
...52| Kecelakaan...
Dua minggu berlalu setelah kejadian di kantor Ghazel, rasa malu saat bertemu Ghazel sudah menghilang. Indah sudah bersikap seperti biasanya, dan rencana untuk membuat Ghazel cinta dengannya masih dia jalankan.
Bahkan Indah sering pergi kekantor Ghazel hanya sekedar mengantarkan makan siang, dan itu kemauan dari dirinya sendiri. jika kalian tanya apa Indah sudah mulai menyukai Ghazel, jawabannya tentu belum, karna dia melakukan hal itu hanya sebagian dari rencana saja.
Disisi lain Neysa sudah mulai terancam, melihat keakraban Indah dengan Ghazel, apalagi melihat Indah sering pergi kekantor Ghazel, dan Ghazel tidak marah. Biasanya Ghazel selalu marah jika sering pergi kekantornya, tapi Indah?, Neysa membenci hal tersebut.
Sedangkan Zahra dan mama Karlina, senang bahkan mendukung prilaku Indah, mereka sama-sama berdoa supaya Indah bisa meluluhkan hati batu Ghazel.
Kedekatan El dan Indah juga semakin intens bahkan El sering kali meminta untuk tidur bersama Indah.
Ghazel sendiri sudah terbiasa dengan sikap Indah yang tiba-tiba berubah itu.
"Bunda Indah, hari ini jadikan kita pelgi ke taman belmain?" tanya bocah kecil. El.
"Jadi dong, kan bunda sudah janji sama El, habis kita antarkan bekal siang ayah kamu kita langsung ya ketaman, Oke" ucap Indah tersenyum. kembali menyusun tempat bekal yang akan di berikan pada suaminya itu.
Selesai meyiapkan bekal siang Ghazel, Indah dan El langsung bergegas pergi. saat meleweti ruangan tengah langkah keduanya terhenti.
"Heii!, mau kemana?" tanya Neysa
"Kantor Ghazel mba, why ?" jawab Indah, menatap Neysa, memberika senyuman terpaksa nya.
"El, mau ketaman belmain sama bunda Indah, mi" kata El dengan suara sedikit cadel nya.
Neysa tersenyum lembut kearah El, "Oh, pergi sama mami aja yuk, mami kangen sama El" ucap Neysa sambil mengelus pelan rambut El.
"Telus, bunda Indah?" tanyanya, menoleh kearah Indah.
"Biar saya aja yang memberikan bekal itu ke Ghazel, kamu ngak usah pergi!, kamu rebut posisi saya?" ucap Neysa, menatap tajam Indah.
"Yaudah, sana" balas Indah, memberikan bekal siang ke tangan Neysa.
Neysa menyeringai, merasa puas,"hanya ada Neysa, selalu Neysa" gumannya sambil melihat kepergian Indah.
"Ngalah dulu Ndah, lo harus bisa pergi dari om-om itu" ucapnya pada diri sendiri sambil berjalan, "lagian gue juga bosan kekantor orang itu mulu" ucapnya lagi.
Indah berjalan dengan misuh-misuh, bayangan Ghazel akan memuji masakan yang di bawa Neysa terus berterbangan keatas kepalanya, "Gue yang masak, mba Neysa yang akan dapat pujian, rugi dong!" kesalnya lagi. "Apa gue telpon sekretaris Han, bilang itu dari gue ya?, Ehh..ngak ding!" oke Indah gila ngomng sendirian.
Neysa dan El duduk manis di bangku penumpang, bekal untuk Ghazel senangtiasa Neysa pangku, rasa tak sabar mendengar pujian yang akan di Ghazel membuatnya tersenyum manis.
Supir yang sedang mengendarai mobil tersebut, sesekali melirik kearah Neysa melalui kaca di spion depan, "Anda telihat sangat senang nyonya" ucapnya serasa tersenyum kearah majikanya itu.
"Menyetirlah dengan benar, jangan pernah bicara pada ku, kau tak pantas!" sarkas Neysa. supir itu langsung terdiam, dia melupakan satu hal, jikalau itu bukanlah nyonya muda Indah, melainkan Neysa sang nyonya utama.
__ADS_1
Memangnya Indah sering mengajak para supirnya mengobrol, supaya tak terlalu bosan itulah kata Indah, dan mereka pikir Nyonya utamanya akan sama dengan nyonya mudanya itu.
Karna jarak antara mansion dengan kantor utama milik Ghazel cukup jauh, jadi mereka memakan cukup banyak waktu, dan hari ini sangat tidak beruntungnya mereka terjebak macet. langit yang tadi cerah menjadi mendung, rintik hujan kecil turun secara bergantian.
"Aahh..hujan, pasti El terjebak hujan." guman Indah, yang berdiri di balkon kamarnya, melihat rerintikan hujan turun, ntah kenapa perasaannya sangat tak enak.
"Sebaikanya aku bikin minuman greentea panas saja" ucapnya, langsung pergi keluar dari kamarnya, menuju dapur.
Pintu lift terbuka, Indah langsung berjalan menuju dapur, beberapa pelayan tersenyum menyapanya.
