IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
CHAPTER 121


__ADS_3

Chapter 121 END💕


Ghazel duduk sendiri di balkon kamarnya, menatap kearah langit yang penuh bintang itu tanpa ekspresi apapun. seharusnya dia senang karena masalah yang ia alami semuanya sudah selesai, satu persatu mereka sudah tersingkirkan.


Tapi kenapa ia merasa, sudahlah Ghazel berbalik dan terkejut saat melihat Indah sudah dibelakangnya, dengan cepat ia tersenyum lembut.


Indah menatap Ghazel penuh selidik, ia merasa akhir-akhir ini suaminya itu banyak melamun. Menghela napas, Indah mendekatkan diri kepada Ghazel kedua tangannya memegang kedua sisi wajah Ghazel, "Mas selalu melamun, apa ada masalah?," tanya Indah lembut.


Ghazel meraih tangan Indah, "Tidak, aku hanya berpikir apakah aku bisa menjadi ayah yang baik untuk bayi kita nanti," jawabnya sambil melihat kearah perut Indah yang sudah sangat besar itu, sebulan lagi bayi mereka akan keluar melihat dunia.


Indah tersenyum, "Tentu saja kau akan menjadi ayah yang hebat untuk anak kita, Ghazel Richwandyo Erlangga dia akan bangga saat nama itu menjadi ayahnya," ucap Indah tersenyum.


Ghazel memeluk Indah, "Terima kasih indah, dan maaf," ucap Ghazel suara seraknya.


Inda mengelus belakang Ghazel, ia bersyukur dengan kehidupannya saat ini.


"Dia tidak akan bangga, jika tahu ayahnya seorang pembun*h," batin Ghazel.


Setelah selesai berpelukan, Ghazel mengiring Indah untuk masuk kedalam, udara malam tidak bagus untuk ibu hamil itulah yang ia dengar. Memijit kaki Indah yang membekak sudah menjadi rutinitas Ghazel sebelum tidur.


"Han akan tertawa melihat mas seperti ini," kekeh Indah melihat bagaimana lihai tangan Ghazel memijitnya.


"Dia tidak akan bisa melihat," jawab Ghazel.


....


"Astaga Indah, jika kau butuh sesuatu tinggal panggil salah satu pelayan saja, atau memanggil ku," pekik Lydia heboh. Indah hanya mendengus, sikap protektif Ghazel sekarang menurun pada Lydia, dia hanya mengambil remote tv bukan untuk berperang astaga.


"Jangan lebay, aku hanya mengambil remote tv Ly, jangan aneh-aneh deh,"


"Tetap aja kan, bang Ghazel berpesan untuk menjaga kamu Ndah," ucap Lydia tak ingin kalah.


Indah lebih memilih diam tidak ingin memperpanjang perdebatan yang tidak berfaedah ini.


Zahra datang membawa jus apel, "Kenapa wajah kalian seperti itu?," tanya Zahra heran.


Lydia hanya acuh, sedangkan Indah tersenyum, "Tidak apa-apa," jawabnya sambil mengambil jus yang di bawah oleh Zahra.


Ya beginilah, Indah dan Lydia akan ada cekcok di antara keduanya. Lydia yang protektif dan Indah yang masa tidak bisa diatur perpaduan yang sangat cocok. Jauh rindu dekat selalu adu mulut.


Ghazel selesai melakukan meeting dengan klien, saat ini ia dalam perjalanan menuju ke hotel. pemandangan negara Dubai begitu indah jika di lihat malam hari. Melihat ada notifikasi dari ponselnya Ghazel tersenyum saat membaca isi pesan dari Lydia adiknya yang mengadukan prilakunya Indah yang tidak mau mendengar omongannya.


"Padahal usia mereka sama, tapi selalu saja bertengkar," guman Ghazel heran.


Sedangkan Han yang berada di samping Ghazel hanya diam menyimak, dia sudah tahu lebih dulu karena Lydia sudah curhat dengannya lebih dulu.


Entah sejak kapan mereka dekat, dan siapa yang memulai lebih dulu tapi keduanya sedang dalam hubungan yang serius. Tentu saja sudah diketahui oleh Ghazel dan sudah mendapatkan restu karena Ghazel memang sejak dulu berniat menjodohkan adik kesayangannya itu dengan Han.


