IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
CHAPTER 120


__ADS_3

Naysa sedang membantu Ody mengerjakan tugas yang ia dapatkan dari Asima yaitu melipat pakaian dirinya sendiri. Disini mereka di ajarkan bagaimana tubuh mandiri, menjadi anak yatim-piatu itu artinya kalian sebatang kara di dunia ini, sampai di adopsi.


Ody Syahani, anak kelahiran India, Pakistan itu begitu pendiam, hanya Naysa lah tempat dirinya banyak bicara. "Apa kau membenci keluargamu?," tanya Ody tiba-tiba.


"Tidak, kenapa kau bertanya seperti itu?,"


Ody menatap Naysa, "Kau di buang disini, bukankah mereka sudah menginginkan kau, sama seperti ku, aku juga di buang,"


Naysa terdiam, jika dirinya yang dulu mungkin sudah termakan dengan omongan anak kecil di depannya itu, "Tidak, mereka hanya ingin mendisplinkan ku saja, aku berbuat tidak baik. Ada kalanya kita harus menjadi asing untuk mengenal diri kita sendiri Ody,"


Ody menatap Naysa lama, ia menghela napas,"Aku tidak mengerti ucapanmu mama Naysa, itu terlalu berat untuk otak kecilku ini," ucapnya dengan wajah datar.


Naysa terkekeh, tangannya terulur mengelus kepala Ody.


"Sebaiknya kita segera bereskan pekerjaan ini," Ody mengangguk patuh.


Di tempat yang sama, tempat dimana Tora dan Panji meregang nyawanya disana lah bi Jen sedang di ikat. Bi Jen saat ini tidak sadarkan diri akibat suntikan bius yang diberikan oleh bawahan Ghazel saat hendak membawanya disini.


Dengan setia Ghazel duduk menunggu wanita yang pernah ia anggap ibu nya itu sadar, hanya ia sendiri. Ghazel tidak memperbolehkan siapapun masuk termasuk Han. Menatap bi Jen dengan tatapan yang sulit diartikan, Ghazel menghela napas lelah.


Lenguhan dari suaran bi Jen terdengar di telinganya, Ghazel memperhatikan setiap gerak dari bi Jen. "Dimana ini," tanyanya pelan, tapi masih terdengar oleh Ghazel.


"Tempat dimana Tora dan Panji meningg*l," jawab Ghazel.


mendengar suara Ghazel, bi Jen baru menyadari jika dirinya sedang dalam keadaan diikat. Dia ingat bagaimana dirinya dibawa paksa oleh bawahan Ghazel.


"Lepaskan aku, apa kau akan memb*n*h ku juga?," tanya bi Jen.


Ghazel tersenyum, "Kau ingin m*t* bi Jen?,"tanya Ghazel balik. bi Jen menatap Ghazel dengan pandangan tersirat dendam, kebencian, amarah yang begitu jelas terpancar. Ghazel menyadari hal itu.


"Kamu tega Ghazel, apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan istri Tora?, dia seperti itu karena iri padamu, dia iri karena aku lebih menyayangimu sejak kecil, sejak kecil aku ini yang berada di samping mu, tapi dengan tega kau malah memb*n*h putraku,"

__ADS_1


"Kau membuatku seperti seorang penjahat bi Jen," ucap Ghazel seolah-olah sedih, detik berikutnya pandangan begitu datar.


"KAU MEMANG PENJAHAT! KALIAN SEMUA PENJAHAT!"


pintu terbuka, "Jika kami jahat, kau apa Jen?, kamu pemb*n*h, kau juga, kau rencanakan kecelakan menantu kesayanganku Naysa, kau mencoba mencelakai Indah dan bayinya, cucu ku El, mau menghancurkan perusahaan kami..dan masih banyak yang lainnya," ucap Karlina sudah berdiri tepat di depan Jen. Entah sejak kapan wanita itu sampai di gedung itu.


Jen menatap benci Karlina, niatnya untuk membujuk Ghazel gagal..


"Kenapa mama ada disini?," tanya Ghazel menghampiri Karlina.


"Tentu saja melihat bagaimana wanita ini pergi,"


Karlina mengendus bau sesuatu yang begitu menyengat, dan dia baru menyadarinya, "Bau apa ini,"


Bahkan Jen ikut mengendus..


"Solar dan bensin," jawab Ghazel enteng, tangan kanannya sudah ada pemantik sejak tadi ia mainkan.


"Kenap-," Karlina langsung ngeh, sebelum menyelesaikan pertanyaannya.


"Azel berencana membakar gedung ini ma, hawanya sudah tidak bagus lagi," jelas Ghazel, dengan menatap kearah Jen.


bi Jen melotot, ia menggelengkan kepalanya, "Lepaskan bibi mu ini Zel, kau tidak bermaksud untuk membakar diriku juga kan," ucapnya panik.


Ghazel tertawa, "Lihat ma, bi Jen kita ini begitu pinta membaca situasi. tidak heran jika dia pandai memanfaatkan orang lain, dan menjadi dalang dari kejahatan ini kan," pujinya.


