terus menghantuinya, bagaimana bisa Ghazel bermesraan dengan wanita lain?.


'Aku sangat membencimu!' teriak Indah membatin.


'Bahkan kau tidak berusaha untuk mengejar ku mas, setidaknya yakinkan aku jika itu semua tidak benar!, aku akan mendengarkannya jika kau mau berusaha menjelaskan hal itu!' batin Indah lagi.


Seperti sebuah hujan, apakah akan ada pelangi setelah ini?.


Karna kelelahan menangis Indah akhirnya tertidur, kepalanya ia sandarkan di jendela pesawat. Melihat Indah tertidur dengan posisi kurang nyaman Lolita meraih kepala Indah untuk ia sandarkan dipundaknya, "Bertahanlah Ndah," bisik Lolita.


...«««...


Mansion Erlangga.


Setelah isya semuanya berkumpul dimeja makan, karna sudah saatnya makan malam. Seperti biasa mereka makan dalam keadaan diam tanpa suara sedikitpun.


Karlina selalu memperhatikan kursi kosong milik Indah, biasanya menantunya itu akan berceloteh saat akan makan, tapi ini terasa sangat hampa.


Karlina sangat merasa kehilangan sosok Indah, biasa jika sore akan ada yang membawakannya jus, mengajaknya kekebun belakang, atau menganggu kegiatan menyulamnya. Tapi ini sudah tidak ada lagi. Karlina selalu berharap jika semuanya tidak benar, ia selalu berdoa meminta jalan keluar dari masalah anak dan menantunya itu.


"Ma, ngak dimakan, makanannya?" tanya Lydia.


"Ini mama mau makan kok," dengan terpaksa Karlina memasukan suapan nasi dimulutnya.


"Zel, besok aku izin pergi ke pesta ulang tahun temanku ya," ucap Naysa menatap penuh harap kearah Ghazel.


"Iya," jawab Ghazel.


Naysa tersenyum senang, sudah mendapatkan izin dari Ghazel, ia akan mengadakan pesta sebagai bentuk perayaan kemenangannya atas perginya Indah dari rumah ini.


'Akanku pastikan Ghazel akan menceraikan mu," batin Naysa.


"Em..Zel tadi Indah kesini, kamu ada ketemu dia?" tanya Naysa memancing Ghazel.


"Indah pulang?" tanya Karlina.


"Iya ma, tadi Naysa liat Indah kesini," jawab Naysa.


"Indah kesini mau bertemu mas Ghazel, terus Zahra bilang jika mas Ghazel kekantor, Indah langsung pergi kekantor," jelas Zahra.


"Terus dimana Indah sekarang?," Karlina bertanya menatap Ghazel.


"Kayaknya balik lagi ke Bali deh ma, mungkin aja kan Indah kesini cuman mau mengurus surat pisahnya dengan Ghazel," ucap Naysa.

__ADS_1


"Benar begitu Ghazel?," tanya Karlina memastikan.


"Ghazel ngak tau, dan Ghazel juga tidak bertemu Indah, sebaiknya kalian fokus makan jangan membahas ini disini."


Ghazel tidak mungkin bilang yang sebenarnya, 


"Tapi bang, Ind--"


"Lydia! Jangan bahas dia dulu, biar abang yang urus oke!, Ghazel selesai, kalian lanjutkan saja makan kalian." Ghazel langsung beranjak dari duduknya, pergi begitu saja.


Naysa tersenyum puas melihat reaksi Ghazel seperti tidak menyukai ketika membahas Indah.


"Kak Indah, pasti kembali kesini," imbuh Lydia yakin.


"Lydia, kamu ngak liat gimana reaksi Ghazel tadi? Mba yakin itu akan sulit," ucap Naysa.


"Mm..iya juga ya, tapi bang Ghazel kan sudah cin--"


"Ghazel tidak mencintai Indah!" potong Naysa cepat, setelah mengatakan itu Naysa langsung pergi begitu saja. Dia tidak menyukai omongan Lydia tadi, itu tidak akan terjadi pikir Naysa yakin.


"Dia sangat pencemburu," kekeh Lydia melihat Naysa pergi begitu saja.


'Lebih tepatnya tidak suka Lydia' batin Zahra.


...«««...


Kediaman Agung.


"Kenapa kalian kembali?," tanya Ana yang heran melihat kedatangan Indah berserta suami dan Lolita.


"Jika Indah berhasil, tidak mungkin dia kembali cepat bun," jawab Alex.


"Ayah tidak tau apa yang terjadi, Indah tidak cerita pada ayah, dia hanya ingin pulang," jelas Agung duduk lesu di bangkunya.


"Biar Aulia yang bertanya pada kak Indah," ucap Aulia langsung bergegas naik kelantai atas menemui Indah di kamarnya.


Tok..tok..


