
Indah sudah selesai dengan rutinitas mandinya, "Eh tunggu, patung bunda maria ku mana?" Indah berlari ke arah tempat tidur untuk melihat apakah patung tersebut ada di sana.
Dan benar saja, patung itu tergeletak begitu saja di atas tempat tidur.
"Ya tuhan, maaf kan aku" Indah langsung mengambil dan langsung menaruh patung tersebut di atas meja sampinh kasurnya. "besok aku akan buatkan tempat untuk mu" ujarnya.
Indah pun bergegas untuk mengambil pakainnya di koper, tapi saat ia menoleh kearah di mana koper berada, wujud dari koper itu sudah tidak ada.
"Ngak mungkin di curikan" ujarnya tak percaya. Indah refleks menoleh kearah ruangan ganti nya saat mendengar ada suara orang yang seperti membuka, tutup lemari pakaian.
"Jangan bilang,om itu sengaja kasih aku tempat horor gini lagi"
Indah sangat takut, tapi rasa penasaran lebih besar akhirnya dia memutuskan untuk melihat siapakah yang ada di ruangan pakaianny.
Sebelum sampai sosok itu lebih dulu muncul, "Nyonya kau sudab selesai?"
"Aaaa....!!" teriak Indah menutup matanya.
Pelayan tersebut langsug panik, "Nyonya kau kenapa?"
"Hantuuu, ka-u kau pergi sana!" teriak Indah.
Pelayan itu langsung tertawa." Nyonya aku bukan hantu, tapi pelayan di sini" kekehya geli.
Indah langsung menurunkan tangannya, dan membuka matanya."Kau bukan hantu? tanyanya dengan pasti
"Iya nyonya,lihat aku bahkan masih berpijak di bumi"
Indah refleks melihat kebawah kaki pelayan tersebut, dan benar pelayan tersebut masih berpijak di bumi.
"Maaf" lirihnya.
"Tak perlu nyonya, tadi saya memgetuk pintu tapi, nyonya tidak mendengar, jadi saya masuk saja, maaf atas kelancangan saya nyonya, saya di perintahkan tuan untuk menjadi pelayan pribadi anda" jelas pelayan itu.
"Pelayan pribadi?" ulang Indah.
"Iya nyonya, jadi kami bertugas memenuhi kebutuhan anda.
"Apa kedua istri dia juga ada?"
"Tentu saja nyonya, nyonya Naysa punya 2, dan nyonya Zahra punya 3, karna 1 nya khusus untuk tuan muda El"
"Saya 1?"
"Iya nyonya"
Dari pembagian pelayan saja sudah tidak adil, Indah kamu berharap apa sih sama om itu, hmmm..bisa iri ngak sih. Indah terdiam.
"Tapi nyonya saya bisa segalanya, jadi nyonya jangan khawatir." ujar pelayan itu meyakinkan.
"Apa kamu 24 jam sama saya?"
"Tidak nyonya, saya hanya bertugas untuk, seperti merapikan kamar, dan menyiapkan segala keperluan anda saja nyonya, tapi jika anda perlu apa-apa bisa langsung memanggil saya"
Indah hanya mengangguk memgerti.
"Oh ya, nama mu siapa?"
"Perkenalkan nyonya nama saya Siti"
"Oh, oke mba Siti, nama saya Indah" Indah memgulurkan tangannya, tersenyum.
Siti pun dengan ragu menerima jabatan tangan dari nyonya nya itu."Nyonya, segeral berpakaian, mereka sudah menunggu nyonya Indah, saya lanjut merapikan kamar anda"
Indah lupa kalau dia harus segera turun," masa di hari pertama udah pasang image jelek sih ndah" Indah masuk ke ruangan pakaian.
saat dia membuka lemari, lagi-lagi dia terpaku disana sudah banyak sekali baju dan dress bagus, bahkan masih baru semua.
__ADS_1
tanpa babibu Indah langsung mengambil dress, dan berlari masuk ke ruangan bersalin.
Setelelah selesai, Indah langsung keruangan rias mini yang satu ruangan dengan ruangan pakaiannya, di sana semua perlengkapannya sudah tersusun rapi. Indah pun langsung memakai riasan tipis dan tidak lupa lipblam dan liptin menambah warna di bibirnya.
"Mba, kalau sudah selasai mba boleh pergi, saya kebawah dulu" Indah langsung menuju pintu kamarnya.
saat ingin membuka pintu Indah langsung terdiam,"tapi aku maluu" lirihnya.
"Mau saya temanin nyonya?" tawar Siti yang tiba-tiba muncul.
"Boleh?"
Siti tersenyum,"Boleh nyonya, saya kan pelayan anda"
Siti pun melangkah, membukan pintu untuk Indah, "silahkan nyonya" ujarnya, meminta untuk berjalan terlebih dahulu.
"El,laper"
Mereka semua tertawa kecil mendengar El sejak tadi mengadu lapar, padahal sejak tadi sudah memakan banyak kue bolu.
"Hm, El kamu sudah makan banyak,masih lapar nak?" Zahra mengelus rambut anaknya.
Ghazel lama sekali, apa yang mereka lakukan di atas, apa aku susul mereka?, Naysa sesekali menoleh ke arah tangga.
Bibi jen sejak tadi sudah resah, ntah kenapa dia merasa tidak suka melihat kehadiran Indah.