"Kau harus bersabar menghadapi Lydia saat kalian sudah menikah nanti," ucap Ghazel menatap mengolok ke arah Han.


"Ya, tuan benar saya akan menghadapi tuan dengan versi perempuan," jawab Han dengan santai.


"Sialan kau Han," guman Ghazel, tapi masih didengar oleh Han.


Besok adalah pertemuan terakhir keduanya di Dubai, dan tepat satu bulan juga mereka di negara kaya itu. Dan hari persalinan Indah tinggal menghitung hari saja lagi, keluarga besar Indah juga sudah berada di mansion nya, Ghazel merasa tidak enak karena tidak bisa menyambut kedua mertuanya itu, tapi mereka merasa tak masalah Karena tahu jika Ghazel memang orang penting.


Sampai di bandara, Ghazel dan Han menuju tempat yang sudah direncanakan. Memakan waktu hampir lima jam perjalanan dari kota untuk masuk di pemukiman tersebut, sebuah pemukiman asri dan masih bersih polusi udara.


Bangunan yang tidak begitu besar, tapi cukup menampung banyak orang didalamnya, ukiran indah terpahat di dinding. Membuat kesan klasik yang cantik untuk di lihat, Han membuka pagar pembatas bangunan tersebut, di ikuti oleh Ghazel mereka masuk dengan berwibawa membuat siapa yang melihat akan takjub.


Seorang wanita yang selama ini menjadi mata-mata Ghazel tersenyum menyambut kedatangan sang tuan, "Selamat datang tuan," ucapnya, mempersilahkan masuk.Ghazel dan Han masuk mengikuti arah wanita tersebut, "Dia berada di ruangan sana," ucap wanita tersebut seakan-akan tahu apa yang sedang di cari tuannya itu.


Ghazel langsung melangkah menuju ruangan yang di maksud, tangannya memegang ganggang pintu dan memutarnya, pintu terbuka terlihat pemandangan yang begitu menyejukkan disana terlihat wanita yang ia rindukan sedang mengajari anak-anak panti merangkai bunga.


"Naysa," panggil Ghazel.


Naysa sedang fokus mengajari anak-anak panti merangkai bunga, hari ini jadwal untuk belajar merangkai. Saking fokusnya Naysa bahkan tidak menyadari jika pintu dibuka dan berdiri seseorang yang telah mengirimnya kesini.


Merasa namanya di panggil Naysa yang tadinya fokus pada anak-anak langsung melihat menoleh kearah suara, ia tersentak terkejut melihat siapa yang berdiri melihat kearahnya, bibirnya terasa Kelu untuk menjawab panggilan Ghazel.


Ody yang sejak tadi memperhatikan Naysa, merasa aneh karena melihat Naysa mematung, ia mengikuti arah pandang mata wanita yang dia klaim sebagai mamanya itu.


Saat tahu siapa yang datang, Ody langsung menatap tajam kearah Ghazel, "Dia yang membuang mama Naysa," batin Ody.


Ghazel melangkah mendekat kearah Naysa, tersorot banyak hal dalam matanya.


"Kalian semua keluar dulu ya, mba ada tamu," perintah Naysa lembut, ia tak ingin anak-anak mendengar pembicaraannya dengan Ghazel.


Mereka semua mengangguk patuh, kecuali Ody. Anak kecil itu tetap berdiri di samping Naysa saat anak-anak yang lain berlari keluar.


"Aku akan temani mama Naysa disini," ucap tak terbantah. Naysa hanya pasrah percuma memaksa Ody tidak akan mudah, jadi ia biarkan saja.


Ghazel sudah berdiri tepat di depan Naysa, jujur ia bingung bagaimana cara memulai pembicaraan ini.


"Apa yang kau lakukan disini Zel?," tanya Naysa menatap lurus kedepannya.


"Bagaimana kabarmu Nay," tanya balik Ghazel, ia bahkan tak menjawab pertanyaan Naysa yang sebelumnya.


"Baik," jawab Naysa, mata nya mulai terasa panas.


Ghazel menyadari perubahan ekspresi Naysa, dengan sekali tarikan ia membawa Naysa dalam pelukannya. Ghazel merindukan istrinya ini, bohong selama ini dirinya tidak rindu, bohong jika dirinya tidak peduli buktinya dirinya selalu menanyakan kabar Naysa lewat Asima mata-mata Ghazel.


