IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter 72


__ADS_3

...**Selamat membaca!!!...


...¤¤¤**...


..."Maaf, aku tidak menyambutmu mas"...


"Hmmm"


...----------------...


Masih dalam posisi yang sama, Ghazel memeluk Indah, tidak ada pembicaraan, "Mas" panggil Indah.


"Apa?"


"Tidak jadi" ujar Indah, ia kembali memikirkan apakah harus berkata jujur atau tidak.


Sedangkan Ghazel melihat wajah dekat Indah dengan berbagai macam pikiran, misal kenapa Indah begini, apa ada yang menyakitinya, apa dia ingin beli sesuatu tapi takut minta, tapi itu hanya dipikiran Ghazel.


"Oh. Saya punya sesuatu buat kamu" Ghazel mengeluarkan satu batang coklat pada Indah,


Indah melepaskan pelukan Ghazel, ia mengambil coklat tersenyum, "Kenapa memberiku ini?"


Ghazel tampak berpikir, "Hanya ingin, aku baca jika cokelat bisa membangkitkan mood."


Indah terkekeh, "Terima kasih mas," tuturnya menatap senang kearah Ghazel.


"Sama-sama" *Apa aku harus buatkan pabrik cokelat untuk Indah?" batin Ghazel. Sudah bucin nih.


Indah membuka bungkus coklatnya, ia memakan sambil tersenyum, "Ini enak" ucapnya saat potongan coklat masuk kemulutnya.


Ghazel hanya diam melihat Indah bahagia, membuat hatinya menghangat.


"Mas, apa kau sudah percaya cinta?" tanya Indah tiba-tiba.


Ghazel yang semulanya terlihat senang, menjadi datar, Ghazel masih belum bisa menjawab, ia hanya menatap Indah lekat. Sedangkan yang ditatap hanya diam kaku.


"Maksudku, apa kau benci cinta?, aaa.. Lupakan" Indah takut. ia takut jawaban Ghazel tak sesuai dengan ekspetasinya, meski memang nyatanya Indah sudah tau akan jawaban itu.


"Indah, kau mungkin salah paham dengan prilaku ku selama ini, tidak akan pernah ada cinta dihidup seorang Ghazel. Bahkan nama cinta itu tak pantas dengan ku" ucap Ghazel, matanya menatap lekat Indah. Karna aku tak pantas dicintai Batin Ghazel.


Sudah Indah duga, sialnya dia terlalu berharap, "Aku tau mas. Maafkan aku"


"Iya."


Hening. Tidak ada pembicaraan antara keduanya. Indah masuk kekamar memutuskan untuk duduk dikasur ia lelah berdiri.


Ghazel ikut masuk, ia melepaskan jas kerjanya, dan memutuskan untuk mandi.


"Bodoh!, kenapa kau menanyakan hal yang sensitive itu padanya" umpat Indah pada dirinya sendiri.


Dengan keadaan kesal, Indah memutuskan untuk tidur, ia cukup malu melihat Ghazel


...¤¤¤...


Selang beberapa saat, Ghazel sudah selesai dengan kegiatan mandinya, saat keluar dia sudah melihat sosok sang istri sudah tertidur. Ghazel mendekat, ia menunduk dan menaikan selimut menutup tubuh Indah, "Maafkan saya Indah" guman Ghazel.


"Mas" seru parau Indah, ia terbagun saat merasakan elusan dari Ghazel. Indah belum terlalu nyenyak akhirnya bangun, padahal belum dua puluh menit dia tertidur.

__ADS_1


"Kau tidak tidur?" Ghazel terkejut saat mata Indah terbuka, ia takut Indah mendengar ucapannya tadi.


Indah beranjak bangun, dan duduk "Aku tidur, hanya tadi terbangun" cenggir Indah.


Ghazel mengangguk paham, ia lantas langsung pergi keruangan pakaian, setelah berpakaian Ghazel langsung ikut disamping Indah.


"Bagaimana dengan pesta kemarin?" Kenapa kau menanyakan hal ini Indah bodoh! - batinya.


"Biasa"


"Kau terlihat sangat cocok dengan mba Nay" oke Indah benar-benar bodoh!.


"Aku yakin mereka semua takjub dengan keserasian kalian," sambungnya lagi, ada rasa kesal saat membahas ini


Sedangkan Ghazel hanya mendengar tanpa menjawab, ia berpikir kenapa Indah menanyakan tentang pesta itu, bukankah dia yang tak ingin pergi.


"Biasa saja, Naysa memang sudah dikenal banyak orang" imbuh Ghazel.


"Ya. maka dari itu aku mengatakan kalian cocok,"


"Ya. memang"


Ghazel jelas melihat perubahan ekspresi dari Indah, "Jika cocok kenapa kau menikah lagi, kau memang playboy, aaaishh" Indah langsung merebahkan tubuhnya lagi.


"Ada apa dengan mu?"


"Tidak, sana kau harusnya ketempat mba Naysa" usir Indah, kesal nya semakin jadi.


