IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter- 89


__ADS_3

Sudah selesai menyiapkan pakaian tidur milik Ghazel dan dirinya, Indah langsung menuju meja riasnya, untuk membersihkan make-up ya.


Setelah beberapa saat, Ghazel keluar dari kamar mandi dengan handuk yang memlilit rapi dipingangnya, sentak Indah langsung terbelalak kaget, "Kenapa mas keluar kayak gitu sih?," pekik Indah menutup wajahnya mengunakan kedua tangannya.


Ghazel heran, apa yang salah pikirnya, "Aneh," guman Ghazel, langsung mengambil pakaian yang Indah siapkan tadi, lalu memakainya.


Sedangkan Indah masih menutup matanya, matanya mengintip lewat sela-sela jarinya melihat apakah Ghazel masih disana atau sudah pergi, saat telinganya mendengar Ghazel menutup pintu ruangan khusus berpakaian, Indah menghembuskan napas lega.


Ia pun, langsung bergegas untuk masuk kekemar mandi, tak lupa ia membawa pakaiannya, ia ingin berganti kekamar mandi saja pikirnya. Ghazel sudah selesai berpakaian, ia langsung berjalan menuju tempat tidur Indah, matanya terus mengamati setiap jengkal kamar istrinya tersebut.


mendengar percikan air dari kamar mandi, Ghazel tau jika Indah sedang mandi, Ghazel turun dari tempat tidur, berjalan kearah tas nya dan mengambil tabletnya, ia ingin memeriksa perkerjaannya.


Duduk disofa kamar Indah, Ghazel dengab serius memeriksa dokumen yang dikirimkan oleh beberapa CEO dari cabang perusahaannya, tanpa Ghazel sadari jika Indah sudah keluar dari kamar mandi, dan sedang menatapnya dari tempat tidurnya.


"Mas, ngak tidur?" tanya Indah, ia tau pasti Ghazel sekarang cape karna perjalanan tadi.


"Kalau mau tidur, tidur aja dulu Indah, saya masih ada kerjaan," jawab Ghazel, tanpa mengalihkan pandangannya dari tabletnya.


"Besokkan bisa mas ngerjainnya, kasian tubuh kamu cape pasti," balas Indah.


"Besok ngak ada waktu lagi, sok tau kamu, saya yang punyua tubuh aja biasa aja," balas Ghazel.


Indah mendengus kesal, "Yaudah!, ngak usah tidur, aku tidir dulu," Indah langsung merebahkan tubuh dan membelakangi Ghazel, padahal niatnya baik. huh.


Ghazel mengeleng kepala melihat tingkah Indah, dengan terpaksa Ghazel mematikan tabletnya, dan melangkah menuju tempat tidur, ia mengeser tubuh Indah sedikit, "Mas ngapain?, sebelah sana masih kosong," ujar Indah.


"Geser!," perintah Ghazel, dengan wajah cemberut Indah bergeser kearah kiri, dan Ghazel langsung naik merebahkan tubuhnya.


melihat Indah masih membelakanginya, dengan inisiatif sendiri, Ghazel bergeser kearah Indah, dan memeluk Indah dari belakang. tentu saja aksi Ghazel membuat Indah terkejut, "Mas.." ucap Indah, "Ssstt...tidur Indah, saya ngantuk," ucap Ghazel.


Ghazel tidak tau aja, jika tindakannya itu membuat Indah berdebar tak karuan. dan dengan deberan itu Indah terus memaksa matanya untuk terpejam tidur, sialnya Indah suka seperti ini.


...»»»...


Acara ulang tahun Aguna Rauna akan diadakan pukul tujuh malam nanti, mengingat ini hanya acara ulang tahun Agung memutuskan acara akan diadakan dikediamannya saja, tapi tentu saja itu ditolak mentah-mentah oleh Anna sang istri, kenapa?. Karna Anna sudah menyiapkan tempat untuk acara tersebut, tidak mungkinkan dibatalkan begitu saja.