Naysa terkejut saat Ghazel menariknya ke pelukannya, awalnya dia hanya diam tak membalas, saat Ghazel mengatakan, "Mari kita pulang, aku merindukanmu Naysa ku," Naysa langsung menangis kejar, ia memeluk erat Ghazel.


Naysa pikir dirinya benar-benar sudah dibuang, tapi Ghazel menjemputnya langsung. "Kau sudah tidak marah lagi?," tanya lirih.


"Semuanya sudah berakhir, kita pulang," jawab Ghazel sambil merenggangkan pelukan mereka.


"KAU SUDAH MEMBUANG MAMA NAYSA, SEKARANG KAU MAU MENGAMBIL NYA! MAMA NAYSA MILIK KU TUAN JAHAT!," teriak Ody mengema, Naysa baru sadar jika ada Ody di sini.


Ghazel terkejut, anak perempuan di depannya itu benar-benar menatap ya dengan sangat dingin.


"Mama," guman Ghazel, menatap kearah Naysa.


"Dia Ody, aku sudah menganggapnya seperti anak sendiri," jelas Naysa. Ghazel paham.


Naysa berjongkok didepan Ody, " Ody.., mama Naysa tidak pernah di buang, Ody ngak boleh ngomong gitu oke, minta maaf sekarang sama suami mama Naysa,"


Ody tertunduk, "Dia mau mengambil mu dariku, kenapa dia baru mengambil mu sekarang, jika kau ikut aku akan sen-"


"Tentu saja kamu akan ikut juga, aku tidak mungkin memisahkan kamu dengan mama mu ini," potong Ghazel, ia ikut berjongkok depan Ody.


Ghazel sudah tahu semuanya, latar belakang Ody, bahkan kedekatannya dengan Naysa istrinya itu.


Ody menatap Ghazel lama, "Kau jahat," lirihnya.


Naysa meringis pelan, "Jika Naysa mama mu, berarti aku papa mu kan, karena aku suami mama Naysa mu. Tapi kau tega mengatakan diriku jahat," ucap Ghazel pura-pura sedih. Meluluh hati anak kecil sangat tidak mudah pikirnya.


Naysa mengelus kepala Ody, "Aku tidak pernah mengajarimu berkata seperti itu Ody, tidak baik mengatakan hal itu pada orang yang lebih tua terlebih dia suamiku,"


"Maaf," lirih Ody pelan. Naysa tersenyum.


"Jadi bibi Jen dalang semuanya?," tanya Naysa masih syok dengan cerita Ghazel.


Ghazel mengangguk sebagai jawaban, "Jadi Naysa, pulang sekarang?," tanya Ghazel.


Naysa menjawab cukup lama, ia sudah sangat nyaman disini apalagi anak-anak disini dia akan merindukan mereka, tapi Naysa juga ingin pulang.


"Aku belum perpisahan dengan mereka,"


"Kau bisa lakukan sekarang," jawab Ghazel.


Naysa menatap Ghazel lama, "Tunggu sebentar," Naysa berlari pelan menuju tempat anak-anak berkumpul.


Ghazel tersenyum, dia seperti melihat Naysa saat awal menikah, begitu polos dan lugu.


Naysa terkejut saat melihat mereka semua sudah berkumpul, seperti tahu apa yang akan di sampaikan oleh Naysa mereka semua menatap Naysa sedih bahkan ada yang menangis.


Naysa berdehem, "Mungkin kalian sudah tahu tujuanku disini," ucap Naysa dengan suara yang parau menahan tangis, "Anak-anak terima kasih sudah mau menerima ku disini, dan pengurus panti juga. Hari yang aku nantikan terjadi hari ini, aku merasa bahagia dan sedih secara bersamaan, bahagia karena suami ku datang membawaku pulang, dan sedih karena akan meninggal kan rumah ini," ucap Naysa, air matanya sudah mengalir di kedua pipinya.


"MBA NAYSA JANGAN PERGI," tangis anak-anak panti serempak, bahkan mereka sudah mengerumuni Naysa, Asima dan yang lainnya dengan cepat mengamankan anak-anak, mereka juga sedih akan kehilangan orang sebaik Naysa.


"Ada rumah yang harus aku pulang i, pria yang tadi adalah suami mba, kalian pernah bilang kan mba harus bahagia. jadi kalian ikhlas ya melepas mba," pinta Naysa, dan gelengan anak-anak sebagai jawaban mereka.


