IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
CHAPTER 119


__ADS_3

Bi Jen dengan tergesa-gesa mengemasi barang-barangnya, ia berencana untuk kabur pergi keluar negeri. Ia sudah tidak perduli jika tidak mendapatkan harta milik Erlangga, asal nyawanya selamat.


Beberapa jam yang lalu Jen lagi-lagi mendapatkan pesan dan kiriman video dari Han. Di video tersebut menampilkan bagaimana Panji di siks* dengan mengunakan alat yang tidak Jen ketahui.


Tapi yang jelas disana terlihat Panji tampak sangat kesakitan dan berakhir kehilangan nyawanya. Video yang berdurasi sembilan menit itu membuat ketakutan setengah mati.


Bahkan Han mengatakan jika dirinya selanjutnya. Jen benar-benar tak mau m*ti sia-sia.


Bahkan perusahaan Hamura dan Do Young bangkrut dalam hitungan menit, dan itu membuat Jen semakin frustasi. Ghazel sudah menunjukan taringnya dan Jen menyesal telah membangunkan harimau yang tidur itu.


"Pergi dari sini, dan menghilang," ucap Jen buru-buru membawa kopernya hendak keluar dari rumahnya.


Tapi bi Jen lupa, jika wilayah rumahnya masih dalam lingkaran mansion Ghazel bukankah sangat tidak mungkin keluar dengan mudah. Mengingat bagaimana proses keamanan yang sangat ketat.


"Dia mengemasi semua barangnya, dan sudah membeli tiket menuju Thailand," ujar Karlina lewat telpon.


"Kau tenang saja Azel, dia tidak akan mudah keluar dari sini." seringai Karlina, panggilan pun terputus. Karlina menatap tajam keluar jendela.


"Kali ini kau akan hancur Jen, akan ku pastikan kau akan menjerit memohon kem*tian mu denganku. Kau sudah banyak menimbulkan kerugian untuk keluargaku, jadi tunggulah balasanmu."


"Seorang monster tidak mungkin tercipta jika orangtuanya bukanlah seorang monster juga bukan." kekehnya.


Karlina Erlangga, Bukanlah si malaikat tapi si iblis yang menjelma sebagai malaikat di rumahnya. Di luar dia menjadi sosok yang begitu menakutkan untuk kalangan pengusaha.


Mulutnya yang manis tapi beracun itu berhasil menjatuhkan orang-orang yang ingin mengusik keluarganya.


Indah sedang duduk di taman belakang mansion nya, sambil mengelus perutnya yang kian membuncit. Entah kenapa akhir-akhir ini Indah merasa sangat gelisah, Indah sempat bertanya pada Zahra dan katanya itu adalah hal yang wajar dirasakan oleh ibu hamil, apalagi jika usia kandungan sudah memasuki bulan tua.


"Bunda harap kau selalu baik-baik saja di dalam nak." Indah beranjak dari duduknya, dan berjalan melihat beberapa bunga yang sudah mekar cantik di depannya.


AAARGHH...


Indah terkejut saat mendengar suara teriakan dari samping tamannya. "Suaranya kearah rumah bi Jen," ucapnya sambil menetralkan detak jantungnya karena terkejut tadi. Indah dengan pelan melangkahkan kakinya menuju pintu yang menghubungkan mansion mereka dengan kediaman bi Jen. Indah melupakan niat awalnya untuk melihat bunga.

__ADS_1


sudah didepan pintu Indah sedikit ragu, tapi juga penasaran ia takut jika ada hal yang tidak di inginkan terjadi. "Tapi bi Jen tidak menyukaiku, bagaimana jika dia tambah marah saat melihatku, jika aku kesana dia ngak akan marah kan," tanya pada diri sendiri.


Ia menjulurkan tangannya menggapai ganggang pintu, saat hendak memutarnya niatnya terhenti, "Apa yang nyonya muda lakukan?," tanya salah satu pekerja disana. Lagi, Indah mengalami keterkejutan dengan spontan dirinya berputar menghadap si pekerja.


"Aaa..aku hanya..mm"


"Nyonya Zahra mencari anda, nyonya ingin mengajak anda makan cake yang nyonya Zahra buat tadi," jelas Leni.


Indah tersenyum kaku, "Iya, aku akan kesana." Indah pergi dari depan pintu berbalik hendak kembali di dalam rumahnya. Dengan pikiran yang masih tertuju pada suara yang baru ia dengarkan tadi, jujur Indah masih sangat penasaran.


Suara teriakan terdengar sangat memilukan jika orang lain mendengarkannya. Tapi tidak untuk beberapa orang yang berada disana, teriakan itu bagaikan melodi di telinga mereka. Kejam, memang itulah alasan kenapa seorang Ghazel begitu disegani di dunia bisnis.


