
Haii..uci kembali
Maaf baru bisa update. Uci ngak mau kasih alasan/ atau ngejelasin kenapa ngak update.
Intinya Uci hadir kembali.
...¤¤¤...
Mungkin seekor semut bisa berbagai makanan dengan yang lainya, tapi tidak untuk seorang gadis yang dua bulan lagi menginjak usia 22 tahun tersebut.
Indah. sejak tadi duduk melamun sendiri ditaman dekat mansion mereka. ia bangun lebih awal dari biasanya, pikiran dan hatinya terus berperang dengan kejadian tadi malam yang ia lihat.
Tadi malam saat Indah hendak ingin kedapur mengambil minumnya, ia melihat suaminya Ghazel memeluk Lydia, bahkan mereka tersenyum mesra. tak ingin mengangggu Indah langsung putar balik kembali kekamarnya.
"Kau kesini?"
Indah sentak terkejut melihat siapa yang datang, "Lydia"
Lydia langsung duduk kesamping Indah, "Kau bahagia menikah dengan Azel" tanya Lydia tiba-tiba, ia menatap lekat wajah Indah.
Indah cukup terkejut dengan pertanyaan Lydia, menurut Indah pertanyaan Lydia cukup sensitiv untuk perasaan dia saat ini, tapi ntah kenapa Indah ingin sekali menjawab pertanyaan tersebut.
"Awalnya tidak-" Lydia mengerutkan keningnya karna tidak paham. Indah kembali melanjutkan ucapannya, "Mungkin ini akan terdengar klise buat kamu, aku dan mas Ghazel menikah tanpa ada rasa cinta sedikitpun. aku menikahi mas Ghazel karna mengantikan kakak ku,"
"Kok bisa?" tanya Lydia.
"Orang tua kami, saat dulu mengalami krisis. dan pada saat itu hanya mas Ghazel yang bisa nolong keluarga aku. tapi dia memberikan sebuah syarat, jika mau dia akan membantu."
"Syarat apa?"
"Ayah aku harus menikahkan salah satu putrinya dengan mas Ghazel.-" Lydia terbelalak kaget. "-dan awalnya yang diminta menikahi mas Ghazel adalah kakak ku, tentu saja ayahku tidak mau, karna kakak ku saat itu akan segera menikah dengan kekasihnya dan dia sangat mencintainya, aku tak sampai hati merusak kebahagian kakakku, akhirnya aku menemui ayahku secara diam-diam dan mengatakan jika aku yang bersedia menikah dengan mas Ghazel, tentu ayahku lebih tidak setuju, tapi aku terus memaksanya karna demi kebaikan keluarga. mas Ghazel setuju, dan pernikahan dilangsungkan."
"Bagaimana bisa kau mengorbankan kebahagian mu sendiri?, dan kau juga masih memeluk keyakinan mu kan?"
"Kebahagiaanku adalah keluarga ku sendiri, jadi tidak ada korban disini, dan ya. aku masih dengan kepercayaanku sendiri karna itu adalah syarat pernikhan kami" balas Indah.
"Dan sekarang kau bahagia?" Lydia berucap kembali.
"Tentu. aku bahagia meski dulu sangat sulit menerima keadaan ini, tapi aku sudah mulai menyukai statusku sebagai istri mas Ghazel, terlebih berkat penikhan ini aku bisa memiliki seorang mama baru yang sangat menyayangiku dan bertemu sama mba Zahra"
"Kau cinta pada Azel?"
Indah terdiam sesaat, "Iya. aku mencintainya, mungkin hanya aku, karna mas Ghazel sangat sulit percaya cinta" balas Indah.
Lydia terdiam, "Kenapa tidak kau buat dia percaya?"
"Dia sekeras batu karang, sekokoh besi, dan sedingin es, rasanya untuk membuat dia percaya cinta sangat sulit" kekeh Indah, terdapat kesedihan dalam kekehan tawa Indah.
"Bagaimana mas Ghazel menurut mu Lydia?"
Lydia tersenyum semuringah, "Dia hidupku, dia baik, dan tentunya aku merasa aman saat di sampingnya" balas Lydia.
__ADS_1
Rasanya ada ribuan jarum yang menusuk kehati Indah, kalau boleh jujur Indah tidak senang jika ada yang memuji Ghazel seperti itu, dan Lydia sepertinya lebih kenal Ghazel dari pada dirinya.
"Kau...sepertinya sangat menyukai mas Ghazel"
Lydia mengulum senyuman, "Aku sangat menyukainya, rasa sangat senang bisa kembali disini, kau tau saat aku memutuskan untuk pergi ke Amerika, Ghazel semalaman merayuku untuk membatalkan rencanaku itu, bahkan dia berdiri didepan kamarku semalaman, aku tau dia tak bisa hidup tanpaku, tapi saat ku pulang dia sudah menambah istri lagi, benar-benar menyebalkan" seru Lydia.
"Kau sudah lama mengenal Ghazel?"
"Dia cinta pertamaku, Azel itu sangat pencemburu asal kau tau, dia pernah memukul pria yang berani menekatiku, bahkan dia memberikan ku pengawal di Amerika, aku sama sekali tidak bebas, dua tahun yang lalu dia memaksa ku pulang kemansion ini, tapi aku menolak, dan Azel kekeh memaksaku, akhirnya aku memberikan dia syarat, kau mau tau?."
"Iya.."
"Aku mengatakan, jika aku akan pergi kemansion, jika kau berhasil membangun taman bunga yang indah untukku dalam waktu seminggu, dan dia langsung menyangupinya. bahkan dalam waktu lima hari taman itu sudah jadi."
Indah mendengar jelas setiap detail cerita Lydia, dan setiap kalimat tersebut terus menusuk harinya, indah CEMBURU.
