IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
CHAPTER ¦ 102


__ADS_3

Sekali lagi aku tegaskan, saat ini cerita IKATAN CINTA ISTRI KETIGA aku yang handel. Baca lagi info di chapter 100 ya.


Disana sudah jelas alasan kenapa Uci belum bisa megang cerita ini dulu.


Jadi aku bukan ambil karya orang!.


And thanks buat kalian kakak/mba2 yang masih setia baca cerita ini.


Support kalian sangat membantuku disini.


Enjoy guys!


...________________________________________...


Zahra menatap tak percaya kearah Naysa. Bagaimana bisa Naysa bicara seperti itu?.


"Sudahlah mba, sebaiknya kita pikirkan bagaimana kedepannya. Apa yang harus kita lakuin?" Lydia memecahkan ketegangan antara Naysa dan Zahra.


Lydia cukup waras untuk tidak memperkeruh keadaan. Saat ini Abangnya Ghazel sedang tidak bereda dirumah, keadaan rumah memang sedang tidak baik-baik saja, jika Zahra dan Naysa bertengkar Lydia tidak bisa berbuat apa-apalagi.


Zahra menatap kearah Lydia, "Kita tunggu mas Ghazel pulang, urusan disini kita bisa sama-sama handle, dan mama, kita biarkan dulu dia menenangkan dirinya. Mama perlu waktu sendiri." Zahra berkata tenang dan jelas.


Lydia mengangguk setuju, "Saat ini mungkin itu keputusan yan tepat" guman Lydia.


Tanpa memberikan tanggapannya, Naysa langsung pergi meninggalkan Zahra dan Lydia begitu saja.


"Biarkan mba Naysa, mba" Lydia menepuk pelan pundak Zahra.


Zahra mengangguk tersenyum.


Rasa cemburu mu bisa merusak mu Naysa Zahra membatin.


...______________________________________...


Sudah dengan urusan di Singapore, Ghazel dan Han memutuskan untuk pulang. Meski belum selesai secara keseluruhan, Ghazel tidak bisa terus berada disana. Ia harus segera pulang dan menyelesaikan masalah pribadinya.


Satu minggu di Singapore berhasil membuat Ghazel stress, pasalnya kejadian kebakaran pabriknya itu berdampak besar pada kesehatan pikirannya. Belum lagi para korban yang perlu perawatan medis yang intesif, Keluarga mendiang yang meminta tanggung jawab, para Investor yang menuntun hasil kerja dan masalah Indah. Lengkap sudah.


Soal masalah di rumahnya, Ghazel belum tahu. Hanya Han yang tahu, itupun bukan di beritahukan oleh Naysa, Zahra, atau Lydia. Melainkan bawahannya.


Terlebih penyadap suara dan Cctv rumah yang bisa Han akses kapanpun.


Tanpa sepengetahuan Ghazel, Han diam-diam mencari keberadaan Nyonya besarnya, yang saat ini berada di Yogyakarta.


"Han! Apa siap semua?"


"Sudah tuan"


"Berangkat sekarang"


"Baik tuan"

__ADS_1


Mereka dalam perjalanan menuju bandara pulang ke Jakarta.


Minggu ketiga Indah berada di kediaman Ayahnya di Bali. Dihitung dari hari kedatangannya saat ulang tahun sang Ayah.


Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang suka mengurung diri di kamar. Indah sekarang sudah mau keluar walau sekedar hanya berjalan di taman rumahnya, itu sudah cukup dari ia terus mengurung dirikan.


Sejak seminggu kebelakang semua penguhi rumah Agung merasa jika Indah sedikit merubah, terlebih ia terkadang suka marah tiba-tiba. Meski hubungan antara mereka tidak senyaman dulu mereka tetap masih saling menyapa/mengobrol jika perlu saja.


Aah sebenarnya hanya Indah yang berlaku seperti itu, keluarga tidak sama sekali, mereka masih seperti dulu sangat perhatian terhadap Indah.


Indah hanya mau bercerita hanya sama Lolita dan Aurel. Untuk bunda-nya Indah tidak seperti dulu, ia hanya bicara jika perlu dan ingin saja. Egois? Tentu tidak.


Sedangkan sama Airyn, tidak sama sekali. Bahkan Airyn sempat datang ke rumah, dan Indah tidak sedikit pun mau menyapa Airyn. Setiap kali melihat wajah kakaknya itu Indah menjadi kesal dan marah.


Karna tidak mau kedua anaknya bertengkar lagi, alhasil Agung meminta Bima untuk membawa Airyn pulang.


Tentang perubahan mood-nya itu sebenarnya Indah menyadarinya, dan itu karna efek dari kejadian yang menerpanya salama ini.


Indah sudah memakai baju santai-nya, hari ini dia dan Aurel akan pergi jalan-jalan ketempat surga Kuliner. Tiba-tiba Indah ingin rujak Bali.


