
Waktu sudah menunjukan pukul 16:09 dan Ghazel maupun Lydia belum menunjukan batang hidung mereka. Indah terus menoleh kearah pintu masuk rumah mereka, dia tidak tenang.
"Mba Zahra, mba ngak khawatir mas Ghazel belum pulang, dan pergi bersama Lydia lagi" tanya Indah, Lagi.
"Mba percaya sama mas Ghazel" jawab Zahra tersenyum.
Jawaban yang sama yang selalu Indah dengar, sejak tadi Indah selalu menanyakan pertanyaan yang sama pada Zahra, dan dia juga mendapatkan pertanyaan yang sama juga dari Zahra.
menyebalkan.
"Jika khawatir, kamu bisa telpon mas Ghazel Indah" saran Zahra, ia cukup pusing melihat Indah yang terus-terusan menengok kearah pintu masuk.
"Engak, bisa-bisa dia kePD-an lagi, lagian siapa juga yang khawatir" balas Indah, mengelak pernyataan yang Zahra ucapkan tadi.
Zahra tersenyum, sungguh Indah sangat naif pikir Zahra."Jika kamu tidak khawatir, ya sudah jangan menanyakan tentang mas Ghazel terus" balas Zahra terkekeh.
"Mami Indah, takut papa diambil olang ya?" ejek El lagi.
"Ngak gitu El," ucap Indah, mencubit pipi El yang kelewatan gemoy itu.
"Mas Ghazel, memang gitu jika udah sama Lydia, jadi kamu tenang aja, intinya percaya aja" jelas Zahra kembali menangkan kecemburuan Indah.
Itu mah nambah cemburu Zahra -_-.
'Tenang gimana, suami jalan sama cewek lain' batin Indah kesal.
...¤¤¤...
Disisi lain, Ghazel dan Lydia tampak asik menghabiskan waktu mereka bedua, apapun yang di inginkan Lydia Ghazel dengan senang hati memberikannya, sehingga tak banyak yang merasa iri dengan keberuntungan Lydia.
"Azel, aku lelah bisa kita pulang saja?" keluh Lydia.
"Tentu." balas Ghazel sedikit tersenyum.
Setelah lama menghabiskan waktu bersama, Ghazel dan Lydia kembali pulang kerumah, tak lupa Ghazel yang selalu mengandeng tangan Lydia dari ia masuk ke mansion, bahkan beberapa pelayan berjeret membawakan tas belanjaan Lydia.
"Istirahatlah dikamar mu, saya kekamar dulu" ucap Ghazel sambil mengelus kepala
__ADS_1
"Terima kasih" balas Lydia tersenyum, ia langsung memasuki kamarnya.
Melihat Lydia sudah masuk, Ghazel langsung pergi menuju kamarnya.
...¤¤¤...
Hembusan angin yang membawa ketenangan, kesunyian malam yang terasa hampa, membuat siapa saja akan larut didalam lingkaran tersebut. Dan Indah salah satunya. Ia begitu menikmati hawa malam yang
Sejak tadi menusuk permukaan kulitnya. Seakan tak perduli akan dirinya Indah menatap kosong pemandangan di depannya. Lagi dan lagi ia harus melihat kejadian romansa antara suaminya dan Lydia.
meski dengan jarak jauh Indah masih dengan jarak jauh Indah masih dengan jelas melihat bagaimana Lydia mengandeng mesra tangan suaminya saat akan memasuki mansion.
Bahkan para pelayan dengan senang hati memberikan hormat pada Lydia, seakan-akan Lydia majikan disini, katakan saja Indah kekanakan karna ini, tapi demi tuhan dia cemburu sengguh.
"Apa yang sedang kamu pikirkan sampai-sampai kehadiran saya tidak kamu hiraukan Indah?" Indah tersentak saat melihat Ghazel sudah ada disampingnya menatapnya lekat.
Indah menoleh Ghazel sekilas, "Tidak ada. maaf aku tidak menyadarinya mas."
"Kau pembohong yang buruk Indah," Ghazel langsung memutar tubuh Indah menghadapa kearahnya, ia jelas tau jika saat ini Indah sedang menyembunyikan sesuatu.
"Banyak sekali keresahan yang terlihat diwajahmu," Ghazel masih menatap lekat wajah Indah. sedangkan Indah yang tengah ditatap seintens itu hanya menunduk.
"Kau masih tidak mengerti rupanya Indah" pungkas Ghazel pelan, ia menatap kepergian Indah dengan pandangan yang sangat sulit untuk diartikan.
...¤¤¤...
Sudah genap satu bulan, tiga belas hari Lydia berada di mansion Erlangga. Dan selama itu juga Indah harus terbiasa melihat bagaimana keduanya saling melempar perhatian, bahkan Ghazel yang terkenal dingin itu sering bersendau gurau dengan Lydia, dan lebih menyakitkan hanya Lydia yang bisa membuat Ghazel tertawa terbahak-bahak selain El.
