
Ghazel baru saja menyelesaikan pertemuannya dengan doyoung dan CEO Hamura. Terjadi banyak cekcok antara mereka, terutama doyoung Yanng tidak terima dengan pemutusan kontrak kerja secara sepihak.
Dirinya merasa dirugikan, dan mengancam akan melaporkan Ghazel. Tapi, niat itu ia urungkan saat Ghazel menunjukan bukti jika dirinya tidak pernah memerintahkan Tora untuk melakukan kerjasama antara kedua pihak. Hal itu cukup membungkam mereka.
Terlebih mereka sengaja melakukan hal tersebut, padahal sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lebih tepatnya mereka sedikit terlibat dalam masalah yang menimpa perusahaan Ghazel beberapa waktu yang lalu.
Ghazel mengancam akan menghancurkan perusahaan mereka jika tidak mengakui keterlibatan mereka dan membatalkan kerjasama yang tidak pernah Ghazel lakukan. Tentunya ancaman tersebut berhasil membuat mereka kalang kabut ketakutan, dan setuju untuk membatalkan kerjasama serta mengakui kesalahan mereka.
"Pastikan tidak ada satupun investor yang berkerjasama dengan mereka," perintah Ghazel pada salah satu bawahannya yang menemani nya.
"Baik tuan," jawab pria muda itu cepat, menjadi pengganti Han saat orang itu tidak ada adalah sebuah kehormatan untuk dirinya. Reza merasa sangat beruntung karena menjadi orang yang cukup di percayai Ghazel.
"Minta Kenzo untuk mengurus sisanya," perintah Ghazel lagi, mereka sedang berjalan menuju parkiran mobil mereka.
"Baik tuan," jawabnya lagi.
Ghazel tersenyum miring saat membaca pesan dari sekertaris nya itu. Han baru saja mengabari dirinya jika Panji sudah berhasil mereka temukan, dan sekarang sedang berada di tempat eksekusi milik mereka.
"Kita ke tempat eksekusi," ucap Ghazel sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi jok mobil ya.
Tanpa menjawab Reza langsung melakukan mobilnya untuk menuju tempat yang di maksudkan sang tuan.
Sampai di gedung, Ghazel sudah di sambut dengan beberapa bodyguard yang berjaga disana. Ghazel memiliki hampir seratus bodyguard yang berkerja di belakangnya, dan siap menjadi penjaga keluarganya.
"Selamat datang tuan, Sekretaris Han ada di lantai tiga," sambut Zoe sopan.
Ghazel mengangguk kecil mengiyakan laporan Zoe. Ia pun melangkah menuju ke lantai tiga di ikuti Reza, Zoe dan beberapa bodyguard, sisanya berjaga disana.
Sampai di lantai tiga. Lantai yang dimana tempat para penjahat A di sekap. Ghazel menelusuri lorong dengan menatap lurus kearah depan. Beberapa teriakkan orang yang mereka sekap terdengar begitu mengenaskan.
Sampai di depan pintu berwarna hitam, didepannya sudah ada bawahan Han yang berdiri berjaga di depannya. Mereka menunduk hormat saat melihat kedatangan Ghazel sang bos besar.
Pintu di buka, seketika seringai Ghazel tercetak di wajah datarnya saat melihat salah satu mangsanya terduduk tak berdaya di sana. Ghazel melangkah mendekat ke arah Han.
Han selesai memberikan Panji game, yang dimana jika Panji berbohong akan mendapatkan tamparan dari Han, dan Panji sudah dua puluh kali terkena tamparan karena tidak memberikan jawaban yang jujur di setiap pertanyaan Han.
__ADS_1
Atensi Han teralihkan saat mendengar pintu dibuka, dan melihat tuan nya sudah datang, ia langsung berdiri dan memberi hormat saat Ghazel mendekat kearahnya.
"Tuan," ucapnya.
"Apa dia masih hidup Han," tanya Ghazel terkekeh melihat Panji yang tertunduk lemas.
"Saat ini masih tuan," jawab Han.
Ghazel melangkah mendekati Panji, ia menunduk dan mengangkat wajah Panji, "Jadi kau yang membuat kecelakaan istri dan putraku, dengan teganya kau memfitnah saudara mu,"
Tidak ada jawaban dari Panji, ia hanya menatap Ghazel tanpa bersuara.
"Apa yang bi Jen tawarkan padamu, sampai-sampai kau mau melakukan hal gila itu?," tanya Ghazel.
Masih diam, Panji benar-benar menguji kesabaran seorang Ghazel. " Buat dia benar-benar tidak bisa bicara," perintah Ghazel pada Han.
