
Di ruangan minim cahaya. Tora duduk lemah dengan keadaan yang memperhatikan, tubuh penuh luka dan lebam bahkan wajahnya sudah tak berbentuk lagi. Semua ini ulah dari anak buah Han yang membabi-buta mengganjarnya.
Kedua tangannya terikat di kedua sisi penahan kursi, kakinya si ikat mengunakan tali tambang yang besar. Tora sudah tak berdaya, rasa pening kepala dan tubuhnya benar-benar membuat dirinya berpikir m*ti adalah pilihan yang terbaik.
Pintu terbuka, silau cahaya dari lampu luar membuat matanya sedikit menyipit. Tora tidak peduli siapa yang datang, ia hanya berharap segera di bebaskan.
"Kau sangat cocok dengan keadaan seperti itu"ejek pria itu menatap tajam Tora.
Tora mengangkat kepalanya pelan, seketika pipi wajahnya terangkat tercetak senyuman remeh nya saat mengetahui siapa yang berdiri di depannya.
Ghazel menatap tajam Tora, matanya memancarkan beragam emosi yang kapanpun bisa meledak.
"Melihat dirimu masih bisa tersenyum, itu menandakan jika Han belum seratus persen memberimu pelajaran."
"Kau hanya banyak omong!" ejek Tora.
Ghazel duduk tepat di depan Tora, auranya sudah mengelap sejak dirinya memasuki bangunan ini. "Kau tahu, ada pepatah mau di sembunyikan seberapa dalam bau bangkai akan tercium juga, sama seperti mu sepandai apapun kau bermain curang akhirnya akan tercium juga busuknya"
"Kau benar-benar mengujiku Tora, aa.. Bukan hanya kau tapi ibu juga, kalian benar-benar berpikir aku bodoh. Aku tidak sebaik itu Tora, dan kau tahu itu..jadi kenapa kau masih berani hm!"
Tora terkekeh, "K-kau tidak pantas untuk itu semua! BAJING*N! Cuihh!" Ghazel mengepalkan kedua tangannya, rupanya dia terlalu baik untuk mengajak s*Tan ini bicara terlebih dahulu.
"Baiklah, mari lihat apa yang bajingan ini bisa lakukan," ucap Ghazel sambil memberi isyarat pada Han Agara mengambilkan apa yang ia butuhkan.
Han mengambilkan Ghazel sebuah p*sau kecil yang sudah di lumuri bisa ular yang paling kuat.
"Ini tuan." Han memberikan pisah tersebut pada Ghazel.
Memajukan sedikit tubuhnya, Ghazel mulai menggoreskan ujung p*sau tersebut di atas pembukaan tubuh Tora.
AAARGGG!!
Urat leher Tora bermunculan saat merasakan sakit pada bagian tubuhnya, ia berteriak kencang menandakan jika itu benar-benar menyakitkan. kepala nya mengadah keatas dengan napas yang tersengal-sengal, rasa sakit kembali ia rasakan saat Ghazel menancapkan p*sau di luka nya, Tora kembali berteriak.
__ADS_1
AAARGHH...."Bu-nuh ak-u" lirihnya, dengan napas tak beraturan.
"Bahkan kemat*an sangat muak dengan mu Tora, kau harus merasakan apa yang keluarga ku rasakan, kau dan ibu hampir membunuh anakku, mencelakai istriku, dan hampir menghancurkan perusahaan yang Alm. Papa ku Bagun! Apa dengan kesalahan itu semua kau masih pantas mat*?" Ghazel menatap Tora penuh kebencian, jika saja tidak memikirkan Tora dan ibu nya pernah membantunya dalam masa kelam dulu ingin sekali rasanya Ghazel memisahkan kepala dan badan itu.
Sedangkan Tora, kondisi tubuhnya sangat memperhatikan. Racun ular sudah mulai beraksi, "Racun itu hanya aku yang mempunyai penawarnya" sambung Ghazel lagi, "Nikmati rasa sakitmu!" Ghazel beranjak dari duduknya, ia tidak ingin lama-lama dengan bajingan tersebut, mengingat emosinya mudah tersulut. Jika saja Ghazel tidak memikirkan nampak lainnya mungkin dia sudah mengakhiri bajingan itu. Tapi, Ghazel urungkan, mengingat istrinya sedang hamil, dia tidak ingin nampaknya kena keluarganya.
"Han! Sepenuhnya kau bebas melakukan apapun, bibi Jen urus di juga, saya tidak ingin melihat wajahnya lagi. Singkirkan hal yang menurutmu bisa menganggu keluarga ku, sepenuhnya saya serahkan padamu," ucap Ghazel sebelum benar-benar pergi.
"JANGAN PERNAH KALIAN MENYENTUH MAMA KU!," teriak Tora saat mendengar nama mama nya di sebut. Meski mama nya kadang bikin dia kesal, Tora tidak akan terima jika mama nya di perlakukan seperti dirinya.