"Kak, gue masuk ya." teriak Aulia dari arah luar pintu kamar Indah,


Indah termenung berdiri jendela kamarnya, airmatanya sudah luruh sejak tadi. Menangis tanpa suara adalah hal yang paling menyakitkan. Bahkan untuk bersuara Indah sudah tidak sanggup lagi. Rasanya sungguh menyakitkan.


Saking larut dalam kesedihannya, Indah bahkan mengabaikan ketukan pintu dari Aurel. Dia belum siap cerita, karna setiap kali ia menyebut nama orang itu, bayangan dari kejadian itu terus berputar.


"Apa pelukan dari wanita itu membuatmu nyaman mas?, aku tidak masalah jika itu mba Zahra atau mba Naysa. Tapi ini wanita lain!," ucapnya dalam tangisnya.


"Kak," Aurel menepuk bahu Indah pelan. Aurel langsung masuk saat Indah tidak menjawab panggilannya, untungnya pintu kamar tidak Indah kunci.


Indah berbalik menghadap Aurel, dengan pipi yang dipenuhi oleh airmata, tanpa Indah bicara Aurel tahu jika, Indah sedang tidak baik-baik saja.


"Lo tau kan, kalau bahu gue masih sangat kuat buat meluk lo, telinga gue masih sanggup untuk dengerin apa yang lo rasain sekarang. jadi lo bisa lampiaskan semuanya pada gue," ucap Aurel menatap Indah sendu.

__ADS_1


Tanpa menunggu lagi, Indah langsung memeluk Aurel erat, dia sangat butuh pelukan saat ini, ia butuh sandaran saat ini.


"Rel, g-gue be-benci...."


"Iyaa kak,"


"Apa mencintai sesakit ini Rel?, kenapa...kenapa harus dia Rel?, disaat hatiku benar-benar jatuh kenapa harus se luka ini rel?, saat hatiku mencintainya tapi pikiranku membencinya! Apa yang harus aku pilih rel? Hiks! Se-sekarang hiks! aku ngak..tau rel" ucap Indah menangis dalam pelukan Aurel, meski suaranya teredam karna dipeluk oleh Aurel, tetap saja kedengaran memilukan.


Aurel lebih memilih diam, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk ia bicara, atau memberikan saran. Tapi ia harus menjadi pendengar dan tempat sadaran yang baik untuk kakanya.


Seorang yang dalam keadaan sedih, tidak butuh omongan kita, tapi mereka butuh telingga dan kedua tangan kita. Untuk mendengarkan keluh kesah dia, dan untuk memeluknya.


"Kita duduk yuk, kak." ajak Aurel membawa Indah duduk dikasurnya.


Indah melepaskan pelukannya, matanya sudah merah dan sembab, sekuat apapun Indah menahan tangisannya, air matanya terus mengalir keluar tanpa diminta. Seluka itukah Indah, "Gu-gue hiks!..."


"Udah kak, Aurel ngerti kok," ucap Aurel menghapus pelan airmata dipipi Indah. Ia harus kuat, Aurel ingin sekali menangis tapi jika ia ikut menangis siapa yang akan menjadi pondasi untuk kakaknya Indah?.


"Luka gu-gue sesakit ini rel, sampai-sampai mata gue menangis terus.. Ha.." ucap Indah terisak.


"Aurel tau kok, kuat ya kak," runtuh sudah pertahan Aurel, sudah dua kali ia melihat Indah serapuh ini, dengan jeda waktu yang begitu singkat.


"Ha..Sakit rel! luka ini hiks..mas Ghazel"


"Ssstt...Kakak istirahat ya, pasti cape kan, ayok, Aurel temani"


"Rel, ambilkan baju mas Ghazel di lemari ya," pinta Indah.


Tanpa bertanya lagi Aurel langsung mengambilkan apa yang Indah pinta.


Ia membuka lemari mengambil kemeja panjang berwarna hitam yang sudah bergantung rapi disana.


"Ini kak," Aurel memberikan kemeja tersebut pada Indah.


Dengan cepat Indah mengambilnya, dan langsung memeluknya.


'Secinta apa kamu sama bang Ghazel kak?,' batin Aurel menatap sendu Indah yang memeluk serta mencium kemeja Ghazel.


"Aku ngak bisa tidur tanpa ini, lucu ya rel. Padahal dia udah nyakitin aku," ucap Indah menatap lirih kemeja yang di tangannya.


"Ya Udah, kita tidur yuk," Aurel naik disisi lain kasur Indah.


Indah mengangguk, dia langsung membaringkan tubuhnya, yang kelelahan habis menangis.


...««Bersambung»»...


Jangan lupa; Like, komen dan masukin Rak ya!


Menurut kalian chapter ini gimana?


Tebak End nya chapter berapa?

__ADS_1


See you...


Chapter selanjutnya masih dalam proses, ditunggu....


__ADS_2