
" Tuan saya mengetahui keberadaan orang itu" ucap Han, masuk ke dalam barkas mereka.
"Baskara!" seringai Ghazel sambil menatap lembar foto yang diberikan Han.
Baskara. mantan bawahan Ghazel, orang pertama yang berani memgkhianati Ghazel, merasa memiliki segalannya Baskara menjadi pribadi yang angkuh, sombong, dan serakah. Tak pernah merasa puas. hingga melupakan siapa orang yang menaikan derajatnya. Ghazel bertemu Baskara di sebuah pasar malam, saat itu dia tak sengaja menolong Ghazel dari pencopet, perbuatannya itu berhasil menarik perhatian Ghazel. sebagai bentuk terima kasih Ghazel menawarkan perkerjaan padanya.
Karna keterampilan Baskara kian meningkat, akhirnya Ghazel menjadikan Baskara CEO di salah satu anak usaha nya.
Semakin hari, kehidupan Baskara kian berubah, dan mulai serakah, akhirnya dia menjual anak usaha Ghazel, dan membangun usaha bisnisnya sendiri yang saat ini cukup terkenal dan bergengsi di kacah dunia perbisnisan, tapi beberapa pekan lalu bisnis Baskara mengalami penurunan, tentu saja itu ulah Han.
Hal itu diketahui Baskara, dan membuat dia murka.
"Han, siapkan pertemuan saya dengan bajingan itu." titah Ghazel pada Han.
"Baik tuan" Han langsung melakukan perintah Ghazel, dan mencari jadwal tuannya, yang bisa dia ubah.
"Sudah tuan" lapor Han, setelah selesai mengurus segalanya, "Pertemuan di adakan lusa, sekretaris bajingan itu sangat lama merespon" jelas Han, ya beberapa detik tadi setelah Ghazel memberi perintah Han langsung menghubungi sekretaris Baskara.
"Baiklah, Aaa berikan dia sedikit kejutan nanti Han" senyum Ghazel.
"Saya sudah menyiapkan hadiahnya tuan" seringai Han.
Ghazel dan sekretaris Han, keluar meninggalkan markasnya, karna urusannya sudah selesai.
................
"Pi, bantu Nay dong" renggek Naysa. sejak tadi dia terus merenggek,dan menempel ke papi nya, sehingga membuat sang papi jengah.
"Pikirlah sendiri, kau punya otak!" sarkas papi Naysa.
"Otakku, sudah buntu" ucap Naysa pelan.
"Kau sudah mencoba menghubungi Ghazel?"
"Sudah ratusan kali, dan itu terus di abaikan!" kesal Naysa, sejak kemarin Naysa terus mencoba menghubungi Ghazel tapi tetap saja hasilnya nihil, panggilannya tak pernah di gubris.
"Ya ampun kak, misalnya mau pulang, ya pulang aja, kakak nyonya utama, hak kakak jauh lebih besar" ucap Ayu langsung mendudukan dirinya di samping papi nya. "Benarkan pi" tanyanya.
"Iya"
Indah mengroll matanya malas, "Kalau ngelakuin itu seenak yang kamu omongin, dari kemarin kakak udah pulang yu!" kesal Indah.
"Apa susahnya, supir papi banyak, tinggal minta anter"
"Iya..baru nyampe udah di suruh balik lagi gue!" dumel Naysa.
"Ngak gitu dong, bisa masuk rumah itu kapan pun kan?, gunain hak kakak dong, cemen banget!"
Naysa terdiam, apa yang di ucapin adiknya itu, ada benarnya juga, siapa yang berani mengusirnya, lagian masa hukumannya sudah berlangsung lama.
"Oke, besok aku coba" final Naysa.
"Satu lagi, kalau kakak mau menyikirkan hama, kakak harus jadi hama itu sendiri, ubah sifat kakak, buat mereka lenggah, dan dorrrr selesai" senyum Ayu.
...
__ADS_1
"Akhirnya selesai juga" senyum Indah melihat hasil buatannya, hari ini dia sedang membuat brownis, karna El kepingin memakannya.
Wargi kue menguak kepenjuru dapur, Indah membuat 2 resep kue brownis, di bantu oleh beberapa pelayanan mempercepat proses pembuatan Indah.
Tak lupa ia juga memberikan kepelayan yang sudah membantunya.
"Lilis, mba Ati,.nanti ini di bagi-bagi sama yang lainnya juga ya" pinta Indah pada dua pelayan yang sudah cukup dekat dengannya.
Pelayan pribadi Indah juga, beberapa hari yang lalu mengundurkan diri, karna akan menikah. Ghazel sempat menawarkan beberapa nama pelayan yang menurutnya cukup bagus kerjanya, tapi Indah menolak mentah-mentah karna dia ngak mau aja.
"Wahh...bau halummm mamiii! " pekik El yang datang ke dapur bersama Zahra.
"Maaf ya Ndah, mba ngak bisa bantu" ucap Zahra, bukan tanpa alasan dia tak bisa membantu Indah karna El yang tadi agak susah di atur.
"Ngak apa mba, harum dong, El mau?" tawar Indah sambil membawakan brownis yang sudah dia potong tadi.
"Makacih Mami" senyum El, sambil mengambil piring brownis.
"Ehh..jangan banyak-banyak El" tegur Zahra, mengambil piring brownis dari tangan El, El pun mencebik, karna piring brownisnya direbut oleh bundanya.