"Saya sudah mengurus semua berkasnya tuan, Ody sudah resmi menjadi putri anda dan nyonya utama Naysa," ucap Ghazel sambil memberikan dokumen adopsi Ody.

__ADS_1


Perlu satu Minggu untuk mendapatkan izin adopsi dari kedua negara, hal itu membuat Han kewalahan karena juga harus menghandle yang lainya, untuk Reza membantunya saat di Indonesia.


Naysa memasuki ruangan yang di tempati Ghazel, ia datang dengan wajah sembab habis menangis. Mereka tadi menangis sambil berpelukan sebagai bentuk perpisahan.


Ghazel berdiri menghadap Naysa, ibu jarinya terulur menghapus sisa airmata Naysa, "Kita pulang sekarang?," tanya Ghazel, dan Naysa hanya mengangguk.


Mereka keluar, dan didepan banyak anak-anak panti berdiri sambil terisak karena akan di tinggalkan pergi.


"Asima titip anak-anak," ucap Naysa sekali lagi. Asima mengangguk.


Sudah di depan mobil, Han membukakan pintu mobil mempersilahkan Ghazel dan Naysa masuk.


saat Naysa masuk ia di kejutkan dengan keberadaan Ody yang tersandar menatap luar jendela.


"Ody," ucapnya. Ia menoleh kebelakang, Ghazel yang masih berdiri tersenyum mengangguk.


Naysa keluar lagi langsung memeluk Ghazel, "Terima kasih," ucapnya lirih.


"Cepat ma, airmata ku sudah akan keluar lagi." Naysa terkekeh mendengar ucapan Ody yang prontal itu. Mereka pun masuk, saat mobil hendak di jalankan Naysa membuka jendela untuk pamit lagi, tangannya melambai " Aku akan berkunjung nanti," teriaknya.


Mobil mereka melaju menuju bandara.


Sedangkan di Indonesia, tepatnya di mansion Erlangga sedang di hebohkan dengan keadaan Indah yang mendadak sakit perut, menurut prediksi ia akan melahirkan seminggu lagi tapi ini dia sudah keluar tanda.


mereka semua panik, tak kecuali Zahra yang tetap tenang karena sudah paham apa yang harus dilakukan.


"Siapkan mobil, kita bawa Indah ke rumah sakit," perintahnya pada salah satu supirnya.


Sedangkan Ana dan Lydia mempersiapkan kebutuhan apa yang harus dibawa,


"Mama, kenapa ini sakit," rintih Indah sambil menggenggam tangan Karlina erat.


ayah Indah seperti orang tak berarah, apapun yang Ingi ia lakukan selalu berantakan karena panik.


Terlebih Karlina, karena ini pengalaman pertama akan mendapat cucu jadi dirinya lebih panik, bahkan dia yang menangis melihat Indah, kadang heboh sendiri.


"Mobil sudah siap," lapor Tama salah satu supir di mansion mereka. Mendengar ucapan Tama mereka semua berlari keluar membawa tas yang sudah di siapkan, bahkan sudah duduk di kursi mobil masing-masing.


Tama hendak menjalankan mobilnya, saat menoleh kebelakang dia bingung, "Anu nyonya, nyo-,"


"Aduh Tama, cepat menantu saya mau lahiran," ucap Karlina tergesa-gesa.


Tama bingung, "Itu nyo-,"


"Cepat astaga Tama," giliran Ana yang bicara.


Tama menarik napas, "Nyonya muda kenapa tidak ada?," ucapnya dengan sekali tarikan napas agar tak terpotong lagi.


Mereka semua terdiam, menatap satu sama lain. Hanya tersenyum sebentar setelah itu mereka keluar dengan berlari tergesa-gesa bagaimana bisa mereka melupakan Indah.


Sedangkan Indah masih merintih menahan sakit rasa kontraksi yang suka datang tiba-tiba, "Ini yang mau lahiran siapa sih, malah gue yang di tinggal," keluh Indah, antara mau marah dan menangis.


Derap langkah kaki terdengar semakin mendekat, sudah Indah duga mereka melupakan dirinya, "Maaf saya kami lupa," cenggir Ana dan Karlina, sedang Lydia dan ayahnya hanya menahan malu.