Gadis itu, aku harus menyingkirkannya.
Karna kamar Indah berada di lantai 3 mansion Ghazel, jadi dia sedikit kewalahan menurunin tangga.
"Nyonya, sepertinya anda sangat suka berjalan jauh" bi Siti berjalan tepat di samping Indah..
"Tidak juga, kenapa bibi bisa berpikiran seperti itu?" tanya Indah.
"Karna melihat nyonya sanggup menurunin tangga dari lantai 3 ke lantai 1 itu sangat luar biasa" ujar Siti tersenyum bangga,"biasa hanya kami yang melewati ini" jelas Siti.
"Biasanya tuan dan nyonya mengunakan lift, supaya lebih cepat, tapi karna nyonya baru kesini jadi wajar nyonya tidak tau" senyum bibi Siti.
"Ada lift?, jadi rumah ini ada lift?" tanya Indah, menghentikan langkahnya,
"Iya tentu saja ada nyonya, rumah ini sangat besar"
Jadi ada lift, kenapa om itu membawa ku menaiki tangga? Indah kamu kan akan jadi perlayan berkedok istri jadi wajarlah. Indah pun melanjutkan langkahnya.
Indah sudah di lantai 1 mansion Ghazel.
"Nona, bergabunglah disana" ucap Han, menunjuk kearah ruangan keluarga Ghazel.Han langsung pergi masuk keruangan yang Indah tidak tau
Indah tampak ragu, apakah kehadiranya di terima atau tidak.
"Bund, ada tante cantik" bisik El menunjuk kearah Indah, yang berdiri mematung.
Zahra melihat kearah yang di tunjuk El, dia pun tersenyum berdiri menghampiri Indah.
"Indah, kenapa kesana, ayok gabung" ujar Zahra, membawa Indah bergabung sama mereka.
Indah hanya diam, membiarkan tangannya di tarik mengikuti istri kedua suaminya itu.
Mereka semua melihat interaksi Zahra dan Indah, Karlina hanya tersenyum melihat hal itu.
Manja! Naysa menatap sinis Indah.
"Suka dengan kamar mu ndah?" tanya Karlina
"Suka tan-, eh ma" jawab Indah gugup
Rileks Ndah, jadi ini rasanyan ketemu sama mertua.
__ADS_1
Karlina tertawa kecil melihat menantu barunya itu.
"Kalian belum makan?" tanya Ghazel, yang sudah berdiri di dampingi Han.
"Nungguin tuan Ghazel yang lamanya setengah abad" ujar Renzo.
"Renzo kau ingin mati?" Ghazel menatap horor sepupunya itu.
Ghazel pun langsung berjalan kearah meja makan, dan mereka semua pun berdiri mengikuti Ghazel.
Ghazel duduk di bangku petama, karna dia sebagai kepala keluarg. di sisi kanan nya ada mamanya, sedangkan di sisi kirinya Naysa, samping nya Zahra.
"Ndah, sini samping mama" Karlina berdiri menarij Indah duduk di sampingnya.
dan yang lainya menyesuaikan bangku masing-masing.
Naysa membalikkan piring milik Ghazel, dan mengambilkan beberapa makanan di sana.
"Cukup Nay, kau makanlah, Indah!, ambil kan saya makan itu" ujar Ghazel.
"Hah?" Indah melihat kearah Ghazel bingung.
"Makanan yang di depan mu ambilkan"
Karlina menunjukkan makanan yang di maksud anaknya itu, Indah berdiri menyendokkan makanan itu menaruhnya di piring Ghazel.
"Belajarlah,melayani saya dengan baik mulai dari sekarang"
"Sebelum kita makan, alangkah lebih baik nya berdoa terlebih dahulu" ujar Ghazel.
Mereka pun berdoa membaca doa makan, terkecuali Indah, yang berdoa sesuai keyakinan dia.dan hal itu tak luput dari perhatian El.
"Kenapah tante itu ngak bacal doa ?" tunjuk El pada Indah, sentak mereka semua melihat kearah Indah.
Indah hanya menunduk.
"El,ngak boleh kayak gitu" Ujar Zahra pelan
"Tapi kan El biasa nya bund marahin kalau El ngak bacal doa"
"Kita makan sekarang, El makan!" ujar Ghazel.
Mereka pun makan dengan hikmat,
Dari segi apapun dia tidak cocok menjadi bagian dari keluarga Erlangga Bibi jen melihat Indah dengan sorot mata tak sukanya.
"Kamu suka?" tanya mama Karlina.
"Suka ma, ini enak" puji Indah, mendengar itu Karlina tersenyum senang.
"Usia mu berapa ndah?" tanya Sarah.
"21 mba,."
Mereka terdiam, menatap Ghazel dengan sorot mata seolah-olah mengatakan kau menikahi gadis kecil?!
"Hmm.." dehem Ghazel, "Tidak ada bicara saat makan, dan makanan ini siapa yang memasak?" tanya Ghazel.
"Tentu saja pak Asep Azel" ujar mama Karlin.
Ghazel melihat kearah mama, "kalian tidak ada yang masuk dapurkan?"
"Te-tentu saja tidak" ujar Naysa, mengambil minum di depan nya,
Mereka akhirnya melanjutkan makan mereka
Kenapa Om-om itu sepertinya tidak meyukai anggita keluarganya masuk didapur.
__ADS_1