Satu lagi yang membuat Indah heran, kenapa mama, Zahra dan Naysa sepertu tidak keberatan akan kedekatan Lydia bahkan mereka biasa saja melihat bagaimana Lydia mengandeng tangan Ghazel.
Indah sering bertanya dan jawaban mama Karlina seperti ini ; "Lydia memang manja jika sudah bersama Azel, dan mama sangat senang jika dia ada disini."
Saat bertanya dengan Zahra, terkait hubungan Lydia dan Ghazel Zahra hanya menjawab seperti ini; "Hubungan mereka?, sebaikanya kau tanyakan langsung Indah pada Ghazel." Indah pun menuruti saran Zahra, dan dia bertanya langsung pada Ghazel.
Dan kalian mau tahu jawabanya bagaimana; "Kau bertanya seperti itu seolah-olah kau bukan bagian dari keluarga Erlangga saja."
Indah kesal!, dia bahkan belum setahun disini.
__ADS_1
Meski tak menampik jika Indah masih saja tidak terlalu suka dengan kehadiran Lydia. Indah akui jika Lydia cukup ramah, bahkan dia mudah berbaur dengan siapa saja dengan mudah. "Tapi tetap saja aku kurang menyukainya" menolognya.
...¤¤¤...
Dihalamana luas belakang mansion Erlangga, tengah berkumpul keluarga besar Ghazel, tak lupa ada Renzo berserta istrinya, bahkan bini Jen ikut serta dalam perkumpulan ini.
Indah sejak tadi membantu Zahra menyusun beberapa minuman untuk mereka semua, merasa risih melihat tabiat Lydia yang terua menempel pada suaminya, yang membuat ia tambah jengkel mereka semua tampak cuek dengan pemandangan tersebut.
"Lydia" panggil Indah, "Iya ada apa Ndah?" tanya Lydia menoleh melihat Indah.
"Drama dimulai" bisik Shinta pada mama Karlina, dan dibalas senyuman oleh mama Karlina.
Indah berjalan kearah Lydia duduk, "Bisakah kau membantu ku menyingkir dari samping mas Ghazel?, Aaa... maksudku kursi itu tadi tempat ku" senyum Indah semanis mungkin.
Lydia menoleh kearah Ghazel, "Kau tak perlu melihat je suamiKU, itu memang tempatku iyakan SAYANG?" pungkas Indah, ia menatap Ghazel lekat, dan itu tatapan Indah yang mengerikan menurut Ghazel.
'Dia sangat lucu saat cemburu' batin Zahra.
Sedangkan yang lainnya menatap cengo Indah, mereka hanya berpikir apakah benar ini Indah, sedangkan Renzo dan Han menahan tawanya saat bagaiamana ekpresi Ghazel saat dipanggil sayang oleh Indah.
Ghazel beredehen pelan, demi mensterilkan suasana, "Lydia duduklah samping mama" perintah Ghazel tenang.
"Kau yakin?" tanya Lydia.
"Tentu saja suamiku sangat yakin, jadi silahkan." Jawab Indah spontan, tanpa memerikan Ghazel kesempatan untuk Ghazel bicara.
'Tuan kau kalah melawan nyonya muda' batin Han ia terus menahan senyumnya.
"Sangat tidak sopan!, bukan hanya kau istri dari Ghazel. Naysa dan Zahra saja tidak keberatan jika Lydia duduk disamping Ghazel, lagian wajar Lydia dan Ghazel---"
Belum selesai bibi Jen bicara Indah langsung memotongnya, ia tidak siap jika harus mendengar Ghazel dan Lydia memiliki hubungan yang cukup spesial.
"Aku tau bibi Jen. aku juga tidak mengatakan jika aku istri satu-satunya mas Ghazel kan?, aku tidak sopan bagaiamana bi?, aku hanya ingin duduk disamping suamiku apakah salah?, berhubung mba Naysa, dan mba Zahra tidak menunjukan reaksi saat melihat bagaimana suami kami duduk mesra dengan wanita LAIN, jadi aku sebagai istri mas Ghazel yang belum terbiasa melihat suaminya dengan orang lain selain dengan istri-istrinya jadi aku keberatan" jelas Indah panjang lebar. Bibi Jen langsung terdiam, ia ingin membalas tapi harus menjaga sikap didepan Ghazel akhirnyaia memilih diam dan bersikap sok cuek.
Indah tak menyadari jika yang lainya sedang menahan senyum, kecuali Ghazel, Naysa dan bibj Jen. melihat sikap cemburunya yang secara tidak langsung ia tunjukan.
...¤¤¤...
__ADS_1
**Doneee...
Semoga tangan ringan memberika Vote dan komenya😊😊😚😚**