IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter 82


__ADS_3

...Kemanapun perginya, jika bersama kamu aku bahagia_ Indah...


Setelah menempuh perjalanan pulang sekiranya satu jam lebih, akhirnya Ghazel dan juga Indah sudah sampai di kediaman mereka. Tak ingin menunggu lama Indah langsung bergegas keluar tanpa menunggu sang suami, dirinya terlampau senang.


"Benar-benar" Ghazel mengelengkan kepalanya melihat tingkah istri mudanya itu yang terlampau aktif.


Ghazel memasuki kediamannya dengan tenang, seperti biasanya selalu disambut oleh para pelayan di Mansionnya.


"Zel, kenapa Indah berlari saat masuk kerumah?, apa kalian bertengkar?" Karlina sang mama, bertanya dengan nada khawatir, bagaimana tidak. Saat datang Indah langsung berlari tanpa menyapa dirinya dulu, Karlina hanya tidak ingin Indah kenapa-napa.


Ghazel mengaruk kepalanya yang tak gatal, "Ghazel tidak sedang bertengkar, Indah hanya senang karna dia akan pulang ke Bali" jelas Ghazel pada sang mama.


"Kenapa tiba-tiba begini?," Karlina bertanya dengan heran, ibarat tidak ada angin, tidak ada hujan, menantunya itu tiba-tiba akan pulang.


"Ayah Indah mengadakan pesta ulang tahun, dan yahh, Ghazel dan Indah di suruh untuk kesana, kami juga diberitahu mendadak, Ghazel kekamar dulu ma, mau lihat Indah" setelah menjelaskan atas keterbingungan sang mama, Ghazel pamit untuk kekamarnya.


sedangkan dikamar.


"Baiklah Indah, mari pikirkan pakaian apa yang akan di bawa kesana, oke, langkah awal kita ambil koper dulu," saking bahagianya, Indah sampai kebingungan, sudah lama sejak ia menikah dengan Ghazel, dia belum pernah pulang sekalipun, dan ini kepulangan pertamanya setelah menikah, ahh, rasanya sangat bahagia.


"Masukan baju ini juga, tapi dibandingkan dengan ini yang mana paling bagus, pink atau biru?, oke sudah kuputuskan keduanya" Indah berbicara sendiri sambil bepikir pakaiana apa saja yang akan ia bawa.


Padahal tidak perlu membawa pakaian juga bisa, karna pakaian dirinya yang disana juga banyak, dan yang lebih dia bisa saja belanja lagi disana. tapi nama nya juga wanita kan. kalian pasti seperti itu juga kan? haha.


Ghazel masuk kedalam kamar sedikit terkejut, melihat bagaimana berantakan pakaian di atas tempat tidurnya, dan dibawah sudah ada si pelaku yang nampak kebingungan dengan pakaiannya sendiri.


"Membawa baju sebanyak ini apa kau ingin pindah?, dan kenapa mengemas pakaian harus disini?, apa gunanya ruangan pakaian yang disana?" Ghazel menatap jengah istrinya itu, ia berjalan menghampiri Indah dan mendudukan dirinya di atas tempat tidur.


"Tidak, aku membawa pakaian yang rencananya akan ku pakai disana, lebih menyenangkan berkemas disini, oh, ya mas, aku juga membawa beberapa pakaian mas sudah aku tata didalam koper itu" tunjuk Indah pada koper hitam yang berukuran sedang.


sebelum mengemaskan punya dia, Indah lebih dulu mengemaskan pakaian Ghazel, karna Indah pikir pakaian pria lebih mudah dan cepat karna tidak perlu di pilih-pilih, setelah punya Ghazel selesai baru dian mengurusi pakaian dirinya, dan sampai sekarang belum selesai.


Ghazel mengikuti arah jari telunjuk Indah, disana ia melihat koper sudah berdiri siap untuk dibawa, terasa semurat hangat dihatinya, melihat perbuatan Indah, padahal Ghazel tidak perlu membawa pakaian karna di apartemennya disana sudah pasti ada pakaiannya.


