
Chapter sebelumnya.
Indah sudah rapi dengan pakaian barunya, pakainnya sangat pas untuknya.
"Silahkan duduk nona" ucap Han, menarikan kursi untuk Indah. tak selang beberapa menit Ghazel keluar dari ruangannya, dengan setalan kemeja berwarna navvy,
...----------------...
Indah dan Ghazel sudah duduk, posisi berhadapan, tak lupa Han yang selalu berdiri di samping Ghazel.
"Han," ucap Ghazel, seperti memberikan perintah.
"Baik tuan" jawab Han, langsung meletakan sebuah dokumen di depan Indah dan Ghazel.
"Ini apa?" tinjuk Indah.
"Ck," Ghazel membukan dokumen yang ada di atas meja tersebut."Ini perjanjian,atau aturan saat sudah menjadi istri ku, silahkan di baca, kau bisa bertanya jika ada yang kau tidak pahami." jelas Ghazel, sambil memberika dokumen itu ke Indah.
Indah langsung mengambilnya.
"Peraturan saat menjadi istri dari Ghazel Richwandyo Erlangga" Baca Indah, sambil melihat Ghazel.
Ghazel menaikan sebelah alisnya, seolah-olah mengatakan kenapa berhenti, bacalah.
Indah melanjutkan membacanya.
"1. Tidak boleh menyentuh tuan Ghazel, sebelum di izinkan.
Tidak boleh pergi sebelum di izinkan.
Tidak boleh melakukan hal apapun (saat di luar) sebelum di beri izin kecuali di rumah.
Harus menghormati mama, dan kedua istri tuan Ghazel.
Tidak boleh, berkata yang tidak baik saat di rumah.
Tidak boleh, memakan makanan instan.
Tidak boleh, dekat dengan pria manapun.
Tidak boleh iri jika tuan Ghazel lebih memilih tidur dengan istri pertama/kedua nya.
9.Tidak boleh keluar tanpa izin Ghazel.
Harus selalu siap kapanpun di butuhkan tuan Ghazel.
Harus melayani keperluan tuan Ghazel.
Harus datang saat di panggil tuan Ghazel, kapanpun itu.
Harus berkata sopan saat di depan tamu dan klien tuan Ghazel.
Harus jujur dalam hal apapun.
Harus mendengarkan apapun yang di sampaikan tanpa membantah.
__ADS_1
Sisanya menyusul" ujar Ghazel.
Indah menatap kearah Ghazel.
"Apa ada yang ingin di tanyakan?" tanya Ghazel.
"Sisanya menyusul,maksudnya?" tanya Indah.
"Akan ada tambahan peraturan, sesuai bagaimana sikap mu" jawab Ghazel.
"Siap melayani mu,maksudnya dalam hal apa?,terus tidak boleh memakan masakan instan, seperti indomie?" tanya indah lagi.
"Kau harus menyiapkan segala keperluan ku, seperti jass kekantor, air mandi, sarapan, dan lainnya, tidak ada yang namanya indomie saat kau di rumahku" jelas Ghazel.
"Menyiapkan air mandi mu?,apa tempat mu tidak ada pelayan?, dan kenapa semuanya lebih menguntungkan ke kau?," tanya Indah.
"Tentu saja kami ada pelayan, dan soal untung kau lebih banyak untungnya, apa kau lupa berapa banyak bantuan yang aku keluarkan untuk keluarga mu, bahkan aku menuruti keinginan mu untuk tidak menikahi kakakmu, apakah itu tidak cukup?,aku hanya memberimu peraturan mendasar seorang istri,apa kau keberatan Nona Indah?" ucap Ghazel, menatap indah intens.
"Dan lagi, kau cukup beruntung menjadi istriku, bukan pelayanku" ujarnya mendominasi.
"Aku tidak keberatan, hanya saja, ah lupakan, dimana aku harus tanda tangan?" tanya Indah.
"Dibawah" jawab Ghazel.
Setelah Indah, Ghazel juga tanda tangan.
Setelah itu mereka sama-sama diam.
"Apa kau sudah beritahu ayah mu nona?" tanya Han, mewakili isi pikiran Ghazel.
"Sudah pak Han" jawab Indah.
"Bagus, pernikahan kita akan di laksanakan 1 minggu lagi, persiapkan diri mu, dan beritahukan ini pada ayahmu" ucap Ghazel.
"Cepat?, aku seharusnya menikah besok dengan kakak mu" jawab Ghazel, telak.
Indah hanya menunduk" Atur saja, apa aku bisa bertanya?" ujar Indah lagi
"Silahkan" jawab Ghazel.
