
Malam pun tiba, tapi kedua insan yang sedang tidur dengan posisi yang saling berpelukan itu tampak engan membuka mata mereka. bahkan suara ketukan dari pelayan tak dihiraukan.
Ghazel terbangun, saat pertama kali membuka mata, yang ia lihat sosok wanita dengan nyamannya tidur dalam pelukannya, senyum yang tak pernah ia tunjukan kepada siapapun, tercetak jelas di wajahnya saat ini.
"Cantik" guman Ghazel, matanya menelusuri setiap detail wajah Indah.
"Saya sudah terlalu jatuh Indah, dan kamu harus tanggung jawab" Ghazel membelai lembut wajah Indah.
Wajah damai Indah saat tidur menjadi pemandangan favorit Ghazel mulai saat ini.
"Eeghh..!" leguhan Indah, ia semakin mengeratkan pelukanya, ia merasa aman dan nyaman.
Sedangkan Ghazel menutup cepat dua matanya. Indah membuka matanya pelan, ia terbelalak saat menyadari tubuh siapa yang ia peluk, wajahnya mendungak keatas dilihatnya Ghazel masih tidur.
Senyum terbit diwajahnya, Indah memperbaiki posisinya, agak sejajar dengan wajah Ghazel.
Indah cukup terpada dengan wajah tampan yang dimiliki suaminya itu, hidung mancung, alis tebal, dan bibir yang kelihatan sangat sexy. "Apa tidurnya nyenyak?, sial!, dia sangat tampan" seru Indah pelan cekikikan. "Tapi aku sangat playboys, punya istri sampe tiga" guman Indah terdapat nada kesal didalamnya.
Ghazel hanya diam, sepertinya ia cukup baik menjadi aktor aktingnya lumayan bangus, pura-pura tidur, dia sangat senang dengan ocehan istri mudanya itu, apalagi saat di puji tampan, ingin sekali Ghazel mencium gemas wajah Indah, tapi ia urungkan.
"Kau tau tuan Ghazel, aku sudah mulai nyaman tinggal disini, tapi disisi lain aku..., ahh lupakan, kau sangat tampan saat tidur"
"Benarkah?" Ghazel sudah tak sanggup lagi
"Iya benar" seru Indah enteng, sekian detik akhirnya, "Aaaa!, mas" seru Indah antara kaget, dan malu.
Indah menatap kesegala arah, engan memandang wajah Ghazel, jangan lupakan posisi mereka masih berpelukan, "Indah" seru Ghazel, "Apa?" Indah masih engan menatap mata Ghazel.
"Terima kasih"
"Hah?" Indah kurang fokus, salting dia tuh , "Lupakan!".
Indah cemberut, sesekali menatap Ghazel, "Awas mas, Indah mau bangun" serunya dengan nada kesal.
"Ya udah bangun aja,"
__ADS_1
"Ihhh..awas!"
"Lah yang meluk sayakan kamu, lepasin dulu pelukan kamu" Indah melihat kebawah, tangannya benar ada diperut Ghazel, rasanya Indah ingin tengelam dirawa-rawa.
"Mas juga meluk saya, ngaku aja deh!, sampe ileran gitu tidurnya, nyaman banget ya tidur meluk saya?" seru Indah mengejek.
HUP!
Ghazel semakin mengeratkan pelukaanya, "Iya Indah, saya ketagihan" seru Ghazel parau, "mulai malam ini kamu tidur sama saya"
Indah terkejut, deru jantungnya samakin kuat, ada rona merah dipipinya, "Ngak ya, ngak mau" tolak Indah, malu dia tu
"Ini perintah" final Ghazel. "dan sekarang saya ingin terus meluk kamu, beban saya terangkat semua rasanya" guman Ghazel.
Ntah kenapa, biasanya Indah akan marah, tapi ini seakan-akan tubuhnya memintanya untuk tetep berada disamping Ghazel, senyum kecil terbit diwajah Indah, "Mas" panggil Indah, "Apa?" Ghazel menjawab, tapi matanya terpejam.
