
Perasaan haru senangtiasa menghampiri seluruh manusia yang sedang mengalami perubahan emosional yang sengifikan. Contohnya Ghazel saat ini ia sedang menatap penuh haru Indah yang sedang tertidur pulas.
Melihat bagaimana perut yang awalnya rata sekarang sudah meyembul indah di perut sang istri, didalam sana tempat hidupnya sang buah hati. tinggal lima bulan lagi baby G akan melihat dunia, dan Ghazel tidak sabar akan hal itu.
Ghazel berjongkok tepat di depan wajah Indah, lututnya ia tempelkan dilantai, sambil mengelus wajah sang istri Ghazel berkata, "Terima kasih atas segalanya, dan maafkan aku Indah" ia mengecup pelang kening Indah dan beranjak pergi kekamar mandi.
Indah membuka mata saat Ghazel sudah masuk didalam kamar mandi, ia tersenyum. Tidak disangka suami dinginnya itu bisa semanis itu, "Dalam cinta tidak ada kata maaf dan terima kasih mas," gumannya pelan.
Indah kembali memejamkan mata, ia bahagia dengan hal-hal kecil seperti ini.
Indah teringat, bagaimana sabarnya seorang Ghazel menghadapi masa-masa ngidamnya dulu. Pernah Indah meminta Ghazel pergi sendiri ke Korea hanya untuk foto di depan Namsam tower setelah itu pulang dan memberika hasil fotonya kepada tukang kebun mansion mereka, aneh kan.
Pernah juga Indah mengajak Ghazel pergi ke sawah hanya untuk mencari belut, dan ekspreai Ghazel saat itu sangat lucu menurut Indah. Bukan hanya Ghazel bahkan Han pernah kena imbas dari ngidamnya Indah, kalian mau tahu Han pernah di suruh Indah pakai jas yang serba warna pink dan mengajak seluruh bawahan Ghazel untuk senam di tengah komplek dan itu menjadi hari tersial Han dan para bodyguard Ghazel, Malu sumpah mereka di lihati ibu-ibu dan perjalan kaki.
Sedangkan Indah menonton sambil makan makaroni yang ia beli sama abang-abang tadi.
"Semangatt...Han!" teriaknya.
saat itu Han rasanya ingin menghilang dari dunia rasanya, image dingin-nya seketika tercemari gara-gara nyonya muda-nya, ingin marah takut apalagi melihat tuan-nya nampaknya juga menikmati kesengsaraannya membuat Han semakin ingin marah.
Ada kejadian yang lebih aneh lagi, Indah pernah meminta bibi Jen untuk menjadi badut seharian penuh, entah itu ngidam atau di sengaja tetap saja hal tersebut menjadi tontonan asik seluruh penghuni mansion Ghazel, kapan lagi kan melihat bibi Jen di kerjain itu pikir mereka.
Dan karena hal itu membuat bibi Jen semakin membenci Indah, keinginan ingin menyingkirkan Indah semakin besar.
Sedangkan mama Karlina, mba Zahra mereka aman, bahkan mereka seringkali mengompori Indah untuk meminta hal-hal aneh pada Ghazel, contohnya minta dibangunkan kebun binatang mini pada Ghazel dan hal itu sangat mudah bagi Ghazel tapi yang membuat susah Indah minta bangunnya jam 12 malam, dan hewan-hewannya harus dari afrika, rasa-nya Ghazel ingin menghilang saja tapi kalian tahu siapa yang paling besar kena dampaknya HAN karena ia yang diminta mengurus perhewanan nya.
Sejak saat itu Ghazel berpikir mungkin dia harus berpikir tiga kali untuk menambah anak kedepannya.
__ADS_1
...****************...
Berpikir semuanya akan terasa sulit ternyata salah, Naysa merasa lebih hidup disini. Meski hidupnya tidak semewah dulu tapi dia merasa cukup disini, ia juga sudah mulai menerima semua keadaan yang menimpa dirinya.
Dipanti ini Naysa banyak belajar tentang bagaimana mensyukuri hidup, meski baru beberapa bulan disini Naysa akui dia sudah banyak belajar hal baru.
"Mami Nay, terus bunga ini disimpan dimana?" tanya seorang anak perempuan. Naysa tersenyum, ia berjalan menghampiri anak tersebut, "Jika tidak bisa jangan dipaksa, itu bisa merusak yang lainnya" ujarnya lembut.
