
..."Selamat membaca!!"...
Mungkin cerita ini sangat garing atau ngak jelas buat kalian, but ini adalah cerita pertama yang aku tulis, hasil dari ide pemikiran sendiri, cukup sulit karna aku ngak ada pengalaman yang baik untuk bagaimana membuat cerita yang bagus, tapi aku sangat senang dengan respon positif dan komentar yang selalu membuat aku semangat untuk terus menuangkan isi pemikiran gila untuk lanjut setiap chapter.
dan tidaklah mudah membuat sebuah cerita, aku sangat salut untuk para penulis pemula kalian hebat, kita hebat, semua orang bisa menjadi hebat karna itu kita,love yourself.
maaf jadi nulis kayak gini, aku hanya ingin menuangkan isi pikiranku hihi,
OKE LANJUT Lurrrr**...
Masih di tempat yang sama, dengan posisi Martin yang masih terikat di atas kursi kayu.
"Bagaimana tuan, kita lepaskan atau kirim dia menyusul Putra?"tanya Han, dengan posisi berdiri di samping Ghazel.
"Han!,kenapa kau mudah sekali ingin mengambil nyawa orang?, kita tunggu keputusan Agung dulu right?" jawab Ghazel. sambil memainkan ponselnya.
*Kediaman Agung*
"Bisakah kau menolong suamiku!,bukankah dia kakakmu juga!?" teriak Nunik istri Martin.
"Tenanglah kak kita belum menemukan jalan keluar" kata anna semari menenangkan kakak iparnya itu.
"Tenang?,tenang kata mu anna?!,Suami ku sedang di tahan sama Ghazel, kau kenal dia bukan, bahkan dia tidak segan-segan membunuh orang!,dan kau masih menyuruh ku tenang?!" kata Nunik emosi.
"Nunik tenanglah, aku sedang mencari cara" kata Agung.
"Kak ada apa? " tanya Aurel.
"Dek, kamu jangan turun oke" ujar Airyn, pada adik bungsunya itu.
Aurel hanya diam, dia cukup memahami situasi tapi dirinya masih belum dewasa untuk ikut campur urusan orang dewasa.
Airyn dan Lolita turun keruangan tempat dimana Ayah, ibu,tante dan yang lainnya berada, suasana cukup tegang di sana, Tante Nunik sudah menanggis,dan marah sambil menunjuk kearah Agung.
__ADS_1
"Tenanglah ma," kata Bombom menghampiri ibunya,dan membawanya duduk. Nunik hanya memhembuskam napas kasar, lalu mendudukan diriya.
Agung sendiri masih menunggu hasil dari laporan sekertarisnya, meski perasaannya sudah tidak enak, ntah kenapa feelingnya mengatakan Martin yang mengkhianatinya, tapi ia cepat-cepat menepis perasaan itu.
Roni akhirnya datang, melihat itu Agung langsung berdiri dan bejalan kearah Roni. "Bagaimana Ron?" tanya Agung langsung.
"Pak, ada yang ingin saya laporkan" kata Roni,menatap Agung, dengan pandangan susah di artikan.
"Duduklah dulu om" kata Airyn yang berdiri di belakang ayahnya.
Agung membawa Roni duduk di sofa tepat berseberangan dengan sofa yang dia duduki, sedangkan yang lainnya disisi sebelah kiri dan kanan sofanya.
"Jelaskan Ron." Kata Agung membuka pembicaraan.
"Baiklah pak, tadi saya pergi keperusahaan, dan meminta orang perusahan mengecek perihal alih perusahaan, dan saat saya memeriksa dokumnenya, ada satu kejangalan pak, saya melihat ada dokumen, dengan isi tentang perpindah kekuasaan, dan dokumen itu sudah anda tanda tangani. bahkan ada memindahkan kekuasaan atas nama pak Martin " jelas Roni.
"Apa!,kau jangan bercanda RONI!,aku tidak pernah menanda tanggani apapun," kata Agung murka.
"Tapi pak, anehnya dokumen itu masuknya saat tanggal tidak beroperasi kantor" jelas Roni.
"Iya pak, kemungkinan itu adalah dokumen palsu pak, tapi yang membuat bingung disana ada tanda tangan anda dan sidik jari anda pak" kata Roni, sambil memberikan dokumen yang di maksudkan.
Agung langsung membuka dan membaca dokumen tersebut, dan benar saja disana ada tandatangan dan cap sidik jarinya.
"Tapi aku tidak pernah melakukan ini!" kata Agung menegaskan.
"Para ekskusif dan investor sudah menganggap jika anda sudah bukan lagi pemilik resmi Resort Bell."
Mendengar hal itu Agung syok, dan termasuk keluarganya.
"Kapan itu resmi, dan kenapa tidak ada yang menelponku!?" kata Agung yang sudah mulai emosi.
"Maaf pak, saya juga baru tau sekarang, dan di resmikan tadi pagi pak, sebelum pertunangan Nn. Airyn."
__ADS_1
"Apa gara-gara hal itu tadi Om martin telat datang?" kata Lolita pelan, tapi masih di dengar oleh mereka semua.
Mereka semua saling diam, dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Agung!,sekarang pikirkan bagaimana dengan suamimu!" kata Nunik, memcahkan keheningan.
"Tante!,bisakah tante tidak berteriak dengan ayahku?,saat ini ayahku juga lagi kacau,bisakah tante bersabar?" Kata Airyn marah tak terima ayahnya di bentak.
"Kalian sama saja!, tidak ada yang perduli dengan Suamiku!, Agung!,meskipun suamiku hanya kakak tirimu tapi tolong selamatkan dia" Nunik menangis.
Setelah lama duduk dan melihat bagaimana Martin di pukuli oleh anak buahnya, Ghazel akhirnya memutuskan untuk melepaskan Martin, dan tentu saja sebelum pergi dia meminta Martin untuk menandatangani surat pepindahan perusahaan.
"Ini sudah menjadi milikku, dan kau! jangan pernah main-main dengan ku lagi!,atau kau akan mati!" bisik Ghazel.
Sedangkan Martin bernapas lega setidaknya dia masih diberikan kesempatan hidup.
Aku akan membalasmu Ghazel, -Martin.
Di mobil dalam perjalanan kembali kehotel mereka.
"Han pesan tiket sekarang juga!" kata Ghazel."Kau lihat sapu tangan ku? "tanya Ghazel
"Baik tuan, tidak tuan."
"pasti terjatuh disana" guman Ghazel
"Sans, Erik, kalian urus Resort itu di sini" kata Ghazel lagi, Sans yang sedang meyetir hanya menganggukkan kepalanya.
*Akan lebih menyenangkan bermain-main dengan keluarga Agung"- Ghazel.
"Aku harap tidak ada rencana tersembunyi yang di pikirkan Tuan Ghazel, - Han*.
**Yhuiii... selesai Chapter inii..
__ADS_1
terimakasih buat yang sudah mampiri di cerita aku, dan selalu support dan komen vote cerita ini.... 😊😊😊😊**