"Bagaimana menikahnya, kau dan aku berbeda" tanya Indah, ragu-ragu.
"Disini kita menikah, sesuai dengan tradisi agamamu, dan saat kau sudah di jakarta kita menikah sesuai dengan agamaku" jelas Ghazel.
"Berarti menikah 2 kali?" tanya indah.
"Iya,tapi dengan cara yang berbeda" jawab Ghazel lagi. "Apa setelah menikah, kau langsung membawaku pergi?" tanya Indah lagi.
"Ya" jawab Ghazel. "
Indah terdiam, ingin rasanya menanggis tapi dia terus tahan.
suasana hening, dan tiba-tiba perut Indah berbunyi.
Cacing, kenapa harus sekarang sih-keluh Indah.
Indah menunduk malu, ingin sekali ia melarikan diri dari sana.
"Han, apa makan siangnya belum datang?" tanya Ghazel.
__ADS_1
"Sebentar lagi tuan." jawab Han.
Pintu kamar di ketuk, Han segera membukakan pintu, dan ia masuk dengan pelayan hotel yang membawa makanan yang cukup banyak. pelayan menata makanan di meja dengan rapi.
"Silahkan di nikmati, Tuan dan nyonya" ucap pelayan tersebut, tersenyum, dan langsung pergi.
"Han, duduklah disini" pinta Ghazel. Han pun langsung ikut gabung untuk makan siang.
"Dan kau, makanlah, aku tidak ingin kau pergi dari sini dalam kondisi kelaparan. " ucap Ghazel.
Indah akhirnya ikut makan, lagian mana mungkin dia menolak makanan yang enak di depan matanya, terlebih dia juga lapar, jadi untuk saat ini putuskan urat malu mu pikirnya.
Mereka pun makan bersama, dengan suasan yang sangat hening.
...----------------...
Setelah melakukan pertemuan dengan Ghazel, Indah langsung pulang, dalam perjalanan pulang dia tiba-tiba teringat dengan pembicaraan dia dan Ghazel sebelum dia pulang.
*Flassbacak.
"Terima kasih, atas makanannya, mmm.. tuan boleh saya bertanya *lagi?." ujar Indah, sedikit takut dan ragi ragu.
"Apa? " tanya Ghazel.
"Apakah saya dan anda akan melakukan hal itu setelah menikah? " tanya Indah, dengan wajah takutnya.
"Tergantung, saya akan menemui keluarga kamu, setelah pernikahan kakak mu itu, dan sekarang kau boleh pergi" ucap Ghazel. dan langsung pergi dari sana.
Tak menunggu lama Indah langsung pergi, tak lupa ia berpamitan dengan Han.
Flassback off*
Indah sudah sampai di kediamannya, ia pun ingin segera masuk kekamarnya, tapi langkah nya terhenti saat mendengar Ayahnya memanggilnya.
Dan Indah juga baru menyadari kalau rumahnya sedikit sepi.
"Ayah, bunda mana?" tanya Indah, menghampiri ayahnya yang duduk di ruang keluarga.
"Ayah, dan kakak mu pergi melihat gedung untuk pesta lusa," Agung menatap Indah dan berkata "apa yang Ghazel katakan pada kamu ndah?" tanya Agung khawatir.
"Tidak ada Ayah, dia cuman mengatakan jika pernikahan kami akan di adakan 1 minggu lagi, dan dia akan segera menemui Ayah dan bunda" jawab Indah, dan menatap ayahnya dengan takut-takut.
Mendengar ucapan putrinya, seperti tersambar petir Agung terkejut, pasalnya bagaimana cara dia menjelaskan semuanya pada istrinya.
"APA?!,satu minggu, apa tidak terlalu cepat?, ayah akan menelponnya lagi" ucap Agung tak terima. berdiri ingin segera menelpon
"Ayah, aku sudah setuju" ujar Indah spontan.
Sentak langkah Agung terhenti, "Indah, kamu yakin?" tanya Agung berbalik melihat Indah,
Indah hanya mengangguk tersenyum.
"Indah kekamar dulu" pamit Indah, dan langsung naik ke atas.
Agung menghembuskan napas pelan, dia terduduk, "Apa yang harus aku lakukan, kenapa semuanya seperti ini, satupun tidak ada yang mau menolongku, bahkan kak Martin sekalipun," keluh Agung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
😍😍Hay guys, gimana cerita ini, aku bingung bagaimana membangunkan feel dalam setiap adengan, jadi maaf jika cerita ini tak sebagus yang sering kalian baca😢
__ADS_1
Masukan dan saran kalian selalu aku Terim kok, apalagi semangatt yang kalian berikan,
Like, vote dan coment jangan lupaa. 💗💗💗