"Tapi bunga ini cantik,"
"Tidak selama yang cantik ada tempatnya, semuanya ada porsi sendiri-sendiri Laura" ucap Naysa lembut. Laura mengangguk mengerti.
Naysa terkekeh, mengajari anak-anak beberapa ilmu tentang merangkai bunga hingga ilmu pengetahuan adalah hal yang menyenangkan dan merupakan hobi baru-nya.
"Dimana Oddy?" tanyanya pada Asima salah satu ibu panti disana.
"Dia berada ditaman belakang, kau tau sendiri anak itu suka sendiri" jawab Asima tersenyum.
...****************...
Indah menatap bayangan dirinya. Entah kenapa Indah merasa kebahagiaannya rasanya kurang lengkap, padahal ia sudah berhasil mendapatkan cinta sang suami, perhatian yang berlimpah, dan mendapatkan anugerah yang tak ternilai yaitu malaikat kecil yang sedang tertidur di dalm perutnya, tapi ia merasa kuarang.
Ia merindukan sosok itu, Naysa. Istri pertama suaminya, Indah ingin mereka kembali berkumpul seperti semula meski Naysa tidak menyukainya tetap saja Indah merindukan ocehan mba nya itu.
"Apa kabar mba Naysa ya?, apa dia baik-baik saja?" guman Indah.
"Sedang mikirin apa hmm..?" Ghazel berdiri dibelakang Indah, sambil menatap wajah Indah.
__ADS_1
Indah tersenyum lembut melihat wajah Ghazel, ia berpikir apakah Ghazel mau membawa mba Naysa kembali?. Haruskah Indah coba tanya?, "Mmm. Mas," ucap Indah pelan.
"Ada apa?,"
"Mba Naysa, bagaimana kabarnya ya?," tanya Indah, ia berbalik menghadap suaminya. Sedangkan Ghazel memasang wajah datar ia masih kesal jika harus membahas Naysa, meski jauh di dalam lubuk hatinya ia juga mengkhawatirkan istrinya itu.
Istri pertama yang selalu menemaninya saat jatuh, tak dapat di pungkiri bahawanya Naysa cukup berarti untuknya, ia sosok yang selalu khawatir atas apapun mengenai Ghazel, kadang juga terlalu over dan tidak masalah untuk Ghazel. Tapi, kesalahan kemarin sangat keterlaluan menurut Ghazel, istrinya itu perlu di kasih pelajaran hingga ia jera.
"Dia baik-baik saja," jawab Ghazel seadanya.
tentu itu tidak puas untuk Indah, "Mas, aku serius bagaimana kita jem-"
"Tidak Indah," potong Ghazel cepat, ia pun berbalik hendak keluar kamar, pembahasan mengenai Naysa tidak boleh berlarut.
"Aku ingin mba Naysa pulang" ucap Indah seketika, tangan Ghazel yang ingin membutar knop pintu terhenti, ia berbalik menghadap kearah Indah kembali, "Apa?"
"Aku mau mba Naysa pulang kerumah ini, mas aku sangat khawatir, sudah cukup hukumannya" perjelas Indah menatap Ghazel penuh yakin.
Ghazel berbalik menatap Indah dengan wajah sulit diartikan, "Apa kamu tau apa yang kamu ucapakan barusan Indah?" tanya Ghazel lagi.
"Tau, dan aku mau mas minta mba Naysa pulang" Ghazel berjalan mendekat kearah Indah, "Tidak bisa, kamu tau kan kesalahan cukup fatal? Berpikirlah yang jernih Indah,"
"Aku sudah pikirkan mas, ayolah"
"Indah dengar!, aku bersikap baik saat ini bukan berarti-"
"Iya aku tau..kau tidak sebaik itu, tapi kau masih suaminya mas, kau sendiri yang bilang tuhan maha memaafkan dan pemberi ampun. Kau selalu bilang pada El untuk selalu memaafkan siapun, tapi lihat kau sendiri tidak mampu memaafkan mba Naysa, mas aku sudah memaafkan mba Naysa." ucap Indah.
__ADS_1
"Saya sudah memaafkannya Indah, tapi kecewa saya masih sangat besar, apa kau paham bagaimana rasanya melihat istri kita berprilaku seperti itu? saya merasa gagal menjadi seorang suami Indah, kau tidak mengerti." Ghazel langsung pergi meninggalkan Indah yang masih termenung.
"Apa permintaanku salah?" Indah menangis ia merasa bersalah telah membuat suaminya seperti itu.