"Bukannya Ayah, sudah tau ya, kalau acarnya diluar?" tanya Indah, saat ini ia duduk menemani sang Ayah.


"Untuk tempat ayah tidak tau Ndah, ayah hanya tau jika ulang tahun ayah akan dipestakan." jawab Agung.


"Yaudah, ngak apa-apa dong, malah seru yah, kan biar berkesan keren," ujar Indah senang.


"Iya, ayah nurut aja," senyum Agung pada Indah.


"Indah," panggil sang Ayah.


"Iya yah?,"


"Bagaimana pernikahan kamu?, baik-baik aja?, apa Ghazel..."

__ADS_1


Indah tersenyum, "Seperti yang ayah liat sekarang semuanya baik-baik saja ya, Indah sudah nyaman dengan pernikahan Indah dengan mas Ghazel," balas Indah.


"Dia tidak menyakitimu?" tanya Agung kembali memastikan


Indah terkekeh, "Tidak, ya Indah akui diawal-awal pernikahan Indah mungkin sedikit sulit untuk Indah, terlebih beradaptasi disana, tapi sekarang sudah ngak, dan mas Ghazel juga baik yah," jawab Indah tersenyum, menyakinkan sang Ayah.


"Syukurlah, ayah pikir dia akan menyiksamu disana," pungkas Agung.


"Semuanya baik-baik aja yah, kalau mas Ghazel nyakitin Imdah sangat parah, mungkin Indah udah pulang sejak dulu," ujar Indah.


"Apa kalian su--"


"Mba Indah, suami mba memanggil," lapor sang pelayan disana.


"Oh, iya. terima kasih ya bi, yah Indah kekamar dulu," Indah pun langsung beranjak dari sana, meninggalkan sang ayah yang sejak tadi terus memperhatikan kepergiannya.


"Ayah harap kamu bahagia Ndah," guman Agung.


...»»...


Telah sampai didepan kamarnya, tanpa memgetuk Indah langsung masuk, pemendangan pertama yang ia lihat adalah Ghazel yang berdiri dibalkon kamarnya, Indah langsung menghampiri Ghazel, "Mas," sapa Indah.


Ghazel melirik Indah sesaat, setelah itu pandangannya lurus kedepan.


'Dia kenapa?' Indah membatin heran.


"Saya lagi menikmati pemandangan didepan saya, kamu ganggu aja," sarkastik Ghazel. Indah langsung menoleh kedepan, ia hanya berpikir pemandangan apa yang sedang suaminya nikmati ini?, didepan balkonnya hanya ada hamparan taman lebih menjurus kehutan itu.


"Maaf, mas bangunnya udah lama?," tanya Indah lagi.


"Menurut kamu?,"


"Ya, mana Indah tau mas,


"Makanya, pagi-pagi jangan keluyuran, ngak tau kan kapan suaninya bangun!, mentang-mentang dirumah sendiri jadi seenaknya, suami bangun bukan liat wujud istrinya malah liat guling, ini rumah kamu saya kan merasa asing," omel Ghazel panjang kali lebar.


'Oh..jadi karna bangun ngak ada aku, dia gini?, sejak kapan suka ngomel nih om-om.' batin Indah terkekeh geli.


"Maaf mas, kan Indah harus nyapa orang rumah, udah lama ngak ketemu, tadi juga lagi ngobrol sama ayah, mas mau teh?" tawar Indah.


"Ngak usah!, saya mau mandi, awas!. ngapain nempel-nempel gitu?," ucap Ghazel kesal mendorong pelan tubuh Indah.


"Siapa juga yang nempel-nempel!, sini peluk," Indah merentangkan tangan, menatap Ghazel tersenyum.


Ghazel hanya terdiam, dan langsung masuk kekamar meninggalkan Indah, ia masih kesal.