Indah keluar dari kamarnya dengan sudah rapi, dengan senandung kecil ia menuruni setiap tapak anak tangga yang menghubungkan lantai atas ke lantai dasar tersebut.


Sejak tadi pagi sebenarnya kepala Indah sedikit pusing, tapi ia paksakan untuk pergi, sungguh dia sudah membayangkan betapa enaknya rujak itu saat panas-panas.


Eehh.. Tapikan ini masih pagi.


Masa bodoh, asal dia bisa makan rujak.


Kenapa tiba-tiba begini?, batin Indah dalam hati, tangan satunya memegang kepalanya.


"Aww...isshhh" ringisnya, Indah terus mengerjapkam matanya, berusaha menahan rasa pusing.


Aurel menghampiri Indah, saat ia sudah dilantai dasar. "Lo kenapa kak?" Aurel bertanya sambil memegang bahu Indah.


"N-ngak, kenapa-kenapa, isshh" Indah menatap Aurel tersenyum, memastikan jika ia baik-baik saja.


Aurel menatap menyelidik Indah, "Muka lo pucat banget, kita kensel aja ya perginya" Indah mengeleng cepat,"Gue baik-baik aja, udah yuk!" Indah melangkah mendahului Aurel.


Saat langkah ketiga, kepala Indah berdenyut semakin kuat, "Isshh" ia menekan kuat kepalanya.


"Kak...." Aurel berlari pelan mengampiri Indah.


"Ayokk..." Indah menoleh kearah Aurel.


Indah terus memaksakan dirinya untuk berjalan.


"Lo pucat banget kak, ngak usah aja ya" Aurel mencegah Indah untuk pergi. Aurel tidak bodoh untuk percaya perkataan Indah.


"Gue baik-baik aj--"


Brukk!...

__ADS_1


"KAK INDAH!" pekik Aurel, ketika melihat Indah jatuh pingsan. Dengan cepat memapah kepala Indah untuk ia baringkan di paha-nya.


"Kak!......."Aurel menepuk pelan wajah Indah, "Kak.....ngak lucu lo! .." Aurel panik bukan main.


"Bunda!..Kak lolita!...Bibi tolong!" teriak Aurel sekuat mungkin.


Lolita sedang memeriksa beberapa dokumen untuk ia bawa ke Kantor. Betapa kagetnya ia saat mendengar teriak Aurel. Untuk saja ia berada di lantai satu, jadi bisa mendengar dengan jelas.


"Aurel" Lolita beranjak keluar, menuju asal suara.


Betapa terkejutnya Lolita, saat melihat Aurel menangis dan beberapa pelayan yang ikut panik. Lolita tidak melihat jelas karna Indah sedang di kerumunin oleh pelayan yang ikut membantu menyadarkan Indah.


"Ada ap-- ...ASTAGA INDAH!" pekik Lolita,


"Kak Loli"


"Panggilkan pak Asto cepat!,"


"Baik non" pelayan berlari segera memanggil pak Asto, ia kepala satpam di rumah Agung.


Selang beberap saat Pak Asto datang dengan tergesa-gesa.


"Pak tolong bantu angkat Indah kekamarnya ya," Lolita berucap dengan cepat dan panik.


"Baik Non," dengan hati-hati pak Asto memgangkat tubuh Indah menuju kamarnya.


Sampai di lantai atas, dengan cepat Lolita membukakan pintu kamar Indah saat mereka sudah tepat di depan kamar.


"Sini pak,"


Pak Asto meletakan pelan tubuh Indah.


"Terima kasih pak, hiks!" ujar Aurel di sela tanggis nya, ia takut kakaknya Indah kenapa-kenapa, dia merasa gagal menjadi adik.


"Astaga Indah, apa yang terjadi?" tanya Ana yang baru saja masuk kamar Indah dengan raut wajah paniknya. Ia diberi tahu oleh pelayan bahwa Indah pingsan.


Anna tadi lagi mandi jadi ia tidak mendengar teriakan Aurel, dan betapa terkejutnya dia saat mendengar keadaan Indah.


"Pingsan bun" jawan Aurel dengan suara parau.


"Lolita telpon dokter Aska, dan Aurel kamu telpon ayah kamu," perintah Ana. Dan di anggukin oleh Lolita dan Aurel.


Ana mengampiri Indah, ia melihat bagaimana wajah pucat Indah saat ini, "Indah," panggil Ana dengan suara pelannya.


Hatinya sakit melihat Indah menjadi selemah ini, dia merasa gagal menjadi seorang ibu, hidup anaknya berantakan sekarang.


............


Next..


Silahkan keringanan tangannya kasih like.

__ADS_1


©DreamNight ft CK®


__ADS_2