"Ngak jadi, hehehe" Ghazel langsung membuka matanya, "Jujur Indah," serunya lagi, Indah menarik napasnya pelan, "Mas kapan mau maafin mba Naysa?, kasian"
"Itu urusan saya, dan kamu cukup urusin saya Indah, jangan yang lain paham?" Indah hanya mengangguk, ntah sejak kapan ia menjadi lebih menurut ke suaminya itu.
...•••...
"Nyonya, tuan Ghazel tidak membuka pintu kamarnya, dan Nyonya muda tidak ada dikamarnya, sedangkan nyonya utama akan makan didalam kamar saja" lapor pelayan tersebut.
Mama Karlina tersenyum, "Kau dengar Zahra, mama yakin Indah lagi bersama Ghazel, aw..! ngak sabar deh punya cucu baru" seru mama Karlina heboh.
Zahra hanya tekekeh geli, ia merasa lucu dengan mama mertuanya itu, untuk Ghazel dan Indah, ia belum yakin, apakah mereka sudah saling menerima." kita doakan saja ma" seru Zahra.
...•••...
Sudah enam bulan usia pernikahan Ghazel dan Indah, hubungan keduanya juga semakin dekat, bahkan Indah sering tidur dikamar Ghazel, dan Naysa tentu saja murka tak ketulungan, tapi ia bisa apa, hanya menunggu waktu yang tepat untuk memyingkirkan Indah. seluruh mansion juga sudah beranggapan jika Naysa sudah berubah menjadi lebih baik.
Ghazel dan Naysa juga sudah berbaikan, bahkan Naysa sering minta Ghazel untuk tidur dikamarnya.
"Indah!" seru Naysa, mimik mukanya terlihat marah, "Iya mba kenapa?" Indah sedang mengupas buah terhenti karna panggilan Naysa.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?, aku meminta mu untuk tidak menganggu ku saat bersama Ghazel, tapi tadi kau bahan mengetuk pintu kamarku" seru Naysa, menampilkan wajah sendu.
"Tadi, tadi aku hanya ingin memberitahukan pada mas Ghazel untuk tidak membawaku keacara yang ia sampaikan kemarin" jelasnya. Ghazel sempat membawa Indah untuk menghadiri pesta dari rekan kerjanya, tapi Indah tak bisa ikut karna harus menemani El untuk membeli maianan karna sudab berjanji.
"Kau bisa memberitahukan nya, saat Ghazel dan aku turun kan?, kenapa repot-repot kekamar ku segal sih?"
"Aku takut nanti ngak sempat, karna mau pergi tadi"
"Kau sudah berjanji untuk tidak mengambilnya dariku Indah, ingat itu" Naysa langsung berlengang pergi.
"Bisakah janji itu dibatalkan?, karna aku sudah mulai menyukai mas Ghazel." guman Indah, sambil menatap pungung Naysa, ntah kenapa ia merasa tak senang belihat kedekatan Ghazel dengan Naysa, egois memang tapi Indah bisa apa?.
...•••...
"Kau serius tidak mau ikut Indah?" itu sudah pertanyaan kesekian kalinya yang Ghazel lontarkan, "Tidak!, kau bisa mengajak mba Naysa atau mba Zahra mas." seru Indah, sambil menata dasi Ghazel.
"Ada masalah?"
"Mas, aku baik-baik aja, cuman udah ada janji aja sama El" jelas Indah lagi.
"El lagi" guman Ghazel.
"Udah aku mau nemuin El dulu" Indah langsung keluar dari kamar Ghazel.
Naysa sedang mempoles wajahnya sedemikian rupa, ia ingin terlihat cantik malam ini, ya. dia yang akan pergi kepesta bersama Ghazel, tentu saja itu kemenagan untuknya, tak sia-sia pikirnya untuk menyuruh El mengajak Indah pergi, dan untungnya El memang lengket pada Indah, itu memudahkan aksinya.
"Naysa kamu sangat cantik" pujinya pada diri sendiri.
ia pun langsung keluar, menemui suaminya itu.
**haiii...kangen aku ngak?,
engak? yaudah deh︶︿︶
Aku baru update nihh, semoga suka,
__ADS_1
Like, komen, Vote dan kasih reting, yaa jangan lupaa●︿●**