"Dimana taman itu?" tanya Indah penasaran.
Lydia tersenyum, "Taman yang saat ini kita duduki, ini tamannya, bunga-bunga disini adalah bunga kesukaan ku semuanya, aku sangat menyukai bunga, jadi ya ini."
"Dan sepertinya kau juga menyukai taman ini, karna beberpa kali aku melihat kamu sering kesini" sambung Lydia.
"Iyaa...aku suka bunga disini" ucap Indah, tapi sekarang ngak lagi- sambung Indah membantin.
"Tapi Lydia, apa kau tidak keberatan jika mas Ghazel mempunyai istri tiga sekaligus?"
"Sangat keberatan, tapi ngak mungkinkan aku bilang gitu ke Azel, bisa-bisa kalian langsung di cerai" tawa Lydia.
Merasa dongkol Indah, hendak akan pergi dari sana, tapi sebelum beranjak ia kembali berkata, "Lydia. seharusnya kau sadar, jika mas Ghazel sudah memiliki istri, tidak semestinya kau berprilaku semena-mena, apalagi kontal fisik yang berlebihan" ucap Indah, sejak tadi ia menahan unek-uneknya.
Lydia mengankat sebelah alisnya, " Maksudnya gimana?, apa kau melarangku dekat dengan Azel?"
"Kalau iya kenapa?, aku istrinya. jelas aku tak terima jika suamiku harus dekat dengan perempuan lain"
"Kau marah-marah tak jelas, apa aku menyingung perasaan mu tadi?, dengar Indah. meski kau istrinya kedudukan aku disini jauh lebih tinggi, lagian kak Naysa sama mba Zahra fine-fine aja tuh" balas Lydia dengan santai.
"Tapi aku ngak, tolong jauhin suami saya" setelah berkata seperti itu Indah langsung pergi meninggalkan Lydia yang bingung dengan perubahan Indah.
Setelah Indah jauh Lydia mengeluarkan alat perekam yang sejak tadi dia pengang, "Mari kita kirim rekaman ini, ngak sabar liat reaksi mereka" seringai Lydia.
Lydia memang sengaja memancing Indah, ia tak sengaja melihat Indah duduk ditaman sendirkan tadi, akhirnya dia memutuskan untuk menghampiri Indah, tak lupa ia menyetel alat perekam suaranya.
...¤¤¤...
Indah memasuki mansion dengan kondisi mood yang hancur, pembicaraan tadi berhasil membuat hatinya dongkol, ia berjalan tanpa menghiraukan panggilan sang mama, bahkan dia tidak perduli dengan sapaan para pelayan.
sampai dikamarnya, Indah sudah melihat Ghazel sudah rapi dengan pakaian casualnya, apa Ghazel tidak kekantor pikir Indah.
Ghazel heran melihat Indah terus memandangnya, "Ada apa Indah?" tanya Ghazel.
Indah tersentak, "Mas ngak kekantor?, kok pakai pakaian casual gini?" tanya Indah meruntun.
__ADS_1
"saya libur, dan saya juga mau pergi bersama Lydia" balas Ghazel sambil menyisir rambutnya.
Lydia lagi- batin Indah.
"Mas, emang mau kemana?"
"Nemanin Lydia belanja, kenapa?"
Oke sejak kapan seorang Ghazel mau pergi belanja seperti ini?, Indah tentu agak ngak suka dengan perlakuan berbeda Ghazel terhadap Lydia.
"Emang dia ngak bisa sendiri mas?" tanya Indah, dia sudah duduk manis di atas rancangnya.
"Bahaya, saya ngak mau dia diganggu lelaki hidung belang" jawab Ghazel, berjalan kearah nakas jam tangannya, dan mengambil dompet serta kunci mobilnya.
"Mas juga lelaki hidung belang" sindir Indah.
Ghazel langsung menoleh ke Indah, "Ulangi Indah." perintah Ghazel.
"Mas LE-LA-KI HI-DU-NG BE-LA-NG, BU-AY-A DA-RA-T." ucap Indah penuh penekanan pada setiap kalimatnya.
Jika Ghazel peka, dia pasti tau jika istri mudanya ini sedang cemburu berat.
Ghazel berjalan kearah Indah, "Atas dasar apa kamu mengatai saya seperti itu?" nah benar Ghazel ngak peka guys.
"Pikir sendiri, mas ngak pernah ya nemanin aku belanja, lah Lydia yang bukan siapa-siapa malah ditemanin" ucap Indah sedikit kesal.
Ghazel menatap pekat Indah, "Lydia jauh lebih berarti bagi saya, dan kamu jangan manja." Indah tak menyangka dengan jawaban Ghazel, sebegitu berhargakah Lydia pikir Indah.
"Yaudah sana...." usir Indah, moodnya sangat hancur.
"Salim dulu," Ghazel mengarahkan tanganya depan wajah Indah. dengan berat hati Indah mencium tangan Ghazel.
tapi tanpa disangka.
Cup..
Ghazel mencium kening Indah, "Jangan cemburu" bisik Ghazel, ia mengelus pipi Indah lembut.
Yang tadinya mendung, kembali cerah, pipi Indah seketika merona, "Si-siapa juga yang cemburu!" elak Indah.
"Saya pergi dulu" Ghazel langsung pergi.
Satu yang Indah tidak tau, jika sejak tadi jantung Ghazel berdetak juah lebih cepat tidak seperti biasanya.
"Dasar om-om!, gue cemburuuuu diajak kek" kesal imdah melempari bantal kearah pintuk kamarnya.
...¤¤¤...
Terima kasih...
Vrenn...selagi tangannya ringan, jangan luoa Like dan komen yaa😊😊😊
__ADS_1