"Ini kamar ku, dan kau aneh" ujar Ghazel.


"Ya!. aku memang aneh!, kenapa kau mau menikah dengan ku hah?, iya kau benar ini kamar mu!, sebaiknya aku pergi, bukankah kamar ini hanya cocok untuk ba Naysa?" Indah berucap tanpa henti.


"Kau memang tidak mengerti"


"Buat saya mengerti" ucap Ghazel, menatap punggung Indah, karna posisi Indah membelakanginya.


"Bahkan dipesta itu, tidak ada yang menanyakan aku maupun mba Zahra" guman Indah pelan, dan Ghazel masih mendengar itu walaupun suara kecil.


Jadi Ghazel berpikir jika Indah marah karna tidak ada yang mengenal dia itulah pikirnya, padahal istri mudanya itu sedang mode cemburu. Ghazel memang tidak peka.


...¤¤¤...


Sebuah mobil hitam berhenti disalah satu rumah ditengah-tengah hutan, ia keluar dengan terburu-buru tak lupa matanya selalu mengawasi daerah sekitarnya.


dengan cepat ia sudah berdiri didepan pintu rumah tersebut, ia mengetuk dengan cepat.


Pintu terbuka, menampilkan sosok seorang pria yang gagah " Wahyu!" serunya, orang tersebut dengan cepat membawa masuk Wahyu ke kediamannya.


Satu yang tidak Wahyu sadari, jika sejak tadi ada yang mengikutinya, seringai terbit diwajah orang itu.


"Hallo sekeretasi Han, ini aku Enji." ya Enji lah yang sejak tadi mengikuti wahyu. ia sengaja melepaskan Wahyu karna ia tahu jika Wahyu aku pergi menuju tuannya dengan sendiri.


"Ada apa Enji?"


"Saya sudah mendapatkan lokasi, Panji" seringainya.


"Wow!, tidak sampai sehari?, kau memang luar biasa Enji" puji Han dibalik telpon.

__ADS_1


"Apa yang harus dilakukan?"


"Berjagalah disana, saya akan meminta yang lainnya menyusul dilokasi"


"Baik tuan," panggilan terputus. "Wahyu, sejak dulu kau memang bodoh!" seringai Enji. ia berpikir tak sia-sia dia pura-pura pingsan tadi saat Wahyu memukulnya.


...¤¤¤...


Han, sangat senang mendengar berita yang diberikan oleh Enji barusan, ia bertekad akan memberikan Panji hukuman yang stimpal.


"Panji" seringainya.


Han sudah didalam mobilnya, saat ini ia akan pergi ke mansion milik Ghazel ia ingin memberitahukan kabar baik ini secara langsung, dan menuju lokasi dimana tempat Panji itu berada. Han baru saja tad dikirimi Enji lokasi dia, dan beberapa bawahannya sudah pergi kesana.


...¤¤¤...


Sampai di mansion Han langsung masuk, tak lupa beberapa pelayan memberikan hormat padanya.


"Han" panggil mama Karlina.


"Nyonya besar" hormat Han, ia memberi salam pada mama Karlina.


"Ada apa?, kau kelihatan sangat buru-buru"


"Apa tuan Ghazel ada diruangannya?"


"Tidak, Ghazel dikamar, kau telpon saja dia, dan ayo duduklah dulu" mama Karlina membawa Han duduk di sofa.


"Bagaimana hubungan mu dengan Tamara?" ucap mama Karlina tersenyum jail.


Han sentak kaget mendengar pertanyaan dari nyonya besarnya itu, "Apa maksud nyonya?" Han tak mengerti.


"Kau ini!, Tamara kau sama dia gimana?, ada kemajuan?" mama Karlina cukup penasaran dengan percintaan Han.


"Saya tidak ada hubungan apa-apa nyonya" ucap Hanz apa adanya.


"Hah?, kau belum menembak nya?"


"Apa maksud nyonya, mana mungkin saya menembaknya, dia tidak punya salah sama saya"


Mama Karlina menepuk jidatnya, dia lupa jika orang didepanmya ini sama saja dengan putranya, sama-sama bodoh!.


"Bukan itu maksudku Han!, maksudku kapan kau akan menyatakan perasaan mu padanya hemm?"


Han terkejut untuk kedua kalinya, "Saya ti-tidak punya perasaan dengan ya" jelas Han.


"Kau gugup eeee" ejek mama Karlina.


Han hanya diam. dia berharap jika tuan nya cepat turun dan menemuinya kesini, jika tidak matilah sudah ia akan ditanyai hal yang tidak-tidak.


...¤¤¤¤...


**Done!.


......Maaf suka telat update!!......


Ohh ya, buat kalian jaga kesehatan ya saat ini lagi musim hujan jangan sampai sakit ya. kayak Uci sekarang malah demam.

__ADS_1


Yang punya adek/ anak jangan izinin main hujan ya,


Stay dirumah terusss...😊😊😊**


__ADS_2