"Yah gendong Indah dong," perintah Ana, dengan cepat ia menggendong Indah, sambil berkata semua akan baik-baik saja.


Sampai di rumah sakit, Indah sudah di sambut oleh para perawat yang disana. Mereka sudah Lydia untuk bersiap-siap karena Indah akan melahirkan.


"Beri penanganan yang terbaik, jika tidak kalian semua akan berurusan dengan Abang saya, bahkan Erlangga sekeluarga," ancam Lydia pada dokter, bidan dan para tenaga medis lainnya.


Mereka semua mengangguk patuh, antara takut dan cemas, karena ini adalah kelahiran anak dari sang pemilik rumah sakit tempat mereka berkerja.


Indah sudah di bawa keruangan persalinan, dokter mengatakan jika pembukaan sangat cepat terbuka membuat mereka bersiap.


Lydia pergi ke pojok ruangan untuk menelpon Han, untuk mengabari keadaan Indah.


Di dalam jet pribadi mereka, Ghazel Naysa dan Ody sedang mengobrol kecil lebih tepatnya Naysa dan Ody saja karena Ghazel hanya menyambung sedikit saja, jangan lupakan Ody masih tidak menyukainya.


Ponsel Han berdering, membuat Han yang tadinya sedang fokus mengerjakan laporannya harus terhenti saat tahu siapa yang menelponnya, senyumnya terangkat sedikit.


"Halo, ada Ly-,"


^^^"Indah akan melahirkan, sekarang kami sudah di rumah sakit. Bisa kalian cepat kesini,"^^^


"Tuan," panggilnya, Ghazel menoleh saat mendengar suara Han.


"Ada apa Han," tanya Naysa ikut menoleh


"Lydia mengatakan, jika nyonya muda akan melahirkan dan sekarang sudah di rum-,"


"MINTA PILOT ITU MEMPERCEPAT PENERBANGAN, JIKA DALAM SATU JAM BELUM SAMPAI SAYA SENDIRI YANG MENGHAJARNYA," perintah Ghazel, ia panik sekaligus khawatir. Bahkan dirinya sudah berdiri mondar mandir.


Naysa pun ikut panik, "Mas, kenapa jet mu ini sangat lambat, kita harus cepat mas," ucap Naysa heboh


"Aku akan menjual jet tidak berguna ini, astaga Indah, Naysa apa dia akan baik-baik saja,"


Han hanya menatap jengah keduanya, apa mereka pikir jalur udara ini bisa seenaknya di terobos, jodoh cerminan diri memang nyata adanya pikir Han.


"Indah akan baik-baik saja mas, dia perempuan kuat. Yang jadi masalahnya kapan kita sampai, astaga seharusnya kau ada disana menemani dia dalam proses persalinan,"


Ghazel semakin panik mendengar omongan Naysa, benar seharusnya dia ada disana, "HAN!," panggilnya.


"Saya ada di samping anda tuan," jawab Han malas.


Ghazel menoleh, "Kenapa lama sekali, apa ini jet kura-kura lambat sekali,"


Han ingin marah sungguh, "Ini sudah sangat cepat tuan, bersabarlah disana ada dokter dan tim medis yang profesional yang menangani nyonya, "


"Awas saja, jika mereka gagal sebaiknya roboh saja rumah sakit itu,"


Han hanya mengangguk,.dirinya cukup waras untuk tidak meladeni kedua manusia yang seperti cacing kena abu itu.


Indah terus mengejan, keringat sebesar biji jagung terus keluar di keningnya. "ngehhh...eghh..,"


"Lagi bu, dorong lagi kepala sudah kelihatan," instruksi bidan disana.


"Ayo nak, kamu pasti bisa..," ucap Ana memberi semangat sedangkan Karlina hanya berdiri dirinya terus menangis dan merapalkan doa agar semuanya dilancarkan.


Indah kembali mengejan, dengan mengatur napas sesuai instruksi bidan Indah mulai mengejan lagi.


"Sedikit lagi bu Indah," ucap bidan tersebut.


"Eghh...emmmm...huuu, enghhh" Indah kembali mengejan kali ini lebih kuat


Dan detik itu juga suara tangis bayi mengema di ruangan, Ana dan Karlina menangis haru mereka mencium kening Indah setelah itu berpelukan sebagai bentuk kelegaan dan rasa syukur.


