IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter 63


__ADS_3

"Apa yang ingin kau sampaikan Leni?" tanya Naysa sudah duduk di sofa kamarnya.


"Ini tentang nyonya Indah" seringai Leni.


Naysa berkerut Langsung keintinya, jangan tersenyum bodoh seperti itu" ujar Naysa melihat jengah pelayannya yang tersenyum seperti orang idiot.


Leni langsung berdiri tegak, menarik napas pelan, dan mulai berbicara. "Saya mendengar obrolan nyonya muda bersama kakaknya melalui telpon nyonya"


"Terus?" Naysa bersedekap tangan di dadanya.


"Mereka sepertinya merencanakan sesuatu, saya mendengar sekilas bahwa mereka akan membuat tuan Ghazel bertekuk lutut pada mereka dengan membuat tuan Ghazel jatuh cinta pada nyonya Indah, dengan itu mereka bisa menyingkirkan tuan, dan itu alasan perubahan sikap nyonya Indah" jelas Leni.


Naysa menyeringai tipis, "Leni kau yakin mendengarnya langsung dari mulut Indah?, jangan asal menuduh!" pungkas Naysa.


"Nyonya, tidak percaya sama saya?, bukankah itu berita bagus untuk menyingkirkan nyonya Indah?"


tanya Leni pada sang majikan, tak seperti biasanya nyonya nya seperti bersikap biasa saja.


"Leni, kau tau aku ingin berubah, perihal apa yang baru saja kau sampaikan, aku tidak tau harus bersikap seperti apa, terlebih Ghazel pasti akan sulit mempercayaiku lagi." ucap Naysa, setenag mungkin.


Leni jelas heran dengan perubahan majikannya itu, tidak mungkin dalam waktu beberapa hari orang bisa berubah total, Leni menatap lekat Naysa menelelisir setiap inci dari majikannya itu.


"Apa kau benar nyonya Naysa yang ku kenal?" imbuhnya polos.


"Ck!, kau pikir aku setan, sudah sana siapkan air mandi ku, aku ingin berendam dengan aroma terapi" Leni langsung bergegas masuk kedalam kamar mandi dan menyiapkan segala keperluan untun Naysa berendam.


Terima kasih Leni, kau memang sangat berguna, sepertinya topeng drama ku ingin akan berjalan dengan sangat baik, dengan info yang diberikan pelayan itu bisa menyingkirkan parasit dan Indah kau akan membayar semuanya dengan setimpal. -batin Naysa.


Leni keluar dari kamar mandi menghampiri Naysa, "Nyonya air hangatnya sudah siap" lapor Leni.


"Baiklah, terima kasih, kau bisa keluar" ucap Naysa berlengang pergi kekamar mandi.


"Apa barusan nyonya mengatakan terima kasih?" tanya Leni pelan pada dirinya sendiri.


...••••...


Bibi Jen memasukan mansion Ghazel raut wajah sangar membuat pelayan ciut seketika.


"Kenapa kalian berdiri disitu?!, liat debu-debu ini apa yang kalian kerjakan, apa kalian disini hanya memakan gaji buta?"


"Bibi Jen" tegur Zahra.


Bibi Jen langsung menoleh kearah suara, ia menatap tajam kearah Zahra, tentu saja sejak awal dia sudah tidak menyukai Zahra.


"Kau,"


"Apa yang bibi lakukan?"


"Tentu saja mendisiplinkan para pelayan ini"


"Kalian bisa pergi kebelakang, istirahatlah" Para pelayan bergegas pergi sesuai perintah Zahra.

__ADS_1


"Bibi Jen, aku harap kau bisa lebih lembut lagi, apa karna tidak ada mama disini?, kau berani seperti ini?"


Bibi Jen melakah mendekat kearah Zahra, dan berbisik "Kau hanya parasit, akan ku pastika kau dan anakmu itu keluar dari sini" Setelah berbisik ia langsung pergi begitu saja.


"Ya Allah, "


Indah dan Ghazel dalam perjalanan pulang, ini sekian kalinya Indah satu mobil bersama Ghazel.


"Kau tau"


"Tidak!"


Indah menghembuskan napas pelan, "aku belum selesai tuan Ghazel"


"Lantas"


"Ahh..lupakan" Indah menyerah, bicara sama Ghazell sama saja seperti menimbang kesabaran diatas bara api.


"Pak muh,.hentikan mobil"


"Baik tuan" Mobil mereka berhenti.