"Kau benar, kadang mama iri dengan kepintarannya,"


bi Jen menatap keduanya dengan pias, ia benar-benar takut sekarang. Pikiran untuk menjadi nyonya besar sudah hilang sekarang, saat ini yang ia pikirkan bagaimana bisa lepas dari sini.


Jen tahu, Ghazel adalah orang yang tidak akan bohong dengan sesuatu yang akan ia katakan. Ada rasa menyesal dan juga marah secara bersamaan di hati Jen, bukankah ia yang harus membalas perbuatan Ghazel karena sudah membuat Tora tidak bernyawa lagi, tapi kenapa dia yang duduk disini?.

__ADS_1


"Ghazel, lepaskan bibi aku janji akan berubah, dan menjauh dari kalian," Jen dengan wajah memelas.


"Kata-kata itu pernah sama persis yang di ucapkan oleh Panji saat sebelum m*ti, entah itu katan sungguhan atau bohongan saya sudah tidak perduli lagi, benar kata mama, orang asing akan tetap menjadi orang asing,"


Jen terdiam, perasaan begitu janggal saat mendengar ucapan Ghazel. Ada rasa tak terima saat Ghazel mengatakan orang asing, ia merasa terluka, anak yang ia rawat waktu kecil malah menganggapnya orang asing. Apakah perbuatannya begitu mengerikan?.


Andai saja Jen tidak serakah, andai saja Jen tidak termakan dengan ucapan Tora saat itu, andai saja Jen tidak iri, andai saja Jen benar-benar bersyukur saat itu, pasti ini semua tidak akan terjadi, andai saja. Semuanya bisa dibilang kebodohan.


Menyesal menjelang ajal adalah rasa sakit yang tidak bisa di bendung lagi. Ghazel dulu begitu percaya padanya , begitu hormat padanya, selalu mengandalkan nya, tapi hari ini Jen benar-benar melihat orang yang berbeda.


Dulu dirinya di tatap hangat oleh Ghazel, sekarang hanya ada tatapan dingin yang terpancar. Dulu wajahnya selalu tersenyum saat bicara dengan Jen, tapi sekarang hanya ekspresi datar tanpa raut senyuman, dulu dia selalu berkata sopan dengannya, sekarang yang terdengar hanya kata-kata kejam penuh kebencian.


"Menyesal. sudah ku katakan Jen, jangan menghancurkan rumah yang kau bangun, karena jika sudah roboh akan sulit di bangun," Karlina berdiri menatap datar Jen.


"Itulah balasan dariku," ucap Karlina tanpa suara.


Ghazel beranjak dari duduknya, "Kita harus pergi, buat anda terbakar lah bersama dengan rasa penyesalan, amarah, kecewa, luka, dan dosa anda Jen, jika kau bisa selamat dari api ini berarti kau cukup beruntung, tapi jika tidak berarti kau harus mengikuti langkah putra dan Panji mu itu," Ghazel melangkah berbalik, dan menjauh dari sana, diikuti oleh Karlina.


Saat sudah di depan pintu keluar Ghazel menyalakan pemantik, tanpa menoleh Ghazel melemparkan pemantik itu ke lantai. Api menyala dan menjalar dengan cepat, ruangan yang sudah penuh minyak itu sangat mudah untuk api membesar. Ghazel menutup pintu dengan ekspresi sulit di artikan.


Sedangkan Jen, wanita paruh baya itu benar-benar pasrah tidak ada perlawanan atau usaha untuk melepaskan dirinya rasanya sudah tidak ada artinya untuk hidup, Jen menatap kosong kearah api yang mulai membesar dan mulai menjalar kearahnya.


"Aku pantas mendapatkan ini," lirihnya.


Dan dalam hitungan detik api tersebut menyamar kearahnya, panas itulah yang ia rasakan, dengan mata tertutup Jen menikmati setiap rasa pedih yang ia mengenai tubuhnya, mungkin ini adalah balasan dari semua perbuatannya.


Kita tidak akan bisa memprediksi sesuatu hal, sama halnya takdir bukan. Sebaik apapun rencana kita jika di awali niat yang jahat akan menjadi Boomerang untuk diri kita sendiri.


Sifat iri dan serakah seringkali menjadi peluru kehancuran untuk diri kita sendiri. setiap kehidupan kita sudah ada garis takdir masing-masing, kita tidak bisa membandingkan hidup kita dengan orang lain, kita hanya melihat di depan tapi kita tidak tahu bagaimana orang tersebut di belakang berjuang untuk berada di titik itu.


jika ingin seperti orang itu, berarti kita juga harus berjuang seperti itu. Serakah tanda ketidakpuasan dengan apa yang didapat, selalu merasa kurang padahal porsi kita memang segitu.

__ADS_1


Sering kali Manusi lupa dengan nama bersyukur, kita tidak bisa menolak ukur kehidupan satu sama lain, semua ada jalan masing-masing, nikmati apa yang kita punya sekarang bersyukur, jangan terpaku dengan jalan orang sampai lupa jalan yang sudah di buatkan untuk kita.


.


__ADS_2