Bayi dengan berat 2,1 Kg berjenis kelamin perempuan itu berhasil lahir dengan selamat, sebelum di bersihkan bayi di berikan pada ibunya di letakan di atas dada sang ibu.


Indah tidak bisa membendung rasa harunya, ia menangis bahagia, bahkan bayinya ikut menangis. "selamat datang sayang," ucapnya.


"Bayinya akan kami bersihkan," perawat tersebut mengambil alih sang bayi untuk di bersihkan, begitu juga Indah.


Ana dan Karlina keluar, dengan mata yang sembab bahkan Lydia dan Aulia sudah menangis saat suara keponakan mereka terdengar nyaring.


Zahra pun mengucap banyak terima kasih pada Allah.


"Yey!, El jadi Abang," pekik El senang. Zahra tersenyum senang.


"Apa kamu sudah memberitahu abangmu Ly," tanya Karlina, ia baru ingat perihal Ghazel.


"Sudah ma, Lydia malah khawatir."


"Khawatir kanapa," tanya Aulia adik Indah.


"Bang Ghazel akan panik, dan minta pilot untuk ngebut, kau tahu kadang otak bang Ghazel akan beku jika dia panik," ucap Lydia, Aulia hanya tersenyum.


"Han, kenapa lama sekali," pekik Ghazel tak sabaran.


Bahkan Naysa juga sudah mondar mandir, mereka tidak perduli jika saat ini mereka sedang dalam penerbangan akan bahaya jika tidak duduk.


"Dengan saya pilot Nahendra gamasya, kita akan sebentar lagi kita akan mendarat di bandara Soekarno Hatta, di harapkan tuan dan nyonya untuk duduk dan memakai sabuk pengaman," instruksi Hendra.


Tak ingin terjadi apa-apa Naysa membawa Ghazel kembali duduk, sedangkan Ody dia tertidur karena lelah melihat tingkah dua orang dewasa itu.


Indah sudah di pindahkan di ruangan inap VVIP di rumah sakit tersebut, begitu juga bayi nya. sejak tadi Ana, Karlina, Lydia, Aulia, menatap bayi merah sedang tertidur pulas setelah di berikan susu.

__ADS_1


"Kenapa wajahnya malah mirip bang Ghazel sih," keluh Lydia tak terima. padahal wajah ponakannya itu sangat cantik.


"Dia mirip Ghazel saat kecil, hanya saja bibirnya mirip Indah," sambung Karlina.


"Kak Indah, hanya mewariskan rambut dan bibir saja," sambung Aulia lagi.


Sedangkan Ana ia tidak berkomentar, ia begitu terharu sekarang.


"Mas Ghazel ayahnya, tentu saja di mirip ayahnya," bela Indah.


Aulia dan Lydia mendengus tak terima.


Sudah mendarat dengan selamat, Ghazel langsung turun saat pintu jetnya di buka, "Cepat ambil mobil Han," perintahnya.


Han berlari mengambil mobil mereka, sekira lima menit Han kembali dengan mobil hitam, tanpa menunggu Han membukakan pintu lagi Ghazel langsung masuk di ikuti Naysa dan Ody. Mobil mereka melesat dengan cepat.


"Itu tadi penerbangan tergila yang pernah aku lakukan," ucap Hendra termenung, penerbangan yang harusnya memakan waktu tujuh jam setengah, jadi di tempuh dengan tiga jam saja. Bahkan Hendra harus memberikan signal agar penerbang yang lain di tunda.


Sampai di rumah depan rumah sakit Ghazel langsung keluar, berlari tergesa-gesa di susul Naysa dan Ody, bahkan Han pun begitu.


"VVIP lantai empat," ucap Han seakan paham isi pikiran Ghazel. Dengan cepat Ghazel memasuki lift menekan angka empat. Para pengunjung rumah sakit di buat heran dengan mereka berempat.


"Kenapa lift ini sangat lama," keluh Ghazel lagi, kakinya terus dia hentak-hentakkan menunggu sampai.


Ting.


Pintu lift terbuka, dengan cepat ia menuju ruangan yang sudah di sediakan, lantai empat hanya di huni oleh Indah itu perintah Lydia. Keluarga ini memang gila.