"Terima kasih, tapi kau tidak perlu repot-repot, disana pakaianku sudah ada" Ghazel berucap sambil menatap Indah, Indah hanya tersenyum, "Repot gimana sih mas, itu hal wajar, biasanya bunda juga gitu kalau ayah mau pergi-pergi pasti bunda yang siapin keperluan ayah, nah Indah hanya ngikuti cara bunda, suka ngak mas?" Indah bertanya dengan wajah bahagianya.


Langkah kedua untuk buat mas Ghazel cinta, dengan memberikan perhatian hihi- Indah membatin senang, setelah dicium Ghazel Indah bertekad akan membuat Ghazel membalas cintanya.


"Indah sini," Ghazel memanggil Indah, meminta ia berdiri dan menghampiri dirinya.


"Kenapa mas?" Indah bertanya, ia segara bangun dari duduknya dan berjalan beberapa langkah untuk berdiri didepan Ghazel.


Sudah dihadapan Ghazel, Indah menatap Ghazel bertanya, dan tanpa disangka..


Ghazel memeluk pingangnya, posisinya Ghazel masih duduk di atas tempat tidurnya, "Saya ingin meluk kamu Indah," Ghazel berucap dalam pelukannya.

__ADS_1


Indah tersenyum, tangannya dengan ringan membelai kepala Ghazel, "Tinggal peluk aja mas, cape ya mas?,"


Nyaman dan tenang, itulah yang Ghazel rasakan saat ini, belaian tangan Indah dikepalanya membuat kehangatan tersendiri di hatinya, ia merasakan kantuk saking nyamanya.


"Mas, udah dong, Indah mau beres-beres lagi" Indah mencoba melepaskan pelukan Ghazel, jika tidak ingat akan pergi ke Bali mungkin Indah akan membiarkan Ghazel memeluknya sepanjang hari, tapi masalahnya mereka harus segara pergikan.


Indah baru Ingat, bagaimana dengan tiket pesawatnya, bukankah mereka belum memesannya.


Seakan tuli, Ghazel mengabaikan ucapan Indah tadi, dan dia masih memeluk Indah denga kedua mata yang suda terpejam.


"Mas, kita belum pesan tiket loh, udah lepasin dulu ahh" renggek Indah.


Dengan berar hati Ghazel melepaskan pelukannya, wajahnya mendungak keatas menatap Indah, "Itu semua sudah diurus sama Han, lagian kita terbang pakai jet pribadi kita" Ghazel berucap tenang.


Seakan paham, Indah membentuk O mulutnya, "Yaudah, itu udah beres, tinggal pakaian Indah sama, udah awas" Indah melepaskan tangan Ghazel yang melingkat indah ditanganya, dan bergegas melanjutkan berkemasnya.


...«««...


"Jadi bunda sudah mengabari Indah?" Agung berucap saat sudah duduk di sofa ruangan tengah mereka.


"Sudah," Anna menjawab sambil memilih menu makanan untuk pesta nantinya.


"Undang seluruh anggota keluarga Ghazel?" Agung kembali bertanya memastikan.


"Tidak, aku hanya memberitahukan Indah dan Ghazel saja," Anna kembali menjawab, matanya tidak lepas dari daftar menu makanan ditangannya.


Anna langsung melihat Agung, "Tapi yah, jika kita mengundang semuanya, ak--"


"Aku akan menelpon sekretaris Han, kau ini keluarga Bima saja kita undang semua bagaimana keluarga Ghazel tidak?, apa yang akan Indah pikirkan nantinya, keluarga besan kakaknya ada sedang dirinya tidak ada" Agung berucap dengan nada sedikit marah pada istrinya itu, dia tahu betul jika istrinya itu sampai sekarang masih belum menerima pernikahan antara Indah dan Ghazel.


"Terserah ayah aja," Anna langsung pergi dari sana, masuk kekamarnya.


Agung mengeleng kepala melihat sikap sang istri yang menurutnya sangat kekanak-kanakan.


Agung mencari kontak nama Han, dan langsung memekan tombol hijau, menankan jika panggilan sudah berlangsung.