Mungkin akan terdengar kejam, atau akan ada ya g berpikir jika hukum Negera bisa memberikan mereka ganjaran, tapi Ghazel tidak percaya hukum, jika dia sendiri bisa menghukum si pelaku kenapa harus diserahkan ke pihak wewenang, mereka akan mempersulit. Hukum disini sangat murah sehingga mudah di beli.


"He-hentikan..saya mohon," ucapnya lirih. dan di abaikan oleh Ghazel begitu juga Han.


"300 Joule, shoot!"


AAARGHH...


"Han, saya rasa saat nya dia bertemu Tora," ucap Ghazel.


Han mengangguk paham, "Maksimal," Han menekan tombol remote dengan tulisan Maks, aliran listrik yang mengenai otak itu menyetrum dengan sangat kuat, dalam hitungan detik tubuh Panji kejang, dengan mata menyuling keatas.


"Urus pemakamannya," titah Ghazel.


"Baik tuan,"


Apa yang sudah terjadi, adalah bentuk dari sebuah hasil yang telah kita lakukan dulu. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita petik, tidak mungkin ada asap jika tidak ada api, semua ada sebab-akibatnya.


Dan itulah yang didapatkan oleh Tora, Panji, dan bi Jen. Akibat dari rasa iri dan serakah membuat merek buta akan kebaikan.


Ghazel paham akan rasa iri itu, karena dirinya juga pernah mengalaminya. Pengendalian diri sendiri sebagai bentuk untuk menyelamatkan diri dari rasa iri yang berkepanjangan dan Ghazel berhasil.

__ADS_1


"Han, bi Jen akan menjadi urusan saya."


Ghazel memasuki mobilnya, saat setelah bicara pada Han disana suda ada Reza yang menunggunya. Han mengangguk sebagai jawaban.


Indah dengan hikmat memakan cake buatan Zahra, menurut Indah masakan Zahra tidak pernah gagal, apapun yang dia buat akan sangat enak.


"Besok Minggu apa kau akan pergi ibadah Ndah?," tanya Zahra membuka obrolan.


"Iya mba, besok aku akan pergi di gereja dekat sini."


Mereka kembali diam, Indah masih dengan pikiran mengenai suara yang ia dengar tadi.


Di kediaman bi Jen, Karlina duduk di single sofa dengan kaki disilangkan matanya menatap tak minat seseorang di depannya itu.


"Saya turut berduka cita atas meninggalnya putramu dan Panji," ucap Karlina setelah lama diam.


"Apa kau tahu siapa yang membunuhnya?," tanya bi Jen menatap benci Karlina, "Bahkan aku tidak melihat jasadnya, PUTRAMU MONSTER ITU!," teriak Jen mengema seluruh ruangan.


Karlina terkekeh, tidak ada raut kasihan diwajahnya. "Ya, kau benar dia putraku. Tapi bukankah ini semua karena rencana amatiran mu itu Jen? Monster itu begitu sayang padamu, bahkan dia lebih mendengarkan kata-katamu di banding diriku, kau yang mengubah malaikat itu menjadi monster Jen. Karena keserakahan mu itu, kau menjadi mangsa selanjutnya."


"Seharusnya kau tahu bagaimana Ghazel, dia begitu membenci pengkhianat dan kau sangat paham itu, tapi lihat kau merusak kepercayaan nya.. Kau begitu ingin menjadi nyonya besar sampai lupa jati dirimu hanya seorang pesuruh."


Jen menatap Karlina penuh emosi, kata-kata itu begitu menohok untuknya.


Karlina beranjak dari duduknya, "Kau akan mendapatkan pembalasan lebih dari putramu, kali ini aku sendiri yang ikut adil, kau melukai Naysa menantu kesayanganku dan cucu ku, jadi akan ku pastikan kau akan menderita menjerit memohon pada kami," Karlina menatap remeh Jen, ia melangkah keluar.


AAARGHH...."MATI KAU!" Jen berlari kearah Karlina membawa pisau kecil yang sejak tadi ia pegang, belum sempat mengenai tubuh Karlina, Jen sudah terhempas kebelakang karena tendangan Karlina menghantam tepat di ulu hati ya.


"Begini lah kau, berani di belakang. tak heran hidup kalian begitu kacau"


"KALIAN SEMUA MASUK!, BAWA WANITA INI DI MARKAS GHAZEL PASTIKAN DIA TIDAK BISA LOLOS!" Perintah Karlina teriak, para pengawal yang sejak tadi berjaga di luar seketika masuk mendengar teriakan nyonya besarnya.


Dengan di seret paksa Jen di bawa ketempat eksekusi Ghazel. Karlina tersenyum saat Jen melihat kearahnya.

__ADS_1


__ADS_2