"Ngak apa-apa mba, ini juga Indah bikin khusus buat El" ujar Indah tersenyum mengelus pipi El gemes.
"Ayok, kita makan sama-sama" ajak Indah, mereka bertigapun pergi keruangan keluarga untuk menikmati kue brownis sambil menonton tv.
"Sayang banget ya mba, mama ngak ada" ucap Indah sendu.
"Iyaa..mama pergi tadi pagi, tapi udah kangen" sambung Zahra.
Karlina sang mertua hari ini pergi ke Malaysia, karna ada urusan dan ntah kapan pulang.
"Aghhm..! awass bego!, dibelakang lo!, awas!"
"Lari ya Allah, astafirullah, baca doa ya Allah"
"Aduhh, kenapa setiap film horor harus gelap rumahnya, aaa itu di balik pintu!"
"Aduh..aduh..jangan bukaa, hantunya di balik pintu!"
begitulah ocehan Zahra dan Indah, sedangkan El menutup mata.
"El takut" cicit anak itu, tapi suara itu tak di dengar oleh bunda dan maminya.
Mobil Ghazel berhenti tepat didepan mansionnya, sekretaris Han sudah membukakan pintu untuknya. mereka berjalan memasuki depan mansion diikuti Han yang berjalan tepat di samping belakang Ghazel.
para pelayan menyambut kedatangannya, tapi yang membuat dia heran dan bertanya-tanya kemana kedua istrinya itu, bahkan sekretaris Han ikut bingung.
"Dimana nyonya Zahra dan nyonya muda?" tanya Han kepada pelayan berdiri disampingnya.
"Nyo--"
"Han masuk!" belum sempat pelayan tersebut menjawab Ghazel sudah memerintahkan untuk masuk, dia ingin mengetahui apa yang di perbuat istri-istri nya itu sampai tidak menyambut kepulangannya.
Ghazel masuk di ikuti Han, mereka sampai diruang tengah mansion, dan tak ada apa-apa, tapi tiba-tiba ia mendengar suara..
"Aaaaaaa...lari dong!" histeris Indah dan Zahra bersamaan.
__ADS_1
Ghazel dan Han segera berlari ke asal suara, asal suara berasal di ruang keluarga, dan apa yang dilihat, kedua istrinya sedang berpelukan, dan putranya terduduk dilantai dengan memegang brownis.
"Mba, kalau Indah jadi tu perempuan, pasti rambut kunti itu Indah tarik-tarik" recon Indah, dan di anggukin Zahra.
Suara dari film hantu kembali terdengar, muncul sosok si hantu spontan Indah dan Zahra kembali teriak "Aaaaaaaaaa!" Ghazel dan Han spontan menutup kuping.
Yang Ghazel heran disini adalah Zahra, biasanya istrinya itu kalem, tenang, tapi apa yang dilihat nya hari ini membuatnya heran, baru beberapa bulan saja Indah tinggal disini Zahra sudah berubah fikir Ghazel.
"Astafirullah, ngucap mba" pekik Zahra melihat adengan dimana wanita ditarik oleh sihantu.
Indah hanya mengangguk, sesekali berteriak.
"Aaa..El atutttt!" teriak El ikuta-ikutan.
Han dan Ghazel saling bertatapan, bahkan mereka bertiga tak menyadari kehadiran Ghazel dan Han.
"Hmm.." guman Ghazel. krik..krikk tidak ada respon.
"Zahra, Indah El" panggil Ghazel.
"Papi"Pekik El.
"Bukan papi El, itu pocong, masa pocong di panggil papi" ucap Indah, yang mengira El memanggil pocong di film itu papi, padahal anaknya itu memang melohat papinya.
"Iya El, ngak boleh manggil pocong dengan sebutan papi" sambung zahra.
"Muka mas Ghazel emang seseram pocong sih mba, makanya El bilang papi kali ya" kekeh Indah, dan Zahra juga ikut terkikik.
Sedangkan Han, sudah mati-matian menahan tawanya.
"Bukan, itu papi" ucap El lagi.
"Astaga El, masa jelek gitu dibilang papi sih" ucap Indah lagi.
"Siapa yang jelek Indah?" tanya Ghazel, ia sudah jengah dengan tingkah kedua istrinya.
"Mas Ghazel" ucap Zahra terkejut. spontan Indah menoleh. matanya terbelalak terkejut, "Ehh, mas kapan pulang?" senyum Indah.
Zahra langsung berdiri menghampiri Ghazel untuk menyalami tangannya, dan diikuti Indah berserta El.
"Mas kapan pulang?" tanya Zahra kembali.
"15 menit yang lalu" jawab Ghazel.
"Astafirulah maaf mas, kita ngak tau" sesal Zahra.
"Iya, karna asik nonton" sinis Ghazel.
Ghazel pun beranjak pergi, disusul oleh Han, Indah dan Zahra saling tatap, mereka tau suaminya itu pasti kesal.
"Mm..biar Indah aja mba yang urus, mba tidurin El jaa, tu kasian udah 5 watt matanya" ucap Indah menunjuk kearah El. urusan Ghazel biar dia yang tangani.
Indah pun langsung pergi kelantai 3 untuk menemui sang suami.
(・´з`・) Next chapter (proses pengetikan)
__ADS_1