IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter 79


__ADS_3

...Selamat mambaca!!!...


...¤¤¤...


Indah keluar dari kamar mandinya, ia menangkap sosok pria yang berstatus suaminya duduk tenang memainkan ponselnya. seakan abai Indah langsung menuju ruangan pakaian dan memilih pakaian apa yang akan ia kenakan hari ini.


"Berhubung hari ini suasana hatiku sangat buruk, aku akan memakai dress abu-abu ini, sangat cocok dengan keadaanku kali ini" menolog Indah sendiri dan memilih dress bermotif bunga dengan warna abu-abu tersebut.


Sekian menit kemudian, Indah sudah selesai dengan pakaiannya ia berjalan kearah meja riasnya dan mendudukan dirinya didepan kaca. Diam-diam Ghazel memperhatikan Indah.


Mulai dari Indah memakaikan bedak pada wajahnya, beralih pada bibir kecil yang baru saja Indah pakaikan lipstik merah jambu. terbit senyum kecil di bibir Ghazel melihat setiap gerak Indah. Ghazel akui jika Indah sangatlah cantik dan manis.


"Ehemm.." Ghazel berdehem membuat Indah menoleh kearahnya sebentar dan kembali merias dirinya.


Merasa diabaikan Ghazel akhirnya berkata,"Ganti pakaianmu" ucap Ghazel tiba-tiba, seakan tuli Indah mengabaikan ucapan Ghazel. Ingatkan Ghazel jika Indah masih marah padanya.


"Indah. apa sekarang kau simulasi menjadi orang tuli?" pungkas Ghazel masih menatap Indah. sedangkan Indah engan berbalik menatap Ghazel.


Indah tidak perduli!.


"Indah." panggil Ghazel lagi, "Jika kau tidak menyahut saya akan mencium kamu sampai kamu benar-benar tidak bisa bicara," ancam Ghazel.


'Mesum!' batin Indah.


"Apa?!" balas Indah beranjak dari duduknya, dia juga sudah selasai merias dirinya, Indah duduk diujung kasur menatap Ghazel datar.


Indah masih marah.


Ghazel memgusap wajahnya, " ganti pakaian mu, hari ini saya akan menemui klian saya, karna dia membawa istrinya jadi saya juga akan membawa istri, sekarang pakai, pakaian yang sudah saya siapkan" Ghazel meletakan papper bag berisi pakaian Indah di atas meja.


"Mba Naysa dan mba Zahra ada. kau bawa saja mereka" ucap Indah, tanpa minat.


"Saya akan bawa kamu Indah, ganti sekarang!"


"Ngak mau!, bawa Lydia saja!"

__ADS_1


Ghazel menarik napas, "Kenapa Lydia?, dia bukan istri saya"


'Tapi akan jadi istri kamu!' batin Indah.


Indah menunduk, "Jadikan dia istri anda kalau begitu" cicit Indah pelan.


"Anda?, " Ghazel mengangkat alisnya "Saya tidak mendengar apa yang kamu ucapkan Indah, sekarang ganti pakaian kamu, jangan membuatku terus mengulang dan emosi ku meledak!"


Indah berdiri, "Aku sudah katakan aku TIDAK MAU!, kenapa kau memaksa?"


Hilang sudah kesabaran Ghazel, niat awalnya baik ingin berbaikan dengan cara membawa Indah keluar malah hancur. Ingatkan Indah jika sumbu kesabaran Ghazel sangat pendek.


"Kamu istri saya!, tidak bisakah kamu menurut?" teriak Ghazel.


Indah cukup kaget mendengar Ghazel berteriak, tapi karna rasa kemarahnya ia mengabaikan rasa takutnya, "Yasudah. Kau jangan jadikan diriku istrimu lagi, gampangkan?" balas Indah ikut emosi.


"Gampang?" ulang Ghazel menatap tajam Indah.


"Ceraikan saja aku!, dengan begitu kau bisa bebas menikah lagi, dan tak perlu melihatku lagi!" sambung Indah dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ghazel berjalan kearah Indah dengan mata yang tersulut emosi.


Ghazel maenatap Indah tajam, tatapan yang ia berikan belum pernah Indah lihat sebelumnya, aura dominan bak monster milik Ghazel menyeruak keluar membuat nyali besar Indah menciut takut.


"Apa kau sudah gila?, apa begini caramu memghargai sebuah hubungan? hah!"