Han tertawa mendengar teriakan Tora, ia berjalan menghampiri Tora. Ekspresi Han berubah cepat menjadi sangat datar matanya setajam pedang yang siap menebas tubuh siapapun.
"Seekor tikus yang mencicit didepan harimau, itu bukanlah suatu ancaman untuk seekor harimau. Dari semua musuh tuan Ghazel, saya rasa hanya kau saja yang mendapatkan eksekusi ringan darinya. Aaa tuan ku itu memang baik hati" puji Han, tak peduli jika keadaan Tora semakin parah.
"Tapi, aku tidak sebaik tuan ku Tora. Kau dan si tua itu benar-benar membuatku sangat murka! Kau membuatku harus berpikir keras!. Jadi, mari kita bermain lagi,"
"B*nuh saja aku, rasanya sangat menyakitkan," rintih Tora, racun tersebut semakin menyebar. Bahkan permukaan kulit Tora ada yang membiru dan d*rah di tubuhnya bekas tus*kan Ghazel masih menetes.
"PINDAHKAN DIA DI PEMAINAN YANG SUDAH AKU SIAPKAN," perintah Han pada bawahannya.
Kursi dengan alat mem*tikan, terdapat benda runcing terpasang tepat di depan jantung dengan satu meter dari depan jantung. mengunakan remote
Kontrol. Han berdiri tepat di depan Tora, dengan Alat sudah di pasang sesuai instruksi. Tora benar-benar tak berdaya akibat luka dan racun pada tubuhnya.
"Aku membeli ini khusus untukmu, harganya sangat mahal. Aku beli ini di Portugal membawa ini dalam waktu semalam tentu saja merogoh saku yang sangat banyak."
"Demi dirimu Tora aku rela, kau tidak ingin memberikan ku pujian?," tanya Ha dengan wajah di buat-buat lugu.
CUIHH
Tora meludah tepat di depan Han, untungnya tidak mengenai Han. Dengan cepat Han mengubah ekspresinya menjadi datar.
__ADS_1
"Sepertinya kau tidak sabar untuk mencoba alatku ini, karena aku baik mari kita coba," Han menekan tombol mulai dan dengan pelan mendekat ke arah jantung. dengan napas terengah-engah Tora memundurkan tubuhnya, meski itu tindakan yang sia-sia ia terus mencoba.
"Dengan perlahan benda ini akan menembus jantungmu secara perlahan, dan itu akan sangat menyakitkan."
"A-ampun Han," lirih Tora.
Han mengabaikan Tora, ia berbalik keluar, remote kontrol di tangannya ia lepar sembarangan arah. "Aku tidak sebaik itu, kau terlalu banyak merugikan tuan ku Tora, bahkan sampai mencelakai keluarganya, saat itu apa kalian mengampuni Nyonya Naysa dan tuan muda El saat itu? tidak bukan"
"Itu semua rencana mama ku!"
"Tapi kau ikut andil!, Mama mu tercinta akan mendapatkan pemainan yang lebih menyenangkan dari mu Tora, jadi kau tak perlu mencoba melemparkan kesalahan. Kau dan ibu mu serta antek-antek kalian akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Han melangkah keluar tanpa menoleh kebelakang.
Pintu ia tutup, sebelum benar-benar tertutup rapat Han dapat mendengarkan teriakan mengerikan dari Tora, "Aah, aku lupa merekamnya untuk di berikan kepada si tua itu,"sesal Han.
"Kalian kunci jaga di sini, pastikan tikus itu sudah tak berdaya lagi,"
"BAIK SEKERTARIS HAN!"
benda runcing tersebut semakin mendekat ke arah jantung Tora, ia sudah mencoba menghindar sebisa mungkin tapi tetap saja tidak mungkin. kedua tangannya terikat kuat, tubuhnya pun di ikat mengunakan pengikat yang memang sudah ada di kursi itu.
Tora hanya bisa pasrah saat benda runcing itu benar-benar sudah tepat di depan jantungnya berada, sedikit demi sedikit menembus bajunya dan mengenai permukaan kulitnya.
AAARGHH
Teriaknya saat bend tersebut mencoba menembus kulitnya, rasa sakit yang tidak bisa di gambarkan lagi berhasil membuat Tora mengeluarkan air matanya.
"A aku menyesal, AAARGHH" teriaknya lagi terdengar begitu menyedihkan.
Tora mendapatkan hukuman yang begitu mengenaskan. Apakah itu sepadan dari semua tindakan nya. tentu saja, dia sudah merugikan banyak pihak, bahkan merusak masa depan anak remaja yang dia temui di pinggir jalan, hal itu Han tidak memberitahukan Ghazel karena tak ingin Ghazel berpikir banyak.
Sekian.
Mohon untuk, like dan komennya.
__ADS_1
jangan lupa kasih rating agar novel sederhana ini meningkat ke popularitas nya.
Bisa yukk...bantuannya.