Jadi Ghazel tadi bangun, saat membuka mata dia tidak menemukan Indah, ia pikir Indah dikamar mandi, tapi ternyata tidak ada, biasanya setelah bangun tidur Ghazel pasti minum teh, dia mau minta bikinkan oleh Indah, tapi Indahnya ngak kunjung masuk kekamar, ingin keluarga Ghazel ngak enak, terlebih ini pertama kalinya dia nginapkan, dan berakhirlah dia berdiri dibalkon sendiri seperti tadi.


Indah cemberut, "Ngameknya lucu," kekeh Indah pelan. ia pun langsung menuju lemari menyiapkan pakaian untuk Ghazel, setelah beres dengan pakaian, Indah langsung keluar menuju dapur menyiapkan teh hangat untuk Ghazel.

__ADS_1


"Belum mandi kamu Ndah?," tanya Airyn, baru masuk kedapur.


"Belum kak, Indah lagi bikinin mas Ghazel teh," jawab Indah.


Airyn diam, menatap Indah, "Kamu bahagia dek?" tanya Airyn pada Indah,


Indah yang sedang mengaduk teh, langsung berhenti melihat ke Airyn," Bahagia kak, kenapa?."


"Ngak, gimana rencana dulu?, udah berhasil?" tanya Airyn.


Indah terkekeh, "Rencana yang kakak saranin dulu?, Indah udah ngak pernah ngelakuin itu, maaf ya kak," ucap Indah.


"Kalau begitu Indah kekamar dulu," Indah pun langsung pergi meninggalkan Ghazel.


'Kakak yakin kamu pasti ngak bahagia kan Ndah?," batin Airyn.


Ghazel keluar dari kamar mandinya, matanya sudah tidak menemukan Indah, tapi ia melihat pakaian yang sudah Indah siapkan, Ghazel pun langsung memakainya.


pintu kamar terbuka, menampilkan sosok wanita yang Ghazel cari tadi, sedang membawa secangkir teh dengan senyumannya, "Ini mas teh nya diminum dulu," ujar Indah meletakan teh tersebut diatas meja.


"Ngapain kamu liatin saya kayak gitu?," tanya Ghazel, melihat Indah yang menatapnya dengan serius.


Indah melangkah mendekati Ghazel, dan Hap...Indah memeluk Ghazel erat, bukan tanpa alasan dia seperti itu, dia hanya merasa jika orang rumahnya tidak percaya kalau saat ini dia bahagia sudah menjadi istri dari laki-laki yang dipeluknya itu, pertanyaan "Apa kamu bahagia?" sangat menganggu pikiran Indah.


"Aku bahagia," guman Indah, dalam pelukan Ghazel.


Berbeda dengan Indah, Ghazel hanya menatap Indah heran, tiba-tiba meluk dia, berkata ngak jelas.


"Kamu kenapa hmm?," tanya Ghazel selembut mungkin.


"Ngak, lagi pengen meluk aja," jawab Indah, masih posisi memeluk Ghazel.


Ghazel pun memeluk Indah erat, ntahlah, Ghazel hanya merasa jika istrinya ini butuh pelukan.


pelukan terlepas, tapi posisi mereka masih dekat, mata mereka saling bertemu, dan ntah siapa yang memulai mereka sudah saling berciuman. merasa pasokan napas Indah akan habis Ghazel dengan berat melepaskan ciumana mereka.


wajah mereka masih sangat dekat, deru napas mereka saling bersautan, "Indah.. boleh kah saya."


"Boleh mas," dan....


...««**Bersambung»»...


Apa yang selanjutnya terjadi?.


fyi: maaf untuk adengan yang ciciwnya Uci ngak terlalu tauuu, itu aja berkat membaca wkwkk.


jangan lupa, like, komen dan tambahin kerak kalian cerita ini.


Note: maaf dua hari ini ngak update, karna ada keluarga yang meninggal dunia jadi ngak bisa fokus ke Hp**.

__ADS_1


__ADS_2