Han mengangguk sebagai jawaban dari perintah tuannya.
"KAU BENAR-BENAR MONSTER!," teriak Panji.
Ghazel menyeringai, "Kau sudah tahu saya monster, kenapa kalian masih berani mengusik saya dan keluarga saya. nyali kalian cukup besar untuk melawan monster ini." Panji tidak bisa berkata lagi.
Tapi malah di temukan oleh orang Ghazel. Awalnya Panji pikir jika orang yang menemuinya orang suruhan Jen karena mengaku membawa barang titipan dari Jen, dan dengan bodohnya Panji percaya, dan membukakan pintu rumahnya.
Hingga berakhirlah dia kesini dengan tubuh terikat dan keadaan yang sudah mengerikan.
"Han, lagi-lagi saya berikan kamu wewenang untuk memberikan mereka pelajaran. Jika, saja istriku tidak sedang hamil mungkin diriku sendirilah yang akan turun tangan," ucap Ghazel.
Wajah yang datar itu, terangkat menampilkan senyuman yang sangat tipis, Han tentu sangat senang dengan keputusan tuannya itu, dirinya sudah sangat tidak sabar untuk bermain lagi dengan hama itu.
"Dengan senang hati tuan, saya akan memberikan permainan sesuai dengan ekspektasi tuan."
"Aku mengandalkan mu Han, dan jangan lupa berikan video laki-laki itu pada bi Jen, sebentar lagi kita urus ketua mereka," Ghazel mendudukkan dirinya di kursi yang berjarak satu meter dari Panji berada.
"Jadi Han, pemain apa yang ingin kau tampilkan?," tanya Han, ia sudah duduk manis menunggu aksi Han.
__ADS_1
Han memberikan kode pada bawahannya, agar mengambilkan apa yang sudah ia persiapkan.
sebuah kursi dengan beberapa alat yang sudah terbentuk sempurna di bagian kursi tersebut di bawa masuk oleh beberapa orang bawahannya.
"Alat ini spesial saya pesan dari Amerika khusus untuk anda Panji, alat ini akan di pasang di kepala anda dan akan menyetrum otak anda tanpa ampun, nyonya saya saat itu kepalanya juga sakit gara-gara kecelakaan yang kalian rencanakan, jadi bagaimana jika kau juga merasakan sakitnya?," jelas Han.
"Oh ya, apa kau tahu jika Tora juga mendapatkan hadiah dari saya. Alat Tora menusuk hingga jantungnya, sedangkan kau akan bermain dengan otak, kurang baik lagi saya ini."
Mendengar penjelasan Han, wajah Panji berubah jadi pias pucat, keringat sebesar biji jagung berjatuhan di pelipisnya. Panji benar-benar merasa takut sekarang.
"Itu semua rencana Jen, aku hanya menuruti perintahnya saja," jelasnya panik.
"Saya tidak peduli, kau sudah menyakiti keluarga saya," jawab Ghazel.
Han memberikan kode agar bawahnya menaruh Panji di barang yang ia mereka bawa tadi.
Dengan memberontak saat di lepaskan tali pengikat, ia sempat lepas dan mencoba lari tapi berhasil di lumpuhkan lagi, ia di seret dan di angkat secara paksa untuk duduk di kursi tersebut.
Tangan dan kakinya di pasangkan pengikat yang sudah di desain di kursi tersebut. Panji menggeleng-gelengkan kepalanya saat alat tersebut akan di pasangkan di kepalanya.
"Tahan kepalanya dengan kuat!," bentak Han. Dengan kuat kepala Panji di tahan oleh pengawal Han.
Alat tersebut terpasang sempurna di kepala Panji.
Han mundur beberapa langkah, Ia sudah memegang remote.
"TUAN GHAZEL TOLONG..TOLONG AMPUNI SAYA!! SAYA JANJI AKAN BERUBAH, TOLONG JANGAN MENGHUKUM SAYA SEPERTI INI," teriak Panji memohon.
"Kalimat tersebut sudah tidak berguna lagi Panji, saya sudah tidak butuh perubahan dirimu,"
Han menekan tombol mulai.
AAARGHH...
ARGHHH...
__ADS_1
Alat tersebut benar-benar menyetrum dengan sangat kuat, tubuh Panji bergetar hebat wajahnya memerah menahan sakit. Alat tersebut memiliki arus listrik yang sangat tinggi, jika di gunakan berkali-kali dengan arus yang tinggi akan membuat korban m*ti detik itu juga.
Dan Han, memasang arus sedang karena ingin membuat Panji merasakan sakit berkali-kali. Kejam itulah wajah Han dan Ghazel sesungguhnya.