Pintu dibuka dengan keras oleh Ghazel, dengan napas tak teratur ia melangkah masuk menghampiri Indah dan yang lainnya terkejut dengan kedatangannya, "Mas," ucap Indah pelan.


Ghazel langsung memeluk Indah, "Kau baik-baik saja?, terima kasih," isaknya pelan. Indah tersenyum sungguh ia bahagia.


"Kau tidak ingin melihat putrimu mas," tanya Indah, dengan cepat Ghazel melepaskan pelukannya dan mencari keberadaan bayinya, matanya menatap satu keranjang tidur kecil di samping istrinya.


Dengan tubuh tegangnya ia berjalan mendekat, sedikit demi sedikit ia bisa melihat bayinya, seorang malaikat kecil tertidur pulas dengan balutan bedong, Ghazel menatapnya lekat, air matanya sudah tidak bisa di bendung lagi, masa bodoh dengan harga dirinya, Karen menangis.


"Hei, ini ayah," ucapnya tertahan karena tangisnya, jari telunjuknya menyentuh pipi lembut itu dengan pelan, Indah menangis melihat pemandangan didepannya itu.


Naysa berdiri di ambang pintu, ia bahagia tapi juga malu. Sedangkan Ody menatap heran.


"Mba Naysa," ucap Lydia tak sengaja melihat kearah pintu. Ia berlari memeluk tubuh Naysa.


Atensi mereka langsung kearah Naysa, Karlina menangis langsung menghampiri Naysa yang sudah menangis, "Naysa, astaga nak," Karlina. ikut memeluk menantunya.


Zahra ikut menghampiri Naysa, "Mama.." El memeluk kaki naysa dari belakang.


Pelukan Karlina dan Lydia terlepas, "Nay," Zahra menatap Naysa dengan mata yang menyiratkan kerinduan.


"Mba Zahra," Isak Naysa, ia langsung memeluk Zahra.


"Mba Naysa," panggil Indah yang sejak tadi menangis, Naysa berjalan menghampiri Indah, "Maafkan aku Ndah," ucap Naysa lirih. "Tidak ada kata maaf dan terima kasih sesama keluarga mba," ucap Indah.


Mereka saling menangis, Naysa memeluk Indah erat, begitu juga Indah, ia begitu lega dengan semua ini.


"Aku minta maaf pada kalian semua, aku sudah banyak berbuat salah, terlebih pada Indah," Airmata Naysa kembali jatuh, dengan napas terisak akibat menangis, "Awalnya aku pikir kalian tidak akan menerimaku lagi, tapi aku salah," ucap Naysa.


"Kau menantuku, tentu saja kami akan selalu menerimamu,"


"Mama, dia siapa," tanya El menunjuk Ody yang sejak tadi berdiri di samping keranjang tidur bayi.


Naysa terkekeh, ia baru ingat Ody.


"Dia Ody, putri angkat Naysa dan aku," jelas Ghazel.


"Dia sudah ku anggap putriku, dia menemani ku selama disana, jadi aku membawanya disini, apa kalian keberatan" tanya Naysa menatap kearah Karlina.


"Wah, jadi dia akan menjadi Kakak untuk El dan bayi," ucap Indah senang.


"Aku hanya mau sama mama Naysa," jawab Ody ia berlari kearah Naysa.


"Tapi mulai sekarang aku juga mama mu, dan ini adikmu," ucap Indah. Ody bingung.


Naysa terkekeh, ia berjongkok mencoba menjelaskan pada Ody, "Ody, mulai sekarang mama Ody ada tiga," Ody menatap Naysa serius, Naysa menunjuk kearah Zahra, "Itu namanya umi Zahra, dan Itu bunda Indah," tunjuk Naysa lagi.


"Kenapa banyak," tanyanya menatap Naysa.


"Jadi, papa Ghazel punya tiga istri, dan itu berarti Ody juga punya tiga ibu, dua adik, itu nenek Karlina, itu bibi Lydia," jelas Naysa.


"Tuan jahat itu punya tiga istri, apa itu penyebab mama Naysa di buang di panti saat itu," tanya Ody. Mereka semua diam, "Ody, bukan tuan jahat, tapi papa. Dan mama Naysa ngak di buang buktinya sekarang mama Naysa ada disini kan,"


"Tetap aja tuan jahat itu punya banyak istri, mama Naysa kenapa kita ngak cari papa baru aja, itu bagus kok," ucap Ody tangannya menunjuk kearah Han.