"katakan"


"Aku bilang lupakan"


"Jangan pergi sebelum nyonya Indah bicara" ujar Ghazel kepada pak muh, "baik tuan"


Ghazel menoleh sebentar kearah Indah, setelah itu langsung menghadap kedepan.


"Baiklah, dengar baik-baik" Indah menghirup napas ia langsung melanjutkan omongannya" Ada toko donat disana, kau tas mas bentuknya sangat lucu! ingin sekali aku membeli semuanya, tapi sayang aku tadi lupa membawa uang"


"Kau tak membawa uang?, bagaimana bisa?" Ghazel langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Hallo Han, beli toko Donat yang diperempatan jalan, ubah atas nama Indah" panggilan terputus.


"Mas, kau serius?, aku meminta-"


"Kau bisa makan sepuasnya, Pak muh jalan, dan Indah uang ku tak akan habis karna toko donat kecil itu"


Mobil mereka kembali melaju menuju mansion, Indah tak habis pikir bagaimana bisa, ia hanya ingin bercerita tapi kenapa dibelikan toko donat lagian ia hanya gemas melihat model desain dari donat tersebut.


Kembali hening, tidak ada pembicaraaan antara keduanya, setelah perihal donat tadi.


•••


Naysa duduk manis menikmati teh nya, senyumnya tak pernah luntur, "Kartu As sudah didapatkan, dan Indah permainan dimulai" seringai Naysa menyeruput kembali teh-nya.


••


"Terima kasih tuan, anda sudah bersedia menjual toko donat ini, dan anda tenang saja para karyawan akan tetap berkerja disini" ucap Han setelah menandatangi dokumen yang berisi tanda jual beli dari pemilik toko.

__ADS_1


"Sama-sama, justru saya yang berterima kasih, karna sudah menawarkan harga yang memuaskan untuk toko kecil ini" senyum bahagia sang pemilik toko.


"Kalau begitu saya permisi" Han beranjak pergi dari sana, Sungguh dia sangat tak habis pikir atas perintah tuan-nya itu.


"Nyonya muda, saya harap anda tak meminta hal yang lebih aneh kedepannya, ini saja sangat merepotkan untung pemilik toko itu mata duitan, 150 jt angka yang kecil untuk tuan." ucap Han sendiri.


Ia langsung menyalakan mobilnya, meninjak pedal gas mobil miliknya, meninggalkan wilayah toko donat tersebut.


Han datang ke apartemenya, hari ini ia berniat untuk tidur di apartemenya, alih-alih pulang ke mansion Ghazel, dia ingin menenangkan otaknya, pertemuan dengan pak prakto tadi sudah cukup menguras energi otaknya.


"Aaa...sial, pak prakto ada-ada saja" gumannya, ia melemparkan tubuhnya ke atas kasur king size nya.


Ponsel Han tiba-tiba berdering saat ia ingin memejamkan matanya, "tak bisakah aku memejamkan mataku ini?!" kesalnya, ia pun mengambil ponselnya, membaca siapa dalang dari penganggu istirahatnya "Tamara?, kenapa ia menelpon"


"Halo, ada apa?"


"Dingin sekali, ini aku temara"


"Saya sudah tau"


"Kau menyimpan nomorku?, sungguh?"


"Ada apa?"


"Aku akan kejakarta"


Han menarik pelan napasnya, tentu dia paham maksud dari tujuan Tamara, gadis yang terang-terangan mengaku tertarik padanya.


"Lantas?"


"Bisakah kau menemuiku?"


Tepat sasaran.


"Saya sibuk, " Han mematikan telpon secara sepihak.


"Dia sangat sulit" guman Tamara sambil melihat layar ponselnya, "Han kau membuatku sesak" senyum Tamara.


"Tamara" guman Han. "Kau akan menyesal menyukai saya" lirihnya lagi.


**Silahkan Vote, like, komen,♡♡♡


Bestieee, aku ngak mau lagi janji-janji, karna sadar sulit aku tepati, maaf♡♡, biasa anak sekolahan jika tidak diberi uang untuk beli kouta pasti novel ngak aktif, perlu pejuangan untuk minta uang, karna kouta ini aku pakai voucer 2GB berlaku sampai 5 hari dan 5 hari ini aku usahin update bestiee..


untuk jam nya Random ya, makasih♡♡♥♡♡


^^^Salam hangat^^^


^^^Ikatan Cinta istri ketiga♡♡^^^


...(・´з`・)(・´з`・)(・´з**`・)...

__ADS_1


__ADS_2