"Hallo, sekretaris Han, apa kau sedang bersama Ghazel?" Agung bertanya to the point pada Han.


^^^"Maaf tuan Agung, saya saat ini berada di kantor, sedangkan tuan sudah pulang, apa ada perlu?"^^^


"Oh, tidak, tolong sampaikan pada Ghazel jika aku mengundang dia kepesta ulang tahun nanti,"


^^^"Itu sudah saya sampaikan, pada tuan tadi, karna pagi tadi nyonya Anna juga sudah menghubungi"^^^


"Iyaa, saya tahu, tapi ini saya ingin mengundang semuanya, termasuk anda Han, tolong kalian untuk bersedia hadir, kalau begitu saya tutup dulu"

__ADS_1


^^^"Baiklah, saya akan sampaikan, dan usahakan hadir tuang Agung, terima kasih"^^^


"Sama-sama," Agung menutup panggilan, ia segera mencari kontak Indah untuk memberitahukan hal ini langsung.


...«««...


"Hha..akhirnya selesai juga, tinggal mandi!" Indah beranjak dari duduknya, dan beranjak akan kekamar mandi, tapi belum sempat melangkah ponselnya sudah berdering.


"Ayahmu telpon, angakat" Ghazel melempar pelan ponsel Indah ke ujung kasur, ia cukup malas untuk bangun memberikan lansung pada istrinya itu.


"Ayah!," Indah tersenyum senang, denga berlari kecil dia mengambil ponselnya, dan segera menjawab telpon tersebut.


"AYAH!!" Indah berteriak nyaring, dan langsung dapat pelototan mata oleh Ghazel.


"Hehehe" Indah membentuk kedua jarinya huruf V tanda minta maaf, " Ada apa ayah?, tenang Indah sudah tau dan ini mau siap-siap berangkat" Indah berucap senang.


^^^"Mana Ghazel?"^^^


"Kok malas nanya mas Ghazel sih yah?" Indah berucap kesal, bagaimana bisa ayah menelpon dirinya tapi yang ditanya malah suaminya.


Dengan malas Indah memberikan ponselnya pada Ghazel, karna kurang paham kenapa tiba-tiba menyodorkan ponsel kearahnha, Ghazel menatap Indah minta penjelasan.


"Ayah mau bicara" jelas Indah, setelah Ghazel mengambil ponselnya, Indah langsung mendudukan dirinya disamping Ghazel, telinganya ia tempelkan dibelakang ponselnya, ia ingin mendengar obrolan ayah dan suaminya.


Melihat tingkah Indah, Ghazel tersenyum kecil, tangannya meraih pinggang Indah untuk semakin dekat dengan dirinya, tentu saja itu menjadi kesempatan Ghazel, padahal aktifin speakernya bisa kan.


"Baiklah, saya akan menannyakan pada mereka semua dulu, iya terima kasih banyak," Ghazel mematikan telpon setelah selesai bicara sebentar tadi.


"Kenapa dimatikan?, apa yang ayah bilang?, kenapa cepat sekali, aku bahkan tidak mendengar" Indah berucap beruntun, bahkan Ghazel belum sempat menjawab pertanyaan Indah.


Semakin mengeratkan pelukannya, Ghazel menjawab pertanyaan Indah sambil memainkan jari-jari Indah, "Ayahmu, mengatakan jika ia mengundang seluruh keluarga kita untuk menghadiri ulang tahun dia, sudah puas?"


"Oh, yasudah, aku akan mengabari mama," Indah meranjak dari tempatnya, "Biar Han yang memberitahu mereka, kau mandilah segera"


"Tapi Han kan tidak ada disini?"


"Sudah, mereka sudah tahu, kau mandi sekarang"


Indah mengangguk patuh. ia langsung melanjutkan niat awalnya yaitu Mandi.


...««Done««...


Bagaimana chapter ini?


Aku serahin deh like, komen dan rating cerita ini pada kalian, jangan lupa tambah di favoritya😊

__ADS_1


byeee...


__ADS_2