"Ngak boleh," jawab Ghazel cepat, ia menghampiri Ody.


sedangkan Indah dan lainnya terkekeh mendengarnya ucapan polos Ody yang terlihat jelas dia tidak menyukai Ghazel.


"Apa dedek bayi sama anak laki-laki itu mau sama tuan jahat," tanya Ody tepat didepan Ghazel.


"Ayolah Ody, panggil aku papa, bukan tuan jahat," ucap Ghazel memelas.


"Sudah mas, biarkan Ody beradaptasi lebih dulu," ujar Zahra, ia menghampiri Ody, "Ody mau kan panggil aku umi?," tanya Zahra lembut.


Ody mengangguk pelan, "Dan itu bunda," tunjuk Zahra pada Indah yang sedang tersenyum kearah Ody, lagi-lagi Ody tersenyum.


"Halo kak Ody, aku El," ucap El mengulurkan tangannya, "Ody," ucap Ody membalas uluran tangan El.


"Kau sangat cantik, aku aunty Lydia" ucap Lydia senang.


"Dan aku Oma Karlina,"


Ody tersenyum tipis, baru kali ini dirinya merasakan perasaan begitu hangat di hatinya.


Indah bahagia melihat seluruh anggota keluarganya berkumpul, sungguh ini adalah hal yang paling ia impikan dan tuhan mewujudkan impiannya dengan sangat sempurna.


Melihat bagaimana mereka saling mengobrol, dan bercerita menjadikan suasana begitu hangat.


"Gamila Naura Zaida Erlangga. Artinya, Wanita yang cantik, yang selalu menyebarkan kebaikan dan keberuntungan," ucap Ghazel menatap putrinya. Mereka semua tersenyum mendengar nama yang Ghazel berikan, "Nama yang bagus," ucap Anna.


"Panggilannya Gami," ucap Aulia tersenyum.


"Dedek Gami," ucap El.


Mereka semua dalam kabut kebahagiaan, Naysa yang kembali berkumpul, bertambahnya anggota baru, tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini semua. Ucapan syukur dan terima kasih tidak henti-hentinya mereka panjatkan dalam hati mereka masing-masing.


Ghazel merasa hidupnya kembali berwarna, inilah kebahagian yang ia cari selama ini. senyum Dann tawa orang tersayangnya ternyata obat dari gelap hidupnya.


Indah merasa bersyukur dengan semua ini, dia tidak menyangka pernikahan yang awalnya di paksakan berakhir bahagia, meski kedepannya akan banyak rintangan asal bersama keluarga Indah akan siap, karena sebuah ikatan keluarga tidak akan bisa di kalahkan.


Naysa beribu-ribu kali mengucapkan terima kasih pada Tuhan karena memberikannya kesempatan sekali lagi untuk merasakan kebahagiaan di hidupnya.


Zahra merasa lega karena mereka kembali berkumpul, meski banyak halang rintangan di keluarganya semuanya terlewati Dann berakhir dengan kebagian.


Semua ini berkat doa dan rasa cinta.


Author mengucapkan banyak terima kasih karena kalian semua sudah mau membaca cerita yang selalu hilang datang hilalnya ini, terima kasih atas support dan dukungannya. terima kasih untuk pembaca lama yang mau menunggu dan pembaca baru yang mau membaca cerita ini.


Ini karya pertama author yang End, mungkin ngak memuaskan tapi author harap kalian suka, dan mau memberikan apresiasi dengan memberikan like, komen dan share cerita ini. Enggak sampai dia detik kalian tekan tombol like.


Dan ini kali pertama author nulis sampe empat ribu lebih kalimat.


Follow juga aku Sandhya, karena author akan update cerita baru.


Cerita kedua mengejar cinta mas Naka, akan di perbarui..dengan versi yang lebih baik, jadi tunggu ya.


Dan ada cerita terbaru, yang akan seru banget...


KEHIDUPAN KEDUA EVELYN. Masih dalam proses pengetikan. Aku sengaja mau ketik banyak-banyak dulu agar kalian ngak nunggu lama.


Jadi sampai ketemu di cerita selanjutnya.💕


Sekali lagi terima kasih✨💕


Follow akun aku ya, bantu tingkatan popularitas akun ini💞


Assalamualaikum.

__ADS_1


__ADS_2