Zahra yang habis dari taman daerah komplek mereka, langsung tersenyum melihat Indah yang sedang berjalan kearah dapu, tapi seketika dia heran kenapa Indah berada di rumah?, bukanya pergi bersama putranya. Zahra langsung menghampiri Indah.
"Indah, bukannya kamu mau kekantor mas Ghazel?, kok masih disini El mana?" tanya Zahra
"Eh mba, itu El pergi bersama mba Neysa, mm.. soalnya tadi mba Neysa bilang dia yang ingin mengantarkan bekal milik Ghazel." jelas Indah.
"Mba kok basah?"
"Mba dari taman komplek, habis mengantarkan beberapa mainan El yang sudah tak terpakai, saat mau menuju mobil kena hujan deh" tutur Zahra tersenyum.
"Mau Greentea panas mba?, kebetulan Indah mau bikin, mba ganti baju aja dulu."
"Terima kasih ya, mba kekemar dulu, sekalian bikinin mama Ndah, beliau sedang sibuk merajut" kekeh Zahra.
"Oke boss!!"
...
Hujan yang awalnya hanya rintikan, menjadi semakin deras, jalanan yang awalannya kering menjadi basah membuat memberapa pengendara takut untuk ngebut, termasuk mobil yang di tumpangai Neysa dan El, sopir cukup kewalahan karna jalanan yang licin, hujan yang deras membuat penglihatannya kurang jelas.
"Hhe.. cepat!, suami saya pasti sudah lama menunggu, kau seperti siput saja" omel Neysa.
"Maaf nyonya, saya harus pelan karna cuaca seperti ini, saya hanya tak ingin anda dan tuan muda kenapa-napa." jelas supir itu sopan.
Sedangkan El, sudah terlelap di alam mimpi, cuaca sejuk mendukunhnya untuk tidur, apalagi di mobil hanya diam, siapa saja tentu akan bosan.
....
Ghazel meyandarkan tubuhnya di bangku kebesarannya, sudah saat nya makan siang, tapi dia sama sekali menyentuh makanan, apa Ghazel menunggu Indah?, tentu Iya, Ghazel sudah mengetahui bahwa Indah sudah menyiapkan makan siang untuknya.
"Aaa..ck!, dia pasti terlambat, jika alasannya hujan aku kan menghukumnya" guman Ghazel, melihat kearah luar jendala kaca ruangannya.
Sedangkan Han, sudah khawatir melihat tuan nya itu belum juga memintanya untuk membeli makan siang nya, Han hanya takut Ghazel sakit, bisa-bisa dia yang kena omel keempat wanita Ghazel. Han tetap ingi hidup.
"Han!, kenapa wajah mu seperti orang yang akan mati besok?!, ada apa?" tanya Ghazel, yang sudah jenggah melihat Han, yang menatap wajahnya dengan ekspresi khawatir.
__ADS_1
"Tidak tuan, nereka masih belum mau menerima kehadiran saya, hanya saja saya khawatir anda belum makan, jam makan siang sudah tiba." jelas Han.
"Kau seperti istri ku saja, bahkan istriku saja tidak ada sekhawtir ini" ujar Ghazel, sambil bergeleng kepala.
Sekretarisnya itu benar-benar oper..-_-
...
Karna terus di desak untuk cepat oleh Neysa, supir yang bernama pak Agus itu terpaksa harus menaikkan kecepatannya sedikit, hingga di persimpangan empat tanpa di suga ada mobil truk yang berhenti secara mendadak, kerna jalanan laju pak Agus tak sempat mengerem denga benar dan...
"Awasss...." teriak Neysaaa "Aaaaaaaa...." Neysa melindungi El
Brukkkkkk.....tarrrrr...duarr.....
Mobil Neysa hancur di bagian depan, Pak Agus sudah tak sadarkan diri, kondisi Neysa sendiri sudah parah, kepala berdarah, sedangkan El tak sadar.
"Hehh..Pa-pak A-guss ba-bangun hhe, G-ghazel me-menunggu ku" ucap Neysa sebelum pingsan.
Sedangkan mobil truk yang di tabrak, langsung pergi, supir truk langsung tersenyum, lebih tepatnya menyeringai.
"Welcome Ghazel!" orang itu langsung pergi.
**Bersambung..
Spoiler chapter 53**.
***Plakk...
"Kau sengaja menyuruh Neysa yang pergi kan?"
"Aku tidak meminta-.."
"Cukup!, kau hanya aaaargg...!!!, sampai El dan Neysa kenapa-kenapa kau yang harus membayar itu semua!"
...🌾🌾🌾...
...Sesuai janji aku update kembali. terima kasih atas dukungannya, dan sudah membaca cerita IKATAN....
Ohh..ya ada yang bisa nebak siapa yang di marahin tadi?, (komen ya), dan siapa dalang dari kecelakanan itu? (komen).
...Jangan lupa vote akun, Like, dan komen yaa.....
...1 Like kalian adalah hal berarti untuk author ini😊...
Sampai ketemu minggu ini...
__ADS_1
^^^Salam hangat^^^
^^^Ikatan❤***^^^