"Ceraikan saja aku!" ulang Indah, air mata sudah lolos jatuh dipipinya, "Lihat saya Indah!" Ghazel memegang dagu Indah mengarahkan matanya menatap dirinya, "Katakan lagi!" perintah Ghazel dengan suara pelan tapi mengerikan.


Indah menatap Ghazel lekat, lidahnya terasa kelu saat melihat bagaimana menatapnya sedekat itu, dan pancaran mata Ghazel ntah kenapa Indah menjadi semakin sedih, "A-aku....a-aku..a-ku hikkss a-ku.." kenapa sangat sulit pikir Indah.


Hafff...


Ghazel membawa Indah dalam pelukannya, ntah kenapa Ghazel tidak menyukai air mata Indah. Hatinya seakan tidak terima melihat Indah menangis, apa dia sudah cinta dengan Indah?, ntahlah hanya dia yang tau. "A-aku membencimu!" isak Indah dalam dekapan Ghazel, "Saya tau," balas Ghazel semakin erat memeluk Indah.


...


"Kau sangat mencintainya Ghazel," ucap Lydia dibalik pintu luar kamar Ghazel. Sejak tadi Lydia mendengar semua pertengkarab keduanya, bukan sengaja Lydia awalnya ingin memanggil Ghazel karna ingin minta ditemani membeli bunga.

__ADS_1


Tapi saat ingin mengetuk pintu ia ngak sengaja mendengar teriakan Ghazel, karna penasaran Lydia membuka dan mengintip dari luar.


Keduanya masih dalam posisi berpelukan, isakan tangis Indah masih terdengar parau, perasaan marah dan kesalnya meluap begitu saja saat oleh Ghazel, jika bolej jujur Indah sangat takut jika Ghazel menyetujui permintaannya tadi.


Indah sangat mencintai monster yang dipelukanya ini.


"Jadi nyonya Erlangga kau mau pergi?," tanya Ghazel melepaskan pelukkannya, tapi posisi mereka masih saling berdekatan.


"Saya minta maaf Indah," ucapnya lagi, lagi dan lagi Ghazel membuang harga dirinya didepan Indah tanpa ia sadari.


Melihat Indah tak kunjung menjawab.


CUP!


Entah setan dari mana yang baru saja lewat dan memasuki Ghazel ia berani mencium Indah begitu saja, terlebih posisi mereka yang cukup ehemm membuat aksi tersebut sangat pas.


Awalnya Indah terkejut bola matanya melebar, dan ia cukup kaku karna ini pertama kalinya untuknya, "sudah ku katakan jika aku bisa membuatmu benar-benar tidak akan bicara jika kau tak menjawab Indah," ucap Ghazel pelan tepat di depan wajah Indah yang sudah merona bak tomat.


"Kau sudah dewasa sekarang," ucap Ghazel sedikit menjauh dari Indah, karna dia tidak mau lepas kendali, untuk sekarang.


"Kau mengambil ciuman pertamaku!" ucap Indah memukul Ghazel kuat saat kesadarannya pulih.


Untuk pertama kalinya, catat! pertama kalinya Indah melihat Ghazel tertawa dan sialnya sangat tampan, meski kecil, "Ha ha ha..sudah seharuanya begitu, dan apa kau suka?" goda Ghazel mencolek dagu Indah.


"TIDAK!" berlalu pergi, tidak lupa Indah mengambil baju yang Ghazel bawakan tadi. Melihat Indah membawa baju tadi dapat Ghazel simpulkan jika Indah mau pergi dengannya.


"Sangat mudah membujuknya" kekeh Ghazel, "aku menyukai debaran jantung yang tidak pernah aku rasakan ini" sambung Ghazel memegang dadanya tersenyum kecil.


Sampai diruangan pakaian Indah terus memegang dadanya yang berdetak dibatas normal, "Jantungku sangat kekanak-kanakan, aku akan memeriksanya nanti, dan KENAPA dia harus menciumku?! kan malu!, apakah aku sudah tidak perawan lagi?, aduhhh bagaimana ini?" oceh Indah beruntun, dengan pikiran polosnya, jika kalian lupa dia masih berusia 21 tahun dan seminggu lagi baru 22 tahun.


"Aku akan bertanya dengan mba Zahra nanti" final Indah. ia pun langsung mengenakan pakaian yang sejak tadi ia pegang.


**Donee....


Haii Uci kembali.

__ADS_1


jangan lupa follow, like dan komen yaaa...orang baikk**


__ADS_2